Pagi itu kami duduk mengelilingi meja rapat, ditemani slide demi slide yang berbicara tentang sesuatu yang mungkin terdengar sederhana bagi orang kota: internet.
Padahal bagi sebagian orang Indonesia, internet bukan sesuatu yang sederhana.
Di Jakarta, orang mengeluh karena video 4K buffering tiga detik.
Di tempat lain, ada anak sekolah yang harus berjalan ke bukit hanya untuk mengirim tugas. Ada tenaga kesehatan yang menunggu sinyal muncul satu garis agar laporan bisa terkirim. Ada aparat desa yang harus mencari titik tertentu di pinggir jalan untuk mengunduh dokumen pemerintah.
Negara yang sama. Cerita yang berbeda.
Di layar presentasi terpampang rencana besar tentang Digital Connectivity, sebuah upaya memperluas akses internet cepat dan terjangkau ke wilayah-wilayah yang selama ini masih berada di pinggir peta digital Indonesia. Fokusnya bukan pusat kota. Justru sebaliknya. Tempat-tempat yang sering muncul dalam laporan sebagai underserved area. Wilayah yang selama ini lebih sering disebut "blank spot" daripada nama desanya sendiri.
Aku membayangkan sebuah sekolah di pedalaman Kalimantan. Sebuah puskesmas di Nusa Tenggara Timur. Sebuah kantor kecamatan di Sulawesi yang sinyalnya hilang muncul seperti mantan yang belum benar-benar move on.
Mereka semua menjadi tujuan dari proyek ini.
Yang menarik, pembahasannya bukan sekadar membangun menara atau menarik kabel. Ada istilah-istilah yang membuat kepala sedikit berasap: backhaul, fiber optic, LEO satellite, WiFi 6e, neutral host, sampai regulatory reform. Semuanya terdengar sangat teknis. Tapi jika diterjemahkan ke bahasa yang lebih sederhana, intinya hanya satu:
bagaimana caranya agar seseorang di ujung negeri bisa mendapatkan akses internet yang sama layaknya seseorang yang tinggal di tengah kota.
Kadang kita lupa bahwa internet hari ini bukan lagi soal hiburan.
Ia adalah jalan.
Jalan menuju pendidikan.
Jalan menuju layanan kesehatan.
Jalan menuju pekerjaan.
Jalan menuju kesempatan.
Sama seperti jalan raya yang menghubungkan desa dengan kota, internet menghubungkan seseorang dengan dunia yang lebih luas.
Di tengah rapat, seseorang bertanya tentang target proyek.
Angkanya cukup besar. Ribuan titik layanan, mulai dari sekolah, puskesmas hingga kantor pemerintahan yang akan menjadi pusat konektivitas di daerah-daerah prioritas.
Aku kemudian teringat masa kecil.
Dulu kami menunggu surat berhari-hari. Menunggu telepon rumah berdering adalah peristiwa penting. Untuk mencari informasi harus membuka ensiklopedia atau pergi ke perpustakaan.
Sekarang, seorang anak di desa terpencil bisa belajar dari profesor di belahan dunia lain hanya lewat layar ponsel.
Asalkan ada sinyal.
Dan ternyata, kadang yang membedakan mimpi seseorang dengan kenyataan bukanlah kecerdasan, bukan pula kerja keras.
Kadang hanya satu hal sederhana.
Sinyal.
Rapat berakhir menjelang siang. Slide terakhir ditutup. Laptop dimatikan. Kopi di meja sudah dingin sejak lama.
Namun satu pikiran masih tertinggal di kepala.
Mungkin pembangunan tidak selalu berbentuk gedung tinggi atau jalan tol yang megah.
Mungkin, di era sekarang, pembangunan juga bisa berbentuk sebuah sinyal kecil yang muncul di sudut layar ponsel seseorang.
Lalu dari satu garis sinyal itu, perlahan lahir kesempatan-kesempatan yang sebelumnya tak pernah bisa dijangkau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar