Kontributor

Jumat, 13 April 2012

Selamat Tinggal, Laptop Kesayanganku

Ada yang bilang kehilangan itu bagian dari kehidupan. Ada yang bilang semua yang datang pasti akan pergi. Ada juga yang bilang kalau barang hilang berarti belum rezeki. Entah siapa yang pertama kali menciptakan kalimat-kalimat bijak itu, tapi saya yakin orang tersebut belum pernah kehilangan laptop berisi skripsi, tugas kuliah, koleksi lagu, film, foto-foto, dan berbagai harta karun digital lainnya sekaligus dalam satu malam.

Saya kehilangan laptop kesayangan saya beberapa minggu yang lalu.

Bukan karena rusak dimakan usia. Bukan karena jatuh dari meja kos. Bukan pula karena dijual untuk membayar uang kuliah yang menunggak. Laptop itu hilang dengan cara yang jauh lebih dramatis dan menyakitkan: dicuri saat saya sedang tertidur pulas di dalam bus malam.

Padahal hubungan saya dengan laptop tersebut sudah berlangsung hampir empat tahun. Umurnya memang tidak muda lagi. Baterainya sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kehamilan dan beberapa tombol keyboard harus ditekan dengan teknik khusus agar mau berfungsi. Namun bagi seorang mahasiswa, laptop bukan sekadar benda elektronik. Ia adalah teman seperjuangan. Tempat menyimpan tugas, skripsi, foto-foto kenangan, koleksi musik, dan sesekali digunakan untuk aktivitas untuk memuaskan hawa nafsu yang tidak perlu dijelaskan terlalu rinci kepada publik.

Malam itu saya berangkat dari Bandung menuju Yogyakarta menggunakan bus Kramat Djati. Libur beberapa hari di rumah telah usai dan saya harus kembali ke kota pelajar untuk melanjutkan kehidupan sebagai mahasiswa tingkat akhir. Kehidupan yang sebagian besar diisi oleh niat mengerjakan skripsi, rencana mengerjakan skripsi, dan rasa bersalah karena tidak jadi mengerjakan skripsi.

Ketika tiba di pool bus kawasan Dago sekitar pukul enam sore, saya sempat merasa beruntung. Bus yang akan saya tumpangi terlihat sangat sepi. Dari puluhan kursi yang tersedia, hanya beberapa yang terisi penumpang. Situasi seperti itu biasanya menjadi kabar baik. Tidak perlu berebut kursi, tidak perlu mendengar suara dengkuran penumpang lain dari jarak dekat, dan yang terpenting, ada banyak ruang untuk selonjoran kaki.

Bus kemudian bergerak menuju pool berikutnya di kawasan Jalan Riau. Di sinilah cerita ini mulai berubah arah.

Dua orang penumpang naik ke dalam bus. Yang pertama seorang bapak-bapak bertubuh tambun dengan wajah yang sangat biasa. Terlalu biasa malah. Wajahnya seperti gabungan antara pedagang buah, tukang servis televisi, dan ketua RT yang baru selesai ronda malam. Tidak ada satu pun ciri yang membuat seseorang akan berpikir, "Nah, ini pasti maling profesional."

Yang kedua jauh lebih menarik perhatian. Seorang pemuda dengan jaket kulit hitam dan model rambut yang membuat saya langsung teringat kepada Charlie ST12. Semakin lama saya memperhatikannya, semakin kuat kemiripannya. Rambutnya, gaya berjalannya, bahkan ekspresi wajahnya seperti seseorang yang sebentar lagi akan menyanyikan lagu patah hati di atas panggung pensi sekolah.

Kalau malam itu tiba-tiba dia mengeluarkan gitar dari tas lalu menyanyikan "Saat Terakhir", saya rasa sebagian penumpang justru akan ikut bernyanyi.

Setelah kedua orang tersebut naik, jumlah penumpang di dalam bus bertambah menjadi tiga belas orang. Tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat suasana terasa lebih hidup. Perjalanan kembali berlanjut menembus malam Jawa Barat menuju Jawa Tengah.

Awalnya tidak ada yang aneh. Saya masih terjaga dan beberapa kali memperhatikan kedua penumpang tadi berpindah-pindah kursi. Kadang duduk di depan, lalu pindah ke tengah, kemudian pindah lagi ke belakang. Ketika ada yang bertanya, mereka menjawab bahwa AC bus terlalu dingin.

Alasan yang sebenarnya cukup aneh.

Karena setahu saya AC bus tidak bekerja berdasarkan lokasi kursi. Hembusan AC tidak keluar dari tempat pantat

Namun saat itu saya tidak terlalu memikirkannya.

Lagipula tas ransel yang berisi laptop sedang saya peluk erat di pangkuan. Posisi yang menurut saya saat itu sudah sangat aman. Bahkan mungkin terlalu aman.

Sekitar pukul dua dini hari sesuatu yang aneh mulai terjadi. Rasa kantuk datang begitu cepat. Biasanya saya cukup sulit tidur di kendaraan umum, tetapi malam itu kelopak mata terasa berat luar biasa. Saya mencoba bertahan beberapa menit sambil sesekali melihat ke luar jendela, namun akhirnya menyerah.

Saya tertidur.

Dan saya tidak hanya tidur.

Saya tidur seperti orang yang baru menyelesaikan kerja rodi selama tiga hari tiga malam tanpa istirahat.

Pulas.

Sangat pulas.

Begitu pulas sampai saya tidak mendengar apa pun.

Tidak mendengar suara orang berjalan.

Tidak mendengar suara resleting dibuka.

Tidak mendengar suara tas diobrak-abrik.

Bahkan kalau malam itu resleting celana saya dibuka, mungkin saya tetap tidur.

Saya baru terbangun ketika matahari hampir terbit. Bus saat itu sudah memasuki wilayah Purworejo. Dengan mata yang masih setengah terbuka, saya meraba tas ransel yang sejak semalam berada di pangkuan.

Ada yang terasa berbeda.

Tas itu lebih ringan.

Jauh lebih ringan.

Awalnya saya berpikir mungkin hanya perasaan. Namun begitu resleting dibuka, saya langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres.

Laptop saya hilang.

Raib.

Lenyap.

Menghilang begitu saja seperti mantan yang tiba-tiba selingkuh sama teman les LIA nya (gak usah curhat)

Saya langsung membongkar seluruh isi tas dengan panik. Kaus kotor masih ada. Celana masih ada. Oleh-oleh dari Bandung masih ada. Bahkan charger laptop masih ada.

Yang hilang hanya laptopnya.

Saya sempat kagum sekaligus kesal. Pencurinya ternyata sangat profesional. Ia tahu persis mana yang bernilai dan mana yang tidak.

Belum sempat saya mencerna kejadian itu, terdengar suara panik dari kursi depan.

"Mas, laptop saya hilang!"

Lalu terdengar suara lain.

"Laptop saya juga nggak ada!"

Dalam hitungan menit suasana bus berubah menjadi forum silaturahmi para korban pencurian laptop se-Jawa Tengah.

Saat itulah saya menyadari bahwa saya tidak sendirian.

Dan ketika saya menoleh ke belakang, kursi yang sebelumnya ditempati bapak tambun dan Charlie ST12 sudah kosong.

Mereka telah turun.

Menurut keterangan kenek, keduanya turun di daerah Kebumen beberapa jam sebelumnya.

Saya hanya bisa terdiam.

Hubungan empat tahun saya dengan laptop itu berakhir tanpa salam perpisahan.

Tanpa ucapan terima kasih.

Tanpa kesempatan terakhir untuk menekan tombol shutdown.

Yang lebih menyebalkan lagi, alih-alih mendapat hiburan, saya justru mendapat kuliah umum dari beberapa penumpang.

"Masnya kurang hati-hati."

"Masnya sih tidur terlalu pulas."

"Masnya harusnya ditaruh di bagasi."

Saya hanya mengangguk.

Karena kadang orang yang baru kehilangan sesuatu tidak membutuhkan solusi. Mereka hanya ingin diberi kesempatan untuk sedih beberapa menit tanpa dihakimi.

Perjalanan menuju Yogyakarta pagi itu terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Di luar jendela, matahari mulai naik dan kehidupan berjalan seperti biasa. Sementara saya duduk memandangi jalan sambil membayangkan ke mana laptop saya pergi.

Mungkin sekarang sedang berada di pasar loak.

Mungkin sudah berpindah tangan.

Atau mungkin sedang dipakai seseorang untuk mengetik skripsi yang jauh lebih rajin daripada pemilik sebelumnya.

Siapa tahu.

Yang jelas, malam itu saya belajar satu hal penting. Jangan pernah menganggap perjalanan sepi sebagai perjalanan aman. Dan jika suatu saat Anda naik bus malam lalu melihat seseorang yang sangat mirip Charlie ST12, mungkin tidak ada salahnya untuk sedikit lebih waspada.

Demi keselamatan laptop dan kesehatan mental Anda.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar