Kontributor

Sabtu, 25 Agustus 2012

Pengumpul Botol


Langit Bekasi siang itu terlihat pucat. Matahari masih bersinar terik, tetapi jalanan tidak seramai biasanya. Mungkin karena suasana Lebaran belum benar-benar berakhir. Banyak orang masih menikmati waktu bersama keluarga di kampung halaman.

Sementara itu, aku sedang dihantui perasaan yang berbeda.

Liburan hampir usai, dan itu berarti aku harus kembali ke Yogyakarta. Kota yang selama beberapa tahun terakhir menjadi tempatku menimba ilmu, mencari teman, dan belajar hidup mandiri. Kota yang seharusnya sudah terasa seperti rumah kedua.

Namun entah kenapa, kali ini aku malas kembali ke sana.

Mungkin karena skripsi yang terus menunggu untuk diselesaikan. Mungkin karena terlalu nyaman berada di rumah. Atau mungkin karena aku belum siap meninggalkan suasana hangat Lebaran yang hanya datang setahun sekali.

Apa pun alasannya, kenyataannya tetap sama. Aku harus kembali.

The show must go on.

Dua hari sebelum keberangkatan, aku pergi ke Stasiun Bekasi untuk memesan tiket kereta. Perjalanan dari rumah di Jatibening terasa lebih cepat dari biasanya. Tidak ada antrean kendaraan yang mengular panjang. Kota ini seperti sedang beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk rutinitasnya.

Setelah urusan tiket selesai, aku berjalan menuju area parkir motor.

Di tengah langkah yang santai itu, seseorang menghampiriku.

Seorang bapak paruh baya dengan kulit yang mulai menggelap karena matahari dan sebuah kantong plastik hitam besar di tangannya. Sekilas, kantong itu tampak seperti wadah dagangan minuman dingin yang sering dijajakan di sekitar stasiun.

Aku sedang meneguk sisa Mizone yang kubeli sebelumnya ketika beliau mendekat.

Tanpa banyak kata, ia membuka kantong plastiknya dan menunjuk ke arah botol yang kupegang.

Awalnya aku tidak mengerti.

Baru beberapa detik kemudian aku menyadari bahwa bapak itu mengalami kesulitan berbicara. Kalimat yang keluar dari mulutnya terdengar patah-patah. Tangannya bergerak membentuk isyarat yang tidak kupahami.

Lalu aku menangkap maksudnya.

Ia tidak sedang berjualan.

Ia hanya ingin botol kosong yang sedang kupegang.

Pengumpul botol plastik.

Entah kenapa, melihat kondisinya membuatku spontan merogoh saku. Setelah menyerahkan botol Mizone itu, aku menyelipkan uang dua ribu rupiah ke tangannya.

Jumlah yang mungkin tidak berarti apa-apa bagiku.

Tetapi reaksinya membuatku terdiam.

Bapak itu menggeleng pelan.

Uang itu dikembalikannya.

Ia hanya mengambil botol plastik tadi.

Dengan bahasa isyarat yang sederhana dan kalimat yang terbata-bata, ia berusaha menjelaskan sesuatu.

Aku tidak memahami setiap katanya. Namun aku mengerti pesan yang ingin disampaikannya.

“Aku bukan pengemis.”

Hanya itu.

Kalimat sederhana yang menghantamku lebih keras daripada nasihat panjang apa pun.

Aku berdiri mematung beberapa detik.

Malu.

Sangat malu.

Di hadapanku ada seseorang yang secara fisik mungkin memiliki keterbatasan. Seseorang yang setiap hari harus berjalan dari satu tempat ke tempat lain mengumpulkan botol-botol bekas demi mendapatkan uang.

Namun ia masih memiliki sesuatu yang mungkin mulai langka di kota besar.

Harga diri.

Di tengah zaman ketika meminta-minta sering dianggap jalan pintas, bapak itu memilih memungut sampah yang dibuang orang lain. Memilih bekerja. Memilih berkeringat.

Mungkin hasilnya tidak besar.

Tetapi itu cukup baginya.

Saat berjalan meninggalkan stasiun, pikiranku terus kembali pada sosok bapak tadi.

Aku teringat sebuah pepatah yang sejak kecil sering kudengar.

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”

Dulu kalimat itu terdengar seperti nasihat klise dalam buku pelajaran sekolah. Sesuatu yang dihafalkan untuk menjawab soal ujian, lalu dilupakan.

Siang itu, di halaman parkir Stasiun Bekasi, pepatah tersebut mendadak terasa nyata.

Karena aku baru saja melihat wujudnya.

Seorang pengumpul botol plastik dengan kantong hitam besar dan kemampuan bicara yang terbatas telah mengajarkan pelajaran yang bahkan tidak pernah kutemukan di bangku kuliah.

Bahwa bekerja, sekecil apa pun hasilnya, adalah kehormatan.

Dan bahwa terkadang, orang-orang sederhana yang kita temui hanya beberapa menit mampu meninggalkan pelajaran yang akan kita ingat seumur hidup.

Rabu, 22 Agustus 2012

Pengangguran yang Pergi ke Piala Dunia



Pemanggilan pemain ke tim nasional tidak selalu berdasarkan penampilan mereka di klub masing-masing. Bahkan sejumlah pesepakbola berhasil masuk ke skuad nasional walau mereka tengah menyandang status tanpa klub.

Jari Litmanen

Pada tahun 2007, legenda Finlandia itu sudah berusia 36 tahun. Cedera pergelangan kaki membuatnya menepi selama berbulan-bulan. Klubnya, Malmo FF, bahkan memutuskan untuk melepasnya pada pertengahan tahun.

Enam bulan tanpa bermain.

Tanpa klub.

Tanpa pertandingan kompetitif.

Namun ketika pelatih Roy Hodgson menyusun skuad Finlandia untuk kualifikasi Piala Eropa 2008, nama Litmanen tetap tercantum.

Mungkin karena pengalaman tidak bisa dibeli di bursa transfer.

Mungkin juga karena beberapa pemain memang terlalu penting untuk diabaikan hanya karena status klubnya.



Joao Pinto

Menjelang Piala Eropa 2000, situasinya bahkan lebih dramatis.

Bayangkan, hanya sekitar seminggu sebelum turnamen terbesar Eropa dimulai, Benfica memutus kontraknya secara sepihak.

Bagi kebanyakan pemain, itu mungkin menjadi mimpi buruk.

Namun bagi Pinto, itu hanya jeda singkat sebelum mengenakan seragam Portugal.

Saat jutaan orang Eropa bersiap menikmati pesta sepak bola musim panas, Joao Pinto datang ke turnamen sebagai pemain tanpa klub.

Dan tetap menjadi bagian penting skuad Portugal.

Seolah ingin mengatakan bahwa pengangguran dan kualitas pemain adalah dua hal yang tidak selalu berkaitan.




Diego Maradona

Nama yang bahkan tidak membutuhkan pengantar.

Pada 1993, ia meninggalkan Newell's Old Boys dan tidak memiliki klub ketika Argentina mempersiapkan diri menuju Piala Dunia 1994.

Namun siapa yang berani mengabaikan Maradona?

Ia tetap masuk skuad.

Tetap bermain.

Bahkan sempat mencetak gol indah ke gawang Yunani.

Sayangnya kisah tersebut berakhir tragis ketika ia gagal melewati tes doping dan dipulangkan dari turnamen.

Tetapi fakta bahwa seorang pemain tanpa klub masih bisa tampil di panggung terbesar dunia menunjukkan betapa besar pengaruh dan kualitas yang dimilikinya.










Jean-Paul Abalo

Tahun 2005, ia kehilangan pekerjaannya setelah dilepas klub Prancis, Amiens.

Berbeda dengan pemain lain yang mungkin masih berlatih di fasilitas mewah, Abalo hanya bisa menjaga kebugarannya bersama klub amatir bernama Dunkirk.

Klub amatir.

Bukan klub profesional.

Namun setahun kemudian, ia berdiri di Jerman sebagai kapten tim nasional Togo di Piala Dunia 2006.

Dari lapangan sederhana menuju panggung sepak bola terbesar di dunia.

Sebuah perjalanan yang lebih mirip naskah film daripada kenyataan.









Joao Ricardo

Kontraknya bersama Moreirense berakhir pada 2005 dan tidak diperpanjang.

Ketika banyak pemain panik mencari klub baru, Ricardo justru fokus mempersiapkan diri bersama tim nasional.

Keputusan itu ternyata tidak salah.

Di Piala Dunia 2006, ia tampil luar biasa. Beberapa penyelamatan penting membuat namanya mendapat perhatian dunia.

Ironisnya, justru setelah tampil sebagai pemain tanpa klub di Piala Dunia, ia akhirnya mendapatkan kontrak profesional baru.

Seolah-olah panggung Piala Dunia menjadi bursa kerja terbesar yang pernah diikutinya.

Kisah-kisah tersebut mengingatkan bahwa dalam sepak bola, status tidak selalu mencerminkan kemampuan.

Kadang ada pemain yang tampil hebat setiap pekan tetapi gagal dipanggil tim nasional.

Kadang ada pemain yang bahkan tidak memiliki klub, tetapi tetap dipercaya karena pengalaman, kepemimpinan, atau kualitas yang sudah terbukti selama bertahun-tahun.

Pada akhirnya, sepak bola memang tidak selalu logis.

Dan mungkin itu yang membuatnya menarik.

Karena hanya di sepak bola seseorang bisa menjawab pertanyaan:

"Kerja di mana sekarang?"

dengan,

"Belum ada klub."

lalu seminggu kemudian bermain di Piala Dunia.



sumber: Guardian

Selasa, 21 Agustus 2012

LOYALITAS TANPA BATAS DI LAPANGAN HIJAU

Teman-teman pecinta sepakbola pasti tidak akan asing lagi dengan nama Lionel Messi, bahkan teman saya yang tidak mengerti sama sekali tentang sepakbola pun mengenal namanya. Mungkin menurut saya dia pemain terhebat di muka bumi saat ini. Tak akan ada yang tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Bocah asal Argentina itu telah meraih penghargaan pemain terbaik dunia versi FIFA sebanyak tiga kali berturut turut (2009, 2010, 2011).
Si Alien

Messi adalah seniman sepakbola sejati. Ia telah berhasil memberikan berbagai gelar juara bagi tim yang diperkuatnya, FC Barcelona. Trofi La Liga, UCL, sampai Piala Dunia Antarklub sudah ia persembahkan. Kehebatannya di lapangan hijau tidak perlu diragukan lagi. Sebagai pesepakbola, Messi punya curriculum vitae yang nyaris lengkap, mungkin hanya trofi Piala Dunia dan Copa America yang sampai saat ini belum pernah ia cicipi.

Namun, terlepas dari kehebatan sang ‘Alien’, seharusnya FIFA menyediakan satu penghargaan lagi, yaitu Pemain Terloyal Dunia. Penghargaan ini ditujukan bagi pemain yang paling lama memperkuat klubnya, salah satunya adalah pemain idola saya sejak kecil Alessandro Del Piero.

Abang Alex
Alex sudah sembilan belas tahun memperkuat Juventus. Saat Juventus jatuh ke Serie B, banyak pemain bintang pergi. Diantaranya Zlatan Ibrahimovic, Fabio Cannavaro, Zambrota. Namun ada 1 bintang yang rela bermain di kompetisi kasta 2 tersebut. Dia adalah il Pinturicchio, Alessandro Del Piero. Del Piero memang super star, dan ikon Juve, namun kesetianya bersama Juventus adalah segalanya. Hidupnya hanya untuk Juventus. Lebih dari 600 penampilan, 552 penampilan dan merupakan top skor sepanjang masa dengan 262 gol. Sampai akhirnya kontraknya tidak diperpanjang oleh Juventus pada akhir musim 2011/2012 lalu para supporter Juventus tetap memberikan dukungan kepada Del Piero. Juventini dari seluruh Indonesia memberikan petisi kepada petinggi klub untuk memperpanjang kontraknya setahun lagi. Namun apa daya, Alex tetap pergi dari Juventus. Meskipun begitu nama Del Piero masih tetap dikenang oleh Juventini di seluruh dunia tak terkecuali saya.

Gerrard mengangkat trofi UCL 2005
Beberapa pemain yang menurut saya loyal adalah Steven Gerrard dan juga Fransesco Totti. Gerrard sudah empat belas  tahun membela Liverpool. Setiap bursa transfer dibuka, gelandang serba bisa yang satu ini kerap diisukan akan hijrah ke klub lain yang bersedia memberikan bayaran lebih besar ketimbang yang didapatnya di The Reds. Toh, ia memilih untuk tetap merumput di Anfield.

Selebrasi khas Totti

Satu lagi pemain hebat yang menurut saya loyal terhadap klub nya adalah Fransesco Totti. Pemain serba bisa ini merupakan sosok sentral di klubnya AS Roma. Totti memulai karir di klub junior AS Roma. Dalam perjalanan karirnya bersama Roma, Totti hanya pernah sekali merasakan scudetto dan belum pernah merasakan gelar Liga Champion. Meskipun begitu ia tetap setia membela serigala ibukota tersebut. Saat di usia emas nya Totti kerap kali menolak tawaran Real Madrid yang seringkali menggodanya dengan gaji selangit.

Kesetiaan pemain seperti Del Piero, Gerrard, dan Totti tak perlu diragukan lagi. Atas sikap mereka yang tidak gampang terbujuk uang dan popularitas, pemain-pemain pantas diberikan penghargaan khusus oleh FIFA.




Selebrasi Ala Balotelli


Samuel Rosa Goncalves, pemain dari klub Liga Brazil, Fluminense mencetak gol kemenangan atas lawannya Sport Recife dalam lanjutan Liga Brazil. Ia melakukan selebrasi yang mengigatkan kita pada striker Timnas Italia pada Euro 2012 lalu, Mario Balotelli. Setelah mencetak gol kemenangan ia langsung melepas kaos dan memamerkan otot nya.
Gol yang dicetaknya tersebut berhasil membawa Fluminense menyamai perolehan poin yang dimiliki oleh pemuncak klasemen Campeonato Brasileiro, Atletico Miniero


Sabtu, 18 Agustus 2012

TIPS MEMILIH DAGING YANG AMAN DIKONSUMSI


TIPS:
1. Pilihlah pedagang yang menjual daging dengan cara digantung.

2. Perhatikan warna daging yang hendak anda beli, jika berwarna pucat dan berair atau berwarna kebiru-biruan jangan dibeli. Jika pucat dan berair bisa jadi daging berasal dari sapi glonggongan dan jika kebiru-biruan berasal dari sapi yang sudah mati.

3. Pilihlah daging sapi yang berwarna merah tua, ini pertanda daging tersebut masih segar dan aman untuk dikonsumsi.

4. Lempar daging sapi yang anda beli diatas meja dagangan dipasar, jika daging yang anda lempar terasa licin maka jangan dibeli pilih daging yang kesat jika bersentuhan langsung dengan meja.

5. Telitilah urat daging sapi yang anda beli, jangan membeli daging yang uratnya mengembang dan kembung pilihlah daging sapi yang bentuk uratnya wajar tidak mengalami pembengkakan.

6. Belilah daging pada akhir berbelanja dan tidak membeli pada pedagang yang lingkungan, peralatan, dan orangnya kotor.

7. Terakhir tanya harganya, jika terlalu murah sebaiknya jangan dibeli. Beli lah daging sesuai harga pasarannya

Sahabat


Kalau dipikir-pikir, delapan bulan itu waktu yang cukup lama. Dalam delapan bulan, seorang bayi prematur bahkan sudah bisa lahir ke dunia. Delapan bulan juga cukup lama untuk menunggu sesuatu. Coba saja jalani hubungan jarak jauh selama delapan bulan tanpa bertemu pasangan.

Tapi entah kenapa, delapan bulan terakhir terasa sangat cepat buat saya. Padahal kalau ditanya apa yang saya kerjakan selama delapan bulan itu, jawabannya sederhana: skripsi. Ya, skripsi. Makhluk akademik yang konon dirancang untuk menguji kemampuan mahasiswa dalam melakukan penelitian. Dalam praktiknya, skripsi sering kali lebih banyak menguji kesabaran, mental, dan kemampuan mencari alasan untuk menunda pekerjaan. Delapan bulan sejak resmi menyandang status mahasiswa tingkat akhir, skripsi saya masih saja belum selesai. Bab demi bab berjalan sangat lambat. Kadang sehari hanya menghasilkan satu paragraf. Kadang seminggu hanya menghasilkan satu halaman. Kadang sebulan hanya menghasilkan stres.






Namun kalau ada satu hal yang membuat delapan bulan itu terasa menyenangkan, mungkin karena saya tidak menjalaninya sendirian. Ada seorang sahabat yang hampir selalu hadir dalam sebagian besar cerita selama masa-masa itu. Namanya Rifa. Saya tahu, bagi yang baru mendengar namanya mungkin akan langsung membayangkan seorang perempuan. Percayalah, saya juga sering menjelaskan hal yang sama kepada orang lain. Tapi sampai tulisan ini dibuat, Rifa masih seorang laki-laki tulen. Dan mungkin salah satu sahabat terbaik yang pernah saya miliki. Berbeda dengan saya yang datang ke Yogyakarta sebagai anak rantau, Rifa adalah orang asli Jogja. Ia sudah hidup di kota ini sejak kecil dan hafal berbagai sudut kota yang bahkan tidak pernah saya dengar namanya.

Yang menarik, kami berdua sama-sama sedang menghadapi masalah yang mirip. Kemalasan mengerjakan skripsi. Kalau ada kompetisi nasional untuk menunda tugas akhir, mungkin kami berdua sudah masuk babak semifinal. Akibatnya, banyak sekali aktivitas yang kami lakukan bersama. Mulai dari yang tidak penting sampai yang sangat tidak penting. Kami pernah menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk merekam lagu. Pernah pergi ke pantai malam-malam tanpa tujuan yang jelas. Pernah sibuk mengurus kandang ayam padahal tidak ada satu pun dari kami yang bercita-cita menjadi peternak. Dan entah kenapa semua aktivitas absurd itu terasa menyenangkan. Mungkin karena dilakukan bersama teman. Atau mungkin karena saat itu kami sedang mencari cara kreatif untuk menghindari skripsi. Selain menjadi partner dalam berbagai kegiatan tidak produktif, Rifa juga termasuk orang yang paling sering membantu saya ketika sedang kesulitan. Saya punya riwayat penyakit lambung yang cukup sering kambuh. Dan setiap kali itu terjadi, hampir selalu ada satu orang yang bisa saya hubungi tanpa perlu sungkan. Rifa. Sudah tidak terhitung berapa kali ia harus mengantar saya ke rumah sakit atau UGD Sardjito di tengah malam. Padahal saat itu ia bisa saja memilih tidur nyenyak di rumahnya.

Tapi begitulah dia. Kalau ada teman yang membutuhkan bantuan, ia akan datang tanpa banyak bertanya. Tanpa perhitungan. Tanpa syarat. Di luar semua itu, Rifa juga memiliki bakat yang luar biasa dalam bermusik. Ia sangat mahir bermain gitar dan memiliki kemampuan menciptakan lagu yang membuat saya iri. Sudah banyak lagu yang ia tulis, sebagian besar terinspirasi oleh sosok perempuan yang sedang mengisi pikirannya saat itu. Terutama lagu ulang tahun. Kalau ada kompetisi nasional menciptakan lagu ulang tahun untuk gebetan, saya yakin dia bisa menjadi juaranya. Namun yang paling unik adalah cara dia menunjukkan rasa suka kepada seseorang. Orang lain mungkin mengirim bunga. Orang lain mungkin mengirim cokelat. Orang lain mungkin mengirim pesan romantis. Rifa? Pernah suatu pagi sekitar pukul lima, ia pergi ke pantai hanya untuk mengambil pasir dan menangkap kepiting yang kemudian diberikan kepada perempuan yang ia sukai. Ya. Pasir dan kepiting. Saya juga tidak tahu bagaimana logika romantisnya bekerja. Tapi justru karena keunikannya itu, salah seorang teman kami pernah menjulukinya "Pujangga". Dan jujur saja, julukan itu memang cukup cocok. Semakin bertambah usia, saya semakin sadar bahwa persahabatan adalah salah satu hal paling berharga yang dimiliki manusia. Tidak semua orang beruntung memiliki sahabat yang tetap hadir saat keadaan sedang tidak baik-baik saja. Sahabat yang mau mendengarkan keluhan yang sama berulang kali. Sahabat yang siap membantu tanpa menghitung untung rugi. Sahabat yang tetap datang meskipun kita sedang tidak menyenangkan untuk diajak bertemu. Banyak orang hadir saat kita sedang tertawa. Tapi hanya sedikit yang bertahan saat kita sedang kesulitan. Dan sampai hari ini, saya merasa beruntung karena memiliki sahabat seperti Rifa. Mungkin skripsi saya belum selesai. Mungkin masa-masa menjadi mahasiswa tingkat akhir sering kali membuat frustrasi. Namun jika suatu hari nanti saya mengenang periode ini, yang paling saya ingat mungkin bukan halaman demi halaman skripsi yang saya tulis. Melainkan cerita-cerita kecil bersama seorang sahabat. Tentang perjalanan malam ke pantai. Tentang lagu-lagu yang direkam tanpa tujuan. Tentang kunjungan ke UGD. Tentang kepiting dan pasir untuk gebetan. Dan tentang seorang sahabat bernama Rifa yang membuat delapan bulan masa penantian kelulusan terasa jauh lebih ringan. Karena pada akhirnya, skripsi akan selesai. Kuliah akan berakhir. Setiap orang akan melanjutkan jalannya masing-masing. Tetapi persahabatan yang baik akan selalu menjadi cerita yang layak untuk dikenang.


Persahabatan ……
Bicaralah pada aku tentang kebenaran persahabatan?
sahabat adalah kebutuhan jiwa, yang mesti terpenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau panen dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Karena kau menghampirinya saat hati lapar dan mencarinya saat jiwa butuh kedamaian.
Bila dia bicara, mengungkapkan pikirannya, kau tidak takut membisikkan kata “tidak” dikalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “ya”.
Dan bilamana ia diam,hatimu tiada henti mencoba merangkum bahasa hatinya.
Di kala berpisah dengan sahabat, janganlah berduka cita, karena yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin lebih cemerlang dalam ketiadaannya.
bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.
Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya ruh kejiwaan.
Karena kasih yang menyisakan pamrih, diluar jangkauan misterinya, bukanlah kasih, tetapi sebuah jala yang ditebarkan, hanya menangkap yang tiada diharapkan.
Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenal pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu hingga kau senantiasa mencarinya,untuk sekedar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu.
Karena dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarlah ada tawa ria berbagi kebahagiaan.
Karena dalam titik-titik kecil embun pagi, hati manusia menemukan fajar jati diri dan gairah segar kehidupan.

-Khalil Gibran-

Jumat, 22 Juni 2012

WHO IS NEW JUVENTUS BOSS MASSIMO CARRERA?

Tidak akan pernah mudah untuk menjadi pelatih kepala di sebuah klub top.

Itu lah yang sekarang dihadapi oleh pelatih 'dadakan' juventus saat ini, Massimo Carrera. Ia sementara terpaksa harus meneruskan rezim Antonio Conte yang sukses membawa juventus merebut Scudetto musim lalu tanpa terkalahkan.

Conte resmi dihukum selama 10 bulan oleh FIGC terkait. Pelatih Juventus tersebut telah resmi menerima hukuman berupa larangan aktif di pertandingan Juventus selama 10 bulan ke depan akibat keterlibatannya dalam skandal Calcioscommesse. Conte dipastikan tidak bisa mendampingi anak asuhnya dalam sebagian besar pertandingan musim 2012/2013 mendatang.

Jadi siapakah sebenarnya sang pelatih 'dadakan' Juventus, Massimo Carrera?


Jumat, 13 April 2012

Selamat Tinggal, Laptop Kesayanganku

Ada yang bilang kehilangan itu bagian dari kehidupan. Ada yang bilang semua yang datang pasti akan pergi. Ada juga yang bilang kalau barang hilang berarti belum rezeki. Entah siapa yang pertama kali menciptakan kalimat-kalimat bijak itu, tapi saya yakin orang tersebut belum pernah kehilangan laptop berisi skripsi, tugas kuliah, koleksi lagu, film, foto-foto, dan berbagai harta karun digital lainnya sekaligus dalam satu malam.

Saya kehilangan laptop kesayangan saya beberapa minggu yang lalu.

Bukan karena rusak dimakan usia. Bukan karena jatuh dari meja kos. Bukan pula karena dijual untuk membayar uang kuliah yang menunggak. Laptop itu hilang dengan cara yang jauh lebih dramatis dan menyakitkan: dicuri saat saya sedang tertidur pulas di dalam bus malam.

Padahal hubungan saya dengan laptop tersebut sudah berlangsung hampir empat tahun. Umurnya memang tidak muda lagi. Baterainya sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kehamilan dan beberapa tombol keyboard harus ditekan dengan teknik khusus agar mau berfungsi. Namun bagi seorang mahasiswa, laptop bukan sekadar benda elektronik. Ia adalah teman seperjuangan. Tempat menyimpan tugas, skripsi, foto-foto kenangan, koleksi musik, dan sesekali digunakan untuk aktivitas untuk memuaskan hawa nafsu yang tidak perlu dijelaskan terlalu rinci kepada publik.

Malam itu saya berangkat dari Bandung menuju Yogyakarta menggunakan bus Kramat Djati. Libur beberapa hari di rumah telah usai dan saya harus kembali ke kota pelajar untuk melanjutkan kehidupan sebagai mahasiswa tingkat akhir. Kehidupan yang sebagian besar diisi oleh niat mengerjakan skripsi, rencana mengerjakan skripsi, dan rasa bersalah karena tidak jadi mengerjakan skripsi.

Ketika tiba di pool bus kawasan Dago sekitar pukul enam sore, saya sempat merasa beruntung. Bus yang akan saya tumpangi terlihat sangat sepi. Dari puluhan kursi yang tersedia, hanya beberapa yang terisi penumpang. Situasi seperti itu biasanya menjadi kabar baik. Tidak perlu berebut kursi, tidak perlu mendengar suara dengkuran penumpang lain dari jarak dekat, dan yang terpenting, ada banyak ruang untuk selonjoran kaki.

Bus kemudian bergerak menuju pool berikutnya di kawasan Jalan Riau. Di sinilah cerita ini mulai berubah arah.

Dua orang penumpang naik ke dalam bus. Yang pertama seorang bapak-bapak bertubuh tambun dengan wajah yang sangat biasa. Terlalu biasa malah. Wajahnya seperti gabungan antara pedagang buah, tukang servis televisi, dan ketua RT yang baru selesai ronda malam. Tidak ada satu pun ciri yang membuat seseorang akan berpikir, "Nah, ini pasti maling profesional."

Yang kedua jauh lebih menarik perhatian. Seorang pemuda dengan jaket kulit hitam dan model rambut yang membuat saya langsung teringat kepada Charlie ST12. Semakin lama saya memperhatikannya, semakin kuat kemiripannya. Rambutnya, gaya berjalannya, bahkan ekspresi wajahnya seperti seseorang yang sebentar lagi akan menyanyikan lagu patah hati di atas panggung pensi sekolah.

Kalau malam itu tiba-tiba dia mengeluarkan gitar dari tas lalu menyanyikan "Saat Terakhir", saya rasa sebagian penumpang justru akan ikut bernyanyi.

Setelah kedua orang tersebut naik, jumlah penumpang di dalam bus bertambah menjadi tiga belas orang. Tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat suasana terasa lebih hidup. Perjalanan kembali berlanjut menembus malam Jawa Barat menuju Jawa Tengah.

Awalnya tidak ada yang aneh. Saya masih terjaga dan beberapa kali memperhatikan kedua penumpang tadi berpindah-pindah kursi. Kadang duduk di depan, lalu pindah ke tengah, kemudian pindah lagi ke belakang. Ketika ada yang bertanya, mereka menjawab bahwa AC bus terlalu dingin.

Alasan yang sebenarnya cukup aneh.

Karena setahu saya AC bus tidak bekerja berdasarkan lokasi kursi. Hembusan AC tidak keluar dari tempat pantat

Namun saat itu saya tidak terlalu memikirkannya.

Lagipula tas ransel yang berisi laptop sedang saya peluk erat di pangkuan. Posisi yang menurut saya saat itu sudah sangat aman. Bahkan mungkin terlalu aman.

Sekitar pukul dua dini hari sesuatu yang aneh mulai terjadi. Rasa kantuk datang begitu cepat. Biasanya saya cukup sulit tidur di kendaraan umum, tetapi malam itu kelopak mata terasa berat luar biasa. Saya mencoba bertahan beberapa menit sambil sesekali melihat ke luar jendela, namun akhirnya menyerah.

Saya tertidur.

Dan saya tidak hanya tidur.

Saya tidur seperti orang yang baru menyelesaikan kerja rodi selama tiga hari tiga malam tanpa istirahat.

Pulas.

Sangat pulas.

Begitu pulas sampai saya tidak mendengar apa pun.

Tidak mendengar suara orang berjalan.

Tidak mendengar suara resleting dibuka.

Tidak mendengar suara tas diobrak-abrik.

Bahkan kalau malam itu resleting celana saya dibuka, mungkin saya tetap tidur.

Saya baru terbangun ketika matahari hampir terbit. Bus saat itu sudah memasuki wilayah Purworejo. Dengan mata yang masih setengah terbuka, saya meraba tas ransel yang sejak semalam berada di pangkuan.

Ada yang terasa berbeda.

Tas itu lebih ringan.

Jauh lebih ringan.

Awalnya saya berpikir mungkin hanya perasaan. Namun begitu resleting dibuka, saya langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres.

Laptop saya hilang.

Raib.

Lenyap.

Menghilang begitu saja seperti mantan yang tiba-tiba selingkuh sama teman les LIA nya (gak usah curhat)

Saya langsung membongkar seluruh isi tas dengan panik. Kaus kotor masih ada. Celana masih ada. Oleh-oleh dari Bandung masih ada. Bahkan charger laptop masih ada.

Yang hilang hanya laptopnya.

Saya sempat kagum sekaligus kesal. Pencurinya ternyata sangat profesional. Ia tahu persis mana yang bernilai dan mana yang tidak.

Belum sempat saya mencerna kejadian itu, terdengar suara panik dari kursi depan.

"Mas, laptop saya hilang!"

Lalu terdengar suara lain.

"Laptop saya juga nggak ada!"

Dalam hitungan menit suasana bus berubah menjadi forum silaturahmi para korban pencurian laptop se-Jawa Tengah.

Saat itulah saya menyadari bahwa saya tidak sendirian.

Dan ketika saya menoleh ke belakang, kursi yang sebelumnya ditempati bapak tambun dan Charlie ST12 sudah kosong.

Mereka telah turun.

Menurut keterangan kenek, keduanya turun di daerah Kebumen beberapa jam sebelumnya.

Saya hanya bisa terdiam.

Hubungan empat tahun saya dengan laptop itu berakhir tanpa salam perpisahan.

Tanpa ucapan terima kasih.

Tanpa kesempatan terakhir untuk menekan tombol shutdown.

Yang lebih menyebalkan lagi, alih-alih mendapat hiburan, saya justru mendapat kuliah umum dari beberapa penumpang.

"Masnya kurang hati-hati."

"Masnya sih tidur terlalu pulas."

"Masnya harusnya ditaruh di bagasi."

Saya hanya mengangguk.

Karena kadang orang yang baru kehilangan sesuatu tidak membutuhkan solusi. Mereka hanya ingin diberi kesempatan untuk sedih beberapa menit tanpa dihakimi.

Perjalanan menuju Yogyakarta pagi itu terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Di luar jendela, matahari mulai naik dan kehidupan berjalan seperti biasa. Sementara saya duduk memandangi jalan sambil membayangkan ke mana laptop saya pergi.

Mungkin sekarang sedang berada di pasar loak.

Mungkin sudah berpindah tangan.

Atau mungkin sedang dipakai seseorang untuk mengetik skripsi yang jauh lebih rajin daripada pemilik sebelumnya.

Siapa tahu.

Yang jelas, malam itu saya belajar satu hal penting. Jangan pernah menganggap perjalanan sepi sebagai perjalanan aman. Dan jika suatu saat Anda naik bus malam lalu melihat seseorang yang sangat mirip Charlie ST12, mungkin tidak ada salahnya untuk sedikit lebih waspada.

Demi keselamatan laptop dan kesehatan mental Anda.






Sabtu, 31 Maret 2012

Grup Paling Maut




Belanda, Jerman, Denmark, dan Portugal tergabung dalam Grup B Euro 2012 nanti. Grup ini disebut grup neraka. Rata-rata ranking FIFA keempat negara tersebut adalah 5,75, tahukah kalian bahwa pada Euro edisi sebelum-sebelumnya masih ada Grup yang lebih 'neraka' dari Grup ini




GRUP C EURO 1996
Di dalam grup ini Jerman, yang saat itu ada di ranking 2 dunia, bergabung dengan Rusia (peringkat ke-3), Italia (7), dan Rep. Ceska (10). Rata-rata peringkat FIFA di Grup C ini adalah 5,5. Sebagai catatan, Tim Panser kemudian menjadi juara turnamen ini










GRUP D EURO 2000

Prancis, dalam merintis jalan menuju tangga kampiun Euro 2000, juga harus masuk grup neraka bersama Belanda, Rep. Ceska, dan Denmark. Rata-rata ranking negara Grup D memang hanya 9,75. Namun, angka itu muncul lebih karena salah satu tim favorit, Belanda sedang tercecer di peringkat ke-21 saat turnamen dimulai








PIALA DUNIA 1982
Peringkat FIFA baru diperkenalkan pada 1993. Sebelum itu, Piala Dunia 1982 melahirkan kelompok yang bisa dibilang paling mengerikan. Pada fase grup kedua, Grup 3 mengumpulkan tiga negara kuat dalam sepakbola, yakni sang juara bertahan Argentina, Italia (yang akhirnya menjadi juara), dan Brasil.








GRUP C EURO 2008
Belanda, Italia, Prancis, dan Rumania tergabung dalam Grup C Euro 2008. Grup ini disebut grup neraka. Rata-rata ra nking FIFA keempat negara tersebut adalah 8. Namun sayang, Italia dan Belanda yang akhirnya lolos dari grup ini tidak mampu berbicara banyak di fase selanjutnya.

Jumat, 16 Maret 2012

It’s not over til it’s over, Comeback Dramatis dalam Sepakbola

"pertandingan belum berakhir sampai peluit akhir ditiupkan"

Kalimat tersebut mungkin sudah tidak asing lagi di telinga para pecinta kartun, terutama yang bertemakan sepakbola. Kalimat tersebut adalah kalimat yang selalu diucapkan tokoh kartun Tsubasa Ozora. Tsubasa adalah sosok yang tidak mengenal menyerah dan terus berjuang sampai peluit akhir meskipun tim yang dibelanya tertinggal lebih dulu dari tim lawan.

Ternyata kalimat Tsubasa tersebut beberapa kali pernah terjadi di dalam sepakbola nyata. Tim yang tertinggal lebih dulu dari tim lawan berbalik unggul dan akhirnya memenangkan pertandingan yang di dalam sepakbola sering disebut dengan istilah comeback.

Berikut beberapa comeback yang menurut saya paling dramatis selama menjadi penikmat sepakbola layar kaca.

1. UEFA Champions League Final 1999
Ini mungkin comeback paling terkenal sepanjang masa. Bayern unggul sejak menit ke-6 dan bertahan hingga injury time. Namun dalam waktu kurang dari tiga menit, Manchester United membalikkan keadaan menjadi 2-1. Dari hampir kalah menjadi juara Eropa.

2. UEFA Champions League Final 2005
Tertinggal 0-3 saat turun minum melawan tim bertabur bintang seperti Milan seharusnya menjadi akhir cerita. Tapi Liverpool mencetak tiga gol dalam enam menit dan akhirnya menang lewat adu penalti. "Miracle of Istanbul" lahir malam itu.

3. UEFA Champions League Quarter-final 2004
Setelah kalah 1-4 di San Siro, hampir tidak ada yang percaya Deportivo de La Coruña bisa lolos. Namun mereka menang 4-0 di kandang dan menyingkirkan Milan dengan agregat 5-4. Salah satu comeback agregat terbesar dalam sejarah Liga Champions.

4. UEFA Champions League Final 1986
Bukan comeback dalam skor, tetapi comeback mental. Klub asal Rumania yang dianggap underdog mampu menahan Barcelona hingga adu penalti dan menciptakan salah satu kejutan terbesar di sepakbola Eropa.

5. UEFA Euro 2000 Final
Italia sudah unggul 1-0 dan tinggal hitungan detik menjadi juara Eropa. Namun gol injury time dari Sylvain Wiltord memaksa perpanjangan waktu. Kemudian David Trezeguet mencetak golden goal yang membuat Prancis menjadi juara.

6. UEFA Champions League Final 1960
Real Madrid sempat tertinggal lebih dulu, tetapi kemudian membalas dengan enam gol dan menang 7-3. Salah satu final paling spektakuler sepanjang sejarah.

7. FIFA World Cup Quarter-final 1970
Dikenal sebagai "Game of the Century". Jerman Barat menyamakan kedudukan di menit akhir sebelum terjadi saling kejar gol di babak tambahan. Italia akhirnya menang 4-3 dalam salah satu pertandingan paling dramatis sepanjang masa.


Rabu, 07 Maret 2012

sesuatu-yang-tidak-boleh-disebut-namanya

Sudah beberapa hari hujan turun hampir tanpa henti di Yogyakarta. Dari jendela kamar kos, langit terlihat kelabu sejak pagi hingga sore. Jalanan yang biasanya ramai oleh mahasiswa yang berlalu-lalang dengan sepeda motor atau berjalan kaki menuju kampus kini tampak lebih lengang. Sesekali terdengar suara kendaraan melintas di atas aspal yang basah, lalu kembali tenggelam oleh suara rintik hujan yang memukul genteng dan dedaunan.

Cuaca seperti ini biasanya menghadirkan perasaan yang aneh. Ada keinginan untuk menjadi produktif karena lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar, tetapi pada saat yang sama ada godaan yang jauh lebih besar untuk menarik selimut, membuat secangkir kopi, lalu menunda semua pekerjaan sampai besok pagi.

Sudah beberapa hari pula saya berniat mengerjakan sesuatu yang namanya sebenarnya sederhana, tetapi entah kenapa terasa berat untuk disebutkan secara langsung. Karena itu saya lebih suka menyebutnya dengan istilah "sesuatu-yang-tidak-boleh-disebut-namanya".

Mirip Voldemort.

Ya, Voldemort dalam cerita Harry Potter.



Penyihir botak yang sepanjang hidupnya hanya punya satu pekerjaan utama: membuat hidup Harry Potter sengsara. Musuh abadi yang baru bisa dikalahkan di seri terakhir. Logis juga sebenarnya. Kalau Voldemort mati di film pertama, mungkin Harry Potter hanya akan tamat menjadi film tentang anak sekolah yang rajin nyimeng.

"Lah terus apa hubungannya Voldemort sama hidup lo, Jok?"

Tidak ada sebenarnya.

Dia bukan tetangga baru saya.

Bukan peliharaan.

Apalagi pacar.

Kalau dipikir-pikir memang sangat tidak nyambung membandingkan seorang penyihir jahat dengan sesuatu yang sedang saya hadapi saat ini. Tetapi ini tulisan saya, dan saya adalah Joko. Dalam dunia seorang Joko, segala sesuatu bisa menjadi nyambung selama pemilik ceritanya menghendaki.

Dan semakin lama saya pikirkan, ternyata ada beberapa kesamaan antara Voldemort dan hal yang sedang saya hadapi sekarang. Keduanya sama-sama menghantui. Sama-sama membuat tidur tidak tenang. Sama-sama sering muncul dalam pikiran pada saat yang tidak diinginkan.

Nama itu akhirnya harus disebut juga.

Skripsi.

Satu kata sederhana yang mampu mengubah mahasiswa biasa menjadi makhluk yang hidup dalam dua dunia. Dunia pertama adalah dunia nyata, tempat ia nongkrong bersama teman-temannya sambil tertawa dan terlihat santai. Dunia kedua adalah dunia dalam kepalanya sendiri, tempat rasa bersalah terus berbisik karena halaman demi halaman skripsi belum juga bertambah.

Sebelum memasuki semester delapan, saya sering mendengar cerita dari kakak tingkat mengenai skripsi. Sebagian besar terdengar menenangkan.

"Gampang kok."

"Asal rajin."

"Yang penting niat."

"Pelan-pelan juga selesai."

Dulu saya percaya.

Sekarang saya mulai curiga bahwa sebagian dari mereka hanya ingin melihat adik tingkatnya merasakan penderitaan yang sama.

Karena setelah menjalaninya sendiri, saya menemukan kenyataan yang berbeda. Skripsi tidak sesederhana yang dibayangkan. Ia seperti lawan yang tidak pernah benar-benar menyerang, tetapi selalu hadir di sudut ruangan, mengingatkan bahwa ada sesuatu yang harus diselesaikan.

Hari-hari saya selama semester delapan akhirnya berjalan dengan pola yang hampir sama.

Pagi menjelang siang saya bangun tidur. Kadang sekitar pukul sepuluh, kadang pukul sebelas, tergantung seberapa larut saya tidur malam sebelumnya. Setelah mandi dan mencari makan, saya kembali ke kamar kos dengan satu niat yang selalu sama.

Hari ini harus mengerjakan skripsi.

Laptop dinyalakan.

File skripsi dibuka.

Saya membaca beberapa paragraf terakhir yang ditulis beberapa hari sebelumnya.

Lalu mulai mengetik.

Satu kalimat.

Dua kalimat.

Kemudian berhenti.

Entah kenapa selalu ada hal lain yang tampak lebih menarik.

Di desktop laptop saya terdapat sebuah shortcut bergambar seorang kakek tua berjenggot putih. Ikon kecil itu sering kali terlihat jauh lebih menggoda daripada file skripsi yang sudah terbuka sejak tadi.

Awalnya saya hanya berniat membuka sebentar.

Lima menit saja.

Setelah itu kembali mengerjakan skripsi.

Tetapi seperti banyak hal dalam hidup, rencana dan kenyataan sering berjalan di jalur yang berbeda.

Lima menit berubah menjadi satu jam.

Satu jam berubah menjadi tiga jam.

Dan tanpa terasa hari mulai sore.

Ketika matahari tenggelam dan suara azan magrib terdengar dari masjid dekat kos, saya sering kali baru menyadari bahwa hari itu kembali berlalu tanpa kemajuan berarti.

Yang bertambah bukan jumlah halaman skripsi.

Begitulah hari-hari itu berjalan.

Bangun siang.

Makan.

Main game.

Jalan-jalan.

Ngopi.

Nongkrong.

Pulang.

Tidur menjelang subuh.

Lalu mengulang semuanya lagi keesokan hari.

Rutinitas yang nyaman, tetapi diam-diam membuat waktu berjalan sangat cepat.

Kadang saya merasa baru kemarin memasuki semester delapan. Ternyata kalender sudah berganti beberapa bulan. Hujan datang dan pergi. Teman-teman mulai berbicara tentang seminar hasil, sidang, dan wisuda. Sementara saya masih berkutat dengan halaman-halaman yang terasa tidak kunjung selesai.

Namun di tengah semua itu, saya sadar bahwa mungkin setiap mahasiswa memang harus melewati fase seperti ini. Fase ketika yang dilawan bukan dosen pembimbing, bukan teori penelitian, dan bukan tumpukan referensi. Melainkan dirinya sendiri.

Melawan rasa malas.

Melawan kebiasaan menunda.

Melawan keyakinan bahwa besok masih ada waktu.

Karena sering kali masalah terbesar bukanlah tidak mampu mengerjakan skripsi, melainkan terlalu sering menundanya.

Malam ini hujan kembali turun di luar kamar kos. Udara terasa dingin. Di atas meja, file skripsi masih terbuka seperti biasanya. Kursor berkedip pelan di akhir paragraf terakhir yang saya tulis.

Saya menatap layar cukup lama.

Lalu mulai mengetik.

Perlahan.

Tidak banyak.

Mungkin hanya beberapa kalimat.

Tetapi setidaknya kali ini saya benar-benar menulis.

Karena pada akhirnya, skripsi setebal apa pun selalu dimulai dari satu kalimat pertama.

Dan mungkin, seperti Harry Potter yang akhirnya berhasil mengalahkan Voldemort, suatu hari nanti saya juga akan berhasil mengalahkan versi Voldemort saya sendiri.

Yaitu skripsi.