Awalnya aku mengira ini hanya masuk angin biasa.
Kamis sore, sepulang kerja, badanku terasa aneh. Tenggorokan gatal, batuk tak berhenti, mata panas, dan seluruh tubuh seperti kehilangan tenaga. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya kelelahan setelah seminggu bekerja. Segelas obat diminum, lalu aku merebahkan diri di tempat tidur sambil berharap besok pagi semuanya membaik.
Ternyata tidak.
Jumat pagi, kondisi justru semakin tidak nyaman. Ada perasaan mengganjal yang sulit dijelaskan. Untungnya aku masih menyimpan satu kotak alat tes antigen di rumah. Berbekal keberanian dan pengalaman beberapa kali melihat petugas kesehatan melakukan swab, aku memutuskan untuk melakukannya sendiri.
Beberapa menit kemudian, dua garis merah muncul.
Positif.
Anehnya, aku tidak panik. Mungkin karena selama dua tahun pandemi berlangsung, berita tentang Covid sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tetap saja, melihat dua garis itu dengan mata kepala sendiri memberikan sensasi yang berbeda.
Keesokan harinya aku menjalani PCR. Ruang tunggu penuh orang yang batuk, bersin, dan sesekali mengeluh pusing. Suasananya seperti ruang tunggu keberangkatan menuju pulau yang tak seorang pun ingin datangi. Petugas mengatakan hasilnya baru keluar dua hari lagi.
Senin pagi hasilnya keluar.
Positif.
Setelah kabar itu diterima, langkah pertama yang terpikir bukanlah tentang diriku sendiri, melainkan orang-orang di rumah. Anak, istri, dan asisten rumah tangga segera menjalani tes. Syukurlah hasil mereka negatif. Demi keamanan, mereka sementara waktu mengungsi agar tidak tertular.
Rumah yang biasanya ramai mendadak sunyi.
Hari-hari berikutnya berjalan lambat. Aku menjalani isolasi mandiri di kamar. Setiap pagi bangun, makan, minum obat, bekerja seperlunya dari rumah, lalu kembali berbaring. Sesekali aku melakukan tes antigen lagi hanya karena penasaran.
Selasa, masih positif.
Rabu, masih positif.
Jumat, setelah obat terakhir diminum, hasilnya tetap positif.
Yang paling berat ternyata bukan gejalanya. Demam hanya datang sebentar. Batuk pun masih bisa ditoleransi. Yang sulit adalah kesepian.
Aku mulai merindukan hal-hal kecil yang biasanya tidak pernah diperhatikan. Suara orang bercakap di ruang tamu. Bunyi pintu dibuka. Obrolan singkat saat makan malam. Bahkan suara kendaraan lewat di depan rumah terasa lebih menarik daripada biasanya.
Hari kedelapan isolasi, karena bosan sekaligus penasaran, aku kembali melakukan tes antigen. Kali ini hanya satu garis yang muncul.
Negatif.
Aku hampir tidak percaya. Seolah-olah setelah berhari-hari terjebak dalam ruang sempit, akhirnya ada secercah cahaya di ujung lorong. Untuk memastikan, aku kembali menjalani PCR.
Keesokan harinya hasilnya keluar.
Negatif.
Masih belum puas, aku melakukan tes antigen sekali lagi di rumah. Has
ilnya tetap sama.
Satu garis.
Saat itulah aku memutuskan untuk mengumumkan kepada diri sendiri bahwa aku telah sembuh.
Perjalanan sebelas hari itu mengajarkan satu hal sederhana. Saat sehat, kita sering menganggap kehadiran orang-orang terdekat sebagai sesuatu yang biasa. Namun ketika harus menghabiskan hari-hari sendirian di balik pintu kamar, kita baru menyadari betapa berharganya perhatian kecil dari mereka.
Makanan yang diantar ke depan pintu. Pesan singkat yang menanyakan kabar. Telepon dari teman yang hanya ingin memastikan kita baik-baik saja. Semua terasa jauh lebih berarti daripada sebelumnya.
Covid memang membuat tubuhku sakit.
Tapi yang paling terasa justru kesepiannya.
Dan untungnya, aku tidak menjalaninya sendirian. Selalu ada keluarga, sahabat, dan orang-orang baik yang menemani dari kejauhan sampai akhirnya dua garis itu berubah menjadi satu.
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar