Exploring Kanto: Saitama
Akhir pekan ini, perjalanan kami membawa langkah ke utara Tokyo, menuju Saitama-shi, ibu kota Prefektur Saitama. Bersama dua rekan sesama mahasiswa di GRIPS Tokyo, saya berkesempatan menyaksikan salah satu laga paling bergengsi di sepak bola Jepang: Final J.League Cup antara Shonan Bellmare dan Yokohama F. Marinos.
Tujuan kami adalah Saitama Stadium 2002. Bagi pencinta sepak bola, nama stadion ini tentu tidak asing. Stadion yang menjadi salah satu venue Piala Dunia 2002 tersebut merupakan salah satu stadion sepak bola murni terbesar di Jepang, tanpa lintasan atletik yang memisahkan pemain dan penonton. Hasilnya, atmosfer pertandingan terasa begitu dekat dan hidup.
Meski dikenal sebagai kandang dari Urawa Red Diamonds, stadion ini kerap dipercaya menjadi tuan rumah berbagai laga besar. Mulai dari final turnamen domestik hingga pertandingan tim nasional Jepang.Perjalanan menuju stadion sendiri menjadi bagian dari petualangan. Dari Yokohama, jaraknya sekitar 76 kilometer atau hampir dua jam perjalanan dengan kereta. Namun seperti halnya para peziarah sepak bola di mana pun berada, jarak terasa bukan masalah ketika tujuan akhirnya adalah stadion.
Sejak tiba di kawasan stadion, warna-warni atribut kedua kubu sudah mendominasi suasana. Ribuan pendukung datang membawa harapan yang sama: melihat tim kesayangan mengangkat trofi.
Sayangnya, harapan kami tidak berakhir dengan cerita bahagia.
Yokohama F. Marinos, tim yang kami dukung, harus mengakui keunggulan Shonan Bellmare dengan skor tipis 0-1. Peluit panjang berbunyi, para pemain Bellmare berpesta, sementara kubu Marinos hanya bisa menatap trofi yang gagal mereka bawa pulang.
Namun sepak bola sering kali menawarkan cerita yang lebih besar daripada sekadar hasil akhir.
Hal yang paling membekas justru datang dari tribun penonton. Di tengah rivalitas dan tensi pertandingan final, kedua kelompok suporter menunjukkan sikap yang patut diapresiasi. Tidak ada intimidasi antarsuporter, tidak ada provokasi berlebihan, apalagi keributan.
Kalau pun ada yang menjadi sasaran intimidasi, sepertinya hanya wasit.
Dan itu pun dilakukan secara demokratis oleh kedua kubu. Haha.
Mungkin itulah salah satu alasan mengapa pengalaman menonton sepak bola di Jepang selalu terasa istimewa. Kompetitif di lapangan, tetapi tetap penuh rasa hormat di tribun.
Hasil pertandingan mungkin tidak berpihak kepada kami hari ini. Namun perjalanan ke salah satu stadion paling ikonik di Jepang, atmosfer final yang luar biasa, dan pelajaran tentang budaya suporter yang dewasa membuat perjalanan ini tetap layak dikenang.
Sampai jumpa di pertandingan berikutnya.
Football is temporary, away days are forever.




