ikan itu baronang, kalo burung itu terbang - tempat saya bersembunyi dari netizen
Jumat, 22 Juni 2012
WHO IS NEW JUVENTUS BOSS MASSIMO CARRERA?
Itu lah yang sekarang dihadapi oleh pelatih 'dadakan' juventus saat ini, Massimo Carrera. Ia sementara terpaksa harus meneruskan rezim Antonio Conte yang sukses membawa juventus merebut Scudetto musim lalu tanpa terkalahkan.
Conte resmi dihukum selama 10 bulan oleh FIGC terkait. Pelatih Juventus tersebut telah resmi menerima hukuman berupa larangan aktif di pertandingan Juventus selama 10 bulan ke depan akibat keterlibatannya dalam skandal Calcioscommesse. Conte dipastikan tidak bisa mendampingi anak asuhnya dalam sebagian besar pertandingan musim 2012/2013 mendatang.
Jadi siapakah sebenarnya sang pelatih 'dadakan' Juventus, Massimo Carrera?
Jumat, 13 April 2012
Selamat Tinggal, Laptop Kesayanganku
Ada yang bilang kehilangan itu bagian dari kehidupan. Ada yang bilang semua yang datang pasti akan pergi. Ada juga yang bilang kalau barang hilang berarti belum rezeki. Entah siapa yang pertama kali menciptakan kalimat-kalimat bijak itu, tapi saya yakin orang tersebut belum pernah kehilangan laptop berisi skripsi, tugas kuliah, koleksi lagu, film, foto-foto, dan berbagai harta karun digital lainnya sekaligus dalam satu malam.
Saya kehilangan laptop kesayangan saya beberapa minggu yang lalu.
Bukan karena rusak dimakan usia. Bukan karena jatuh dari meja kos. Bukan pula karena dijual untuk membayar uang kuliah yang menunggak. Laptop itu hilang dengan cara yang jauh lebih dramatis dan menyakitkan: dicuri saat saya sedang tertidur pulas di dalam bus malam.
Padahal hubungan saya dengan laptop tersebut sudah berlangsung hampir empat tahun. Umurnya memang tidak muda lagi. Baterainya sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kehamilan dan beberapa tombol keyboard harus ditekan dengan teknik khusus agar mau berfungsi. Namun bagi seorang mahasiswa, laptop bukan sekadar benda elektronik. Ia adalah teman seperjuangan. Tempat menyimpan tugas, skripsi, foto-foto kenangan, koleksi musik, dan sesekali digunakan untuk aktivitas untuk memuaskan hawa nafsu yang tidak perlu dijelaskan terlalu rinci kepada publik.
Malam itu saya berangkat dari Bandung menuju Yogyakarta menggunakan bus Kramat Djati. Libur beberapa hari di rumah telah usai dan saya harus kembali ke kota pelajar untuk melanjutkan kehidupan sebagai mahasiswa tingkat akhir. Kehidupan yang sebagian besar diisi oleh niat mengerjakan skripsi, rencana mengerjakan skripsi, dan rasa bersalah karena tidak jadi mengerjakan skripsi.
Ketika tiba di pool bus kawasan Dago sekitar pukul enam sore, saya sempat merasa beruntung. Bus yang akan saya tumpangi terlihat sangat sepi. Dari puluhan kursi yang tersedia, hanya beberapa yang terisi penumpang. Situasi seperti itu biasanya menjadi kabar baik. Tidak perlu berebut kursi, tidak perlu mendengar suara dengkuran penumpang lain dari jarak dekat, dan yang terpenting, ada banyak ruang untuk selonjoran kaki.

Bus kemudian bergerak menuju pool berikutnya di kawasan Jalan Riau. Di sinilah cerita ini mulai berubah arah.
Dua orang penumpang naik ke dalam bus. Yang pertama seorang bapak-bapak bertubuh tambun dengan wajah yang sangat biasa. Terlalu biasa malah. Wajahnya seperti gabungan antara pedagang buah, tukang servis televisi, dan ketua RT yang baru selesai ronda malam. Tidak ada satu pun ciri yang membuat seseorang akan berpikir, "Nah, ini pasti maling profesional."
Yang kedua jauh lebih menarik perhatian. Seorang pemuda dengan jaket kulit hitam dan model rambut yang membuat saya langsung teringat kepada Charlie ST12. Semakin lama saya memperhatikannya, semakin kuat kemiripannya. Rambutnya, gaya berjalannya, bahkan ekspresi wajahnya seperti seseorang yang sebentar lagi akan menyanyikan lagu patah hati di atas panggung pensi sekolah.
Kalau malam itu tiba-tiba dia mengeluarkan gitar dari tas lalu menyanyikan "Saat Terakhir", saya rasa sebagian penumpang justru akan ikut bernyanyi.
Setelah kedua orang tersebut naik, jumlah penumpang di dalam bus bertambah menjadi tiga belas orang. Tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat suasana terasa lebih hidup. Perjalanan kembali berlanjut menembus malam Jawa Barat menuju Jawa Tengah.
Awalnya tidak ada yang aneh. Saya masih terjaga dan beberapa kali memperhatikan kedua penumpang tadi berpindah-pindah kursi. Kadang duduk di depan, lalu pindah ke tengah, kemudian pindah lagi ke belakang. Ketika ada yang bertanya, mereka menjawab bahwa AC bus terlalu dingin.
Alasan yang sebenarnya cukup aneh.
Karena setahu saya AC bus tidak bekerja berdasarkan lokasi kursi. Hembusan AC tidak keluar dari tempat pantat
Namun saat itu saya tidak terlalu memikirkannya.
Lagipula tas ransel yang berisi laptop sedang saya peluk erat di pangkuan. Posisi yang menurut saya saat itu sudah sangat aman. Bahkan mungkin terlalu aman.
Sekitar pukul dua dini hari sesuatu yang aneh mulai terjadi. Rasa kantuk datang begitu cepat. Biasanya saya cukup sulit tidur di kendaraan umum, tetapi malam itu kelopak mata terasa berat luar biasa. Saya mencoba bertahan beberapa menit sambil sesekali melihat ke luar jendela, namun akhirnya menyerah.
Saya tertidur.
Dan saya tidak hanya tidur.
Saya tidur seperti orang yang baru menyelesaikan kerja rodi selama tiga hari tiga malam tanpa istirahat.
Pulas.
Sangat pulas.
Begitu pulas sampai saya tidak mendengar apa pun.
Tidak mendengar suara orang berjalan.
Tidak mendengar suara resleting dibuka.
Tidak mendengar suara tas diobrak-abrik.
Bahkan kalau malam itu resleting celana saya dibuka, mungkin saya tetap tidur.
Saya baru terbangun ketika matahari hampir terbit. Bus saat itu sudah memasuki wilayah Purworejo. Dengan mata yang masih setengah terbuka, saya meraba tas ransel yang sejak semalam berada di pangkuan.
Ada yang terasa berbeda.
Tas itu lebih ringan.
Jauh lebih ringan.
Awalnya saya berpikir mungkin hanya perasaan. Namun begitu resleting dibuka, saya langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres.
Laptop saya hilang.
Raib.
Lenyap.
Menghilang begitu saja seperti mantan yang tiba-tiba selingkuh sama teman les LIA nya (gak usah curhat)
Saya langsung membongkar seluruh isi tas dengan panik. Kaus kotor masih ada. Celana masih ada. Oleh-oleh dari Bandung masih ada. Bahkan charger laptop masih ada.
Yang hilang hanya laptopnya.
Saya sempat kagum sekaligus kesal. Pencurinya ternyata sangat profesional. Ia tahu persis mana yang bernilai dan mana yang tidak.
Belum sempat saya mencerna kejadian itu, terdengar suara panik dari kursi depan.
"Mas, laptop saya hilang!"
Lalu terdengar suara lain.
"Laptop saya juga nggak ada!"
Dalam hitungan menit suasana bus berubah menjadi forum silaturahmi para korban pencurian laptop se-Jawa Tengah.
Saat itulah saya menyadari bahwa saya tidak sendirian.
Dan ketika saya menoleh ke belakang, kursi yang sebelumnya ditempati bapak tambun dan Charlie ST12 sudah kosong.
Mereka telah turun.
Menurut keterangan kenek, keduanya turun di daerah Kebumen beberapa jam sebelumnya.
Saya hanya bisa terdiam.
Hubungan empat tahun saya dengan laptop itu berakhir tanpa salam perpisahan.
Tanpa ucapan terima kasih.
Tanpa kesempatan terakhir untuk menekan tombol shutdown.
Yang lebih menyebalkan lagi, alih-alih mendapat hiburan, saya justru mendapat kuliah umum dari beberapa penumpang.
"Masnya kurang hati-hati."
"Masnya sih tidur terlalu pulas."
"Masnya harusnya ditaruh di bagasi."
Karena kadang orang yang baru kehilangan sesuatu tidak membutuhkan solusi. Mereka hanya ingin diberi kesempatan untuk sedih beberapa menit tanpa dihakimi.
Perjalanan menuju Yogyakarta pagi itu terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Di luar jendela, matahari mulai naik dan kehidupan berjalan seperti biasa. Sementara saya duduk memandangi jalan sambil membayangkan ke mana laptop saya pergi.
Mungkin sekarang sedang berada di pasar loak.
Mungkin sudah berpindah tangan.
Atau mungkin sedang dipakai seseorang untuk mengetik skripsi yang jauh lebih rajin daripada pemilik sebelumnya.
Siapa tahu.
Yang jelas, malam itu saya belajar satu hal penting. Jangan pernah menganggap perjalanan sepi sebagai perjalanan aman. Dan jika suatu saat Anda naik bus malam lalu melihat seseorang yang sangat mirip Charlie ST12, mungkin tidak ada salahnya untuk sedikit lebih waspada.
Demi keselamatan laptop dan kesehatan mental Anda.
Sabtu, 31 Maret 2012
Grup Paling Maut


Prancis, dalam merintis jalan menuju tangga kampiun Euro 2000, juga harus masuk grup neraka bersama Belanda, Rep. Ceska, dan Denmark. Rata-rata ranking negara Grup D memang hanya 9,75. Namun, angka itu muncul lebih karena salah satu tim favorit, Belanda sedang tercecer di peringkat ke-21 saat turnamen dimulai


Jumat, 16 Maret 2012
It’s not over til it’s over, Comeback Dramatis dalam Sepakbola
Rabu, 07 Maret 2012
sesuatu-yang-tidak-boleh-disebut-namanya
Sudah beberapa hari pula saya berniat mengerjakan sesuatu yang namanya sebenarnya sederhana, tetapi entah kenapa terasa berat untuk disebutkan secara langsung. Karena itu saya lebih suka menyebutnya dengan istilah "sesuatu-yang-tidak-boleh-disebut-namanya".
Mirip Voldemort.
Ya, Voldemort dalam cerita Harry Potter.
Penyihir botak yang sepanjang hidupnya hanya punya satu pekerjaan utama: membuat hidup Harry Potter sengsara. Musuh abadi yang baru bisa dikalahkan di seri terakhir. Logis juga sebenarnya. Kalau Voldemort mati di film pertama, mungkin Harry Potter hanya akan tamat menjadi film tentang anak sekolah yang rajin nyimeng.
"Lah terus apa hubungannya Voldemort sama hidup lo, Jok?"
Tidak ada sebenarnya.
Dia bukan tetangga baru saya.
Bukan peliharaan.
Apalagi pacar.
Kalau dipikir-pikir memang sangat tidak nyambung membandingkan seorang penyihir jahat dengan sesuatu yang sedang saya hadapi saat ini. Tetapi ini tulisan saya, dan saya adalah Joko. Dalam dunia seorang Joko, segala sesuatu bisa menjadi nyambung selama pemilik ceritanya menghendaki.
