Kontributor

Jumat, 01 Mei 2026

Bertahan dan Terluka

Tidak ada yang benar-benar menyadari kapan seseorang mulai lelah.

Karena kelelahan orang dewasa tidak selalu terlihat.

Mereka tetap datang ke kantor tepat waktu. Tetap menghadiri rapat. Tetap membalas email dengan kalimat yang sopan. Tetap tersenyum ketika bertemu rekan kerja di pantry. Tetap tertawa ketika mendengar candaan yang sebenarnya tidak terlalu lucu.

Dari luar semuanya terlihat baik-baik saja. Begitu juga dengan dirinya.

Pagi itu ia datang seperti biasa. Menempelkan kartu akses di pintu masuk gedung, menyapa satpam yang berjaga, lalu naik lift menuju lantai tempatnya bekerja. Tidak ada yang berbeda. Laptop menyala. Email masuk seperti peluru yang tidak pernah berhenti datang. Grup WhatsApp kantor ramai dengan berbagai permintaan yang semuanya dianggap mendesak.

Rutinitas yang sama. Hari yang sama.

Dan entah sudah berapa lama ia menjalaninya tanpa benar-benar merasakan apa pun.

Belakangan ini ia sering merasa hidup berjalan menggunakan mode otomatis. Bangun pagi, bekerja, pulang malam, tidur, lalu mengulang semuanya lagi keesokan hari. Kadang akhir pekan datang, tetapi rasanya tidak cukup lama untuk membuat dirinya benar-benar beristirahat.

Yang membuat semuanya lebih berat adalah karena beberapa bulan terakhir ada sesuatu yang hilang dari hidupnya.

Atau mungkin seseorang.

Ia sendiri tidak yakin.

Yang ia tahu, ada ruang kosong yang tidak pernah berhasil diisi oleh pekerjaan, lembur, kopi, ataupun kesibukan.

Awalnya ia berpikir waktu akan menyelesaikannya.

Bukankah semua orang selalu berkata begitu?

"Nanti juga sembuh."

"Nanti juga terbiasa."

"Nanti juga lupa."

Masalahnya, waktu ternyata tidak bekerja secepat yang dibayangkan.

Semakin lama, justru semakin banyak kenangan yang muncul tanpa diminta.

Saat makan siang sendirian, ia teringat seseorang yang dulu selalu menanyakan menu makan hari itu.

Saat perjalanan pulang, ia teringat percakapan-percakapan kecil yang dulu terasa biasa tetapi sekarang justru paling dirindukan.

Saat melihat notifikasi ponsel menyala, ada bagian kecil dari dirinya yang masih berharap nama tertentu muncul di layar.

Padahal ia tahu itu tidak akan terjadi.

Sudah terlalu lama.

Terlalu banyak yang berubah.

Namun harapan memang sering kali lebih keras kepala daripada logika.

Suatu malam ia masih berada di kantor ketika hampir semua orang sudah pulang. Lampu sebagian ruangan dimatikan. Suara pendingin udara terdengar lebih jelas dari biasanya. Dari jendela besar di samping meja kerjanya, lampu-lampu kota terlihat seperti bintang yang jatuh ke bumi.

Ia menutup laptop dan bersandar di kursinya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia membiarkan dirinya diam.

Tidak membuka email.

Tidak memeriksa pesan.

Tidak mencari distraksi.

Hanya diam.

Dan di tengah kesunyian itu, ia akhirnya mengakui sesuatu yang selama ini selalu dihindari.

Ia lelah.

Bukan karena pekerjaan.

Bukan karena target.

Bukan karena rapat yang tidak ada habisnya.

Ia lelah karena terlalu lama berharap.

Terlalu lama menunggu sesuatu yang tidak akan kembali.

Terlalu lama meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja jika ia cukup sabar.

Padahal hidup tidak selalu memberi kesempatan kedua.

Ada orang yang pergi dan tidak kembali.

Ada cerita yang selesai tanpa penjelasan.

Ada harapan yang memang harus dikuburkan agar seseorang bisa melanjutkan hidupnya.

Malam itu ia tidak menangis.

Tidak ada adegan dramatis.

Tidak ada keputusan besar yang mengubah hidup dalam sekejap.

Yang ada hanya seorang pegawai kantoran yang duduk sendirian di depan layar laptop yang sudah gelap, mencoba berdamai dengan kenyataan bahwa masa lalu tidak bisa diperbaiki.

Dan mungkin itu cukup.

Karena menerima kenyataan ternyata jauh lebih menenangkan daripada terus menolaknya.

Ia berdiri, memasukkan laptop ke dalam tas, lalu berjalan menuju lift. Ketika pintu lift menutup, ia sempat melihat pantulan dirinya di dinding stainless yang mengilap.

Wajahnya terlihat lelah.

Tetapi ada sesuatu yang berbeda.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak lagi berharap waktu berputar mundur.

Ia tidak lagi berharap seseorang kembali.

Ia tidak lagi berharap hidup mengembalikan apa yang telah hilang.

Ia hanya berharap satu hal sederhana.

Besok pagi, ketika alarm kembali berbunyi dan hari baru dimulai, ia bisa melangkah sedikit lebih ringan daripada hari ini.

Karena kadang-kadang, bentuk keberanian terbesar orang dewasa bukanlah mengejar sesuatu.

Melainkan menerima bahwa beberapa hal memang tidak ditakdirkan untuk bertahan, lalu tetap memilih datang bekerja keesokan paginya seolah dunia baik-baik saja.

Padahal di dalam dirinya, ada luka yang masih perlahan belajar sembuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar