Kontributor

Sabtu, 27 Oktober 2018

Menonton Sepakbola di Saitama Stadium 2002


Exploring Kanto: Saitama

Akhir pekan ini, perjalanan kami membawa langkah ke utara Tokyo, menuju Saitama-shi, ibu kota Prefektur Saitama. Bersama dua rekan sesama mahasiswa di GRIPS Tokyo, saya berkesempatan menyaksikan salah satu laga paling bergengsi di sepak bola Jepang: Final J.League Cup antara Shonan Bellmare dan Yokohama F. Marinos.

Tujuan kami adalah Saitama Stadium 2002. Bagi pencinta sepak bola, nama stadion ini tentu tidak asing. Stadion yang menjadi salah satu venue Piala Dunia 2002 tersebut merupakan salah satu stadion sepak bola murni terbesar di Jepang, tanpa lintasan atletik yang memisahkan pemain dan penonton. Hasilnya, atmosfer pertandingan terasa begitu dekat dan hidup.

Meski dikenal sebagai kandang dari Urawa Red Diamonds, stadion ini kerap dipercaya menjadi tuan rumah berbagai laga besar. Mulai dari final turnamen domestik hingga pertandingan tim nasional Jepang.

Perjalanan menuju stadion sendiri menjadi bagian dari petualangan. Dari Yokohama, jaraknya sekitar 76 kilometer atau hampir dua jam perjalanan dengan kereta. Namun seperti halnya para peziarah sepak bola di mana pun berada, jarak terasa bukan masalah ketika tujuan akhirnya adalah stadion.

Sejak tiba di kawasan stadion, warna-warni atribut kedua kubu sudah mendominasi suasana. Ribuan pendukung datang membawa harapan yang sama: melihat tim kesayangan mengangkat trofi.

Sayangnya, harapan kami tidak berakhir dengan cerita bahagia.

Yokohama F. Marinos, tim yang kami dukung, harus mengakui keunggulan Shonan Bellmare dengan skor tipis 0-1. Peluit panjang berbunyi, para pemain Bellmare berpesta, sementara kubu Marinos hanya bisa menatap trofi yang gagal mereka bawa pulang.

Namun sepak bola sering kali menawarkan cerita yang lebih besar daripada sekadar hasil akhir.

Hal yang paling membekas justru datang dari tribun penonton. Di tengah rivalitas dan tensi pertandingan final, kedua kelompok suporter menunjukkan sikap yang patut diapresiasi. Tidak ada intimidasi antarsuporter, tidak ada provokasi berlebihan, apalagi keributan.

Kalau pun ada yang menjadi sasaran intimidasi, sepertinya hanya wasit.

Dan itu pun dilakukan secara demokratis oleh kedua kubu. Haha.

Mungkin itulah salah satu alasan mengapa pengalaman menonton sepak bola di Jepang selalu terasa istimewa. Kompetitif di lapangan, tetapi tetap penuh rasa hormat di tribun.

Hasil pertandingan mungkin tidak berpihak kepada kami hari ini. Namun perjalanan ke salah satu stadion paling ikonik di Jepang, atmosfer final yang luar biasa, dan pelajaran tentang budaya suporter yang dewasa membuat perjalanan ini tetap layak dikenang.

Sampai jumpa di pertandingan berikutnya.

Football is temporary, away days are forever.

Minggu, 21 Oktober 2018

A Day Trip to Mount Takao: Menikmati Alam di Pinggiran Tokyo


Kalau berbicara tentang destinasi alam di sekitar Tokyo, nama Gunung Takao (高尾山 / Mount Takao) hampir selalu masuk dalam daftar rekomendasi. Lokasinya yang berada di bagian barat Tokyo membuat gunung ini menjadi pilihan favorit bagi warga setempat maupun wisatawan yang ingin menikmati suasana pegunungan tanpa harus bepergian jauh atau menginap.

