Kalau ditanya hobi saya apa, jawabannya mungkin akan mengecewakan banyak orang.
Saya tidak terlalu suka jalan-jalan.
Bahkan bisa dibilang saya termasuk golongan kaum mager yang cukup militan. Saya tidak pernah benar-benar paham kesenangan mengumpulkan cap paspor, berburu destinasi wisata, atau menghabiskan liburan dengan berpindah dari satu kota ke kota lain hanya demi mendapatkan foto yang bagus untuk media sosial.
Kalau ada yang bisa membuat saya rela berlari jauh, biasanya hanya dua hal: sepak bola dan keluarga.
Lalu kenapa bisa sampai tinggal di Jepang?
Saya mendapat kesempatan untuk melanjutkan sekolah di sana. Bukan karena saya tiba-tiba berubah menjadi petualang, tetapi karena ada urusan akademis yang harus diselesaikan.
Dan kebetulan, selama berada di sana saya menjalani bulan Ramadhan.
Sebelumnya saya mengira puasa di Jepang hanya akan berbeda soal makanan halal dan durasi puasa yang lebih panjang.
Ternyata saya salah.
Yang berbeda justru suasananya.
Dan mungkin karena itulah sampai sekarang masih saya ingat.
Tidak Ada Azan
Hal pertama yang paling terasa adalah tidak adanya azan.
Saya tahu, zaman sekarang ada aplikasi di telepon genggam yang bisa mengingatkan waktu salat. Saya juga menggunakannya.
Masalahnya, aplikasi tidak pernah bisa menggantikan suasana.
Di Indonesia, azan itu seperti soundtrack kehidupan sehari-hari. Mau di kota besar atau di kampung, selalu ada suara yang mengingatkan bahwa waktu salat telah tiba.
Di Jepang?
Sunyi.
Sangat sunyi.
Terutama saat sahur.
Tidak ada suara masjid.
Tidak ada pengeras suara.
Tidak ada pengingat imsak dari mushola dekat rumah.
Tidak ada anak-anak yang berkeliling kompleks sambil berteriak "SAHUUURR!"
Yang ada hanya saya, kompor, sepiring makanan, dan telepon genggam yang sesekali saya cek karena takut kelewatan waktu subuh.
Kebetulan saat itu sedang musim semi.
Waktu subuh sekitar pukul 02.15 dini hari dan berbuka sekitar pukul 19.30 malam.
Kalau dihitung memang cukup panjang.
Tapi jujur saja, tidak terasa terlalu berat.
Mungkin karena sebagian besar waktu saya habiskan untuk mengerjakan tesis.
Atau mungkin karena manusia memang bisa terbiasa dengan apa saja selama ada deadline yang mengejar.
Menjadi Minoritas
Hal kedua yang paling menarik adalah untuk pertama kalinya dalam hidup saya benar-benar merasakan menjadi minoritas.
Di Indonesia, hampir semua orang tahu apa itu puasa.
Mereka mungkin tidak menjalankannya, tetapi setidaknya memahami konsepnya.
Di Jepang tidak demikian.
Banyak teman saya yang berasal dari berbagai negara bahkan belum pernah mengenal Muslim secara dekat.
Akibatnya saya sering mendapat pertanyaan yang menurut saya biasa, tetapi ternyata sangat masuk akal dari sudut pandang mereka.
"Mengapa harus puasa?"
"Mengapa salat lima kali sehari?"
"Mengapa tidak boleh minum alkohol?"
"Mengapa gerakan salat seperti itu?"
Awalnya saya sempat bingung menjawab.
Bukan karena tidak tahu jawabannya, tetapi karena saya baru sadar bahwa banyak hal yang selama ini saya anggap normal ternyata tidak otomatis dipahami orang lain.
Beruntung sebagian besar teman-teman saya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi sekaligus toleransi yang luar biasa.
Setelah dijelaskan semampunya, mereka menghormati pilihan saya.
Mereka tidak pernah memaksa saya ikut minum.
Tidak pernah memaksa saya makan.
