Kontributor

Sabtu, 27 Oktober 2018

Menonton Sepakbola di Saitama Stadium 2002


Exploring Kanto: Saitama

Akhir pekan ini, perjalanan kami membawa langkah ke utara Tokyo, menuju Saitama-shi, ibu kota Prefektur Saitama. Bersama dua rekan sesama mahasiswa di GRIPS Tokyo, saya berkesempatan menyaksikan salah satu laga paling bergengsi di sepak bola Jepang: Final J.League Cup antara Shonan Bellmare dan Yokohama F. Marinos.

Tujuan kami adalah Saitama Stadium 2002. Bagi pencinta sepak bola, nama stadion ini tentu tidak asing. Stadion yang menjadi salah satu venue Piala Dunia 2002 tersebut merupakan salah satu stadion sepak bola murni terbesar di Jepang, tanpa lintasan atletik yang memisahkan pemain dan penonton. Hasilnya, atmosfer pertandingan terasa begitu dekat dan hidup.

Meski dikenal sebagai kandang dari Urawa Red Diamonds, stadion ini kerap dipercaya menjadi tuan rumah berbagai laga besar. Mulai dari final turnamen domestik hingga pertandingan tim nasional Jepang.

Perjalanan menuju stadion sendiri menjadi bagian dari petualangan. Dari Yokohama, jaraknya sekitar 76 kilometer atau hampir dua jam perjalanan dengan kereta. Namun seperti halnya para peziarah sepak bola di mana pun berada, jarak terasa bukan masalah ketika tujuan akhirnya adalah stadion.

Sejak tiba di kawasan stadion, warna-warni atribut kedua kubu sudah mendominasi suasana. Ribuan pendukung datang membawa harapan yang sama: melihat tim kesayangan mengangkat trofi.

Sayangnya, harapan kami tidak berakhir dengan cerita bahagia.

Yokohama F. Marinos, tim yang kami dukung, harus mengakui keunggulan Shonan Bellmare dengan skor tipis 0-1. Peluit panjang berbunyi, para pemain Bellmare berpesta, sementara kubu Marinos hanya bisa menatap trofi yang gagal mereka bawa pulang.

Namun sepak bola sering kali menawarkan cerita yang lebih besar daripada sekadar hasil akhir.

Hal yang paling membekas justru datang dari tribun penonton. Di tengah rivalitas dan tensi pertandingan final, kedua kelompok suporter menunjukkan sikap yang patut diapresiasi. Tidak ada intimidasi antarsuporter, tidak ada provokasi berlebihan, apalagi keributan.

Kalau pun ada yang menjadi sasaran intimidasi, sepertinya hanya wasit.

Dan itu pun dilakukan secara demokratis oleh kedua kubu. Haha.

Mungkin itulah salah satu alasan mengapa pengalaman menonton sepak bola di Jepang selalu terasa istimewa. Kompetitif di lapangan, tetapi tetap penuh rasa hormat di tribun.

Hasil pertandingan mungkin tidak berpihak kepada kami hari ini. Namun perjalanan ke salah satu stadion paling ikonik di Jepang, atmosfer final yang luar biasa, dan pelajaran tentang budaya suporter yang dewasa membuat perjalanan ini tetap layak dikenang.

Sampai jumpa di pertandingan berikutnya.

Football is temporary, away days are forever.

Minggu, 21 Oktober 2018

A Day Trip to Mount Takao: Menikmati Alam di Pinggiran Tokyo


Kalau berbicara tentang destinasi alam di sekitar Tokyo, nama Gunung Takao (高尾山 / Mount Takao) hampir selalu masuk dalam daftar rekomendasi. Lokasinya yang berada di bagian barat Tokyo membuat gunung ini menjadi pilihan favorit bagi warga setempat maupun wisatawan yang ingin menikmati suasana pegunungan tanpa harus bepergian jauh atau menginap.

Akhir pekan ini, saya bersama beberapa teman berkesempatan mengunjungi Gunung Takao. Dari tempat tinggal kami di kawasan Gumyoji, Yokohama, perjalanan memakan waktu sekitar dua jam menggunakan kereta api. Meskipun harus berpindah kereta sebanyak empat kali, perjalanan terasa menyenangkan karena kami berangkat bersama teman-teman dari Yokohama National University (YNU) dan sudah merencanakan untuk bertemu dengan peserta dari kampus lain di lokasi.

Dengan ketinggian sekitar 599,5 meter di atas permukaan laut, Gunung Takao mungkin tidak terlalu tinggi jika dibandingkan dengan gunung-gunung lain di Jepang. Namun justru itulah daya tariknya. Gunung ini sangat ramah bagi pendaki pemula dan cocok dijadikan destinasi one-day trip dari Tokyo maupun Yokohama.

Terdapat enam jalur pendakian yang dapat dipilih untuk mencapai puncak. Kami memutuskan menggunakan Trail No. 1, jalur paling populer sekaligus yang paling mudah diakses. Jalurnya sudah tertata dengan baik dan sebagian besar berupa jalan beraspal, sehingga cukup nyaman untuk dilalui.

Perjalanan menuju puncak memakan waktu sekitar 90 menit dengan kecepatan santai. Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan hutan yang rindang, udara yang sejuk, serta sesekali bertemu pendaki lain yang datang dari berbagai negara.

Keberuntungan benar-benar berpihak kepada kami hari itu.

Sesampainya di puncak, langit terlihat cerah tanpa banyak awan. Dari area observasi, kami dapat melihat siluet megah Gunung Fuji berdiri di kejauhan dengan sangat jelas. Pemandangan yang sering muncul di kartu pos Jepang itu akhirnya bisa kami nikmati secara langsung.

Tidak hanya Gunung Fuji, dari puncak Takao kami juga dapat melihat hamparan kawasan metropolitan Tokyo yang membentang jauh di ufuk timur. Perpaduan antara panorama pegunungan dan lanskap kota modern menciptakan pemandangan yang sangat mengesankan.

Setelah menikmati suasana puncak dan menyantap bekal makan siang bersama, kami memutuskan untuk turun menggunakan chairlift. Pengalaman yang cukup unik karena bentuknya mirip gondola terbuka tanpa sabuk pengaman dan tanpa banyak pegangan. Sedikit menegangkan di awal, tetapi justru menjadi salah satu bagian paling seru dari perjalanan hari itu.

Mount Takao sekali lagi membuktikan bahwa kita tidak perlu pergi jauh dari Tokyo untuk menikmati alam Jepang yang indah. Dengan akses yang mudah, jalur pendakian yang bersahabat, dan bonus pemandangan Gunung Fuji saat cuaca cerah, tempat ini layak masuk daftar destinasi bagi siapa saja yang berkunjung ke Jepang.

It was fun. See you again, Mount Takao!















Senin, 01 Oktober 2018

Menyapa Yokohama


Hari-hari pertama di Jepang rasanya masih seperti mimpi yang berjalan pelan. Setelah sekian lama hanya melihatnya dari foto, film, dan cerita orang lain, akhirnya saya benar-benar menginjakkan kaki di kota yang akan menjadi tempat singgah saya untuk beberapa waktu ke depan: Yokohama.

Secara harfiah, Yokohama berarti "di samping pantai". Nama yang terasa sederhana, tetapi cukup menggambarkan karakter kota ini. Sebagai kota pelabuhan terbesar di Jepang dan kota terbesar kedua setelah Tokyo, Yokohama memiliki suasana yang berbeda. Tidak sepadat Tokyo, tetapi tetap hidup dan modern.

Foto ini saya ambil di kawasan Minato Mirai, yang menurut sepupu saya merupakan salah satu pusat keramaian anak-anak muda Yokohama. Sekali melihat sekeliling, saya langsung paham alasannya. Di sini berdiri pusat perbelanjaan, taman hiburan dengan bianglala raksasa yang menjadi ikon kawasan, deretan kafe, hingga berbagai museum yang menghadap ke teluk. Saat sore menjelang malam, lampu-lampu kota mulai menyala dan suasananya terasa sangat berbeda dibanding siang hari.

Yang membuat saya semakin menyukai tempat ini adalah lokasinya yang tidak terlalu jauh dari tempat saya tinggal. Jaraknya sekitar enam kilometer dan bisa ditempuh hanya dengan satu kali perjalanan bus. Sebenarnya ada pilihan naik kereta bawah tanah yang mungkin lebih cepat dan praktis. Namun entah kenapa saya selalu lebih menyukai perjalanan di atas permukaan. Duduk di dekat jendela bus sambil melihat jalanan, bangunan, dan aktivitas warga terasa jauh lebih menyenangkan daripada berada di dalam terowongan tanpa pemandangan.

Sepupu saya juga bercerita bahwa kawasan ini cukup sering dijadikan lokasi syuting film dan drama. Saya tidak tahu persis film apa saja yang pernah mengambil gambar di sini, tetapi setelah berjalan-jalan sebentar, rasanya mudah memahami alasannya. Ada sesuatu yang fotogenik dari perpaduan laut, gedung-gedung modern, dan suasana pelabuhan yang membuat setiap sudutnya terlihat seperti adegan film.

Untuk sementara waktu ke depan, kota ini akan menjadi bagian dari keseharian saya. Mungkin beberapa bulan lagi, perjalanan dengan bus menuju Minato Mirai tidak lagi terasa istimewa. Namun hari ini, sebagai orang yang baru datang, semuanya masih terasa baru, menarik, dan layak dicatat dalam buku harian.

Mari kita lihat cerita apa saja yang akan diberikan Yokohama berikutnya.

Rabu, 22 Agustus 2018

Kabaddi: Galasin Versi Atlet Nasional


Hari ini niatnya nonton final badminton. 
Tapi seperti biasa, manusia boleh berencana, tiket yang menentukan.

Karena kehabisan tiket, akhirnya saya malah nyasar ke pertandingan yang sebelumnya bahkan tidak pernah terpikir untuk ditonton. Namanya Kabaddi, olahraga tradisional dari India yang ternyata sudah cukup lama dipertandingkan di Asian Games.

Awalnya saya duduk dengan ekspresi yang sama seperti orang yang salah masuk ruang ujian. Bingung. Ini olahraga apa? Aturannya bagaimana? Kok pemainnya saling tarik, pegang, dan banting?

Setelah beberapa menit mengamati, ternyata konsepnya cukup sederhana. Dalam satu pertandingan ada dua tim yang masing-masing berisi tujuh pemain. Secara bergantian, satu pemain masuk ke area lawan untuk menyentuh pemain lawan lalu berusaha kembali ke wilayah timnya sendiri. Kedengarannya mudah, sampai melihat kenyataan bahwa pihak lawan tentu tidak akan membiarkan dia pulang dengan selamat.

Semakin lama menonton, semakin terasa familiar. Rasanya seperti melihat perpaduan permainan masa kecil yang dibesarkan menjadi olahraga profesional. Ada unsur galasin, ada sedikit benteng, ditambah sentuhan permainan "mundur tiga langkah" yang dulu sering muncul di komik Donal Bebek. Bedanya, versi ini dimainkan oleh atlet-atlet berbadan kekar yang tidak ragu saling menjatuhkan satu sama lain.

Saat itu saya langsung berpikir, jangan bersedih wahai anak-anak yang dulu hobi main galasin atau benteng di lapangan sekolah. Ternyata ada jalur karier internasional untuk keterampilan tersebut, meskipun syarat tambahannya adalah memiliki badan yang cukup kuat untuk bertahan dari bantingan.

Yang menarik dari pengalaman hari ini justru bukan pertandingan itu sendiri, melainkan bagaimana saya menemukan sesuatu yang sama sekali baru gara-gara rencana awal gagal. Kalau tiket badminton masih tersedia, kemungkinan besar saya tidak akan pernah tahu bahwa ada olahraga bernama Kabaddi dan tidak akan pernah menghabiskan satu sore dengan serius mengamati orang-orang berusaha menyentuh lawan lalu kabur sebelum ditangkap.

Kadang-kadang hal paling menarik dalam perjalanan justru muncul ketika rencana utama tidak berjalan sesuai harapan.

Meski begitu, lain kali kalau ada tiket final badminton, saya tetap pilih badminton.

Selasa, 14 Agustus 2018

Salam Ngudi Rejeki


Some people come into our lives for a season, while others become part of our story forever. Looking back at our university years, I realize how fortunate I was to have a friend like you.

We started as classmates, sharing lecture rooms, assignments, exams, and countless deadlines. Somewhere between group projects, late-night discussions, spontaneous trips, and endless cups of coffee, you became much more than a friend from college. You became family.

Thank you for being one of the few people who always accepted me for who I am. You never expected perfection. You tolerated my bad habits, my temperament, my stubbornness, my sarcastic jokes, and all the imperfections that come with being human. Instead of trying to change me, you chose to understand me, and that is something I will always appreciate.

Through the years, we shared more than just classes and hobbies. We shared dreams, frustrations, failures, victories, heartbreaks, and moments that shaped who we are today. Thank you for listening to my stories, especially during difficult times, and for always being willing to share your own. Some conversations may have seemed ordinary at the time, but they became memories that I will carry with me for the rest of my life.

One of the things I admire most about our friendship is how effortless it has always felt. No need to pretend, no need to impress. We could spend hours talking about serious life matters, or laugh endlessly over the most ridiculous things. We shared interests, passions, and hobbies, but more importantly, we shared trust and mutual respect.

As we continue our own journeys and pursue different paths, I hope you know how much your friendship has meant to me. The distance, the years, and the responsibilities of adulthood may change many things, but they will never erase the memories we created together or the gratitude I feel for having you in my life.

Thank you for every lesson, every laugh, every piece of advice, every honest conversation, and every moment of support. Thank you for being there during some of the most important years of my life.

I sincerely wish you happiness, good health, success, and countless opportunities wherever life takes you. May you continue to grow, achieve your dreams, and find fulfillment in everything you do.

No matter where we end up, a part of me will always remember those university days and be grateful that our paths crossed.

Until we meet again, my friend.

Salam Ngudi Rejeki. 🍻
See you in Tokyo