Kontributor

Sabtu, 25 Agustus 2012

Pengumpul Botol


Liburan hari raya idul fitri hampir usai, saya harus segala berbenah untuk kembali ke kota tempat saya menimba ilmu, Yogyakarta. Sejujurnya saya agak malas untuk kembali ke kota pelajar tersebut. Banyak hal yang membuat saya malas untuk kembali kesana. Keharusan untuk mengerjakan skripsi, kerinduan terhadap lingkungan rumah, dan masih banyak lagi faktor yang membuat saya enggan pergi dari kota penunjang Ibukota ini. Namun the show must go on, mau tidak mau saya harus kembali melakukan perjalanan ke timur untuk menyelesaikan tugas saya sebagai mahasiswa.

Singkat kata saya memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta pada hari Minggu, 26 Agustus. Mengingat masih dalam suasana Lebaran, saya wajib untuk melakukan reservasi tiket. Seperti perjalanan yang sudah-sudah, saya memutuskan untuk menggunakan jasa transportasi kereta api.

Jum'at, 24 Agustus saya bergegas menuju Stasiun Besar Bekasi untuk melakukan reservasi tiket kereta. Tidak seperti hari biasanya jalanan dari tempat tinggal saya di daerah Jati Bening menuju Stasiun Bekasi terasa lebih longgar. Hal tersebut mungkin disebabkan oleh para pemudik yang belum kembali ke kota Patriot ini.

Setelah selesai melakukan reservasi tiket saya langsung bergegas menuju tempat parkir motor saya untuk segera bergegas pulang. Tapi ada hal unik yang saya alami ketika saya berjalan dari tempat reservasi menuju parkiran motor. Saya bertemu dengan bapak-bapak separuh baya yang sedang membawa sebuah bungkusan kantong plastik besar yang mirip dengan bungkusan dagangan minuman. Beliau mendekati saya yang ketika itu sedang berjalan sambil menenggak sebotol Mizone. Lalu bapak itu langsung menyodorkan plastik hitam tersebut sambil membukanya (seperti orang sedang menawarkan barang dagangannya). 

Saya baru menyadari bahwa bapak itu mempunyai masalah dalam bicara sesuatu (kalau bahasa kasarnya, maaf,  'gagu' ). Bapak itu menyodorkan plastik besar sambil berkata bahasa isyarat yang saya tidak tahu artinya. Semula saya kira bapak ini berjualan minuman. Tapi perkiraan saya ternyata salah, bapak itu adalah pengumpul botol plastik bekas. Beliau mendekati saya untuk meminta botol mizone yang ketika itu sedang saya pegang. Merasa iba dengan kondisi bapak itu saya akhirnya memberikan botol mizone tersebut ditambah dengan uang sebesar Rp2000,00. Tapi saya dibuat terkejut ketika bapak itu hanya mengambil botol  dan menolak uang pemberian saya tersebut. Beliau berkata dalam bahasa isyarat yang kurang lebih artinya “saya bukan pengemis, saya cuma ngumpulin botol ini”.
Alangkah malunya saya siang itu. Bapak yang kondisi nya bisa dibilang berbeda dengan kita dalam masalah fisik saja menolak mentah mentah uang pemberian saya. Saya terharu. Ternyata masih ada orang yang seperti itu di kota besar seperti Bekasi ini.

Kita sering mendengar pepatah yang berbunyi ‘Tangan di Atas Lebih Baik dari Tangan di Bawah”. Sebelum kejadian hari ini saya mengira pepatah tersebut hanya sekedar bualan sebuah buku pelajaran kepada para siswanya. Saya menyadari ternyata pepatah tersebut masih berlaku di kehidupan nyata jaman sekarang di tengah maraknya ‘profesi’ pengemis dan peminta-minta di Indonesia.

Terima kasih Bapak pengumpul botol, kejadian hari ini semakin menyadarkan saya bahwa meminta-minta adalah ‘profesi’ paling terakhir yang dilakukan dalam mencari rezeki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar