"Rendahnya kepercayaan terhadap mekanisme penyelesaian sengketa pengadaan, kekhawatiran terhadap reputasi bisnis, dan dilema antara mencari keadilan atau menjaga keberlangsungan usaha."
Hujan turun tipis di luar jendela kantor ketika Arga menatap layar laptopnya.
Pengumuman pemenang tender sudah keluar satu jam lalu.
Dan seperti yang sudah ia duga, perusahaannya kalah.
Bukan kalah karena harga lebih mahal. Bukan pula karena dokumen administrasi kurang lengkap. Justru semua persyaratan yang diminta panitia berhasil mereka penuhi dengan baik.
Yang membuat Arga kesal adalah pemenangnya.
Perusahaan itu lagi.
Perusahaan yang sama selama tiga tahun berturut-turut.
"Masih mereka?" tanya Dimas, staf marketing yang duduk di seberang meja.
Arga hanya mengangguk pelan.
Ia membuka kembali dokumen evaluasi. Semakin dibaca, semakin banyak kejanggalan yang ditemukan. Beberapa persyaratan teknis terasa begitu spesifik, seolah ditulis untuk satu perusahaan tertentu.
"Kalau begini caranya, ngapain kita ikut tender?" gerutu Dimas.
Arga tidak menjawab.
Sebagai direktur perusahaan konstruksi menengah, ia sudah terlalu sering menghadapi situasi seperti ini.
Masalahnya bukan apakah mereka kalah.
Masalahnya adalah keyakinan bahwa hasilnya sudah ditentukan sejak awal.
Malam itu Arga membawa pulang setumpuk dokumen.
Di meja makan, istrinya memperhatikan wajahnya yang muram.
"Kamu mau sanggah?"
"Aku pikir begitu."
"Tapi?"
Arga tersenyum pahit.
"Tapi kalau aku sanggah, tahun depan bisa jadi kita nggak diundang lagi."
Istrinya terdiam.
Mereka sama-sama tahu kenyataan itu.
Di dunia usaha, reputasi bukan hanya soal kualitas pekerjaan.
Reputasi juga tentang apakah seseorang dianggap mudah diajak bekerja sama atau terlalu banyak masalah.
Perusahaan yang sering menggugat sering kali dicap sulit.
Dan cap itu bisa lebih mahal daripada nilai tender yang sedang diperebutkan.
Seminggu kemudian Arga bertemu beberapa rekan pengusaha dalam sebuah acara asosiasi.
Topik pembicaraan mereka ternyata sama.
Tender.
Sanggahan.
Dan ketidakpercayaan.
"Aku pernah menang di pengadilan," kata seorang pengusaha senior.
"Wah, bagus dong?"
Pria itu tertawa kecil.
"Menang perkara, kalah bisnis."
"Maksudnya?"
"Setelah itu hampir tidak pernah dapat proyek dari instansi yang sama."
Suasana meja mendadak sunyi.
Tak seorang pun membantah.
Karena hampir semua pernah mendengar cerita serupa.
Malam harinya Arga duduk sendirian di ruang kerja.
Di depannya ada dua pilihan.
Mengajukan sanggahan.
Atau melanjutkan hidup.
Secara hukum, ia punya peluang.
Banyak kejanggalan bisa dipersoalkan.
Tetapi prosesnya panjang.
Biayanya besar.
Belum tentu menang.
Kalaupun menang, belum tentu hubungan bisnisnya selamat.
Arga menatap foto para karyawannya yang tergantung di dinding.
Lima puluh tujuh orang.
Lima puluh tujuh keluarga yang bergantung pada keberlangsungan perusahaan.
Saat itulah ia sadar.
Keputusan ini bukan soal benar atau salah.
Ini soal bertahan hidup.
Keesokan pagi, Arga mengumpulkan seluruh manajernya.
"Apa kita jadi sanggah, Pak?" tanya Dimas.
Arga menggeleng pelan.
Ruangan menjadi hening.
"Bukan karena kita takut."
"Bukan karena kita mengaku kalah."
"Lalu kenapa, Pak?"
Arga menarik napas panjang.
"Karena kadang dalam bisnis, memilih perang bukan berarti keputusan terbaik."
"Tapi kita dirugikan."
"Iya."
"Dan mereka mungkin salah."
"Iya."
"Lalu kita diam saja?"
Arga memandang seluruh timnya.
"Tidak."
"Kalau begitu?"
"Kita buktikan lewat pekerjaan yang lebih baik."
Beberapa bulan kemudian, perusahaan mereka memenangkan tender dari instansi lain.
Lalu tender berikutnya.
Dan berikutnya lagi.
Namun jauh di dalam hati Arga, masih tersisa pertanyaan yang belum pernah terjawab.
Bagaimana jika perusahaan-perusahaan yang benar memilih diam?
Bagaimana jika ketakutan kehilangan reputasi membuat semua orang enggan bersuara?
Siapa yang akan memperbaiki sistem?
Ia menatap langit senja dari jendela kantornya.
Barangkali kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa dipaksa melalui aturan.
Kepercayaan lahir ketika orang yakin bahwa keadilan benar-benar ada.
Dan selama keyakinan itu belum tumbuh, banyak perusahaan akan terus melakukan hal yang sama seperti dirinya:
Memilih diam.
Bukan karena tidak berani melawan.
Tetapi karena harga sebuah sanggahan terkadang lebih mahal daripada kekalahan itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar