Kontributor

Jumat, 22 Juni 2012

WHO IS NEW JUVENTUS BOSS MASSIMO CARRERA?

Tidak akan pernah mudah untuk menjadi pelatih kepala di sebuah klub top.

Itu lah yang sekarang dihadapi oleh pelatih 'dadakan' juventus saat ini, Massimo Carrera. Ia sementara terpaksa harus meneruskan rezim Antonio Conte yang sukses membawa juventus merebut Scudetto musim lalu tanpa terkalahkan.

Conte resmi dihukum selama 10 bulan oleh FIGC terkait. Pelatih Juventus tersebut telah resmi menerima hukuman berupa larangan aktif di pertandingan Juventus selama 10 bulan ke depan akibat keterlibatannya dalam skandal Calcioscommesse. Conte dipastikan tidak bisa mendampingi anak asuhnya dalam sebagian besar pertandingan musim 2012/2013 mendatang.

Jadi siapakah sebenarnya sang pelatih 'dadakan' Juventus, Massimo Carrera?


Jumat, 13 April 2012

Selamat Tinggal, Laptop Kesayanganku

Ada yang bilang kehilangan itu bagian dari kehidupan. Ada yang bilang semua yang datang pasti akan pergi. Ada juga yang bilang kalau barang hilang berarti belum rezeki. Entah siapa yang pertama kali menciptakan kalimat-kalimat bijak itu, tapi saya yakin orang tersebut belum pernah kehilangan laptop berisi skripsi, tugas kuliah, koleksi lagu, film, foto-foto, dan berbagai harta karun digital lainnya sekaligus dalam satu malam.

Saya kehilangan laptop kesayangan saya beberapa minggu yang lalu.

Bukan karena rusak dimakan usia. Bukan karena jatuh dari meja kos. Bukan pula karena dijual untuk membayar uang kuliah yang menunggak. Laptop itu hilang dengan cara yang jauh lebih dramatis dan menyakitkan: dicuri saat saya sedang tertidur pulas di dalam bus malam.

Padahal hubungan saya dengan laptop tersebut sudah berlangsung hampir empat tahun. Umurnya memang tidak muda lagi. Baterainya sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kehamilan dan beberapa tombol keyboard harus ditekan dengan teknik khusus agar mau berfungsi. Namun bagi seorang mahasiswa, laptop bukan sekadar benda elektronik. Ia adalah teman seperjuangan. Tempat menyimpan tugas, skripsi, foto-foto kenangan, koleksi musik, dan sesekali digunakan untuk aktivitas untuk memuaskan hawa nafsu yang tidak perlu dijelaskan terlalu rinci kepada publik.

Malam itu saya berangkat dari Bandung menuju Yogyakarta menggunakan bus Kramat Djati. Libur beberapa hari di rumah telah usai dan saya harus kembali ke kota pelajar untuk melanjutkan kehidupan sebagai mahasiswa tingkat akhir. Kehidupan yang sebagian besar diisi oleh niat mengerjakan skripsi, rencana mengerjakan skripsi, dan rasa bersalah karena tidak jadi mengerjakan skripsi.

Ketika tiba di pool bus kawasan Dago sekitar pukul enam sore, saya sempat merasa beruntung. Bus yang akan saya tumpangi terlihat sangat sepi. Dari puluhan kursi yang tersedia, hanya beberapa yang terisi penumpang. Situasi seperti itu biasanya menjadi kabar baik. Tidak perlu berebut kursi, tidak perlu mendengar suara dengkuran penumpang lain dari jarak dekat, dan yang terpenting, ada banyak ruang untuk selonjoran kaki.

Bus kemudian bergerak menuju pool berikutnya di kawasan Jalan Riau. Di sinilah cerita ini mulai berubah arah.

Dua orang penumpang naik ke dalam bus. Yang pertama seorang bapak-bapak bertubuh tambun dengan wajah yang sangat biasa. Terlalu biasa malah. Wajahnya seperti gabungan antara pedagang buah, tukang servis televisi, dan ketua RT yang baru selesai ronda malam. Tidak ada satu pun ciri yang membuat seseorang akan berpikir, "Nah, ini pasti maling profesional."

Yang kedua jauh lebih menarik perhatian. Seorang pemuda dengan jaket kulit hitam dan model rambut yang membuat saya langsung teringat kepada Charlie ST12. Semakin lama saya memperhatikannya, semakin kuat kemiripannya. Rambutnya, gaya berjalannya, bahkan ekspresi wajahnya seperti seseorang yang sebentar lagi akan menyanyikan lagu patah hati di atas panggung pensi sekolah.

Kalau malam itu tiba-tiba dia mengeluarkan gitar dari tas lalu menyanyikan "Saat Terakhir", saya rasa sebagian penumpang justru akan ikut bernyanyi.

Setelah kedua orang tersebut naik, jumlah penumpang di dalam bus bertambah menjadi tiga belas orang. Tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat suasana terasa lebih hidup. Perjalanan kembali berlanjut menembus malam Jawa Barat menuju Jawa Tengah.

Awalnya tidak ada yang aneh. Saya masih terjaga dan beberapa kali memperhatikan kedua penumpang tadi berpindah-pindah kursi. Kadang duduk di depan, lalu pindah ke tengah, kemudian pindah lagi ke belakang. Ketika ada yang bertanya, mereka menjawab bahwa AC bus terlalu dingin.

Alasan yang sebenarnya cukup aneh.

Karena setahu saya AC bus tidak bekerja berdasarkan lokasi kursi. Hembusan AC tidak keluar dari tempat pantat

Namun saat itu saya tidak terlalu memikirkannya.

Lagipula tas ransel yang berisi laptop sedang saya peluk erat di pangkuan. Posisi yang menurut saya saat itu sudah sangat aman. Bahkan mungkin terlalu aman.

Sekitar pukul dua dini hari sesuatu yang aneh mulai terjadi. Rasa kantuk datang begitu cepat. Biasanya saya cukup sulit tidur di kendaraan umum, tetapi malam itu kelopak mata terasa berat luar biasa. Saya mencoba bertahan beberapa menit sambil sesekali melihat ke luar jendela, namun akhirnya menyerah.

Saya tertidur.

Dan saya tidak hanya tidur.

Saya tidur seperti orang yang baru menyelesaikan kerja rodi selama tiga hari tiga malam tanpa istirahat.

Pulas.

Sangat pulas.

Begitu pulas sampai saya tidak mendengar apa pun.

Tidak mendengar suara orang berjalan.

Tidak mendengar suara resleting dibuka.

Tidak mendengar suara tas diobrak-abrik.

Bahkan kalau malam itu resleting celana saya dibuka, mungkin saya tetap tidur.

Saya baru terbangun ketika matahari hampir terbit. Bus saat itu sudah memasuki wilayah Purworejo. Dengan mata yang masih setengah terbuka, saya meraba tas ransel yang sejak semalam berada di pangkuan.

Ada yang terasa berbeda.

Tas itu lebih ringan.

Jauh lebih ringan.

Awalnya saya berpikir mungkin hanya perasaan. Namun begitu resleting dibuka, saya langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres.

Laptop saya hilang.

Raib.

Lenyap.

Menghilang begitu saja seperti mantan yang tiba-tiba selingkuh sama teman les LIA nya (gak usah curhat)

Saya langsung membongkar seluruh isi tas dengan panik. Kaus kotor masih ada. Celana masih ada. Oleh-oleh dari Bandung masih ada. Bahkan charger laptop masih ada.

Yang hilang hanya laptopnya.

Saya sempat kagum sekaligus kesal. Pencurinya ternyata sangat profesional. Ia tahu persis mana yang bernilai dan mana yang tidak.

Belum sempat saya mencerna kejadian itu, terdengar suara panik dari kursi depan.

"Mas, laptop saya hilang!"

Lalu terdengar suara lain.

"Laptop saya juga nggak ada!"

Dalam hitungan menit suasana bus berubah menjadi forum silaturahmi para korban pencurian laptop se-Jawa Tengah.

Saat itulah saya menyadari bahwa saya tidak sendirian.

Dan ketika saya menoleh ke belakang, kursi yang sebelumnya ditempati bapak tambun dan Charlie ST12 sudah kosong.

Mereka telah turun.

Menurut keterangan kenek, keduanya turun di daerah Kebumen beberapa jam sebelumnya.

Saya hanya bisa terdiam.

Hubungan empat tahun saya dengan laptop itu berakhir tanpa salam perpisahan.

Tanpa ucapan terima kasih.

Tanpa kesempatan terakhir untuk menekan tombol shutdown.

Yang lebih menyebalkan lagi, alih-alih mendapat hiburan, saya justru mendapat kuliah umum dari beberapa penumpang.

"Masnya kurang hati-hati."

"Masnya sih tidur terlalu pulas."

"Masnya harusnya ditaruh di bagasi."

Saya hanya mengangguk.

Karena kadang orang yang baru kehilangan sesuatu tidak membutuhkan solusi. Mereka hanya ingin diberi kesempatan untuk sedih beberapa menit tanpa dihakimi.

Perjalanan menuju Yogyakarta pagi itu terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Di luar jendela, matahari mulai naik dan kehidupan berjalan seperti biasa. Sementara saya duduk memandangi jalan sambil membayangkan ke mana laptop saya pergi.

Mungkin sekarang sedang berada di pasar loak.

Mungkin sudah berpindah tangan.

Atau mungkin sedang dipakai seseorang untuk mengetik skripsi yang jauh lebih rajin daripada pemilik sebelumnya.

Siapa tahu.

Yang jelas, malam itu saya belajar satu hal penting. Jangan pernah menganggap perjalanan sepi sebagai perjalanan aman. Dan jika suatu saat Anda naik bus malam lalu melihat seseorang yang sangat mirip Charlie ST12, mungkin tidak ada salahnya untuk sedikit lebih waspada.

Demi keselamatan laptop dan kesehatan mental Anda.






Sabtu, 31 Maret 2012

Grup Paling Maut




Belanda, Jerman, Denmark, dan Portugal tergabung dalam Grup B Euro 2012 nanti. Grup ini disebut grup neraka. Rata-rata ranking FIFA keempat negara tersebut adalah 5,75, tahukah kalian bahwa pada Euro edisi sebelum-sebelumnya masih ada Grup yang lebih 'neraka' dari Grup ini




GRUP C EURO 1996
Di dalam grup ini Jerman, yang saat itu ada di ranking 2 dunia, bergabung dengan Rusia (peringkat ke-3), Italia (7), dan Rep. Ceska (10). Rata-rata peringkat FIFA di Grup C ini adalah 5,5. Sebagai catatan, Tim Panser kemudian menjadi juara turnamen ini










GRUP D EURO 2000

Prancis, dalam merintis jalan menuju tangga kampiun Euro 2000, juga harus masuk grup neraka bersama Belanda, Rep. Ceska, dan Denmark. Rata-rata ranking negara Grup D memang hanya 9,75. Namun, angka itu muncul lebih karena salah satu tim favorit, Belanda sedang tercecer di peringkat ke-21 saat turnamen dimulai








PIALA DUNIA 1982
Peringkat FIFA baru diperkenalkan pada 1993. Sebelum itu, Piala Dunia 1982 melahirkan kelompok yang bisa dibilang paling mengerikan. Pada fase grup kedua, Grup 3 mengumpulkan tiga negara kuat dalam sepakbola, yakni sang juara bertahan Argentina, Italia (yang akhirnya menjadi juara), dan Brasil.








GRUP C EURO 2008
Belanda, Italia, Prancis, dan Rumania tergabung dalam Grup C Euro 2008. Grup ini disebut grup neraka. Rata-rata ra nking FIFA keempat negara tersebut adalah 8. Namun sayang, Italia dan Belanda yang akhirnya lolos dari grup ini tidak mampu berbicara banyak di fase selanjutnya.

Jumat, 16 Maret 2012

It’s not over til it’s over, Comeback Dramatis dalam Sepakbola

"pertandingan belum berakhir sampai peluit akhir ditiupkan"

Kalimat tersebut mungkin sudah tidak asing lagi di telinga para pecinta kartun, terutama yang bertemakan sepakbola. Kalimat tersebut adalah kalimat yang selalu diucapkan tokoh kartun Tsubasa Ozora. Tsubasa adalah sosok yang tidak mengenal menyerah dan terus berjuang sampai peluit akhir meskipun tim yang dibelanya tertinggal lebih dulu dari tim lawan.

Ternyata kalimat Tsubasa tersebut beberapa kali pernah terjadi di dalam sepakbola nyata. Tim yang tertinggal lebih dulu dari tim lawan berbalik unggul dan akhirnya memenangkan pertandingan yang di dalam sepakbola sering disebut dengan istilah comeback.

Berikut beberapa comeback yang menurut saya paling dramatis selama menjadi penikmat sepakbola layar kaca.

1. UEFA Champions League Final 1999
Ini mungkin comeback paling terkenal sepanjang masa. Bayern unggul sejak menit ke-6 dan bertahan hingga injury time. Namun dalam waktu kurang dari tiga menit, Manchester United membalikkan keadaan menjadi 2-1. Dari hampir kalah menjadi juara Eropa.

2. UEFA Champions League Final 2005
Tertinggal 0-3 saat turun minum melawan tim bertabur bintang seperti Milan seharusnya menjadi akhir cerita. Tapi Liverpool mencetak tiga gol dalam enam menit dan akhirnya menang lewat adu penalti. "Miracle of Istanbul" lahir malam itu.

3. UEFA Champions League Quarter-final 2004
Setelah kalah 1-4 di San Siro, hampir tidak ada yang percaya Deportivo de La Coruña bisa lolos. Namun mereka menang 4-0 di kandang dan menyingkirkan Milan dengan agregat 5-4. Salah satu comeback agregat terbesar dalam sejarah Liga Champions.

4. UEFA Champions League Final 1986
Bukan comeback dalam skor, tetapi comeback mental. Klub asal Rumania yang dianggap underdog mampu menahan Barcelona hingga adu penalti dan menciptakan salah satu kejutan terbesar di sepakbola Eropa.

5. UEFA Euro 2000 Final
Italia sudah unggul 1-0 dan tinggal hitungan detik menjadi juara Eropa. Namun gol injury time dari Sylvain Wiltord memaksa perpanjangan waktu. Kemudian David Trezeguet mencetak golden goal yang membuat Prancis menjadi juara.

6. UEFA Champions League Final 1960
Real Madrid sempat tertinggal lebih dulu, tetapi kemudian membalas dengan enam gol dan menang 7-3. Salah satu final paling spektakuler sepanjang sejarah.

7. FIFA World Cup Quarter-final 1970
Dikenal sebagai "Game of the Century". Jerman Barat menyamakan kedudukan di menit akhir sebelum terjadi saling kejar gol di babak tambahan. Italia akhirnya menang 4-3 dalam salah satu pertandingan paling dramatis sepanjang masa.


Rabu, 07 Maret 2012

sesuatu-yang-tidak-boleh-disebut-namanya

Sudah beberapa hari hujan turun hampir tanpa henti di Yogyakarta. Dari jendela kamar kos, langit terlihat kelabu sejak pagi hingga sore. Jalanan yang biasanya ramai oleh mahasiswa yang berlalu-lalang dengan sepeda motor atau berjalan kaki menuju kampus kini tampak lebih lengang. Sesekali terdengar suara kendaraan melintas di atas aspal yang basah, lalu kembali tenggelam oleh suara rintik hujan yang memukul genteng dan dedaunan.

Cuaca seperti ini biasanya menghadirkan perasaan yang aneh. Ada keinginan untuk menjadi produktif karena lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar, tetapi pada saat yang sama ada godaan yang jauh lebih besar untuk menarik selimut, membuat secangkir kopi, lalu menunda semua pekerjaan sampai besok pagi.

Sudah beberapa hari pula saya berniat mengerjakan sesuatu yang namanya sebenarnya sederhana, tetapi entah kenapa terasa berat untuk disebutkan secara langsung. Karena itu saya lebih suka menyebutnya dengan istilah "sesuatu-yang-tidak-boleh-disebut-namanya".

Mirip Voldemort.

Ya, Voldemort dalam cerita Harry Potter.



Penyihir botak yang sepanjang hidupnya hanya punya satu pekerjaan utama: membuat hidup Harry Potter sengsara. Musuh abadi yang baru bisa dikalahkan di seri terakhir. Logis juga sebenarnya. Kalau Voldemort mati di film pertama, mungkin Harry Potter hanya akan tamat menjadi film tentang anak sekolah yang rajin nyimeng.

"Lah terus apa hubungannya Voldemort sama hidup lo, Jok?"

Tidak ada sebenarnya.

Dia bukan tetangga baru saya.

Bukan peliharaan.

Apalagi pacar.

Kalau dipikir-pikir memang sangat tidak nyambung membandingkan seorang penyihir jahat dengan sesuatu yang sedang saya hadapi saat ini. Tetapi ini tulisan saya, dan saya adalah Joko. Dalam dunia seorang Joko, segala sesuatu bisa menjadi nyambung selama pemilik ceritanya menghendaki.

Dan semakin lama saya pikirkan, ternyata ada beberapa kesamaan antara Voldemort dan hal yang sedang saya hadapi sekarang. Keduanya sama-sama menghantui. Sama-sama membuat tidur tidak tenang. Sama-sama sering muncul dalam pikiran pada saat yang tidak diinginkan.

Nama itu akhirnya harus disebut juga.

Skripsi.

Satu kata sederhana yang mampu mengubah mahasiswa biasa menjadi makhluk yang hidup dalam dua dunia. Dunia pertama adalah dunia nyata, tempat ia nongkrong bersama teman-temannya sambil tertawa dan terlihat santai. Dunia kedua adalah dunia dalam kepalanya sendiri, tempat rasa bersalah terus berbisik karena halaman demi halaman skripsi belum juga bertambah.

Sebelum memasuki semester delapan, saya sering mendengar cerita dari kakak tingkat mengenai skripsi. Sebagian besar terdengar menenangkan.

"Gampang kok."

"Asal rajin."

"Yang penting niat."

"Pelan-pelan juga selesai."

Dulu saya percaya.

Sekarang saya mulai curiga bahwa sebagian dari mereka hanya ingin melihat adik tingkatnya merasakan penderitaan yang sama.

Karena setelah menjalaninya sendiri, saya menemukan kenyataan yang berbeda. Skripsi tidak sesederhana yang dibayangkan. Ia seperti lawan yang tidak pernah benar-benar menyerang, tetapi selalu hadir di sudut ruangan, mengingatkan bahwa ada sesuatu yang harus diselesaikan.

Hari-hari saya selama semester delapan akhirnya berjalan dengan pola yang hampir sama.

Pagi menjelang siang saya bangun tidur. Kadang sekitar pukul sepuluh, kadang pukul sebelas, tergantung seberapa larut saya tidur malam sebelumnya. Setelah mandi dan mencari makan, saya kembali ke kamar kos dengan satu niat yang selalu sama.

Hari ini harus mengerjakan skripsi.

Laptop dinyalakan.

File skripsi dibuka.

Saya membaca beberapa paragraf terakhir yang ditulis beberapa hari sebelumnya.

Lalu mulai mengetik.

Satu kalimat.

Dua kalimat.

Kemudian berhenti.

Entah kenapa selalu ada hal lain yang tampak lebih menarik.

Di desktop laptop saya terdapat sebuah shortcut bergambar seorang kakek tua berjenggot putih. Ikon kecil itu sering kali terlihat jauh lebih menggoda daripada file skripsi yang sudah terbuka sejak tadi.

Awalnya saya hanya berniat membuka sebentar.

Lima menit saja.

Setelah itu kembali mengerjakan skripsi.

Tetapi seperti banyak hal dalam hidup, rencana dan kenyataan sering berjalan di jalur yang berbeda.

Lima menit berubah menjadi satu jam.

Satu jam berubah menjadi tiga jam.

Dan tanpa terasa hari mulai sore.

Ketika matahari tenggelam dan suara azan magrib terdengar dari masjid dekat kos, saya sering kali baru menyadari bahwa hari itu kembali berlalu tanpa kemajuan berarti.

Yang bertambah bukan jumlah halaman skripsi.

Begitulah hari-hari itu berjalan.

Bangun siang.

Makan.

Main game.

Jalan-jalan.

Ngopi.

Nongkrong.

Pulang.

Tidur menjelang subuh.

Lalu mengulang semuanya lagi keesokan hari.

Rutinitas yang nyaman, tetapi diam-diam membuat waktu berjalan sangat cepat.

Kadang saya merasa baru kemarin memasuki semester delapan. Ternyata kalender sudah berganti beberapa bulan. Hujan datang dan pergi. Teman-teman mulai berbicara tentang seminar hasil, sidang, dan wisuda. Sementara saya masih berkutat dengan halaman-halaman yang terasa tidak kunjung selesai.

Namun di tengah semua itu, saya sadar bahwa mungkin setiap mahasiswa memang harus melewati fase seperti ini. Fase ketika yang dilawan bukan dosen pembimbing, bukan teori penelitian, dan bukan tumpukan referensi. Melainkan dirinya sendiri.

Melawan rasa malas.

Melawan kebiasaan menunda.

Melawan keyakinan bahwa besok masih ada waktu.

Karena sering kali masalah terbesar bukanlah tidak mampu mengerjakan skripsi, melainkan terlalu sering menundanya.

Malam ini hujan kembali turun di luar kamar kos. Udara terasa dingin. Di atas meja, file skripsi masih terbuka seperti biasanya. Kursor berkedip pelan di akhir paragraf terakhir yang saya tulis.

Saya menatap layar cukup lama.

Lalu mulai mengetik.

Perlahan.

Tidak banyak.

Mungkin hanya beberapa kalimat.

Tetapi setidaknya kali ini saya benar-benar menulis.

Karena pada akhirnya, skripsi setebal apa pun selalu dimulai dari satu kalimat pertama.

Dan mungkin, seperti Harry Potter yang akhirnya berhasil mengalahkan Voldemort, suatu hari nanti saya juga akan berhasil mengalahkan versi Voldemort saya sendiri.

Yaitu skripsi.

Kamis, 20 Oktober 2011

prosesi royal wedding ala kraton yogyakarta



Masih jelas dalam ingatan dunia bagaimana hebohnya Royal Wedding Pangeran William dan Kate Middleton yang dihelat akhir April lalu di Westminster Abbey London. Exposure media internasional juga mengiringi kebahagian kedua pasangan tersebut.


Tidak jauh berbeda dengan pernikahan dimaksud, Indonesia pun memiliki versinya sendiri, tepatnya di pulau Jawa yakni Royal Wedding versi Kraton Ngayogyakarta. Tidak kalah meriah dan mewah, prosesi pernikahan pun diwarnai dengan upacara adat serta tradisi khas Kesultanan Yogyakarta.
Pada dasarnya prosesi pernikahan khas Kraton Ngayogyakarta tidak jauh berbeda dengan pernikahan pada umumnya yang menggunakan adat Jawa. Namun tentunya prosesi dan rangkaiannya pun akan lebih panjang demi meneruskan tradisi dan melestarikan adat istiadat keraton.


Rangkaian acara “royal wedding” putri bungsu Sultan Hamengkubuwono X, Raden Ajeng (GRAj) Nurastuti Wijareni dengan Achmad Ubaidillah berlangsung selama empat hari, mulai 16-19 Oktober 2011. Pihak Keraton Yogyakarta telah membocorkan rangkaian acara pernikahan mereka.
Rangkaian dimulai dengan Berikut ini susunan acara yang sudah dibuat oleh panitia pernikahan Ubai-Reni dan disetujui Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Prabukusumo (adik Sultan HB X) sebagai panitia media center pernikahan tersebut.
Hari pertama (16/10)
Pukul 09.00 WIB, calon pengantin pria (Achmad Ubaidillah yang bergelar Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Yudhanegara) sudah berada di Ndalem Mangkubumen Keraton bersama keluarga yang didampingi KRT Pujaningrat.
Waktu yang sama untuk calon pengantin putri (Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nurastuti Wijareni atau Jeng Reni yang berganti gelar Gusti Kanjeng Ratu Bendoro) mengadakan upacara Pelangkahan dan Ngabekten di Keraton Kilen, tempat tinggal Sultan HB X bersama keluarga.
Pukul 10.00 WIB, Kerabat Keraton KRT Jatiningrat atau Romo Tirun Marwito dan KRT Yudahadiningrat berangkat menjemput calon pengantin pria di Ndalem Mangkubumen untuk nyantri di keraton dengan menaiki kereta.
Waktu yang sama untuk calon pengantin putri, GKR Pembayun (Putri Sulung Sultan HB X) mengutus Bray Suryahadiningrat dan Bray Suryamentaram menjemputnya di Keraton Kilen.
Pukul 11.00 WIB, calon pengantin pria tiba di Regol Magangan lalu menuju Bangsal Kasatriyan dan beristirahat di Gedhong Srikaton. Sementara bagi calon pengantin putri, waktu yang sama tiba di Bangsal Sekar Kedaton dan beristirahat di emper Bangsal Gedhong Prabayeksa. Sekira pukul 20.00 WIB, diadakan Mujahadah di Masjid Panepen, lokasi ijab kabul kedua mempelai.
Hari kedua (17/10)
Pukul 09.00 WIB, siraman calon pengantin putri di Bangsal Sekar Kedaton. Sementara calon pengantin pria mengadakan siraman di Gedong Pompa (kesatriyan) sekira pukul 11.00 WIB.
Sekira pukul 18.00 WIB, upacara tantingan Sri Sultan HB X terhadap putri bungsunya di Emper Prabayeksa. Selanjutnya, sekira pukul 19.30 WIB, dilakukan prosesi midodareni di Bangsal Sekar Kedaton. Sekira pukul 21.00 WIB, Sultan HB X beserta GKR Hemas (Ratu) dan rombongan menuju Bangsal Kasatriyan untuk meninjau semua persiapan calon pengantin pria.
Hari ketiga (18/10)
Ini merupakan puncak acara. Dimulai pukul 06.00 WIB, calon pengantin pria beserta rombongan menuju Bangsal Srimanganti untuk menunggu waktu akad nikah. Pukul 06.30 WIB, Sultan HB X menuju Masjid Panepen. Pukul 06.45 WIB, rombongan calon pengantin pria menuju Masjid Panepen. Pukul 07.00 WIB, prosesi ijab kabul dilakukan di masjid tersebut.
Pukul 08.00 WIB atau usai ijab kabul, pengantin pria dan rombongan kembali ke Bangsal Kesatriyan. Pukul 10.00 WIB, rangkaian upacara Panggih (para tamu undangan sudah hadir). Pengantin pria dari Bangsal Kasatriyan menuju Bangsal Kencono. Begitu juga dengan pengantin putri dari Sekar Kedaton menuju Bangsal Kencono untuk menyambut tamu undangan. Sekira pukul 13.00 WIB, rangkaian upacara Panggih selesai.
Pukul 13.30 WIB, kedua mempelai menuju Bangsal Purworukmi (Kasatriyan) untuk melakukan upacara Tampa Kaya dilanjutkan upacara Dahar Klimah di Gadri Bangsal Kasatriyan. Selanjutnya, rangkaian kirab dan resepsi.
Pukul, 15.30 WIB, kedua mempelai bersama rombongan berangkat dari Bangsal Kasatriyan menuju Regol Keben untuk persiapan menaiki kereta kuda menuju Bangsal Kepatihan (Gedung Gubernur DIY). Prajurit keraton mengiringi Kereta Temanten maupun kereta lainnya.
Pukul 18.00 WIB, Sultan HB X bersama Ratu GKR Hemas dan rombongan menuju Kepatihan menggunakan mobil yang diperkirakan tiba pukul 18.30 WIB. Pukul 19.00 WIB, upacara selamat dari tamu undangan dimulai. Acara resepsi direncanakan selesai sekira pukul 22.00 WIB.
Hari keempat (19/10)
Hari keempat merupakan hari berpamitan bagi pasangan pengantin yang telah sah menjadi suami-istri kepada Sultan di Gedhong Jene sekira pukul 09.00 WIB. Setelahnya, pengantin baru ini bersiap kembali menuju Jakarta

Senin, 17 Oktober 2011

Coba kirim ini ke pacar anda


6666666666666666666666 6666666666666666 6666666666666666 6666666666666666 6666666666666666 6666666666666666
6996669966666666699999 9966996666669966 9999999669966666 6996699999999669 9666699666666666 6666666666666666
6996669966666666699999 9966996666669966 9999999666996666 9966699999999669 9666699666666666 6666666666666666
6996669966666666699666 9966996666669966 9966666666699669 9666699666699669 9666699666666666 6666666666666666
6996669966666666699666 9966996666669966 9999666666669999 6666699666699669 9666699666666666 6666666666666666
6996669966666666699666 9966699666699666 9966666666666996 6666699666699669 9666699666666666 6666666666666666
6996669966666666699666 9966669966996666 9966666666666996 6666699666699669 9666699666666666 6666666666666666
6996669999999996699999 9966666999966666 9999999666666996 6666699999999669 9666699666666666 6666666666666666
6996669999999996699999 9966666699666666 9999999666666996 6666699999999669 9999999666666666 6666666666666666
6666666666666666666666 6666666666666666 6666666666666666 6666666666666666 6666666666666666 6666666666666666




Petunjuk Penting
  • Copy dan Paste ke Notepad 
  • Trus Pencet [Control +H] 
  • Ganti angka 6 jadi _ (underscore) 
  • Replace All ,,,,,,,

Ayo tebak, siapakah penemu sedotan?

Sebelum sedotan buatan ditemukan, orang menggunakan batang pohon gandum untuk menyedot minuman. Anak-anak di Indonesia mungkin menggunakan batang padi. Tahun 1880-an, seorang pemilik pabrik kertas rokok di Amerika Serikat bernama Marvin C Stone membuat sedotan yang pertama. Selembar kertas digulung pada sepotong pensil, kemudian dilem. Sayang belum bisa digunakan karena basah bila terkena air.

Dia kemudian menggunakan kertas manila yang dilapisi lilin sehingga tahan air. Stone memang jeli membidik peluang. Dia meneliti ukuran ideal sebuah sedotan. Menurutnya, sebaiknya panjang sedotan sekitar 21,25 cm menyesuaikan jarak meja dengan bibir. Adapun diameter lubang lebih kecil dari biji lemon. Ini untuk menghindari biji jeruk turut terisap dari minuman.

Temuan sepele ini memperoleh paten pada 3 Januari 1888. Stone banting stir, mengubah pabrik kertas rokok miliknya menjadi pabrik sedotan. Tak lama kemudian dia berhasil menciptakan mesin otomatis, sedotan tak lagi buatan tangan. Dengan produksi massal, dia memperoleh keuntungan besar.

Kini penggunaan sedotan semakin luas. Bentuk dan modelnya beragam, termasuk yang bisa dibengkokkan. Dokter dan laboran menggunakan sedotan kaca untuk mengambil obat agar tak terkontaminasi tangan dan udara kotor.

Tahun 2006 ilmuwan Denmark bernama Torben Vestergaard Frandsen menciptakan apa yang disebut dengan lifestraw (sedotan kesehatan). Bentuknya sama, namun di bagian tengah dibuat mblenduk. Bagian itu berisi saringan, iodium, dan karbon aktif. Meski yang disedot air kotor, setelah melewati penyaring menjadi bersih dan bebas bakteri. Konon aman untuk minum dari air sungai yang kotor.

Sedotan kesehatan dijual 3,5 dolar (sekitar 32 ribu rupiah) perbiji. Mahal juga ya? Namun bisa digunakan berulang-ulang hingga kapasitas 700 liter atau masa pakai enam bulan hingga setahun.

Saat ini sedotan menghadapi isu lingkungan. Masyarakat modern cenderung menghindari perkakas plastik karena merupakan partikel nonreversible (tak bisa diurai) sehingga mencemari lingkungan. Para pengguna juga khawatir, bahan plastik yang bermutu rendah membahayakan kesehatan. Terutama saat digunakan pada air panas, zat-zat beracun larut kemudian terminum. Dampaknya adalah penyakit kanker yang mematikan.

ini ada contoh-contoh sedotan yang bentuknya unik








Sabtu, 12 Juni 2010

Gol Carlos Vela Memang Offside


Gol Carlos Vela dalam laga pembuka Piala Dunia 2010 antara Afrika Selatan melawan Meksiko dianulir oleh wasit. Banyak dari penggila sepakbola yang bingung karena melihat jelas tidak adanya offside atau pelanggaran sebelum gol terjadi.

Salah satu peraturan paling mendasar dari FIFA mengenai offside berbunyi kurang lebih: Pemain dalam situasi menyerang tidak boleh lebih dekat dengan garis gawang tim lawan ketimbang pemain terakhir kedua tim lawan yang bertahan.

coba cek adegan ini sekali lagi




Oke bila Anda telah saksikan video tersebut, coba baca penjelasan sederhana berikut:

Coba anda andaikan Steven Pienaar yang berdiri sendirian dekat tiang gawang adalah seorang kiper, sementara kiper Afsel yang sesungguhnya adalah seorang pemain belakang.

jadi keputusan wasit 100% benar. . .

Minggu, 03 Januari 2010

Cinta Lebih Rumit Dari Rumus Matematika yang Paling Sulit


Kenapa orang ngga ada yang bisa bikin rumus cinta?.. Yah mungkin itu karena ngga ada satu orangpun yang bisa ngelogikain yang namanya cinta.. Kalo ada rumusnya mungkin enstein atau ilmuan siapa lah namanya udah nemuin rumus ini dari dulu, dan saat ini tinggal kita praktekan saja. Tapi kenyataanya sampe saat ini kita terus berspekulasi untuk hal yang satu ini... Probabilitasnya juga sangat tidak bisa diprediksi..




" rada ngga nyambung sama di atas "



Saya percaya akan ada kehidupan setelah kita berpulang ke sisi sang pencipat kita. Kehidupan yang temponya kekal dan tidak mungkin lagi berpulang untuk kedua kalinya. Dalam kitab yang saya yakini, kita akan terlahir kembali dalam keadaan yang muda, dan ketika orang itu mempunyai banyak dosa maka dia akan dicuci dengan mesin cuci di neraka, berapa lamanya, ya tergantung banyak kotoran yang dibuat selama didunia. Tapi suatu saat ketika kita sudah bersih, maka kita akan pindah ke surga.. ( jadi ceramah AGAMA)



Yang sebenarnya ingin saya bahas adalah ada yang pernah bilang bahwa sebenrnya jodoh kita yang ada didunia belum tentu jodoh kita nanti di masa yang akan datang itu. Mungkin saja istri kita saat ini bukan juga jodoh kita di alam sana nanti.. Bahkan ada orang yang tidak mendapatkan jodoh didunia tetapi diyakini bahwa orang tersebut mempunyai jodoh di alam nanti... percaya ngga percaya. Tapi ya itu mungkin saja terjadi... Semua itu mungkin terjadi.



balik ketopik awal... ceramahnya selesai.......



Sebenernya apa ya kompenen yang menyusun cinta itu... Hmmm kalo menurut hemat saya( beuh kata2nya) yang menyusun cinta adalah:

1. Rasa sayang

2. Rasa saling memiliki

3. Rasa saling memahami

4. Rasa sedih

5. Rasa bahagia

6. Rasa cemas

7. Dan rasa-rasa yang lain (stroberi, anggur, melon..hahahha mulai ngaco)



dan kenapa cinta itu ngga bisa dibikin rumus matematikanya, ya kita ambil aja satu komponen diatas... RASA SAYANG.. ini paling susah diukur.. Gimana coba cara ngukurnya?. Jadi kalo ada pertanyaan " kenapa kamu sayang sama saya?" atau " kamu sayang ngga sama saya?".. nah itu pasti susah dijawab, karena rasa sayang itu bukan untuk diucapkan dengan kata-kata.. Tapi kalo kata saya, rasa sayang itu lebih untuk ditunjukan dalam sebuah perbuatan bukan hanya dituangkan dalam kata-kata..



Jadi intinya.. terkadang cinta itu membingungkan, Menyakitkan, Menyenangkan, menyedihkan...

Nano-nano lah... "rame rasanya"