Kontributor

Rabu, 07 Maret 2012

sesuatu-yang-tidak-boleh-disebut-namanya

Sudah beberapa hari hujan turun hampir tanpa henti di Yogyakarta. Dari jendela kamar kos, langit terlihat kelabu sejak pagi hingga sore. Jalanan yang biasanya ramai oleh mahasiswa yang berlalu-lalang dengan sepeda motor atau berjalan kaki menuju kampus kini tampak lebih lengang. Sesekali terdengar suara kendaraan melintas di atas aspal yang basah, lalu kembali tenggelam oleh suara rintik hujan yang memukul genteng dan dedaunan.

Cuaca seperti ini biasanya menghadirkan perasaan yang aneh. Ada keinginan untuk menjadi produktif karena lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar, tetapi pada saat yang sama ada godaan yang jauh lebih besar untuk menarik selimut, membuat secangkir kopi, lalu menunda semua pekerjaan sampai besok pagi.

Sudah beberapa hari pula saya berniat mengerjakan sesuatu yang namanya sebenarnya sederhana, tetapi entah kenapa terasa berat untuk disebutkan secara langsung. Karena itu saya lebih suka menyebutnya dengan istilah "sesuatu-yang-tidak-boleh-disebut-namanya".

Mirip Voldemort.

Ya, Voldemort dalam cerita Harry Potter.



Penyihir botak yang sepanjang hidupnya hanya punya satu pekerjaan utama: membuat hidup Harry Potter sengsara. Musuh abadi yang baru bisa dikalahkan di seri terakhir. Logis juga sebenarnya. Kalau Voldemort mati di film pertama, mungkin Harry Potter hanya akan tamat menjadi film tentang anak sekolah yang rajin nyimeng.

"Lah terus apa hubungannya Voldemort sama hidup lo, Jok?"

Tidak ada sebenarnya.

Dia bukan tetangga baru saya.

Bukan peliharaan.

Apalagi pacar.

Kalau dipikir-pikir memang sangat tidak nyambung membandingkan seorang penyihir jahat dengan sesuatu yang sedang saya hadapi saat ini. Tetapi ini tulisan saya, dan saya adalah Joko. Dalam dunia seorang Joko, segala sesuatu bisa menjadi nyambung selama pemilik ceritanya menghendaki.

Dan semakin lama saya pikirkan, ternyata ada beberapa kesamaan antara Voldemort dan hal yang sedang saya hadapi sekarang. Keduanya sama-sama menghantui. Sama-sama membuat tidur tidak tenang. Sama-sama sering muncul dalam pikiran pada saat yang tidak diinginkan.

Nama itu akhirnya harus disebut juga.

Skripsi.

Satu kata sederhana yang mampu mengubah mahasiswa biasa menjadi makhluk yang hidup dalam dua dunia. Dunia pertama adalah dunia nyata, tempat ia nongkrong bersama teman-temannya sambil tertawa dan terlihat santai. Dunia kedua adalah dunia dalam kepalanya sendiri, tempat rasa bersalah terus berbisik karena halaman demi halaman skripsi belum juga bertambah.

Sebelum memasuki semester delapan, saya sering mendengar cerita dari kakak tingkat mengenai skripsi. Sebagian besar terdengar menenangkan.

"Gampang kok."

"Asal rajin."

"Yang penting niat."

"Pelan-pelan juga selesai."

Dulu saya percaya.

Sekarang saya mulai curiga bahwa sebagian dari mereka hanya ingin melihat adik tingkatnya merasakan penderitaan yang sama.

Karena setelah menjalaninya sendiri, saya menemukan kenyataan yang berbeda. Skripsi tidak sesederhana yang dibayangkan. Ia seperti lawan yang tidak pernah benar-benar menyerang, tetapi selalu hadir di sudut ruangan, mengingatkan bahwa ada sesuatu yang harus diselesaikan.

Hari-hari saya selama semester delapan akhirnya berjalan dengan pola yang hampir sama.

Pagi menjelang siang saya bangun tidur. Kadang sekitar pukul sepuluh, kadang pukul sebelas, tergantung seberapa larut saya tidur malam sebelumnya. Setelah mandi dan mencari makan, saya kembali ke kamar kos dengan satu niat yang selalu sama.

Hari ini harus mengerjakan skripsi.

Laptop dinyalakan.

File skripsi dibuka.

Saya membaca beberapa paragraf terakhir yang ditulis beberapa hari sebelumnya.

Lalu mulai mengetik.

Satu kalimat.

Dua kalimat.

Kemudian berhenti.

Entah kenapa selalu ada hal lain yang tampak lebih menarik.

Di desktop laptop saya terdapat sebuah shortcut bergambar seorang kakek tua berjenggot putih. Ikon kecil itu sering kali terlihat jauh lebih menggoda daripada file skripsi yang sudah terbuka sejak tadi.

Awalnya saya hanya berniat membuka sebentar.

Lima menit saja.

Setelah itu kembali mengerjakan skripsi.

Tetapi seperti banyak hal dalam hidup, rencana dan kenyataan sering berjalan di jalur yang berbeda.

Lima menit berubah menjadi satu jam.

Satu jam berubah menjadi tiga jam.

Dan tanpa terasa hari mulai sore.

Ketika matahari tenggelam dan suara azan magrib terdengar dari masjid dekat kos, saya sering kali baru menyadari bahwa hari itu kembali berlalu tanpa kemajuan berarti.

Yang bertambah bukan jumlah halaman skripsi.

Begitulah hari-hari itu berjalan.

Bangun siang.

Makan.

Main game.

Jalan-jalan.

Ngopi.

Nongkrong.

Pulang.

Tidur menjelang subuh.

Lalu mengulang semuanya lagi keesokan hari.

Rutinitas yang nyaman, tetapi diam-diam membuat waktu berjalan sangat cepat.

Kadang saya merasa baru kemarin memasuki semester delapan. Ternyata kalender sudah berganti beberapa bulan. Hujan datang dan pergi. Teman-teman mulai berbicara tentang seminar hasil, sidang, dan wisuda. Sementara saya masih berkutat dengan halaman-halaman yang terasa tidak kunjung selesai.

Namun di tengah semua itu, saya sadar bahwa mungkin setiap mahasiswa memang harus melewati fase seperti ini. Fase ketika yang dilawan bukan dosen pembimbing, bukan teori penelitian, dan bukan tumpukan referensi. Melainkan dirinya sendiri.

Melawan rasa malas.

Melawan kebiasaan menunda.

Melawan keyakinan bahwa besok masih ada waktu.

Karena sering kali masalah terbesar bukanlah tidak mampu mengerjakan skripsi, melainkan terlalu sering menundanya.

Malam ini hujan kembali turun di luar kamar kos. Udara terasa dingin. Di atas meja, file skripsi masih terbuka seperti biasanya. Kursor berkedip pelan di akhir paragraf terakhir yang saya tulis.

Saya menatap layar cukup lama.

Lalu mulai mengetik.

Perlahan.

Tidak banyak.

Mungkin hanya beberapa kalimat.

Tetapi setidaknya kali ini saya benar-benar menulis.

Karena pada akhirnya, skripsi setebal apa pun selalu dimulai dari satu kalimat pertama.

Dan mungkin, seperti Harry Potter yang akhirnya berhasil mengalahkan Voldemort, suatu hari nanti saya juga akan berhasil mengalahkan versi Voldemort saya sendiri.

Yaitu skripsi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar