Kontributor

Minggu, 12 Juli 2009

Pesaing & Persaingan

Saya masih ingat perasaan tidak nyaman ketika tahu ada laki-laki lain yang juga menyukai perempuan yang sama. Awalnya pasti muncul rasa kesal. Kenapa harus dia juga? Kenapa tidak cari perempuan lain saja sih? Bukankah di kampus ini masih banyak mahasiswi lain yang bisa didekati?

Tapi hidup memang suka bercanda.

Biasanya perempuan yang kita sukai juga disukai orang lain.

Dan semakin banyak yang menyukainya, biasanya semakin besar kemungkinan dia memang perempuan yang menarik.

Lama-kelamaan saya sadar bahwa pesaing bukanlah lawan.

Dia cuma orang lain yang kebetulan melihat hal yang sama dengan yang saya lihat.

Dia melihat senyum yang sama.

Dia mendengar suara yang sama.

Dia merasakan nyaman yang mungkin juga saya rasakan.

Kalau dipikir-pikir, itu bukan kesalahan dia.

Saya juga mungkin akan melakukan hal yang sama kalau berada di posisinya.

Masalahnya logika seperti itu sering kalah oleh ego.

Melihat dia ngobrol berdua dengan perempuan yang kita suka rasanya seperti melihat tim lawan mencetak gol di menit ke-90. Hati langsung panas, kepala penuh prasangka, dan mendadak semua skenario buruk muncul bersamaan.

Apalagi kalau dia terlihat lebih dekat.

Lebih sering ngobrol.

Lebih sering muncul.

Rasanya seperti menjadi pendukung Manchester United di final Liga Champions 1999, tetapi versi terbalik. Bedanya, kalau pendukung Bayern München saat itu masih sempat berharap trofi sudah di depan mata lalu semuanya hilang dalam hitungan menit, kita justru merasa sedang memegang trofi itu dalam khayalan sendiri, lalu tiba-tiba melihat papan skor berubah tanpa bisa berbuat apa-apa.

Padahal kenyataannya pertandingan bahkan belum dimulai.

Belum tentu dia menyukai laki-laki itu.

Belum tentu mereka punya hubungan khusus.

Belum tentu kita kalah.

Tapi otak mahasiswa yang sedang jatuh cinta memang sering bekerja lebih liar 

Melihat dia muncul di kolom komentar Facebook saja sudah cukup membuat berbagai teori konspirasi lahir. Melihat dia mengantar pulang, rasanya seperti kebobolan gol injury time. Padahal bisa jadi mereka cuma kebetulan satu arah.

Begitulah cinta waktu masih kuliah.