Kontributor

Sabtu, 25 Agustus 2012

Pengumpul Botol


Langit Bekasi siang itu terlihat pucat. Matahari masih bersinar terik, tetapi jalanan tidak seramai biasanya. Mungkin karena suasana Lebaran belum benar-benar berakhir. Banyak orang masih menikmati waktu bersama keluarga di kampung halaman.

Sementara itu, aku sedang dihantui perasaan yang berbeda.

Liburan hampir usai, dan itu berarti aku harus kembali ke Yogyakarta. Kota yang selama beberapa tahun terakhir menjadi tempatku menimba ilmu, mencari teman, dan belajar hidup mandiri. Kota yang seharusnya sudah terasa seperti rumah kedua.

Namun entah kenapa, kali ini aku malas kembali ke sana.

Mungkin karena skripsi yang terus menunggu untuk diselesaikan. Mungkin karena terlalu nyaman berada di rumah. Atau mungkin karena aku belum siap meninggalkan suasana hangat Lebaran yang hanya datang setahun sekali.

Apa pun alasannya, kenyataannya tetap sama. Aku harus kembali.

The show must go on.

Dua hari sebelum keberangkatan, aku pergi ke Stasiun Bekasi untuk memesan tiket kereta. Perjalanan dari rumah di Jatibening terasa lebih cepat dari biasanya. Tidak ada antrean kendaraan yang mengular panjang. Kota ini seperti sedang beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk rutinitasnya.

Setelah urusan tiket selesai, aku berjalan menuju area parkir motor.

Di tengah langkah yang santai itu, seseorang menghampiriku.

Seorang bapak paruh baya dengan kulit yang mulai menggelap karena matahari dan sebuah kantong plastik hitam besar di tangannya. Sekilas, kantong itu tampak seperti wadah dagangan minuman dingin yang sering dijajakan di sekitar stasiun.

Aku sedang meneguk sisa Mizone yang kubeli sebelumnya ketika beliau mendekat.

Tanpa banyak kata, ia membuka kantong plastiknya dan menunjuk ke arah botol yang kupegang.

Awalnya aku tidak mengerti.

Baru beberapa detik kemudian aku menyadari bahwa bapak itu mengalami kesulitan berbicara. Kalimat yang keluar dari mulutnya terdengar patah-patah. Tangannya bergerak membentuk isyarat yang tidak kupahami.

Lalu aku menangkap maksudnya.

Ia tidak sedang berjualan.

Ia hanya ingin botol kosong yang sedang kupegang.

Pengumpul botol plastik.

Entah kenapa, melihat kondisinya membuatku spontan merogoh saku. Setelah menyerahkan botol Mizone itu, aku menyelipkan uang dua ribu rupiah ke tangannya.

Jumlah yang mungkin tidak berarti apa-apa bagiku.

Tetapi reaksinya membuatku terdiam.

Bapak itu menggeleng pelan.

Uang itu dikembalikannya.

Ia hanya mengambil botol plastik tadi.

Dengan bahasa isyarat yang sederhana dan kalimat yang terbata-bata, ia berusaha menjelaskan sesuatu.

Aku tidak memahami setiap katanya. Namun aku mengerti pesan yang ingin disampaikannya.

“Aku bukan pengemis.”

Hanya itu.

Kalimat sederhana yang menghantamku lebih keras daripada nasihat panjang apa pun.

Aku berdiri mematung beberapa detik.

Malu.

Sangat malu.

Di hadapanku ada seseorang yang secara fisik mungkin memiliki keterbatasan. Seseorang yang setiap hari harus berjalan dari satu tempat ke tempat lain mengumpulkan botol-botol bekas demi mendapatkan uang.

Namun ia masih memiliki sesuatu yang mungkin mulai langka di kota besar.

Harga diri.

Di tengah zaman ketika meminta-minta sering dianggap jalan pintas, bapak itu memilih memungut sampah yang dibuang orang lain. Memilih bekerja. Memilih berkeringat.

Mungkin hasilnya tidak besar.

Tetapi itu cukup baginya.

Saat berjalan meninggalkan stasiun, pikiranku terus kembali pada sosok bapak tadi.

Aku teringat sebuah pepatah yang sejak kecil sering kudengar.

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”

Dulu kalimat itu terdengar seperti nasihat klise dalam buku pelajaran sekolah. Sesuatu yang dihafalkan untuk menjawab soal ujian, lalu dilupakan.

Siang itu, di halaman parkir Stasiun Bekasi, pepatah tersebut mendadak terasa nyata.

Karena aku baru saja melihat wujudnya.

Seorang pengumpul botol plastik dengan kantong hitam besar dan kemampuan bicara yang terbatas telah mengajarkan pelajaran yang bahkan tidak pernah kutemukan di bangku kuliah.

Bahwa bekerja, sekecil apa pun hasilnya, adalah kehormatan.

Dan bahwa terkadang, orang-orang sederhana yang kita temui hanya beberapa menit mampu meninggalkan pelajaran yang akan kita ingat seumur hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar