Kontributor

Jumat, 05 Mei 2017

Keribo

Ada beberapa hal yang hanya bisa dilakukan seorang Joko Heratmo pada masa-masa tertentu dalam hidupnya.

Salah satunya adalah memiliki rambut keribo.

Percayalah, ini bukan perkara sederhana.

Dulu, saat masih menyandang status mahasiswa, rambut keribo bukan sekadar gaya rambut. Keribo adalah identitas. Keribo adalah kebebasan. Keribo adalah pernyataan bahwa hidup masih terlalu santai untuk dipusingkan oleh aturan penampilan.

Pada masa itu, rambut bisa tumbuh ke segala arah tanpa ada yang protes. Mau mirip pemain bola Brasil era 70-an? Silakan. Mau seperti vokalis band indie yang albumnya cuma laku 37 kopi? Tidak masalah. Mau seperti mikrofon karaoke? Bahkan lebih baik.

Pokoknya selama masih mahasiswa, rambut adalah wilayah kedaulatan pribadi.

Lalu kehidupan berubah.

Ijazah didapat.

Pekerjaan datang.

Status berubah menjadi Pegawai Negeri Sipil.

Dan sejak saat itu, hubungan saya dengan rambut keribo memasuki masa-masa sulit.

Bukan berarti ada aturan tertulis yang melarang keribo. Tidak ada. Namun ada sesuatu yang jauh lebih kuat daripada aturan tertulis.

Namanya adalah gunjingan.

Kalau rambut mulai sedikit panjang:

"Wah, lagi sibuk ya?"

Kalau jambang mulai tumbuh:

"Mas lagi cuti dari dunia birokrasi?"

Kalau brewok mulai terlihat:

"Ikut audisi band metal, Pak?"

Belum apa-apa sudah menjadi bahan diskusi publik.

Akhirnya, demi menjaga stabilitas nasional dan ketertiban lingkungan kerja, rambut selalu dipangkas sebelum sempat mencapai cita-citanya menjadi keribo.

Tahun demi tahun berlalu.

Keribo hanya tinggal kenangan.

Sampai takdir kembali mempertemukan saya dengan dunia kampus.

Ya, saya kembali menjadi mahasiswa.

Mahasiswa. Lagi.

Memang usianya sudah tidak sama dengan mahasiswa yang sibuk mengejar tanda tangan dosen pembimbing sambil membawa map warna-warni. Namun secara administratif, statusnya tetap mahasiswa.

Dan setiap mahasiswa memiliki hak asasi yang tidak tertulis.

Hak untuk begadang.

Hak untuk menunda tugas.

Hak untuk mengeluh tentang deadline.

Dan yang terpenting...

Hak untuk memelihara rambut keribo.

Saya mulai membayangkan masa depan yang indah.

Bangun pagi tanpa harus memikirkan apakah rambut sudah cukup rapi.

Berangkat ke kampus dengan rambut yang volumenya lebih besar daripada isi dompet.

Berfoto bersama teman-teman dengan kepala yang terlihat seperti awan cumulonimbus.

Sungguh masa depan yang menjanjikan.

Lagi pula, rambut keribo memiliki banyak manfaat.

Salah satunya adalah fungsi historis yang sudah terbukti sejak zaman mahasiswa.

Sebagai tempat penyimpanan kertas contekan darurat.

Saya tidak mengatakan pernah melakukannya.

Saya hanya mengatakan bahwa secara teoritis, rambut keribo memiliki kapasitas penyimpanan yang cukup mengesankan.

Tentu sekarang fungsi itu sudah tidak relevan lagi. Selain karena ujian modern semakin canggih, saya juga sudah terlalu tua untuk melakukan hal-hal kreatif seperti itu.

Meski begitu, tetap saja ada rasa rindu.

Rindu pada masa ketika rambut bisa tumbuh sesuka hati.

Rindu pada masa ketika urusan terbesar dalam hidup adalah memilih antara masuk kelas atau lanjut tidur.

Rindu pada masa ketika keribo bukan masalah.

Jadi sekarang saya hanya bisa menunggu.

Menunggu rambut ini tumbuh perlahan.

Menunggu volume yang dulu pernah berjaya kembali hadir.

Menunggu momen ketika cermin akhirnya berkata:

"Ya. Ini dia. Keribo telah kembali."

Keribo, tunggu Joko ya.

Sebentar lagi kita bersama lagi.

Semoga kali ini tidak kalah duluan oleh tukang cukur.




