Kalau dipikir-pikir, delapan bulan itu waktu yang cukup lama. Dalam delapan bulan, seorang bayi prematur bahkan sudah bisa lahir ke dunia. Delapan bulan juga cukup lama untuk menunggu sesuatu. Coba saja jalani hubungan jarak jauh selama delapan bulan tanpa bertemu pasangan.
Tapi entah kenapa, delapan bulan terakhir terasa sangat cepat buat saya.
Padahal kalau ditanya apa yang saya kerjakan selama delapan bulan itu, jawabannya sederhana: skripsi.
Ya, skripsi.
Makhluk akademik yang konon dirancang untuk menguji kemampuan mahasiswa dalam melakukan penelitian. Dalam praktiknya, skripsi sering kali lebih banyak menguji kesabaran, mental, dan kemampuan mencari alasan untuk menunda pekerjaan.
Delapan bulan sejak resmi menyandang status mahasiswa tingkat akhir, skripsi saya masih saja belum selesai. Bab demi bab berjalan sangat lambat. Kadang sehari hanya menghasilkan satu paragraf. Kadang seminggu hanya menghasilkan satu halaman. Kadang sebulan hanya menghasilkan stres.
Namun kalau ada satu hal yang membuat delapan bulan itu terasa menyenangkan, mungkin karena saya tidak menjalaninya sendirian.
Ada seorang sahabat yang hampir selalu hadir dalam sebagian besar cerita selama masa-masa itu.
Namanya Rifa.
Saya tahu, bagi yang baru mendengar namanya mungkin akan langsung membayangkan seorang perempuan.
Percayalah, saya juga sering menjelaskan hal yang sama kepada orang lain.
Tapi sampai tulisan ini dibuat, Rifa masih seorang laki-laki tulen.
Dan mungkin salah satu sahabat terbaik yang pernah saya miliki.
Berbeda dengan saya yang datang ke Yogyakarta sebagai anak rantau, Rifa adalah orang asli Jogja. Ia sudah hidup di kota ini sejak kecil dan hafal berbagai sudut kota yang bahkan tidak pernah saya dengar namanya.
Yang menarik, kami berdua sama-sama sedang menghadapi masalah yang mirip.
Kemalasan mengerjakan skripsi.
Kalau ada kompetisi nasional untuk menunda tugas akhir, mungkin kami berdua sudah masuk babak semifinal.
Akibatnya, banyak sekali aktivitas yang kami lakukan bersama. Mulai dari yang tidak penting sampai yang sangat tidak penting.
Kami pernah menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk merekam lagu. Pernah pergi ke pantai malam-malam tanpa tujuan yang jelas. Pernah sibuk mengurus kandang ayam padahal tidak ada satu pun dari kami yang bercita-cita menjadi peternak.
Dan entah kenapa semua aktivitas absurd itu terasa menyenangkan.
Mungkin karena dilakukan bersama teman.
Atau mungkin karena saat itu kami sedang mencari cara kreatif untuk menghindari skripsi.
Selain menjadi partner dalam berbagai kegiatan tidak produktif, Rifa juga termasuk orang yang paling sering membantu saya ketika sedang kesulitan.
Saya punya riwayat penyakit lambung yang cukup sering kambuh. Dan setiap kali itu terjadi, hampir selalu ada satu orang yang bisa saya hubungi tanpa perlu sungkan.
Rifa.
Sudah tidak terhitung berapa kali ia harus mengantar saya ke rumah sakit atau UGD Sardjito di tengah malam. Padahal saat itu ia bisa saja memilih tidur nyenyak di rumahnya.

Tapi begitulah dia.
Kalau ada teman yang membutuhkan bantuan, ia akan datang tanpa banyak bertanya.
Tanpa perhitungan.
Tanpa syarat.
Di luar semua itu, Rifa juga memiliki bakat yang luar biasa dalam bermusik.
Ia sangat mahir bermain gitar dan memiliki kemampuan menciptakan lagu yang membuat saya iri. Sudah banyak lagu yang ia tulis, sebagian besar terinspirasi oleh sosok perempuan yang sedang mengisi pikirannya saat itu.
Terutama lagu ulang tahun.
Kalau ada kompetisi nasional menciptakan lagu ulang tahun untuk gebetan, saya yakin dia bisa menjadi juaranya.
Namun yang paling unik adalah cara dia menunjukkan rasa suka kepada seseorang.
Orang lain mungkin mengirim bunga.
Orang lain mungkin mengirim cokelat.
Orang lain mungkin mengirim pesan romantis.
Rifa?
Pernah suatu pagi sekitar pukul lima, ia pergi ke pantai hanya untuk mengambil pasir dan menangkap kepiting yang kemudian diberikan kepada perempuan yang ia sukai.
Ya.
Pasir dan kepiting.
Saya juga tidak tahu bagaimana logika romantisnya bekerja.
Tapi justru karena keunikannya itu, salah seorang teman kami pernah menjulukinya "Pujangga".
Dan jujur saja, julukan itu memang cukup cocok.
Semakin bertambah usia, saya semakin sadar bahwa persahabatan adalah salah satu hal paling berharga yang dimiliki manusia.
Tidak semua orang beruntung memiliki sahabat yang tetap hadir saat keadaan sedang tidak baik-baik saja.
Sahabat yang mau mendengarkan keluhan yang sama berulang kali.
Sahabat yang siap membantu tanpa menghitung untung rugi.
Sahabat yang tetap datang meskipun kita sedang tidak menyenangkan untuk diajak bertemu.
Banyak orang hadir saat kita sedang tertawa.
Tapi hanya sedikit yang bertahan saat kita sedang kesulitan.
Dan sampai hari ini, saya merasa beruntung karena memiliki sahabat seperti Rifa.
Mungkin skripsi saya belum selesai.
Mungkin masa-masa menjadi mahasiswa tingkat akhir sering kali membuat frustrasi.
Namun jika suatu hari nanti saya mengenang periode ini, yang paling saya ingat mungkin bukan halaman demi halaman skripsi yang saya tulis.
Melainkan cerita-cerita kecil bersama seorang sahabat.
Tentang perjalanan malam ke pantai.
Tentang lagu-lagu yang direkam tanpa tujuan.
Tentang kunjungan ke UGD.
Tentang kepiting dan pasir untuk gebetan.
Dan tentang seorang sahabat bernama Rifa yang membuat delapan bulan masa penantian kelulusan terasa jauh lebih ringan.
Karena pada akhirnya, skripsi akan selesai.
Kuliah akan berakhir.
Setiap orang akan melanjutkan jalannya masing-masing.
Tetapi persahabatan yang baik akan selalu menjadi cerita yang layak untuk dikenang.
Persahabatan ……
Bicaralah pada aku tentang kebenaran persahabatan?
sahabat adalah kebutuhan jiwa, yang mesti terpenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau
panen dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Karena kau menghampirinya saat hati lapar dan mencarinya
saat jiwa butuh kedamaian.
Bila dia bicara, mengungkapkan pikirannya, kau tidak takut
membisikkan kata “tidak” dikalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata
“ya”.
Dan bilamana ia diam,hatimu tiada henti mencoba merangkum
bahasa hatinya.
Di kala berpisah dengan sahabat, janganlah berduka cita,
karena yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin lebih cemerlang dalam
ketiadaannya.
bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung
daripada tanah ngarai dataran.
Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling
memperkaya ruh kejiwaan.
Karena kasih yang menyisakan pamrih, diluar jangkauan
misterinya, bukanlah kasih, tetapi sebuah jala yang ditebarkan, hanya menangkap
yang tiada diharapkan.
Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenal pula
musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu hingga kau senantiasa
mencarinya,untuk sekedar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu.
Karena dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi
kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarlah ada tawa ria
berbagi kebahagiaan.
Karena dalam titik-titik kecil embun pagi, hati manusia
menemukan fajar jati diri dan gairah segar kehidupan.
-Khalil Gibran-