Akhir pekan ini, saya bersama beberapa teman berkesempatan mengunjungi Gunung Takao. Dari tempat tinggal kami di kawasan Gumyoji, Yokohama, perjalanan memakan waktu sekitar dua jam menggunakan kereta api. Meskipun harus berpindah kereta sebanyak empat kali, perjalanan terasa menyenangkan karena kami berangkat bersama teman-teman dari Yokohama National University (YNU) dan sudah merencanakan untuk bertemu dengan peserta dari kampus lain di lokasi.

Dengan ketinggian sekitar 599,5 meter di atas permukaan laut, Gunung Takao mungkin tidak terlalu tinggi jika dibandingkan dengan gunung-gunung lain di Jepang. Namun justru itulah daya tariknya. Gunung ini sangat ramah bagi pendaki pemula dan cocok dijadikan destinasi one-day trip dari Tokyo maupun Yokohama.

Terdapat enam jalur pendakian yang dapat dipilih untuk mencapai puncak. Kami memutuskan menggunakan Trail No. 1, jalur paling populer sekaligus yang paling mudah diakses. Jalurnya sudah tertata dengan baik dan sebagian besar berupa jalan beraspal, sehingga cukup nyaman untuk dilalui.

Perjalanan menuju puncak memakan waktu sekitar 90 menit dengan kecepatan santai. Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan hutan yang rindang, udara yang sejuk, serta sesekali bertemu pendaki lain yang datang dari berbagai negara.

Keberuntungan benar-benar berpihak kepada kami hari itu.

Sesampainya di puncak, langit terlihat cerah tanpa banyak awan. Dari area observasi, kami dapat melihat siluet megah Gunung Fuji berdiri di kejauhan dengan sangat jelas. Pemandangan yang sering muncul di kartu pos Jepang itu akhirnya bisa kami nikmati secara langsung.

Tidak hanya Gunung Fuji, dari puncak Takao kami juga dapat melihat hamparan kawasan metropolitan Tokyo yang membentang jauh di ufuk timur. Perpaduan antara panorama pegunungan dan lanskap kota modern menciptakan pemandangan yang sangat mengesankan.

Setelah menikmati suasana puncak dan menyantap bekal makan siang bersama, kami memutuskan untuk turun menggunakan chairlift. Pengalaman yang cukup unik karena bentuknya mirip gondola terbuka tanpa sabuk pengaman dan tanpa banyak pegangan. Sedikit menegangkan di awal, tetapi justru menjadi salah satu bagian paling seru dari perjalanan hari itu.

Mount Takao sekali lagi membuktikan bahwa kita tidak perlu pergi jauh dari Tokyo untuk menikmati alam Jepang yang indah. Dengan akses yang mudah, jalur pendakian yang bersahabat, dan bonus pemandangan Gunung Fuji saat cuaca cerah, tempat ini layak masuk daftar destinasi bagi siapa saja yang berkunjung ke Jepang.

It was fun. See you again, Mount Takao!















Senin, 01 Oktober 2018

Menyapa Yokohama


Hari-hari pertama di Jepang rasanya masih seperti mimpi yang berjalan pelan. Setelah sekian lama hanya melihatnya dari foto, film, dan cerita orang lain, akhirnya saya benar-benar menginjakkan kaki di kota yang akan menjadi tempat singgah saya untuk beberapa waktu ke depan: Yokohama.

Secara harfiah, Yokohama berarti "di samping pantai". Nama yang terasa sederhana, tetapi cukup menggambarkan karakter kota ini. Sebagai kota pelabuhan terbesar di Jepang dan kota terbesar kedua setelah Tokyo, Yokohama memiliki suasana yang berbeda. Tidak sepadat Tokyo, tetapi tetap hidup dan modern.

Foto ini saya ambil di kawasan Minato Mirai, yang menurut sepupu saya merupakan salah satu pusat keramaian anak-anak muda Yokohama. Sekali melihat sekeliling, saya langsung paham alasannya. Di sini berdiri pusat perbelanjaan, taman hiburan dengan bianglala raksasa yang menjadi ikon kawasan, deretan kafe, hingga berbagai museum yang menghadap ke teluk. Saat sore menjelang malam, lampu-lampu kota mulai menyala dan suasananya terasa sangat berbeda dibanding siang hari.

Yang membuat saya semakin menyukai tempat ini adalah lokasinya yang tidak terlalu jauh dari tempat saya tinggal. Jaraknya sekitar enam kilometer dan bisa ditempuh hanya dengan satu kali perjalanan bus. Sebenarnya ada pilihan naik kereta bawah tanah yang mungkin lebih cepat dan praktis. Namun entah kenapa saya selalu lebih menyukai perjalanan di atas permukaan. Duduk di dekat jendela bus sambil melihat jalanan, bangunan, dan aktivitas warga terasa jauh lebih menyenangkan daripada berada di dalam terowongan tanpa pemandangan.

Sepupu saya juga bercerita bahwa kawasan ini cukup sering dijadikan lokasi syuting film dan drama. Saya tidak tahu persis film apa saja yang pernah mengambil gambar di sini, tetapi setelah berjalan-jalan sebentar, rasanya mudah memahami alasannya. Ada sesuatu yang fotogenik dari perpaduan laut, gedung-gedung modern, dan suasana pelabuhan yang membuat setiap sudutnya terlihat seperti adegan film.

Untuk sementara waktu ke depan, kota ini akan menjadi bagian dari keseharian saya. Mungkin beberapa bulan lagi, perjalanan dengan bus menuju Minato Mirai tidak lagi terasa istimewa. Namun hari ini, sebagai orang yang baru datang, semuanya masih terasa baru, menarik, dan layak dicatat dalam buku harian.

Mari kita lihat cerita apa saja yang akan diberikan Yokohama berikutnya.

Rabu, 22 Agustus 2018

Kabaddi: Galasin Versi Atlet Nasional


Hari ini niatnya nonton final badminton. 
Tapi seperti biasa, manusia boleh berencana, tiket yang menentukan.

Karena kehabisan tiket, akhirnya saya malah nyasar ke pertandingan yang sebelumnya bahkan tidak pernah terpikir untuk ditonton. Namanya Kabaddi, olahraga tradisional dari India yang ternyata sudah cukup lama dipertandingkan di Asian Games.

Awalnya saya duduk dengan ekspresi yang sama seperti orang yang salah masuk ruang ujian. Bingung. Ini olahraga apa? Aturannya bagaimana? Kok pemainnya saling tarik, pegang, dan banting?

Setelah beberapa menit mengamati, ternyata konsepnya cukup sederhana. Dalam satu pertandingan ada dua tim yang masing-masing berisi tujuh pemain. Secara bergantian, satu pemain masuk ke area lawan untuk menyentuh pemain lawan lalu berusaha kembali ke wilayah timnya sendiri. Kedengarannya mudah, sampai melihat kenyataan bahwa pihak lawan tentu tidak akan membiarkan dia pulang dengan selamat.

Semakin lama menonton, semakin terasa familiar. Rasanya seperti melihat perpaduan permainan masa kecil yang dibesarkan menjadi olahraga profesional. Ada unsur galasin, ada sedikit benteng, ditambah sentuhan permainan "mundur tiga langkah" yang dulu sering muncul di komik Donal Bebek. Bedanya, versi ini dimainkan oleh atlet-atlet berbadan kekar yang tidak ragu saling menjatuhkan satu sama lain.

Saat itu saya langsung berpikir, jangan bersedih wahai anak-anak yang dulu hobi main galasin atau benteng di lapangan sekolah. Ternyata ada jalur karier internasional untuk keterampilan tersebut, meskipun syarat tambahannya adalah memiliki badan yang cukup kuat untuk bertahan dari bantingan.

Yang menarik dari pengalaman hari ini justru bukan pertandingan itu sendiri, melainkan bagaimana saya menemukan sesuatu yang sama sekali baru gara-gara rencana awal gagal. Kalau tiket badminton masih tersedia, kemungkinan besar saya tidak akan pernah tahu bahwa ada olahraga bernama Kabaddi dan tidak akan pernah menghabiskan satu sore dengan serius mengamati orang-orang berusaha menyentuh lawan lalu kabur sebelum ditangkap.

Kadang-kadang hal paling menarik dalam perjalanan justru muncul ketika rencana utama tidak berjalan sesuai harapan.

Meski begitu, lain kali kalau ada tiket final badminton, saya tetap pilih badminton.

Selasa, 14 Agustus 2018

Salam Ngudi Rejeki


Some people come into our lives for a season, while others become part of our story forever. Looking back at our university years, I realize how fortunate I was to have a friend like you.

We started as classmates, sharing lecture rooms, assignments, exams, and countless deadlines. Somewhere between group projects, late-night discussions, spontaneous trips, and endless cups of coffee, you became much more than a friend from college. You became family.

Thank you for being one of the few people who always accepted me for who I am. You never expected perfection. You tolerated my bad habits, my temperament, my stubbornness, my sarcastic jokes, and all the imperfections that come with being human. Instead of trying to change me, you chose to understand me, and that is something I will always appreciate.

Through the years, we shared more than just classes and hobbies. We shared dreams, frustrations, failures, victories, heartbreaks, and moments that shaped who we are today. Thank you for listening to my stories, especially during difficult times, and for always being willing to share your own. Some conversations may have seemed ordinary at the time, but they became memories that I will carry with me for the rest of my life.

One of the things I admire most about our friendship is how effortless it has always felt. No need to pretend, no need to impress. We could spend hours talking about serious life matters, or laugh endlessly over the most ridiculous things. We shared interests, passions, and hobbies, but more importantly, we shared trust and mutual respect.

As we continue our own journeys and pursue different paths, I hope you know how much your friendship has meant to me. The distance, the years, and the responsibilities of adulthood may change many things, but they will never erase the memories we created together or the gratitude I feel for having you in my life.

Thank you for every lesson, every laugh, every piece of advice, every honest conversation, and every moment of support. Thank you for being there during some of the most important years of my life.

I sincerely wish you happiness, good health, success, and countless opportunities wherever life takes you. May you continue to grow, achieve your dreams, and find fulfillment in everything you do.

No matter where we end up, a part of me will always remember those university days and be grateful that our paths crossed.

Until we meet again, my friend.

Salam Ngudi Rejeki. 🍻
See you in Tokyo

Jumat, 05 Mei 2017

Keribo

Ada beberapa hal yang hanya bisa dilakukan seorang Joko Heratmo pada masa-masa tertentu dalam hidupnya.

Salah satunya adalah memiliki rambut keribo.

Percayalah, ini bukan perkara sederhana.

Dulu, saat masih menyandang status mahasiswa, rambut keribo bukan sekadar gaya rambut. Keribo adalah identitas. Keribo adalah kebebasan. Keribo adalah pernyataan bahwa hidup masih terlalu santai untuk dipusingkan oleh aturan penampilan.

Pada masa itu, rambut bisa tumbuh ke segala arah tanpa ada yang protes. Mau mirip pemain bola Brasil era 70-an? Silakan. Mau seperti vokalis band indie yang albumnya cuma laku 37 kopi? Tidak masalah. Mau seperti mikrofon karaoke? Bahkan lebih baik.

Pokoknya selama masih mahasiswa, rambut adalah wilayah kedaulatan pribadi.

Lalu kehidupan berubah.

Ijazah didapat.

Pekerjaan datang.

Status berubah menjadi Pegawai Negeri Sipil.

Dan sejak saat itu, hubungan saya dengan rambut keribo memasuki masa-masa sulit.

Bukan berarti ada aturan tertulis yang melarang keribo. Tidak ada. Namun ada sesuatu yang jauh lebih kuat daripada aturan tertulis.

Namanya adalah gunjingan.

Kalau rambut mulai sedikit panjang:

"Wah, lagi sibuk ya?"

Kalau jambang mulai tumbuh:

"Mas lagi cuti dari dunia birokrasi?"

Kalau brewok mulai terlihat:

"Ikut audisi band metal, Pak?"

Belum apa-apa sudah menjadi bahan diskusi publik.

