Kontributor

Minggu, 01 Maret 2026

Kunanti Saat Saat Kau Kembali

Ada alasan mengapa sebagian lagu paling sedih lahir setelah tengah malam.

Mungkin karena pada jam-jam seperti itu, dunia mulai melambat. Jalanan sepi. Notifikasi ponsel berhenti berbunyi. Teman-teman sudah pulang. Dan untuk pertama kalinya dalam sehari, seseorang dipaksa duduk sendirian bersama pikirannya sendiri.

Malam itu hampir pukul dua pagi ketika ia masih berada di studio latihan.

Sebenarnya tidak ada lagi yang perlu dikerjakan. Lagu baru sudah selesai direkam. Teman-teman bandnya sudah pulang satu per satu sejak satu jam lalu. Lampu utama dimatikan. Hanya tersisa lampu kecil berwarna kuning di sudut ruangan yang membuat suasana terlihat seperti adegan video klip band indie era awal 2000-an.

Di depannya, sebuah gitar bersandar pada amplifier yang masih menyala. Di sampingnya, asbak penuh puntung rokok yang tidak sempat dibuang Asap tipis menggantung di udara. Ia menyalakan satu batang lagi. Bukan karena ingin merokok. Tetapi karena belum ingin pulang. Kadang manusia memang melakukan hal-hal aneh hanya untuk menunda perasaan sepi.

Ia mengembuskan asap perlahan sambil memandangi langit-langit ruangan. Di saat seperti itu, kenangan biasanya datang tanpa diundang. Dan malam itu tidak berbeda. Ia kembali teringat pada seseorang. Seseorang yang dulu sering duduk di ruangan yang sama. Seseorang yang dulu menjadi orang pertama yang mendengar lagu-lagu yang ia tulis sebelum siapa pun mendengarnya. Seseorang yang pernah menjadi rumah.

Aneh memang. Hubungan mereka sudah berakhir cukup lama. Tidak ada lagi pesan singkat. Tidak ada lagi telepon tengah malam. Tidak ada lagi alasan untuk saling mencari. Tetapi beberapa orang memang tidak benar-benar pergi ketika mereka meninggalkan hidup kita. Mereka tetap tinggal. Dalam lagu. Dalam aroma tertentu. Dalam jalan yang pernah dilewati bersama. Dalam kebiasaan-kebiasaan kecil yang tiba-tiba mengingatkan kita pada mereka.

Ia mengambil gitar yang tergeletak di dekat kursi. Memainkan beberapa chord yang sudah sangat akrab di telinganya. Lagu yang sama. Lagu yang selalu berakhir dengan nama yang tidak pernah disebut. Kadang ia berpikir dirinya bodoh. Karena sampai hari itu, sebagian dirinya masih berharap. Bukan berharap semuanya kembali seperti dulu.

Ia tahu hidup tidak bekerja seperti itu. Terlalu banyak hal yang sudah berubah. Terlalu banyak waktu yang sudah lewat. Namun jauh di dalam dirinya, masih ada bagian kecil yang sesekali bertanya.

Bagaimana kalau suatu hari ia kembali?

Bagaimana kalau semua kesalahpahaman itu bisa diperbaiki?

Bagaimana kalau cerita yang pernah berhenti ternyata belum benar-benar selesai?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu memang tidak pernah membawa ke mana-mana. Tetapi manusia hidup dari harapan. Bahkan harapan yang paling tidak masuk akal sekalipun.

Jam di dinding menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Ruang studio semakin sunyi. Asap rokok mulai menghilang sedikit demi sedikit. Ia meletakkan gitar di pangkuannya dan memejamkan mata. Mencoba mengingat wajah yang mulai kabur dimakan waktu. Mencoba mengingat suara yang perlahan hanya tersisa sebagai gema. Mencoba mengingat semua hal baik sebelum semuanya berubah menjadi luka.

Dan untuk beberapa menit, semuanya terasa nyata lagi. Seolah waktu bergerak mundur. Seolah tidak pernah ada perpisahan. Seolah dunia masih sama seperti dulu.

Namun seperti semua kenangan, semuanya berakhir terlalu cepat. Ketika ia membuka mata, yang tersisa hanya ruangan kosong.

Tidak ada tawa.

Tidak ada suara.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya dirinya sendiri. Dan lagu yang belum selesai. Ia tersenyum kecil. Lalu menuliskan satu kalimat pada buku catatan yang tergeletak di meja.

"Kadang yang paling sulit dari kehilangan bukan menerima bahwa seseorang telah pergi. Yang paling sulit adalah berhenti berharap mereka akan kembali."

Di luar, langit mulai berubah warna. Fajar sebentar lagi datang. Ia mematikan amplifier Blackstar, memasukkan gitar ke dalam hardcase, lalu berjalan menuju pintu keluar. Malam telah selesai.

Tetapi seperti banyak lagu yang bagus, beberapa cerita memang tidak pernah benar-benar berakhir. Mereka hanya berubah menjadi kenangan yang terus diputar ulang, setiap kali seseorang duduk sendirian di tengah malam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar