Beberapa waktu lalu saya mendapat tugas ke Kabupaten Sumba Barat. Awalnya sempat berpikir dua kali karena lokasinya cukup jauh, apalagi saat itu kondisi pandemi sedang kurang bersahabat. Namun setelah dipertimbangkan, dan mengingat saya belum pernah menginjakkan kaki di Pulau Sumba, akhirnya tugas tersebut saya terima juga.
Perjalanan dimulai dari Waingapu di Sumba Timur menuju Waikabubak, ibu kota Kabupaten Sumba Barat. Di Google Maps tertulis sekitar tiga jam perjalanan. Kenyataannya? Hampir enam jam.
Penyebabnya sederhana: saya naik travel. Bukan dijemput kendaraan dinas seperti yang mungkin dibayangkan orang-orang. Jadi sepanjang perjalanan, mobil beberapa kali berhenti untuk menurunkan penumpang, mengangkut barang, dan menunggu penumpang berikutnya. Dalam hati saya sempat berpikir, kalau sampai hilang di jalan, acara besok mungkin bisa langsung batal.
Karena rasanya sayang sudah jauh-jauh datang ke Sumba hanya untuk rapat lalu pulang, keesokan harinya sebelum kembali ke Jakarta saya meminta bantuan panitia daerah untuk diajak melihat sedikit sisi lain Pulau Sumba. Pilihan jatuh pada Kampung Praijing.
Kampung adat ini berada di Desa Tebara, tidak terlalu jauh dari pusat Kota Waikabubak. Transportasi umum maupun taksi online belum tersedia, jadi cara termudah untuk berkunjung adalah menyewa kendaraan atau, seperti saya, beruntung memiliki teman dari pemerintah daerah yang bersedia mengantar.
Sesampainya di sana, saya langsung disambut deretan rumah adat khas Sumba yang berdiri kokoh di atas bukit. Masyarakat setempat masih mempertahankan tradisi dan kepercayaan Marapu, agama asli Pulau Sumba yang telah diwariskan turun-temurun. Meski merupakan kampung adat, fasilitas modern seperti listrik dan sinyal telepon sudah tersedia.
Ada satu informasi menarik yang saya dengar dari teman yang mengantar saya. Menurutnya, Kepala Desa Tebara merupakan satu-satunya kepala desa di Kabupaten Sumba Barat yang bergelar sarjana. Entah masih berlaku atau tidak saat tulisan ini dibuat, tetapi cukup menarik untuk diketahui.
Yang paling menyenangkan, tiket masuk ke Kampung Praijing hanya Rp10.000 per orang. Dengan harga segitu, kita bisa menikmati salah satu kampung adat paling terkenal di Sumba, belajar sedikit tentang budaya lokal, sekaligus menikmati pemandangan perbukitan yang indah.
Kadang-kadang, perjalanan dinas terbaik justru terjadi setelah pekerjaan selesai.