Dan semakin lama saya pikirkan, ternyata ada beberapa kesamaan antara Voldemort dan hal yang sedang saya hadapi sekarang. Keduanya sama-sama menghantui. Sama-sama membuat tidur tidak tenang. Sama-sama sering muncul dalam pikiran pada saat yang tidak diinginkan.
Nama itu akhirnya harus disebut juga.
Skripsi.
Satu kata sederhana yang mampu mengubah mahasiswa biasa menjadi makhluk yang hidup dalam dua dunia. Dunia pertama adalah dunia nyata, tempat ia nongkrong bersama teman-temannya sambil tertawa dan terlihat santai. Dunia kedua adalah dunia dalam kepalanya sendiri, tempat rasa bersalah terus berbisik karena halaman demi halaman skripsi belum juga bertambah.
Sebelum memasuki semester delapan, saya sering mendengar cerita dari kakak tingkat mengenai skripsi. Sebagian besar terdengar menenangkan.
"Gampang kok."
"Asal rajin."
"Yang penting niat."
"Pelan-pelan juga selesai."
Dulu saya percaya.
Sekarang saya mulai curiga bahwa sebagian dari mereka hanya ingin melihat adik tingkatnya merasakan penderitaan yang sama.
Karena setelah menjalaninya sendiri, saya menemukan kenyataan yang berbeda. Skripsi tidak sesederhana yang dibayangkan. Ia seperti lawan yang tidak pernah benar-benar menyerang, tetapi selalu hadir di sudut ruangan, mengingatkan bahwa ada sesuatu yang harus diselesaikan.
Hari-hari saya selama semester delapan akhirnya berjalan dengan pola yang hampir sama.
Pagi menjelang siang saya bangun tidur. Kadang sekitar pukul sepuluh, kadang pukul sebelas, tergantung seberapa larut saya tidur malam sebelumnya. Setelah mandi dan mencari makan, saya kembali ke kamar kos dengan satu niat yang selalu sama.
Hari ini harus mengerjakan skripsi.
Laptop dinyalakan.
File skripsi dibuka.
Saya membaca beberapa paragraf terakhir yang ditulis beberapa hari sebelumnya.
Lalu mulai mengetik.
Satu kalimat.
Dua kalimat.
Kemudian berhenti.
Entah kenapa selalu ada hal lain yang tampak lebih menarik.
Di desktop laptop saya terdapat sebuah shortcut bergambar seorang kakek tua berjenggot putih. Ikon kecil itu sering kali terlihat jauh lebih menggoda daripada file skripsi yang sudah terbuka sejak tadi.
Awalnya saya hanya berniat membuka sebentar.
Lima menit saja.
Setelah itu kembali mengerjakan skripsi.
Tetapi seperti banyak hal dalam hidup, rencana dan kenyataan sering berjalan di jalur yang berbeda.
Lima menit berubah menjadi satu jam.
Satu jam berubah menjadi tiga jam.
Dan tanpa terasa hari mulai sore.
Ketika matahari tenggelam dan suara azan magrib terdengar dari masjid dekat kos, saya sering kali baru menyadari bahwa hari itu kembali berlalu tanpa kemajuan berarti.
Yang bertambah bukan jumlah halaman skripsi.
Begitulah hari-hari itu berjalan.
Bangun siang.
Makan.
Main game.
Jalan-jalan.
Ngopi.
Nongkrong.
Pulang.
Tidur menjelang subuh.
Lalu mengulang semuanya lagi keesokan hari.
Rutinitas yang nyaman, tetapi diam-diam membuat waktu berjalan sangat cepat.
Kadang saya merasa baru kemarin memasuki semester delapan. Ternyata kalender sudah berganti beberapa bulan. Hujan datang dan pergi. Teman-teman mulai berbicara tentang seminar hasil, sidang, dan wisuda. Sementara saya masih berkutat dengan halaman-halaman yang terasa tidak kunjung selesai.
Namun di tengah semua itu, saya sadar bahwa mungkin setiap mahasiswa memang harus melewati fase seperti ini. Fase ketika yang dilawan bukan dosen pembimbing, bukan teori penelitian, dan bukan tumpukan referensi. Melainkan dirinya sendiri.
Melawan rasa malas.
Melawan kebiasaan menunda.
Melawan keyakinan bahwa besok masih ada waktu.
Karena sering kali masalah terbesar bukanlah tidak mampu mengerjakan skripsi, melainkan terlalu sering menundanya.
Malam ini hujan kembali turun di luar kamar kos. Udara terasa dingin. Di atas meja, file skripsi masih terbuka seperti biasanya. Kursor berkedip pelan di akhir paragraf terakhir yang saya tulis.
Saya menatap layar cukup lama.
Lalu mulai mengetik.
Perlahan.
Tidak banyak.
Mungkin hanya beberapa kalimat.
Tetapi setidaknya kali ini saya benar-benar menulis.
Karena pada akhirnya, skripsi setebal apa pun selalu dimulai dari satu kalimat pertama.
Dan mungkin, seperti Harry Potter yang akhirnya berhasil mengalahkan Voldemort, suatu hari nanti saya juga akan berhasil mengalahkan versi Voldemort saya sendiri.
Yaitu skripsi.
Kamis, 20 Oktober 2011
prosesi royal wedding ala kraton yogyakarta
Senin, 17 Oktober 2011
Coba kirim ini ke pacar anda
Petunjuk Penting
- Copy dan Paste ke Notepad
- Trus Pencet [Control +H]
- Ganti angka 6 jadi _ (underscore)
- Replace All ,,,,,,,
Ayo tebak, siapakah penemu sedotan?
Dia kemudian menggunakan kertas manila yang dilapisi lilin sehingga tahan air. Stone memang jeli membidik peluang. Dia meneliti ukuran ideal sebuah sedotan. Menurutnya, sebaiknya panjang sedotan sekitar 21,25 cm menyesuaikan jarak meja dengan bibir. Adapun diameter lubang lebih kecil dari biji lemon. Ini untuk menghindari biji jeruk turut terisap dari minuman.
Temuan sepele ini memperoleh paten pada 3 Januari 1888. Stone banting stir, mengubah pabrik kertas rokok miliknya menjadi pabrik sedotan. Tak lama kemudian dia berhasil menciptakan mesin otomatis, sedotan tak lagi buatan tangan. Dengan produksi massal, dia memperoleh keuntungan besar.
Kini penggunaan sedotan semakin luas. Bentuk dan modelnya beragam, termasuk yang bisa dibengkokkan. Dokter dan laboran menggunakan sedotan kaca untuk mengambil obat agar tak terkontaminasi tangan dan udara kotor.
Tahun 2006 ilmuwan Denmark bernama Torben Vestergaard Frandsen menciptakan apa yang disebut dengan lifestraw (sedotan kesehatan). Bentuknya sama, namun di bagian tengah dibuat mblenduk. Bagian itu berisi saringan, iodium, dan karbon aktif. Meski yang disedot air kotor, setelah melewati penyaring menjadi bersih dan bebas bakteri. Konon aman untuk minum dari air sungai yang kotor.
Sedotan kesehatan dijual 3,5 dolar (sekitar 32 ribu rupiah) perbiji. Mahal juga ya? Namun bisa digunakan berulang-ulang hingga kapasitas 700 liter atau masa pakai enam bulan hingga setahun.
Saat ini sedotan menghadapi isu lingkungan. Masyarakat modern cenderung menghindari perkakas plastik karena merupakan partikel nonreversible (tak bisa diurai) sehingga mencemari lingkungan. Para pengguna juga khawatir, bahan plastik yang bermutu rendah membahayakan kesehatan. Terutama saat digunakan pada air panas, zat-zat beracun larut kemudian terminum. Dampaknya adalah penyakit kanker yang mematikan.
ini ada contoh-contoh sedotan yang bentuknya unik