Tidak pernah menganggap keyakinan saya aneh.
Justru kadang saya yang diuji.
Terutama ketika mereka sedang nongkrong atau menghadiri nomikai sambil menikmati makanan yang aromanya terlalu baik untuk diabaikan.
Ternyata cobaan puasa bukan hanya lapar dan haus.
Kadang juga aroma yakiniku dari meja sebelah.
Bertemu Saudara yang Tidak Pernah Saya Kenal
Salah satu hal yang paling saya sukai selama Ramadhan di Jepang adalah kesempatan bertemu Muslim dari berbagai penjuru dunia.
Kadang kami berbuka bersama di asrama.
Kadang salat berjamaah di mushola kecil di pusat kota Yokohama.
Tempatnya sederhana. Tidak besar. Bahkan jauh lebih kecil dibandingkan banyak mushola yang ada di Indonesia.
Tetapi suasananya hangat.
Di sana saya bertemu teman-teman dari Ghana, Togo, Maroko, Nigeria, Pakistan, Bangladesh, Malaysia, Mesir, dan berbagai negara lainnya.
Kami datang dari budaya yang berbeda.
Makanan favorit berbeda.
Bahasa ibu berbeda.
Warna kulit berbeda.
Tetapi ketika waktu berbuka tiba dan semua duduk mengelilingi makanan yang sama, perbedaan itu seperti menghilang begitu saja.
Saat itu saya sadar bahwa kadang kita harus pergi jauh untuk memahami betapa luasnya sebuah komunitas yang selama ini kita anggap kecil.
Tentang Ibadah dan Kesadaran Diri
Ada satu pelajaran yang paling membekas dari Ramadhan di Jepang.
Di sana saya menyadari bahwa ibadah benar-benar menjadi urusan pribadi.
Kalau saya tidak salat, tidak ada yang peduli.
Kalau saya tidak puasa, tidak ada yang bertanya.
Kalau saya memilih melakukan hal-hal yang bertentangan dengan keyakinan saya, kemungkinan besar tidak ada yang menegur.
Semua kembali kepada diri sendiri.
Dan mungkin justru di situlah inti pelajarannya.
Bahwa ketika tidak ada tekanan sosial, tidak ada lingkungan yang mengingatkan, dan tidak ada orang yang mengawasi, yang tersisa hanyalah hubungan antara diri sendiri dan Tuhan.
Self-control benar-benar diuji.
Dan saya rasa itu salah satu pengalaman spiritual yang cukup menarik.
Tetap Indonesia yang Saya Rindukan
Meskipun Ramadhan di Jepang memberikan banyak pengalaman baru, kalau ditanya lebih suka yang mana, saya tetap memilih Indonesia.
Saya rindu suara azan dari masjid dekat rumah.
Saya rindu kultum menjelang berbuka di televisi.
Saya rindu anak-anak kampung yang berteriak "SAHUUUR" dengan semangat yang jauh lebih besar daripada volume suaranya.
Saya bahkan rindu iklan sirup Marjan yang entah bagaimana selalu muncul sebagai penanda resmi datangnya bulan Ramadhan.
Karena pada akhirnya, rumah bukan hanya tempat.
Rumah adalah kumpulan kebiasaan kecil yang tidak kita sadari keberadaannya sampai kita berada ribuan kilometer jauhnya.
Tentu saja pengalaman saya belum tentu sama dengan pengalaman orang lain.
Mungkin ada yang lebih menikmati Ramadhan di luar negeri.
Mungkin ada yang merasa pengalaman saya biasa saja.
Dan itu tidak masalah.
Karena seperti banyak hal dalam hidup, pengalaman tidak harus sama untuk bisa dihargai.
Kalau saya boleh memilih?
Saya tetap ingin menjalani Ramadhan berikutnya di Indonesia.
Dengan suara azan.
Dengan gorengan menjelang magrib.
Dengan anak-anak yang berisik saat sahur.
Dan tentu saja, dengan iklan sirup Marjan yang muncul lebih sering daripada anggota keluarga sendiri.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar