
Pada tahun 2007, legenda Finlandia itu sudah berusia 36 tahun. Cedera pergelangan kaki membuatnya menepi selama berbulan-bulan. Klubnya, Malmo FF, bahkan memutuskan untuk melepasnya pada pertengahan tahun.
Enam bulan tanpa bermain.
Tanpa klub.
Tanpa pertandingan kompetitif.
Namun ketika pelatih Roy Hodgson menyusun skuad Finlandia untuk kualifikasi Piala Eropa 2008, nama Litmanen tetap tercantum.
Mungkin karena pengalaman tidak bisa dibeli di bursa transfer.
Mungkin juga karena beberapa pemain memang terlalu penting untuk diabaikan hanya karena status klubnya.Menjelang Piala Eropa 2000, situasinya bahkan lebih dramatis.
Bayangkan, hanya sekitar seminggu sebelum turnamen terbesar Eropa dimulai, Benfica memutus kontraknya secara sepihak.
Bagi kebanyakan pemain, itu mungkin menjadi mimpi buruk.
Namun bagi Pinto, itu hanya jeda singkat sebelum mengenakan seragam Portugal.
Saat jutaan orang Eropa bersiap menikmati pesta sepak bola musim panas, Joao Pinto datang ke turnamen sebagai pemain tanpa klub.
Dan tetap menjadi bagian penting skuad Portugal.
Seolah ingin mengatakan bahwa pengangguran dan kualitas pemain adalah dua hal yang tidak selalu berkaitan.

Nama yang bahkan tidak membutuhkan pengantar.
Pada 1993, ia meninggalkan Newell's Old Boys dan tidak memiliki klub ketika Argentina mempersiapkan diri menuju Piala Dunia 1994.
Namun siapa yang berani mengabaikan Maradona?
Ia tetap masuk skuad.
Tetap bermain.
Bahkan sempat mencetak gol indah ke gawang Yunani.
Sayangnya kisah tersebut berakhir tragis ketika ia gagal melewati tes doping dan dipulangkan dari turnamen.
Tetapi fakta bahwa seorang pemain tanpa klub masih bisa tampil di panggung terbesar dunia menunjukkan betapa besar pengaruh dan kualitas yang dimilikinya.
Jean-Paul Abalo
Tahun 2005, ia kehilangan pekerjaannya setelah dilepas klub Prancis, Amiens.
Berbeda dengan pemain lain yang mungkin masih berlatih di fasilitas mewah, Abalo hanya bisa menjaga kebugarannya bersama klub amatir bernama Dunkirk.
Klub amatir.
Bukan klub profesional.
Namun setahun kemudian, ia berdiri di Jerman sebagai kapten tim nasional Togo di Piala Dunia 2006.
Dari lapangan sederhana menuju panggung sepak bola terbesar di dunia.
Sebuah perjalanan yang lebih mirip naskah film daripada kenyataan.
Kontraknya bersama Moreirense berakhir pada 2005 dan tidak diperpanjang.
Ketika banyak pemain panik mencari klub baru, Ricardo justru fokus mempersiapkan diri bersama tim nasional.
Keputusan itu ternyata tidak salah.
Di Piala Dunia 2006, ia tampil luar biasa. Beberapa penyelamatan penting membuat namanya mendapat perhatian dunia.
Ironisnya, justru setelah tampil sebagai pemain tanpa klub di Piala Dunia, ia akhirnya mendapatkan kontrak profesional baru.
Seolah-olah panggung Piala Dunia menjadi bursa kerja terbesar yang pernah diikutinya.
Kisah-kisah tersebut mengingatkan bahwa dalam sepak bola, status tidak selalu mencerminkan kemampuan.
Kadang ada pemain yang tampil hebat setiap pekan tetapi gagal dipanggil tim nasional.
Kadang ada pemain yang bahkan tidak memiliki klub, tetapi tetap dipercaya karena pengalaman, kepemimpinan, atau kualitas yang sudah terbukti selama bertahun-tahun.
Pada akhirnya, sepak bola memang tidak selalu logis.
Dan mungkin itu yang membuatnya menarik.
Karena hanya di sepak bola seseorang bisa menjawab pertanyaan:
"Kerja di mana sekarang?"
dengan,
"Belum ada klub."
lalu seminggu kemudian bermain di Piala Dunia.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar