Kontributor

Rabu, 22 Agustus 2018

Kabaddi: Galasin Versi Atlet Nasional


Hari ini niatnya nonton final badminton. 
Tapi seperti biasa, manusia boleh berencana, tiket yang menentukan.

Karena kehabisan tiket, akhirnya saya malah nyasar ke pertandingan yang sebelumnya bahkan tidak pernah terpikir untuk ditonton. Namanya Kabaddi, olahraga tradisional dari India yang ternyata sudah cukup lama dipertandingkan di Asian Games.

Awalnya saya duduk dengan ekspresi yang sama seperti orang yang salah masuk ruang ujian. Bingung. Ini olahraga apa? Aturannya bagaimana? Kok pemainnya saling tarik, pegang, dan banting?

Setelah beberapa menit mengamati, ternyata konsepnya cukup sederhana. Dalam satu pertandingan ada dua tim yang masing-masing berisi tujuh pemain. Secara bergantian, satu pemain masuk ke area lawan untuk menyentuh pemain lawan lalu berusaha kembali ke wilayah timnya sendiri. Kedengarannya mudah, sampai melihat kenyataan bahwa pihak lawan tentu tidak akan membiarkan dia pulang dengan selamat.

Semakin lama menonton, semakin terasa familiar. Rasanya seperti melihat perpaduan permainan masa kecil yang dibesarkan menjadi olahraga profesional. Ada unsur galasin, ada sedikit benteng, ditambah sentuhan permainan "mundur tiga langkah" yang dulu sering muncul di komik Donal Bebek. Bedanya, versi ini dimainkan oleh atlet-atlet berbadan kekar yang tidak ragu saling menjatuhkan satu sama lain.

Saat itu saya langsung berpikir, jangan bersedih wahai anak-anak yang dulu hobi main galasin atau benteng di lapangan sekolah. Ternyata ada jalur karier internasional untuk keterampilan tersebut, meskipun syarat tambahannya adalah memiliki badan yang cukup kuat untuk bertahan dari bantingan.

Yang menarik dari pengalaman hari ini justru bukan pertandingan itu sendiri, melainkan bagaimana saya menemukan sesuatu yang sama sekali baru gara-gara rencana awal gagal. Kalau tiket badminton masih tersedia, kemungkinan besar saya tidak akan pernah tahu bahwa ada olahraga bernama Kabaddi dan tidak akan pernah menghabiskan satu sore dengan serius mengamati orang-orang berusaha menyentuh lawan lalu kabur sebelum ditangkap.

Kadang-kadang hal paling menarik dalam perjalanan justru muncul ketika rencana utama tidak berjalan sesuai harapan.

Meski begitu, lain kali kalau ada tiket final badminton, saya tetap pilih badminton.

Selasa, 14 Agustus 2018

Salam Ngudi Rejeki


Some people come into our lives for a season, while others become part of our story forever. Looking back at our university years, I realize how fortunate I was to have a friend like you.

We started as classmates, sharing lecture rooms, assignments, exams, and countless deadlines. Somewhere between group projects, late-night discussions, spontaneous trips, and endless cups of coffee, you became much more than a friend from college. You became family.

Thank you for being one of the few people who always accepted me for who I am. You never expected perfection. You tolerated my bad habits, my temperament, my stubbornness, my sarcastic jokes, and all the imperfections that come with being human. Instead of trying to change me, you chose to understand me, and that is something I will always appreciate.

Through the years, we shared more than just classes and hobbies. We shared dreams, frustrations, failures, victories, heartbreaks, and moments that shaped who we are today. Thank you for listening to my stories, especially during difficult times, and for always being willing to share your own. Some conversations may have seemed ordinary at the time, but they became memories that I will carry with me for the rest of my life.

One of the things I admire most about our friendship is how effortless it has always felt. No need to pretend, no need to impress. We could spend hours talking about serious life matters, or laugh endlessly over the most ridiculous things. We shared interests, passions, and hobbies, but more importantly, we shared trust and mutual respect.

As we continue our own journeys and pursue different paths, I hope you know how much your friendship has meant to me. The distance, the years, and the responsibilities of adulthood may change many things, but they will never erase the memories we created together or the gratitude I feel for having you in my life.

Thank you for every lesson, every laugh, every piece of advice, every honest conversation, and every moment of support. Thank you for being there during some of the most important years of my life.

I sincerely wish you happiness, good health, success, and countless opportunities wherever life takes you. May you continue to grow, achieve your dreams, and find fulfillment in everything you do.

No matter where we end up, a part of me will always remember those university days and be grateful that our paths crossed.

Until we meet again, my friend.

Salam Ngudi Rejeki. 🍻
See you in Tokyo