Kontributor

Minggu, 08 Maret 2020

Gol Pertama di Lapangan TNI AU Pancoran

“Nih coy bolanya buat lo ntar kasih umpan ala Pirlo ya” bek kiri bertubuh gempal yang cuma kuat overlap tapi gak kuat mundur itu langsung memberikan bola pendek kepada si gelandang pengangkut galon yang gaya permainannya keras dan sering beradu fisik di tengah lapangan. Keduanya pernah bermain di bersama sewaktu di bangku SMA

“Udah lo naik aja sono gak usah banyak bacot” kata si gelandang sambil mendrible bola area tengah pertahanan lawan.

Tak perlu menunggu lama umpan matang dari box to box midfielder itu berhasil diselesaikan dengan baik dengan tendangan-keras-yang-penting-mengarah-ke-gawang oleh sang full back yang sebelumnya berhasil melakukan overlap sampai ke sisi kanan pertahanan lawan.

Walaupun gol nya masih sangat jauh untuk masuk nominasi Puskas Award, kedua kreator gol tsb tetap melakukan selebrasi di depan kamera.

Gambar hanya pemanis, cerita diangkat dari kisah nyata dengan sedikit penyesuaian





Sabtu, 27 Oktober 2018

Menonton Sepakbola di Saitama Stadium 2002

exploring kanto, Saitama. .

hari ini saya dan dua teman dari GRIPS, Tokyo, berkesempatan untuk menyaksikan pertandingan Final J1 league cup antara Shonan Bellmare vs Yokohama F. Marinos

pertandingan berlangsung di Saitama Stadium 2002, salah satu venue yang digunakan untuk Piala Dunia 2002, dan juga salah satu stadion "soccer" terbesar di Jepang (stadion tanpa lintasan lari)

stadion ini sebenarnya markas dari klub J1 league, urawa reds diamond, namun sering dijadikan venue untuk final turnamen sepakbola di Jepang bahkan tim nasional Jepang.

Terletak di Saitama-shi, ibukota perfektur Saitama. jarak dari Yokohama cukup jauh, sekitar 76 km ( 2 jam via kereta)

sayangnya tim yang kami dukung, Yokohama F. Marinos harus mengakui keunggulan sang lawan, 0-1.

dan yang saya bikin kagum adalah perilaku kedua supporter yang tidak pernah mengintimidasi satu sama lain (paling banter mengintimidasi wasit. haha)

see u on the other match !!!

Minggu, 21 Oktober 2018

Hiking ke Gunung Takao - Tokyo


Hari ini kami pergi ke Gunung Takao /Mount Takao (高尾山, Takaosan) yang berlokasi di sebelah barat pusat kota Tokyo, Jepang


Gunung ini merupakan salah satu gunung yang terdekat dari kota Tokyo yang dapat dijangkau tanpa menginap.

Waktu yang ditempuh dari tempat tinggal kami di daerah Gumyoji, Yokohama hanya sekitar 2 jam perjalanan menggunakan kereta api. Dibutuhkan 4 kali transit untuk bisa tiba di lokasi tujuan. Kebetulan saya dan teman-teman dari Yokohama National University (YNU) berangkat sejak pagi hari untuk bertemu tim dari kampus lainnya.

Gunung ini tidak begitu tinggi, hanya 599.5 MDPL. Mungkin bisa dibilang pendek untuk ukuran gunung. Terdapat enam rute pendakian untuk mencapai puncak, kami memilih untuk menggunakan rute yang paling populer, yaitu rute nomor 1. Memakan sekitar 90 menit perjalanan kaki untuk bisa tiba di puncak

Kami sangat beruntung, begitu tiba di puncak cuaca sedang sangat bagus dan cerah sehingga kami dapat melihat secara jelas pemandangan Gunung Fuji dari atas sini. Kami juga dapat melihat pusat kota Tokyo dari kejauhan.

Setelah menyantap perbekalan makan siang, kami bergegas pulang untuk menuruni gunung menggunakan chairlift (seperti gondola, namun tidak ada seatbelt dan tempat untuk berpegang).

It was fun, see you again !! .














Jumat, 05 Mei 2017

Keribo

Keribo

Hanya pada saat mahasiswa seorang Joko Heratmo bisa punya rambut keribo

Apalagi Joko kerja jadi PNS, boro boro mau keribo, brewokan aja digunjing sana sini

Tapi Joko sekarang jadi mahasiswa (lagi)

Artinya sebentar lagi Joko bakal keribo (lagi)

Keribo banyak manfaat, salah satunya ngumpetin kebetan waktu ujian

Keribo, tunggu Joko memiliki mu lagi yaaa



Selasa, 07 Maret 2017

Pengalaman Training Kontrak FIDIC di Jepang (kerjasama Indonesia dengan JICA)


Awalnya saya tidak pernah menyangka dapat diberikan tugas ke luar negeri, terlebih lagi ke Jepang, yang selama ini pemandangannya hanya dapat saya lihat di brosur brosur diskon maskapai penerbangan. Saya sangat bersyukur telah dipercaya oleh pimpinan untuk menjadi salah satu peserta program pelatihan ini. Adalah sebuah kehormatan dan pengalaman berharga bagi saya dapat mengemban tugas untuk mengikuti pelatihan di Tokyo, Jepang mengingat ini kali pertama saya pergi ke luar Indonesia menggunakan paspor biru, dan yang pastinya tidak akan saya lupakan sepanjang karir saya sebagai Pegawai Negeri Sipil.

Saya berada di Negeri Sakura bersama sembilan orang rekan lainnya selama 13 hari, yaitu mulai tanggal 18 Juli 2016 sampai 30 Juli 2016. Kami bertolak ke Jepang menggunakan maskapai ANA (All Nippon Airways). Setelah 8 jam melelahkan di udara kami tiba di bandara Haneda, Tokyo, dan langsung disambut oleh perwakilan dari JICA untuk langsung diantar ke tempat menginap sekaligus tempat pelatihan diselenggarakan. Pelatihan ini bertempat di JICA-Tokyo International Center (TIC), 49-5 Nishihara 2-Chrome Shibuya-Ku, Tokyo-Jepang.

Pelatihan ini sendiri adalah hasil kerjasama kantor tempat saat itu saya berdinas, LKPP dengan JICA (Japan International Cooperation Agency) yang bertajuk Knowledge Co-Creation Program (Country Focus) On Project For Strengthening Of Public Procurement System In Japan 2016. Materi utama yang menjadi subyek pelatihan adalah mengenai pengelolaan kontrak proyek konstruksi berdasarkan pedoman FIDIC. Apa itu FIDIC? FIDIC adalah singkatan dari Federation Internationale Des Ingenieurs-Conseils (International Federation of Consulting Engineers). FIDIC sendiri adalah sebuah organisasi internasional berbasis di Eropa yang merupakan perkumpulan dari asosiasi-asosiasi nasional para konsultan engineering dari seluruh dunia. JICA merupakan salah satu organisasi yang turut serta membantu pembangunan Indonesia melalui program kemitraannya. Dana yang digunakan untuk menjalankan program kemitraan tersebut, mayoritas berasal dari bantuan resmi pemerintah (Official Development Assistance atau ODA) Jepang. Sebagian besar proyek di Indonesia yang sumber dananya berasal dari ODA Jepang tersebut mewajibkan untuk menggunakan kontrak FIDIC dalam proses pelaksanaannya.

Saya sangat beruntung dapat menerima materi dan berdiskusi dengan pengajar yang berkompeten dan ahli dalam bidang kontrak FIDIC khususnya dalam proyek konstruksi. Beliau adalah Professor Shunji Kusayanagi, Ph.D. yang merupakan praktisi dan akademisi di bidang konstruksi dengan pengalaman lebih dari 40 tahun di dunia konstruksi. Memiliki pengalaman sebagai pelaksana proyek konstruksi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Bahkan beliau bercerita pernah tinggal cukup lama di Batam para periode 1970-an dimana ia berperan besar dalam proyek pembangunan pelabuhan di Batu Ampar. Saat ini beliau aktif sebagai advisor untuk manajemen proyek konstruksi dan pengajar di Tokyo City University. Walaupun jauh lebih senior dari kami, para peserta pelatihan, beliau dengan rendah hati mau berbagi ilmu bahkan sesekali melakukan diskusi.

Tak hanya proses pelatihan di kelas saja yang kami dapatkan. Pada akhir minggu pertama kami diajak oleh tim JICA untuk mengenal praktik proyek konstruksi di Jepang melalui kunjungan (site visit) ke beberapa lokasi proyek konstruksi di Tokyo, seperti pembangunan terowongan di daerah Tajiri, yang  merupakan bagian dari proyek pembangunan jalan tol lingkar luar Tokyo, dan proyek pembangunan venue lomba dayung (Rowing Race) untuk olimpiade 2020 yang akan dilaksanakan di Tokyo. Di akhir pelatihan, para peserta pelatihan diwajibkan untuk membuat action plan yang berkaitan dengan kontrak FIDIC untuk dipresentasikan di hadapan para perwakilan JICA. Mereka berharap setelah kembali ke Indonesia kami dapat merealisasikan action plan tersebut.

Seperti biasa, setelah semua proses rangkaian kegiatan selesai, kami para peserta pelatihan mendapatkan sertifikat tanda keikutsertaan telah mengikuti pelatihan ini. Perwakilan JICA memanggil nama peserta satu per satu untuk kemudian diserahkan kepada peserta. Namun selembar sertifikat tidak lah cukup untuk mewakili ilmu dan pengalaman yang telah kami terima selama berada di Jepang. Banyak pelajaran yang kami dapatkan, tidak hanya materi saja, tapi juga norma dan sikap disiplin nan sangat tepat waktu masyarakat Jepang yang mungkin juga dapat kami bawa pulang ke Indonesia.





Senin, 03 Februari 2014

MABUK

Pada suatu hari ada kepiting jantan berjalan lurus di pinggir pantai, lalu ada kepiting betina yang lihat dan dia naksir. "Woow kamu beda dengan yang lain, kawinin aku mas, kawinin aku!" lalu kedua kepiting itu pun kawin, si kepiting jantan jalan lurus dan si betina jalan miring. Keesokan harinya kepiting betina kaget dan kecewa, karena kepiting yang baru saja dikawinin jalannya miring. "Kok lo jalannya miring sih? gw kira lo spesial bisa jalan lurus!!" hardik kepiting betina geram. "Sorry babe, tadi malam aku mabuk" kata si jantan.


-TAMAT-


Rabu, 22 Januari 2014

KOK SEPI SIH !

Wah sudah setahun lebih blog ini gak ada tulisannya ye (padahal mah gak akan ada yang liat juga Jok), mungkin ibarat kamar kosan udah ada sarang laba-labanya, atau mungkin sarang kelinci, atau mungkin juga kamar lo udah didobrak sama pemilik kosannya dikiriain lo mati di dalam sana.haha

Sebenarnya banyak dinamika kehidupan dan perubahan yang gw alami sejak terakhir gw posting tulisan di blog ini, tapi apadaya kesibukan dan aktivitas gw menyita segalanya termasuk ngepost tulisan lagi di blog yang nyaris gak ada pengunjungnya ini.


Yah, dinantikan saja cerita cerita baru dari Joko Heratmo selama setahun terakhir. Mungkin beberapa akan dirangkum di dalam blog ini. Selamat menunggu dan salam olahraga.