Ada yang bilang sepuluh tahun itu lama.
Saya setuju. Sampai tiba-tiba saya sadar bahwa satu dekade bisa lewat hanya dalam beberapa kali pergantian kalender, beberapa kali ganti hape, dan entah berapa banyak jamuan rapat.
Hari ini saya menutup satu bab yang sudah menemani hidup saya selama sepuluh tahun.
Lucunya, ketika pertama kali datang, saya tidak pernah membayangkan akan bertahan selama itu. Saya pikir ini hanya akan menjadi salah satu pemberhentian dalam perjalanan karier. Tempat bekerja, pulang, menerima gaji, lalu mengulanginya lagi keesokan hari.
Ternyata saya salah.
Karena yang saya tinggalkan hari ini bukan sekadar tempat kerja.
Saya meninggalkan sepuluh tahun kehidupan.
Di tempat ini saya datang sebagai seorang pria lajang yang masih percaya bahwa olahraga rutin akan membuat perut tetap rata selamanya. Saya pergi sebagai bapak-bapak yang mulai memahami bahwa metabolisme ternyata bisa berkhianat.
Di tempat ini saya menyelesaikan dua gelar master, melakukan perjalanan ke banyak kota dan negara, bertemu begitu banyak orang baik, dan belajar bahwa kehidupan profesional sering kali lebih rumit daripada teori apa pun yang pernah diajarkan di ruang kuliah.
Saya belajar bahwa kemampuan paling penting dalam hidup bukan hanya bekerja keras, tetapi juga mampu tertawa ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana.
Dan untungnya, selama sepuluh tahun ini saya dikelilingi banyak orang yang membuat perjalanan itu jauh lebih menyenangkan.
Ada teman-teman yang berubah menjadi keluarga. Ada obrolan yang awalnya hanya basa-basi lalu berkembang menjadi persahabatan bertahun-tahun. Ada candaan yang diulang terus sampai akhirnya menjadi urban legend. Ada orang-orang yang mungkin tidak akan sering saya temui lagi, tetapi akan selalu muncul di status WA.
Tentu tidak semua hari menyenangkan.
Ada hari ketika semuanya terasa mudah. Ada juga hari ketika rasanya ingin menghilang dari grup WA kantor selama seminggu penuh.
Ada orang yang membuat saya belajar pengadaan. Ada juga orang yang membuat saya belajar tentang kesabaran.
Tapi mungkin memang begitu cara hidup bekerja.Kita tidak hanya tumbuh karena pengalaman yang menyenangkan. Kita juga tumbuh karena hal-hal yang sempat membuat kita kesal.
Hari ini, ketika melihat ke belakang, saya menyadari bahwa yang paling saya syukuri bukanlah jabatan, pencapaian, atau hal-hal yang bisa ditulis di LinkedIn.
Yang paling saya syukuri adalah orang-orangnya.
Karena pada akhirnya, kita jarang mengingat pekerjaan yang selesai dikerjakan.
Tetapi kita selalu ingat siapa yang duduk di sebelah kita ketika hari itu terasa berat.
Untuk semua yang pernah menjadi bagian dari cerita ini, terima kasih.
Terima kasih untuk tawa, bantuan, pelajaran, dukungan, kesempatan, dan kenangan yang akan terus saya bawa ke mana pun saya pergi.
Dan jika selama sepuluh tahun ini saya pernah membuat kecewa, berkata kurang tepat, atau menjadi sumber stres bagi siapa pun, saya meminta maaf dengan tulus.
Sementara untuk kalian yang pernah membuat saya kesal...
Sebagian besar sudah saya maafkan.
Sebagian besar.
Hari ini bukan akhir cerita.
Hanya akhir dari satu bab yang sangat panjang dan sangat berharga.
Besok pagi akan ada meja kerja baru, tantangan baru, dan cerita baru.
Tetapi malam ini saya ingin duduk sebentar, menatap ke belakang, lalu tersenyum pada perjalanan yang sudah membawa saya sejauh ini.
Sepuluh tahun.
Terima kasih sudah menjadi cerita yang layak dikenang.
Dan seperti semua perpisahan yang baik, saya memilih untuk tidak mengatakan selamat tinggal.
Sampai ketemu lagi di cerita berikutnya.
