Awalnya
saya tidak pernah menyangka dapat diberikan tugas ke luar negeri, terlebih lagi
ke Jepang, yang selama ini pemandangannya hanya dapat saya lihat di brosur
brosur diskon maskapai penerbangan. Saya sangat bersyukur telah dipercaya oleh
pimpinan untuk menjadi salah satu peserta program pelatihan ini. Adalah sebuah
kehormatan dan pengalaman berharga bagi saya dapat mengemban tugas untuk
mengikuti pelatihan di Tokyo, Jepang mengingat ini kali pertama saya pergi ke
luar Indonesia menggunakan paspor biru, dan yang pastinya tidak akan saya
lupakan sepanjang karir saya sebagai Pegawai Negeri Sipil.
Saya
berada di Negeri Sakura bersama sembilan orang rekan lainnya selama 13 hari,
yaitu mulai tanggal 18 Juli 2016 sampai 30 Juli 2016. Kami bertolak ke Jepang
menggunakan maskapai ANA (All Nippon Airways). Setelah 8 jam melelahkan di
udara kami tiba di bandara Haneda, Tokyo, dan langsung disambut oleh perwakilan
dari JICA untuk langsung diantar ke tempat menginap sekaligus tempat pelatihan
diselenggarakan. Pelatihan ini bertempat di JICA-Tokyo International Center
(TIC), 49-5 Nishihara 2-Chrome Shibuya-Ku, Tokyo-Jepang.
Pelatihan
ini sendiri adalah hasil kerjasama kantor tempat saat itu saya berdinas, LKPP dengan JICA (Japan International
Cooperation Agency) yang bertajuk Knowledge
Co-Creation Program (Country Focus) On Project For Strengthening Of Public
Procurement System In Japan 2016. Materi utama yang menjadi subyek
pelatihan adalah mengenai pengelolaan kontrak proyek konstruksi berdasarkan
pedoman FIDIC. Apa itu FIDIC? FIDIC adalah singkatan dari Federation Internationale Des Ingenieurs-Conseils (International
Federation of Consulting Engineers). FIDIC sendiri adalah sebuah organisasi
internasional berbasis di Eropa yang merupakan perkumpulan dari
asosiasi-asosiasi nasional para konsultan engineering
dari seluruh dunia. JICA merupakan salah satu organisasi yang turut serta
membantu pembangunan Indonesia melalui program kemitraannya. Dana yang
digunakan untuk menjalankan program kemitraan tersebut, mayoritas berasal dari
bantuan resmi pemerintah (Official Development Assistance atau ODA) Jepang.
Sebagian besar proyek di Indonesia yang sumber dananya berasal dari ODA Jepang
tersebut mewajibkan untuk menggunakan kontrak FIDIC dalam proses
pelaksanaannya.
Saya
sangat beruntung dapat menerima materi dan berdiskusi dengan pengajar yang
berkompeten dan ahli dalam bidang kontrak FIDIC khususnya dalam proyek
konstruksi. Beliau adalah Professor Shunji Kusayanagi, Ph.D. yang merupakan
praktisi dan akademisi di bidang konstruksi dengan pengalaman lebih dari 40
tahun di dunia konstruksi. Memiliki pengalaman sebagai pelaksana proyek
konstruksi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Bahkan beliau bercerita
pernah tinggal cukup lama di Batam para periode 1970-an dimana ia berperan
besar dalam proyek pembangunan pelabuhan di Batu Ampar. Saat ini beliau aktif
sebagai advisor untuk manajemen proyek konstruksi dan pengajar di Tokyo City
University. Walaupun jauh lebih senior dari kami, para peserta pelatihan,
beliau dengan rendah hati mau berbagi ilmu bahkan sesekali melakukan diskusi.
Tak
hanya proses pelatihan di kelas saja yang kami dapatkan. Pada akhir minggu
pertama kami diajak oleh tim JICA untuk mengenal praktik proyek konstruksi di
Jepang melalui kunjungan (site visit)
ke beberapa lokasi proyek konstruksi di Tokyo, seperti pembangunan terowongan
di daerah Tajiri, yang merupakan bagian
dari proyek pembangunan jalan tol lingkar luar Tokyo, dan proyek pembangunan venue lomba dayung (Rowing Race) untuk olimpiade 2020 yang akan dilaksanakan di Tokyo. Di
akhir pelatihan, para peserta pelatihan diwajibkan untuk membuat action plan yang berkaitan dengan kontrak
FIDIC untuk dipresentasikan di hadapan para perwakilan JICA. Mereka berharap
setelah kembali ke Indonesia kami dapat merealisasikan action plan tersebut.
Seperti
biasa, setelah semua proses rangkaian kegiatan selesai, kami para peserta
pelatihan mendapatkan sertifikat tanda keikutsertaan telah mengikuti pelatihan
ini. Perwakilan JICA memanggil nama peserta satu per satu untuk kemudian
diserahkan kepada peserta. Namun selembar sertifikat tidak lah cukup untuk
mewakili ilmu dan pengalaman yang telah kami terima selama berada di Jepang.
Banyak pelajaran yang kami dapatkan, tidak hanya materi saja, tapi juga norma
dan sikap disiplin nan sangat tepat waktu masyarakat Jepang yang mungkin juga dapat
kami bawa pulang ke Indonesia.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar