Hari ini niatnya nonton final badminton. Tapi seperti biasa, manusia boleh berencana, tiket yang menentukan.
Karena kehabisan tiket, akhirnya saya malah nyasar ke pertandingan yang sebelumnya bahkan tidak pernah terpikir untuk ditonton. Namanya Kabaddi, olahraga tradisional dari India yang ternyata sudah cukup lama dipertandingkan di Asian Games.
Awalnya saya duduk dengan ekspresi yang sama seperti orang yang salah masuk ruang ujian. Bingung. Ini olahraga apa? Aturannya bagaimana? Kok pemainnya saling tarik, pegang, dan banting?
Setelah beberapa menit mengamati, ternyata konsepnya cukup sederhana. Dalam satu pertandingan ada dua tim yang masing-masing berisi tujuh pemain. Secara bergantian, satu pemain masuk ke area lawan untuk menyentuh pemain lawan lalu berusaha kembali ke wilayah timnya sendiri. Kedengarannya mudah, sampai melihat kenyataan bahwa pihak lawan tentu tidak akan membiarkan dia pulang dengan selamat.
Semakin lama menonton, semakin terasa familiar. Rasanya seperti melihat perpaduan permainan masa kecil yang dibesarkan menjadi olahraga profesional. Ada unsur galasin, ada sedikit benteng, ditambah sentuhan permainan "mundur tiga langkah" yang dulu sering muncul di komik Donal Bebek. Bedanya, versi ini dimainkan oleh atlet-atlet berbadan kekar yang tidak ragu saling menjatuhkan satu sama lain.
Saat itu saya langsung berpikir, jangan bersedih wahai anak-anak yang dulu hobi main galasin atau benteng di lapangan sekolah. Ternyata ada jalur karier internasional untuk keterampilan tersebut, meskipun syarat tambahannya adalah memiliki badan yang cukup kuat untuk bertahan dari bantingan.
Yang menarik dari pengalaman hari ini justru bukan pertandingan itu sendiri, melainkan bagaimana saya menemukan sesuatu yang sama sekali baru gara-gara rencana awal gagal. Kalau tiket badminton masih tersedia, kemungkinan besar saya tidak akan pernah tahu bahwa ada olahraga bernama Kabaddi dan tidak akan pernah menghabiskan satu sore dengan serius mengamati orang-orang berusaha menyentuh lawan lalu kabur sebelum ditangkap.
Kadang-kadang hal paling menarik dalam perjalanan justru muncul ketika rencana utama tidak berjalan sesuai harapan.
Meski begitu, lain kali kalau ada tiket final badminton, saya tetap pilih badminton.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar