Setiap akhir tahun, Pak Rahman selalu mendapat pertanyaan yang sama.
"Berapa penghematan yang berhasil dicapai tahun ini?"
Pertanyaan itu datang dari direksi.
Dari auditor.
Dari rapat evaluasi.
Dari hampir semua orang.
Dan setiap tahun pula, Pak Rahman selalu menyiapkan jawaban yang sama.
Angka.
Tabel.
Grafik.
Persentase efisiensi.
Semua terlihat indah.
Tahun ini penghematan mencapai miliaran rupiah.
Tahun lalu juga.
Tahun sebelumnya bahkan lebih besar.
Di atas kertas, Unit Pengadaan yang dipimpinnya adalah salah satu yang terbaik di instansi itu.
Tetapi setiap kali pulang ke rumah, ada perasaan yang mengganjal.
Seolah ada sesuatu yang salah.
Masalahnya mulai terlihat saat musim hujan tiba.
Proyek gedung baru yang dibangun dengan biaya paling murah mengalami kebocoran.
Air menetes dari langit-langit.
Cat mengelupas.
Beberapa ruangan tidak bisa digunakan.
"Padahal kontraktornya paling murah," kata seorang pejabat.
Pak Rahman hanya diam.
Beberapa bulan kemudian, giliran pengadaan komputer.
Harga yang diperoleh sangat kompetitif.
Semua orang memuji keberhasilan tim pengadaan.
Sampai enam bulan setelahnya.
Separuh perangkat mulai bermasalah.
Servis terlambat.
Garansi sulit diklaim.
Pegawai mengeluh.
Pekerjaan tertunda.
Lagi-lagi laporan keuangan tetap terlihat bagus.
Namun kenyataan di lapangan berbeda.
Suatu sore, setelah rapat yang melelahkan, Pak Rahman bertemu Bu Sinta.
Kepala bidang operasional.
"Pak, boleh jujur?"
"Tentu."
"Menurut saya pengadaan kita terlalu fokus pada harga."
Pak Rahman tersenyum tipis.
"Itu yang selalu diminta."
"Tapi bukan itu yang paling dibutuhkan."
"Maksudnya?"
Bu Sinta meletakkan secangkir kopi di meja.
"Kalau gedung murah tapi bocor, apa itu berhasil?"
Pak Rahman diam.
"Kalau komputer murah tapi sering rusak, apa itu berhasil?"
Ia masih diam.
"Kalau barang datang terlambat sehingga pelayanan masyarakat terganggu, apa itu berhasil?"
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Pak Rahman tidak punya jawaban.
Malam itu ia membuka kembali laporan-laporan lama.
Puluhan dokumen.
Ratusan halaman.
Ribuan angka.
Semuanya berbicara tentang biaya.
Tentang efisiensi.
Tentang penghematan.
Tetapi hampir tidak ada yang berbicara tentang kualitas.
Tidak ada yang membahas kepuasan pengguna.
Tidak ada yang mengukur apakah barang benar-benar bermanfaat.
Tidak ada yang menghitung berapa banyak waktu yang terbuang karena kesalahan proses.
Ia mulai bertanya-tanya.
Mungkin selama ini mereka sibuk menghitung sesuatu yang mudah dihitung.
Dan melupakan sesuatu yang lebih penting.
Beberapa minggu kemudian, Pak Rahman mengubah cara evaluasi.
Selain laporan keuangan, ia meminta timnya mencatat hal-hal yang selama ini diabaikan.
Berapa lama proses pengadaan berlangsung.
Apakah pengguna puas.
Apakah barang berfungsi dengan baik.
Apakah pemasok dapat diandalkan.
Bagaimana kualitas kerja tim pengadaan.
Awalnya banyak yang menolak.
"Itu terlalu sulit diukur."
"Itu tidak masuk laporan keuangan."
"Itu tidak penting."
Namun Pak Rahman tetap berjalan.
Satu tahun kemudian hasilnya mulai terlihat.
Penghematan memang tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya.
Tetapi keluhan pengguna turun drastis.
Barang datang tepat waktu.
Proyek selesai sesuai jadwal.
Hubungan dengan penyedia semakin baik.
Pegawai lebih bangga terhadap pekerjaannya.
Dan yang paling penting, masyarakat mulai merasakan manfaatnya.
Dalam rapat akhir tahun, seorang direktur bertanya.
"Kenapa angka penghematan kita lebih kecil?"
Pak Rahman tersenyum.
Karena kali ini ia sudah memiliki jawaban.
"Karena tahun ini kami tidak hanya membeli barang yang murah."
"Lalu?"
"Kami membeli barang yang tepat."
Ruangan menjadi sunyi.
Pak Rahman melanjutkan.
"Selama ini kita terlalu sibuk menghitung berapa uang yang berhasil disimpan."
"Padahal yang lebih penting adalah berapa banyak manfaat yang berhasil diberikan."
Di perjalanan pulang malam itu, Pak Rahman melihat gedung baru yang berdiri kokoh di tengah hujan.
Tidak ada kebocoran.
Tidak ada cat yang mengelupas.
Lampu-lampunya menyala terang.
Ia tersenyum kecil.
Akhirnya ia mengerti sesuatu yang selama ini luput.
Efisiensi memang penting.
Tetapi efektivitas adalah alasan mengapa efisiensi itu dilakukan.
Karena keberhasilan tidak selalu tercatat dalam laporan keuangan.
Kadang keberhasilan hadir dalam bentuk gedung yang bertahan puluhan tahun.
Dalam pelayanan yang lebih baik.
Dalam pegawai yang bangga terhadap pekerjaannya.
Dan dalam masyarakat yang merasakan manfaatnya.
Hal-hal yang nilainya jauh lebih besar daripada angka yang tercetak di atas kertas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar