Malam itu kota terlihat seperti seseorang yang kelelahan. Hujan turun sejak sore dan belum benar-benar berhenti, hanya berubah menjadi gerimis tipis yang membuat lampu-lampu jalan tampak kabur dari balik jendela. Di sudut sebuah bar yang tidak terlalu ramai, seorang pria duduk sendirian dengan segelas anggur merah di depannya. Musik mengalun pelan dari speaker tua yang tergantung di atas rak botol. Lagu-lagu yang diputar adalah lagu-lagu lama, jenis lagu yang biasanya hanya dicari oleh orang-orang yang sedang ingin mengenang sesuatu atau melupakan sesuatu. Sulit membedakan keduanya. Ia memutar perlahan gelas anggurnya, memperhatikan cairan merah gelap yang berputar membentuk lingkaran kecil sebelum kembali tenang. Sudah hampir satu jam ia duduk di sana. Anggurnya belum habis, tetapi pikirannya sudah pergi ke mana-mana.
Ada masa ketika ia percaya bahwa semua hal bisa diperbaiki selama seseorang cukup sabar. Bahwa hubungan yang retak bisa diperbaiki dengan ketulusan. Bahwa mimpi yang gagal bisa dicapai dengan kerja keras. Bahwa kehilangan hanya soal waktu sebelum akhirnya tergantikan oleh sesuatu yang baru. Dulu ia percaya hidup bekerja seperti itu. Hitam dan putih. Sebab dan akibat. Jika seseorang memberi yang terbaik, maka hidup akan membalasnya dengan sesuatu yang baik pula. Namun semakin bertambah usia, ia semakin menyadari bahwa dunia tidak pernah membuat perjanjian seperti itu dengan siapa pun. Kadang seseorang sudah memberikan segalanya dan tetap kehilangan. Kadang seseorang sudah menunggu begitu lama dan yang datang hanya kesunyian. Kadang sebuah cerita berakhir bukan karena kurang diperjuangkan, melainkan karena memang sudah waktunya berakhir.
Mungkin itulah yang paling sulit diterima manusia. Bukan kehilangan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa tidak semua kehilangan bisa dicegah. Tidak semua perpisahan bisa diperbaiki. Tidak semua cerita memiliki bab penutup yang memuaskan. Ia pernah menghabiskan waktu bertahun-tahun mencoba memahami hal itu. Mencari jawaban atas berbagai pertanyaan yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban. Mengapa seseorang pergi. Mengapa keadaan berubah. Mengapa hidup tidak berjalan seperti yang dibayangkan. Semakin keras ia mencari, semakin jauh ia tersesat. Sampai akhirnya ia menyadari bahwa sebagian pertanyaan memang tidak ditakdirkan untuk dijawab. Sebagian hanya ditakdirkan untuk diterima.
Ia menatap keluar jendela. Di seberang jalan, seorang pria berlari kecil sambil melindungi kepalanya dengan tas kerja. Sepasang anak muda berjalan berdekatan di bawah satu payung. Lampu kendaraan memantul di aspal yang basah. Kota tetap bergerak seperti biasa. Tidak peduli berapa banyak hati yang sedang patah malam itu. Tidak peduli siapa yang sedang berduka atau siapa yang sedang jatuh cinta. Kota selalu menemukan cara untuk terus hidup. Dan mungkin itulah yang selama ini gagal ia lakukan. Ia terlalu lama tinggal di satu tempat yang sudah lama ditinggalkan waktu.
Awalnya ia mengira yang dirindukannya adalah seseorang. Wajah tertentu. Senyuman tertentu. Suara tertentu yang pernah mengisi hari-harinya. Namun setelah sekian lama, ia menyadari bahwa yang membuatnya terjebak bukanlah seseorang. Yang membuatnya tidak mampu bergerak adalah bayangan tentang kehidupan yang tidak pernah terjadi. Ia merindukan kemungkinan-kemungkinan. Masa depan yang pernah ia susun di dalam kepala. Rencana-rencana yang pernah terasa begitu nyata. Versi hidup yang tidak pernah sempat diwujudkan. Dan semakin lama ia memikirkannya, semakin ia sadar bahwa selama ini dirinya bukan sedang mengenang. Ia sedang menetap. Ia menjadikan masa lalu sebagai tempat tinggal, lalu bertanya-tanya mengapa hidupnya terasa berhenti.
Musik kembali berganti. Kali ini sebuah lagu tentang seseorang yang lelah menunggu. Ia tersenyum kecil. Ada sesuatu yang lucu tentang manusia. Mereka sering kali lebih setia kepada kenangan daripada kepada dirinya sendiri. Mereka rela menghabiskan bertahun-tahun memelihara luka hanya karena takut kehilangan satu-satunya hal yang masih menghubungkan mereka dengan masa lalu. Padahal kenangan tidak pernah meminta untuk disimpan selama itu. Kenangan hanya ingin dikenang sesekali, bukan ditinggali setiap hari.
Ia mengangkat gelas anggurnya dan meneguk sisanya perlahan. Rasa hangat menyebar di tenggorokannya. Di luar, hujan mulai reda. Langit masih gelap, tetapi jalanan terlihat lebih terang daripada sebelumnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak perlu lagi mencari jawaban. Tidak perlu lagi menunggu seseorang kembali. Tidak perlu lagi berharap pada cerita yang sudah selesai bertahun-tahun lalu. Ada rasa damai yang datang secara perlahan, seperti udara dingin setelah hujan panjang. Tidak mengubah apa pun, tetapi cukup untuk membuat seseorang bisa bernapas lebih lega.
Ia meletakkan gelas kosongnya di atas meja dan berdiri. Tidak ada momen besar. Tidak ada kesadaran yang menggelegar seperti dalam film-film. Hanya seorang pria yang akhirnya lelah membawa beban yang seharusnya sudah ditinggalkan sejak lama. Saat melangkah menuju pintu keluar, ia sempat menoleh ke arah kursi yang baru saja ditinggalkannya. Lalu tersenyum. Karena ia tahu sesuatu akhirnya tertinggal di sana malam itu. Bukan kenangannya. Bukan masa lalunya. Melainkan keinginannya untuk terus hidup di dalam keduanya.
Di luar, udara malam terasa lebih dingin dari biasanya. Namun langkahnya terasa jauh lebih ringan. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak merasa sedang meninggalkan sesuatu. Ia merasa sedang kembali. Kembali kepada dirinya sendiri, yang selama ini hilang karena terlalu sibuk mengejar bayangan masa lalu. Karena pada akhirnya, yang membuat seseorang tenggelam bukanlah waktu. Yang membuat seseorang tenggelam adalah ketidakmampuannya menerima bahwa waktu tidak pernah menunggu siapa pun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar