Kontributor

Sabtu, 31 Maret 2012

Grup Paling Maut




Belanda, Jerman, Denmark, dan Portugal tergabung dalam Grup B Euro 2012 nanti. Grup ini disebut grup neraka. Rata-rata ranking FIFA keempat negara tersebut adalah 5,75, tahukah kalian bahwa pada Euro edisi sebelum-sebelumnya masih ada Grup yang lebih 'neraka' dari Grup ini




GRUP C EURO 1996
Di dalam grup ini Jerman, yang saat itu ada di ranking 2 dunia, bergabung dengan Rusia (peringkat ke-3), Italia (7), dan Rep. Ceska (10). Rata-rata peringkat FIFA di Grup C ini adalah 5,5. Sebagai catatan, Tim Panser kemudian menjadi juara turnamen ini










GRUP D EURO 2000

Prancis, dalam merintis jalan menuju tangga kampiun Euro 2000, juga harus masuk grup neraka bersama Belanda, Rep. Ceska, dan Denmark. Rata-rata ranking negara Grup D memang hanya 9,75. Namun, angka itu muncul lebih karena salah satu tim favorit, Belanda sedang tercecer di peringkat ke-21 saat turnamen dimulai








PIALA DUNIA 1982
Peringkat FIFA baru diperkenalkan pada 1993. Sebelum itu, Piala Dunia 1982 melahirkan kelompok yang bisa dibilang paling mengerikan. Pada fase grup kedua, Grup 3 mengumpulkan tiga negara kuat dalam sepakbola, yakni sang juara bertahan Argentina, Italia (yang akhirnya menjadi juara), dan Brasil.








GRUP C EURO 2008
Belanda, Italia, Prancis, dan Rumania tergabung dalam Grup C Euro 2008. Grup ini disebut grup neraka. Rata-rata ra nking FIFA keempat negara tersebut adalah 8. Namun sayang, Italia dan Belanda yang akhirnya lolos dari grup ini tidak mampu berbicara banyak di fase selanjutnya.

Jumat, 16 Maret 2012

It’s not over til it’s over, Comeback Dramatis dalam Sepakbola

"pertandingan belum berakhir sampai peluit akhir ditiupkan"

Kalimat tersebut mungkin sudah tidak asing lagi di telinga para pecinta kartun, terutama yang bertemakan sepakbola. Kalimat tersebut adalah kalimat yang selalu diucapkan tokoh kartun Tsubasa Ozora. Tsubasa adalah sosok yang tidak mengenal menyerah dan terus berjuang sampai peluit akhir meskipun tim yang dibelanya tertinggal lebih dulu dari tim lawan.

Ternyata kalimat Tsubasa tersebut beberapa kali pernah terjadi di dalam sepakbola nyata. Tim yang tertinggal lebih dulu dari tim lawan berbalik unggul dan akhirnya memenangkan pertandingan yang di dalam sepakbola sering disebut dengan istilah comeback.

Berikut beberapa comeback yang menurut saya paling dramatis selama menjadi penikmat sepakbola layar kaca.

1. UEFA Champions League Final 1999
Ini mungkin comeback paling terkenal sepanjang masa. Bayern unggul sejak menit ke-6 dan bertahan hingga injury time. Namun dalam waktu kurang dari tiga menit, Manchester United membalikkan keadaan menjadi 2-1. Dari hampir kalah menjadi juara Eropa.

2. UEFA Champions League Final 2005
Tertinggal 0-3 saat turun minum melawan tim bertabur bintang seperti Milan seharusnya menjadi akhir cerita. Tapi Liverpool mencetak tiga gol dalam enam menit dan akhirnya menang lewat adu penalti. "Miracle of Istanbul" lahir malam itu.

3. UEFA Champions League Quarter-final 2004
Setelah kalah 1-4 di San Siro, hampir tidak ada yang percaya Deportivo de La Coruña bisa lolos. Namun mereka menang 4-0 di kandang dan menyingkirkan Milan dengan agregat 5-4. Salah satu comeback agregat terbesar dalam sejarah Liga Champions.

4. UEFA Champions League Final 1986
Bukan comeback dalam skor, tetapi comeback mental. Klub asal Rumania yang dianggap underdog mampu menahan Barcelona hingga adu penalti dan menciptakan salah satu kejutan terbesar di sepakbola Eropa.

5. UEFA Euro 2000 Final
Italia sudah unggul 1-0 dan tinggal hitungan detik menjadi juara Eropa. Namun gol injury time dari Sylvain Wiltord memaksa perpanjangan waktu. Kemudian David Trezeguet mencetak golden goal yang membuat Prancis menjadi juara.

6. UEFA Champions League Final 1960
Real Madrid sempat tertinggal lebih dulu, tetapi kemudian membalas dengan enam gol dan menang 7-3. Salah satu final paling spektakuler sepanjang sejarah.

7. FIFA World Cup Quarter-final 1970
Dikenal sebagai "Game of the Century". Jerman Barat menyamakan kedudukan di menit akhir sebelum terjadi saling kejar gol di babak tambahan. Italia akhirnya menang 4-3 dalam salah satu pertandingan paling dramatis sepanjang masa.


Rabu, 07 Maret 2012

sesuatu-yang-tidak-boleh-disebut-namanya

Sudah beberapa hari hujan turun hampir tanpa henti di Yogyakarta. Dari jendela kamar kos, langit terlihat kelabu sejak pagi hingga sore. Jalanan yang biasanya ramai oleh mahasiswa yang berlalu-lalang dengan sepeda motor atau berjalan kaki menuju kampus kini tampak lebih lengang. Sesekali terdengar suara kendaraan melintas di atas aspal yang basah, lalu kembali tenggelam oleh suara rintik hujan yang memukul genteng dan dedaunan.

Cuaca seperti ini biasanya menghadirkan perasaan yang aneh. Ada keinginan untuk menjadi produktif karena lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar, tetapi pada saat yang sama ada godaan yang jauh lebih besar untuk menarik selimut, membuat secangkir kopi, lalu menunda semua pekerjaan sampai besok pagi.

Sudah beberapa hari pula saya berniat mengerjakan sesuatu yang namanya sebenarnya sederhana, tetapi entah kenapa terasa berat untuk disebutkan secara langsung. Karena itu saya lebih suka menyebutnya dengan istilah "sesuatu-yang-tidak-boleh-disebut-namanya".

Mirip Voldemort.

Ya, Voldemort dalam cerita Harry Potter.



Penyihir botak yang sepanjang hidupnya hanya punya satu pekerjaan utama: membuat hidup Harry Potter sengsara. Musuh abadi yang baru bisa dikalahkan di seri terakhir. Logis juga sebenarnya. Kalau Voldemort mati di film pertama, mungkin Harry Potter hanya akan tamat menjadi film tentang anak sekolah yang rajin nyimeng.

"Lah terus apa hubungannya Voldemort sama hidup lo, Jok?"

Tidak ada sebenarnya.

Dia bukan tetangga baru saya.

Bukan peliharaan.

Apalagi pacar.

Kalau dipikir-pikir memang sangat tidak nyambung membandingkan seorang penyihir jahat dengan sesuatu yang sedang saya hadapi saat ini. Tetapi ini tulisan saya, dan saya adalah Joko. Dalam dunia seorang Joko, segala sesuatu bisa menjadi nyambung selama pemilik ceritanya menghendaki.

Dan semakin lama saya pikirkan, ternyata ada beberapa kesamaan antara Voldemort dan hal yang sedang saya hadapi sekarang. Keduanya sama-sama menghantui. Sama-sama membuat tidur tidak tenang. Sama-sama sering muncul dalam pikiran pada saat yang tidak diinginkan.

Nama itu akhirnya harus disebut juga.

Skripsi.

Satu kata sederhana yang mampu mengubah mahasiswa biasa menjadi makhluk yang hidup dalam dua dunia. Dunia pertama adalah dunia nyata, tempat ia nongkrong bersama teman-temannya sambil tertawa dan terlihat santai. Dunia kedua adalah dunia dalam kepalanya sendiri, tempat rasa bersalah terus berbisik karena halaman demi halaman skripsi belum juga bertambah.

Sebelum memasuki semester delapan, saya sering mendengar cerita dari kakak tingkat mengenai skripsi. Sebagian besar terdengar menenangkan.

"Gampang kok."

"Asal rajin."

"Yang penting niat."

"Pelan-pelan juga selesai."

Dulu saya percaya.

Sekarang saya mulai curiga bahwa sebagian dari mereka hanya ingin melihat adik tingkatnya merasakan penderitaan yang sama.

Karena setelah menjalaninya sendiri, saya menemukan kenyataan yang berbeda. Skripsi tidak sesederhana yang dibayangkan. Ia seperti lawan yang tidak pernah benar-benar menyerang, tetapi selalu hadir di sudut ruangan, mengingatkan bahwa ada sesuatu yang harus diselesaikan.

Hari-hari saya selama semester delapan akhirnya berjalan dengan pola yang hampir sama.

Pagi menjelang siang saya bangun tidur. Kadang sekitar pukul sepuluh, kadang pukul sebelas, tergantung seberapa larut saya tidur malam sebelumnya. Setelah mandi dan mencari makan, saya kembali ke kamar kos dengan satu niat yang selalu sama.

Hari ini harus mengerjakan skripsi.

Laptop dinyalakan.

File skripsi dibuka.

Saya membaca beberapa paragraf terakhir yang ditulis beberapa hari sebelumnya.

Lalu mulai mengetik.

Satu kalimat.

Dua kalimat.

Kemudian berhenti.

Entah kenapa selalu ada hal lain yang tampak lebih menarik.

Di desktop laptop saya terdapat sebuah shortcut bergambar seorang kakek tua berjenggot putih. Ikon kecil itu sering kali terlihat jauh lebih menggoda daripada file skripsi yang sudah terbuka sejak tadi.

Awalnya saya hanya berniat membuka sebentar.

Lima menit saja.

Setelah itu kembali mengerjakan skripsi.

Tetapi seperti banyak hal dalam hidup, rencana dan kenyataan sering berjalan di jalur yang berbeda.

Lima menit berubah menjadi satu jam.

Satu jam berubah menjadi tiga jam.

Dan tanpa terasa hari mulai sore.

Ketika matahari tenggelam dan suara azan magrib terdengar dari masjid dekat kos, saya sering kali baru menyadari bahwa hari itu kembali berlalu tanpa kemajuan berarti.

Yang bertambah bukan jumlah halaman skripsi.

Begitulah hari-hari itu berjalan.

Bangun siang.

Makan.

Main game.

Jalan-jalan.

Ngopi.

Nongkrong.

Pulang.

Tidur menjelang subuh.

Lalu mengulang semuanya lagi keesokan hari.

Rutinitas yang nyaman, tetapi diam-diam membuat waktu berjalan sangat cepat.

Kadang saya merasa baru kemarin memasuki semester delapan. Ternyata kalender sudah berganti beberapa bulan. Hujan datang dan pergi. Teman-teman mulai berbicara tentang seminar hasil, sidang, dan wisuda. Sementara saya masih berkutat dengan halaman-halaman yang terasa tidak kunjung selesai.

Namun di tengah semua itu, saya sadar bahwa mungkin setiap mahasiswa memang harus melewati fase seperti ini. Fase ketika yang dilawan bukan dosen pembimbing, bukan teori penelitian, dan bukan tumpukan referensi. Melainkan dirinya sendiri.

Melawan rasa malas.

Melawan kebiasaan menunda.

Melawan keyakinan bahwa besok masih ada waktu.

Karena sering kali masalah terbesar bukanlah tidak mampu mengerjakan skripsi, melainkan terlalu sering menundanya.

Malam ini hujan kembali turun di luar kamar kos. Udara terasa dingin. Di atas meja, file skripsi masih terbuka seperti biasanya. Kursor berkedip pelan di akhir paragraf terakhir yang saya tulis.

Saya menatap layar cukup lama.

Lalu mulai mengetik.

Perlahan.

Tidak banyak.

Mungkin hanya beberapa kalimat.

Tetapi setidaknya kali ini saya benar-benar menulis.

Karena pada akhirnya, skripsi setebal apa pun selalu dimulai dari satu kalimat pertama.

Dan mungkin, seperti Harry Potter yang akhirnya berhasil mengalahkan Voldemort, suatu hari nanti saya juga akan berhasil mengalahkan versi Voldemort saya sendiri.

Yaitu skripsi.