Liburan hari raya idul fitri hampir usai, saya harus segala berbenah untuk
kembali ke kota tempat saya menimba ilmu, Yogyakarta. Sejujurnya saya agak malas untuk kembali ke kota pelajar tersebut.
Banyak hal yang membuat saya malas untuk kembali kesana. Keharusan untuk
mengerjakan skripsi, kerinduan terhadap lingkungan rumah, dan masih banyak lagi
faktor yang membuat saya enggan pergi dari kota penunjang Ibukota ini. Namun the show
must go on, mau tidak mau saya harus kembali melakukan perjalanan ke timur
untuk menyelesaikan tugas saya sebagai mahasiswa.
Singkat kata saya memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta
pada hari Minggu, 26 Agustus. Mengingat masih dalam suasana Lebaran, saya wajib
untuk melakukan reservasi tiket. Seperti perjalanan yang sudah-sudah, saya
memutuskan untuk menggunakan jasa transportasi kereta api.
Jum'at, 24 Agustus saya bergegas menuju Stasiun Besar Bekasi untuk melakukan
reservasi tiket kereta. Tidak seperti hari biasanya jalanan dari tempat tinggal
saya di daerah Jati Bening menuju Stasiun Bekasi terasa lebih longgar. Hal
tersebut mungkin disebabkan oleh para pemudik yang belum kembali ke kota Patriot ini.
Setelah selesai melakukan reservasi tiket saya langsung bergegas menuju
tempat parkir motor saya untuk segera bergegas pulang. Tapi ada hal unik yang
saya alami ketika saya berjalan dari tempat reservasi menuju parkiran motor.
Saya bertemu dengan bapak-bapak separuh baya yang sedang membawa sebuah
bungkusan kantong plastik besar yang mirip dengan bungkusan dagangan minuman.
Beliau mendekati saya yang ketika itu sedang berjalan sambil menenggak sebotol
Mizone. Lalu bapak itu langsung menyodorkan plastik hitam tersebut sambil
membukanya (seperti orang sedang menawarkan barang dagangannya).
Saya baru menyadari bahwa bapak itu mempunyai masalah dalam bicara sesuatu
(kalau bahasa kasarnya, maaf, 'gagu' ). Bapak itu menyodorkan plastik
besar sambil berkata bahasa isyarat yang saya tidak tahu artinya. Semula saya
kira bapak ini berjualan minuman. Tapi perkiraan saya ternyata salah, bapak itu
adalah pengumpul botol plastik bekas. Beliau mendekati saya untuk meminta botol
mizone yang ketika itu sedang saya pegang. Merasa iba dengan kondisi bapak itu
saya akhirnya memberikan botol mizone tersebut ditambah dengan uang sebesar
Rp2000,00. Tapi saya dibuat terkejut ketika bapak itu hanya mengambil
botol dan menolak uang pemberian saya
tersebut. Beliau berkata dalam bahasa isyarat yang kurang lebih artinya “saya
bukan pengemis, saya cuma ngumpulin botol ini”.
Alangkah malunya saya siang itu. Bapak yang kondisi nya bisa dibilang
berbeda dengan kita dalam masalah fisik saja menolak mentah mentah uang
pemberian saya. Saya terharu. Ternyata masih ada orang yang seperti itu di kota besar seperti Bekasi
ini.
Kita sering mendengar pepatah yang berbunyi ‘Tangan di Atas Lebih Baik dari
Tangan di Bawah”. Sebelum kejadian hari ini saya mengira pepatah tersebut hanya
sekedar bualan sebuah buku pelajaran kepada para siswanya. Saya menyadari
ternyata pepatah tersebut masih berlaku di kehidupan nyata jaman sekarang di
tengah maraknya ‘profesi’ pengemis dan peminta-minta di Indonesia.
Terima kasih Bapak pengumpul botol, kejadian hari ini semakin menyadarkan
saya bahwa meminta-minta adalah ‘profesi’ paling terakhir yang dilakukan dalam
mencari rezeki.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar