Tahun 2010.
Pukul sembilan pagi.
Di sebuah kantor pemerintah provinsi, belasan kontraktor duduk berjajar di ruang tunggu yang sempit. Sebagian membawa map cokelat tebal, sebagian lagi menggenggam amplop besar berisi dokumen penawaran.
Mereka saling mengenal.
Terlalu mengenal.
"Pak Surya ikut juga?"
"Ikut."
"Paket yang mana?"
"Yang jalan provinsi."
"Oh..."
Percakapan singkat itu terdengar biasa. Namun semua orang di ruangan itu memahami maknanya.
Kadang yang terucap bukanlah informasi.
Melainkan sinyal.
Sinyal bahwa hari ini bukan giliranmu menang.
Di dunia pengadaan saat itu, banyak hal tidak perlu dijelaskan secara terang-terangan.
Cukup dengan tatapan mata.
Atau secangkir kopi sebelum pemasukan dokumen.
Arif baru berusia tiga puluh tahun ketika mengambil alih perusahaan konstruksi peninggalan ayahnya.
Perusahaannya kecil.
Hanya memiliki dua puluh karyawan.
Mereka tidak punya koneksi politik.
Tidak punya kenalan pejabat.
Dan tidak pernah diundang ke meja-meja makan malam tempat proyek dibicarakan sebelum diumumkan.
Karena itu Arif selalu percaya pada satu hal.
Kalau pekerjaannya bagus, seharusnya ia punya kesempatan yang sama untuk menang.
Sayangnya dunia tidak selalu bekerja seperti itu.
Sudah tiga tahun ia mengikuti berbagai tender.
Dan hampir selalu kalah.
Kadang kalah tipis.
Kadang kalah dengan harga yang bahkan tidak masuk akal.
Seolah pemenangnya sudah diketahui jauh sebelum dokumen dibuka.
Suatu sore, seorang kontraktor senior menepuk bahunya.
"Kamu masih serius ikut tender pemerintah?"
"Iya."
"Capek."
"Kenapa?"
Pria itu tersenyum.
"Karena kamu datang untuk bertanding. Yang lain datang untuk bagi giliran."
Arif tidak menjawab.
Namun kalimat itu terus terngiang selama perjalanan pulang.
Beberapa bulan kemudian sebuah perubahan besar diumumkan.
Mulai tahun berikutnya, dokumen penawaran tidak lagi diserahkan langsung ke kantor pemerintah.
Semuanya dilakukan secara elektronik.
Online.
Tidak ada lagi amplop cokelat.
Tidak ada lagi ruang tunggu.
Tidak ada lagi pertemuan tatap muka saat pemasukan penawaran.
Banyak orang mengeluh.
Banyak pula yang khawatir.
Namun bagi Arif, perubahan itu terasa seperti angin segar.
Untuk pertama kalinya ia merasa akan bertanding di lapangan yang lebih datar.
Hari pertama sistem baru diberlakukan, kantor Arif berubah seperti markas perang.
Laptop menyala.
Internet diperiksa berulang kali.
Seluruh tim duduk mengelilingi meja.
"Sudah siap upload?"
"Sudah, Pak."
"Jangan sampai file salah."
"Koneksi aman."
Ketika tombol "Submit" ditekan, tidak ada suara tepuk tangan.
Tidak ada sorakan.
Hanya rasa lega.
Mereka baru saja mengikuti tender tanpa harus bertemu siapa pun.
Tanpa harus menebak siapa yang sedang mendapat giliran menang.
Bulan demi bulan berlalu.
Jumlah peserta tender meningkat drastis.
Perusahaan-perusahaan dari luar daerah mulai berdatangan.
Mereka tidak perlu lagi mengirim staf hanya untuk menyerahkan dokumen.
Mereka cukup membuka laptop dari kota masing-masing.
Persaingan menjadi lebih ketat.
Tetapi justru lebih jujur.
Arif menyukainya.
Suatu pagi telepon kantornya berdering.
Nomor dari pemerintah provinsi.
"Selamat pagi, Pak Arif."
"Selamat pagi."
"Kami ingin menginformasikan bahwa perusahaan Bapak ditetapkan sebagai pemenang."
Arif terdiam.
Beberapa detik.
Ia mengira salah dengar.
"Maaf, bisa diulang?"
"Perusahaan Bapak menang."
Tangannya gemetar.
Bukan karena nilai proyeknya besar.
Tetapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa menang karena kualitas pekerjaannya.
Bukan karena siapa yang ia kenal.
Malam itu Arif berdiri di depan kantor yang hampir kosong.
Lampu-lampu kota menyala di kejauhan.
Ia teringat ruang tunggu lama.
Amplop cokelat.
Percakapan-percakapan pendek yang penuh kode.
Tatapan mata yang menentukan nasib proyek bahkan sebelum penawaran dibuka.
Semua itu perlahan menghilang.
Digantikan oleh layar monitor dan jaringan internet.
Mungkin sistem baru tidak sempurna.
Masih ada masalah.
Masih ada celah.
Masih ada pihak yang mencoba mencari jalan pintas.
Namun setidaknya sekarang, seorang kontraktor kecil dari kota mana pun memiliki kesempatan untuk bersaing.
Kesempatan yang dulu terasa mustahil.
Arif tersenyum.
Terkadang kemajuan bukanlah sesuatu yang megah.
Bukan gedung tinggi.
Bukan jalan tol baru.
Kadang kemajuan hanya berupa satu tombol kecil di layar komputer.
Tombol yang memberi semua orang kesempatan yang sama untuk bermimpi.
Dan malam itu, setelah bertahun-tahun kalah, Arif akhirnya percaya bahwa mimpinya masih layak diperjuangkan.
"Penghapusan tatap muka dalam proses tender melalui sistem electronic yang meningkatkan kompetisi dan partisipasi peserta, sekaligus mengurangi peluang kolusi yang sebelumnya mungkin terjadi dalam sistem non elektronik"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar