Ada beberapa hal yang hanya bisa dilakukan seorang Joko Heratmo pada masa-masa tertentu dalam hidupnya.
Salah satunya adalah memiliki rambut keribo.
Percayalah, ini bukan perkara sederhana.
Dulu, saat masih menyandang status mahasiswa, rambut keribo bukan sekadar gaya rambut. Keribo adalah identitas. Keribo adalah kebebasan. Keribo adalah pernyataan bahwa hidup masih terlalu santai untuk dipusingkan oleh aturan penampilan.
Pada masa itu, rambut bisa tumbuh ke segala arah tanpa ada yang protes. Mau mirip pemain bola Brasil era 70-an? Silakan. Mau seperti vokalis band indie yang albumnya cuma laku 37 kopi? Tidak masalah. Mau seperti mikrofon karaoke? Bahkan lebih baik.
Pokoknya selama masih mahasiswa, rambut adalah wilayah kedaulatan pribadi.
Lalu kehidupan berubah.
Ijazah didapat.
Pekerjaan datang.
Status berubah menjadi Pegawai Negeri Sipil.
Dan sejak saat itu, hubungan saya dengan rambut keribo memasuki masa-masa sulit.
Bukan berarti ada aturan tertulis yang melarang keribo. Tidak ada. Namun ada sesuatu yang jauh lebih kuat daripada aturan tertulis.
Namanya adalah gunjingan.
Kalau rambut mulai sedikit panjang:
"Wah, lagi sibuk ya?"
Kalau jambang mulai tumbuh:
"Mas lagi cuti dari dunia birokrasi?"
Kalau brewok mulai terlihat:
"Ikut audisi band metal, Pak?"
Belum apa-apa sudah menjadi bahan diskusi publik.
Akhirnya, demi menjaga stabilitas nasional dan ketertiban lingkungan kerja, rambut selalu dipangkas sebelum sempat mencapai cita-citanya menjadi keribo.
Tahun demi tahun berlalu.
Keribo hanya tinggal kenangan.
Sampai takdir kembali mempertemukan saya dengan dunia kampus.
Ya, saya kembali menjadi mahasiswa.
Mahasiswa. Lagi.
Memang usianya sudah tidak sama dengan mahasiswa yang sibuk mengejar tanda tangan dosen pembimbing sambil membawa map warna-warni. Namun secara administratif, statusnya tetap mahasiswa.
Dan setiap mahasiswa memiliki hak asasi yang tidak tertulis.
Hak untuk begadang.
Hak untuk menunda tugas.
Hak untuk mengeluh tentang deadline.
Dan yang terpenting...
Hak untuk memelihara rambut keribo.
Saya mulai membayangkan masa depan yang indah.
Bangun pagi tanpa harus memikirkan apakah rambut sudah cukup rapi.
Berangkat ke kampus dengan rambut yang volumenya lebih besar daripada isi dompet.
Berfoto bersama teman-teman dengan kepala yang terlihat seperti awan cumulonimbus.
Sungguh masa depan yang menjanjikan.
Lagi pula, rambut keribo memiliki banyak manfaat.
Salah satunya adalah fungsi historis yang sudah terbukti sejak zaman mahasiswa.
Sebagai tempat penyimpanan kertas contekan darurat.
Saya tidak mengatakan pernah melakukannya.
Saya hanya mengatakan bahwa secara teoritis, rambut keribo memiliki kapasitas penyimpanan yang cukup mengesankan.
Tentu sekarang fungsi itu sudah tidak relevan lagi. Selain karena ujian modern semakin canggih, saya juga sudah terlalu tua untuk melakukan hal-hal kreatif seperti itu.
Meski begitu, tetap saja ada rasa rindu.
Rindu pada masa ketika rambut bisa tumbuh sesuka hati.
Rindu pada masa ketika urusan terbesar dalam hidup adalah memilih antara masuk kelas atau lanjut tidur.
Rindu pada masa ketika keribo bukan masalah.
Jadi sekarang saya hanya bisa menunggu.
Menunggu rambut ini tumbuh perlahan.
Menunggu volume yang dulu pernah berjaya kembali hadir.
Menunggu momen ketika cermin akhirnya berkata:
"Ya. Ini dia. Keribo telah kembali."
Keribo, tunggu Joko ya.
Sebentar lagi kita bersama lagi.
Semoga kali ini tidak kalah duluan oleh tukang cukur.