Selasa, 07 Maret 2017

Belajar Kontrak FIDIC di Negeri Sakura: Pengalaman Pertama Bertugas ke Jepang


Ada kalanya sebuah perjalanan bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Ia menjadi titik balik, membuka wawasan baru, sekaligus meninggalkan kenangan yang akan terus dikenang sepanjang perjalanan karier. Begitulah yang saya rasakan ketika mendapatkan kesempatan mengikuti program pelatihan di Jepang pada pertengahan tahun 2016.

Sejujurnya, saya tidak pernah membayangkan akan memperoleh penugasan ke luar negeri, terlebih lagi ke Jepang. Selama ini, negeri yang terkenal dengan bunga sakura, kereta cepat, dan kedisiplinan masyarakatnya itu hanya saya kenal melalui buku, televisi, atau brosur-brosur promosi maskapai penerbangan yang sering menghiasi ruang tunggu bandara.

Karena itu, ketika mendapatkan kabar bahwa saya dipercaya menjadi salah satu peserta program pelatihan yang diselenggarakan melalui kerja sama antara LKPP dan JICA, perasaan saya bercampur aduk antara bangga, bersyukur, dan tidak percaya.

Bagi seorang pegawai yang saat itu masih relatif muda, kesempatan tersebut merupakan kehormatan yang luar biasa. Tidak hanya karena dapat mewakili instansi dalam kegiatan internasional, tetapi juga karena perjalanan itu menjadi pengalaman pertama saya bepergian ke luar Indonesia menggunakan paspor dinas. Sebuah pengalaman yang hingga hari ini masih saya ingat dengan sangat jelas.

Pada tanggal 18 Juli 2016, saya bersama sembilan orang rekan lainnya memulai perjalanan menuju Jepang. Kami berangkat menggunakan maskapai ANA (All Nippon Airways), salah satu maskapai kebanggaan Jepang yang terkenal dengan pelayanan dan ketepatan waktunya.

Bagi sebagian orang, penerbangan selama delapan jam mungkin terdengar biasa. Namun bagi saya, perjalanan tersebut terasa begitu istimewa. Di balik jendela pesawat yang sesekali memperlihatkan hamparan awan putih, saya membayangkan seperti apa kehidupan di negara yang selama ini sering disebut sebagai salah satu negara paling maju di dunia.

Setelah menempuh penerbangan yang cukup panjang, pesawat akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Haneda, Tokyo. Kesan pertama yang saya rasakan begitu sederhana namun kuat: semuanya tampak tertib.

Mulai dari proses kedatangan, pengambilan bagasi, hingga sistem transportasi bandara berjalan dengan rapi dan efisien.

Setelah keluar dari area kedatangan, kami disambut oleh perwakilan JICA yang kemudian mengantar kami menuju tempat pelatihan sekaligus akomodasi selama berada di Jepang, yaitu JICA Tokyo International Center (TIC) yang berlokasi di kawasan Nishihara, Shibuya.

Bagi banyak orang, nama Shibuya identik dengan kawasan bisnis dan pusat aktivitas anak muda Tokyo. Namun di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan tersebut, JICA TIC hadir sebagai lingkungan yang nyaman untuk belajar dan bertukar pengalaman dengan peserta dari berbagai negara.

Pelatihan yang kami ikuti merupakan bagian dari program kerja sama antara LKPP dan JICA yang bertajuk Knowledge Co-Creation Program (Country Focus) on Project for Strengthening of Public Procurement System in Japan 2016.

Fokus utama pelatihan adalah pengelolaan kontrak proyek konstruksi berdasarkan standar FIDIC (Federation Internationale Des Ingenieurs-Conseils), organisasi internasional yang menjadi rujukan berbagai proyek konstruksi di dunia.

Bagi Indonesia, pemahaman terhadap kontrak FIDIC menjadi sangat penting karena sebagian besar proyek yang dibiayai melalui skema Official Development Assistance (ODA) Pemerintah Jepang menggunakan standar kontrak tersebut.

Selama pelatihan, kami berkesempatan belajar langsung dari Professor Shunji Kusayanagi, Ph.D., seorang praktisi sekaligus akademisi yang memiliki pengalaman lebih dari empat dekade di bidang konstruksi internasional.

Beliau bukan hanya memahami teori, tetapi juga pernah terlibat langsung dalam berbagai proyek pembangunan di banyak negara, termasuk Indonesia.

Salah satu cerita yang paling menarik perhatian peserta adalah ketika beliau mengenang masa tugasnya di Batam pada era 1970-an. Saat itu beliau terlibat dalam proyek pembangunan Pelabuhan Batu Ampar yang menjadi salah satu infrastruktur penting bagi perkembangan kawasan tersebut.

Meskipun memiliki pengalaman dan reputasi yang luar biasa, Prof. Kusayanagi tampil sangat sederhana. Suasana kelas yang seharusnya formal sering berubah menjadi diskusi yang hangat dan interaktif. Beliau tidak segan menjawab pertanyaan peserta satu per satu, bahkan kerap berbagi pengalaman lapangan yang tidak dapat ditemukan di dalam buku.

Dari beliau kami belajar bahwa keberhasilan sebuah proyek konstruksi bukan hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh komunikasi, manajemen risiko, dan kemampuan para pihak untuk menyelesaikan permasalahan secara profesional.

Salah satu bagian paling menarik dari program ini adalah kegiatan site visit yang diselenggarakan pada akhir minggu pertama.

Jika selama beberapa hari sebelumnya kami belajar di dalam kelas, kali ini kami diajak melihat langsung bagaimana proyek konstruksi dikelola di Jepang.

Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah proyek pembangunan terowongan di kawasan Tajiri yang merupakan bagian dari proyek jalan tol lingkar luar Tokyo.

Melihat langsung proses pembangunan infrastruktur berskala besar memberikan perspektif yang berbeda dibandingkan hanya mempelajari dokumen kontrak di ruang kelas. Kami dapat melihat bagaimana aspek keselamatan kerja diterapkan secara ketat, bagaimana koordinasi antarpihak dilakukan, serta bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi pekerjaan.

Kunjungan berikutnya tidak kalah menarik. Kami diajak melihat pembangunan venue cabang olahraga dayung yang dipersiapkan untuk Olimpiade Tokyo 2020.

Saat itu, Olimpiade masih empat tahun lagi. Namun sebagian pekerjaan konstruksi sudah berjalan dengan perencanaan yang sangat matang.

Hal tersebut menunjukkan bagaimana Jepang mempersiapkan sebuah kegiatan besar jauh sebelum pelaksanaannya.

Selama hampir dua minggu berada di Jepang, saya menyadari bahwa pelajaran yang kami peroleh tidak hanya berasal dari ruang kelas maupun lokasi proyek.

Ada banyak hal lain yang diam-diam mengajarkan kami nilai-nilai penting.

Kami belajar tentang budaya tepat waktu yang bukan sekadar slogan.

Kami melihat bagaimana masyarakat menghormati antrean tanpa perlu diawasi.

Kami menyaksikan bagaimana fasilitas umum dijaga dengan penuh tanggung jawab.

Kami merasakan bagaimana sebuah sistem dapat berjalan dengan baik ketika setiap orang menjalankan perannya secara disiplin.

Hal-hal sederhana tersebut mungkin terlihat biasa bagi masyarakat Jepang. Namun bagi kami, pengalaman tersebut menjadi bahan refleksi yang sangat berharga.

Sebagai bagian dari penutupan program, setiap peserta diwajibkan menyusun action plan yang berkaitan dengan implementasi prinsip-prinsip kontrak FIDIC di lingkungan kerja masing-masing.

Rencana tersebut kemudian dipresentasikan di hadapan perwakilan JICA sebagai bentuk komitmen bahwa ilmu yang diperoleh selama pelatihan tidak berhenti sebagai pengetahuan semata, melainkan dapat diterapkan setelah kembali ke Indonesia.

Pada hari terakhir, satu per satu peserta dipanggil ke depan untuk menerima sertifikat pelatihan.

Tepuk tangan terdengar ketika nama peserta disebutkan. Kamera sesekali mengabadikan momen tersebut.

Namun ketika memegang sertifikat itu, saya menyadari bahwa nilai sebenarnya dari perjalanan ini tidak terletak pada selembar kertas yang saya bawa pulang.

Yang jauh lebih berharga adalah pengalaman, wawasan, dan pelajaran hidup yang kami peroleh selama berada di Negeri Sakura.

Dari Jepang, kami tidak hanya belajar tentang kontrak FIDIC dan manajemen proyek konstruksi.

Kami juga belajar tentang profesionalisme, kedisiplinan, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap waktu.

Pelajaran-pelajaran itulah yang hingga hari ini masih saya bawa dalam perjalanan karier sebagai aparatur sipil negara.

Dan mungkin, itulah oleh-oleh terbaik yang bisa dibawa pulang dari sebuah perjalanan dinas ke luar negeri.