Akhirnya, demi menjaga stabilitas nasional dan ketertiban lingkungan kerja, rambut selalu dipangkas sebelum sempat mencapai cita-citanya menjadi keribo.

Tahun demi tahun berlalu.

Keribo hanya tinggal kenangan.

Sampai takdir kembali mempertemukan saya dengan dunia kampus.

Ya, saya kembali menjadi mahasiswa.

Mahasiswa. Lagi.

Memang usianya sudah tidak sama dengan mahasiswa yang sibuk mengejar tanda tangan dosen pembimbing sambil membawa map warna-warni. Namun secara administratif, statusnya tetap mahasiswa.

Dan setiap mahasiswa memiliki hak asasi yang tidak tertulis.

Hak untuk begadang.

Hak untuk menunda tugas.

Hak untuk mengeluh tentang deadline.

Dan yang terpenting...

Hak untuk memelihara rambut keribo.

Saya mulai membayangkan masa depan yang indah.

Bangun pagi tanpa harus memikirkan apakah rambut sudah cukup rapi.

Berangkat ke kampus dengan rambut yang volumenya lebih besar daripada isi dompet.

Berfoto bersama teman-teman dengan kepala yang terlihat seperti awan cumulonimbus.

Sungguh masa depan yang menjanjikan.

Lagi pula, rambut keribo memiliki banyak manfaat.

Salah satunya adalah fungsi historis yang sudah terbukti sejak zaman mahasiswa.

Sebagai tempat penyimpanan kertas contekan darurat.

Saya tidak mengatakan pernah melakukannya.

Saya hanya mengatakan bahwa secara teoritis, rambut keribo memiliki kapasitas penyimpanan yang cukup mengesankan.

Tentu sekarang fungsi itu sudah tidak relevan lagi. Selain karena ujian modern semakin canggih, saya juga sudah terlalu tua untuk melakukan hal-hal kreatif seperti itu.

Meski begitu, tetap saja ada rasa rindu.

Rindu pada masa ketika rambut bisa tumbuh sesuka hati.

Rindu pada masa ketika urusan terbesar dalam hidup adalah memilih antara masuk kelas atau lanjut tidur.

Rindu pada masa ketika keribo bukan masalah.

Jadi sekarang saya hanya bisa menunggu.

Menunggu rambut ini tumbuh perlahan.

Menunggu volume yang dulu pernah berjaya kembali hadir.

Menunggu momen ketika cermin akhirnya berkata:

"Ya. Ini dia. Keribo telah kembali."

Keribo, tunggu Joko ya.

Sebentar lagi kita bersama lagi.

Semoga kali ini tidak kalah duluan oleh tukang cukur.




Selasa, 07 Maret 2017

Belajar Kontrak FIDIC di Negeri Sakura: Pengalaman Pertama Bertugas ke Jepang


Ada kalanya sebuah perjalanan bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Ia menjadi titik balik, membuka wawasan baru, sekaligus meninggalkan kenangan yang akan terus dikenang sepanjang perjalanan karier. Begitulah yang saya rasakan ketika mendapatkan kesempatan mengikuti program pelatihan di Jepang pada pertengahan tahun 2016.

Sejujurnya, saya tidak pernah membayangkan akan memperoleh penugasan ke luar negeri, terlebih lagi ke Jepang. Selama ini, negeri yang terkenal dengan bunga sakura, kereta cepat, dan kedisiplinan masyarakatnya itu hanya saya kenal melalui buku, televisi, atau brosur-brosur promosi maskapai penerbangan yang sering menghiasi ruang tunggu bandara.

Karena itu, ketika mendapatkan kabar bahwa saya dipercaya menjadi salah satu peserta program pelatihan yang diselenggarakan melalui kerja sama antara LKPP dan JICA, perasaan saya bercampur aduk antara bangga, bersyukur, dan tidak percaya.

Bagi seorang pegawai yang saat itu masih relatif muda, kesempatan tersebut merupakan kehormatan yang luar biasa. Tidak hanya karena dapat mewakili instansi dalam kegiatan internasional, tetapi juga karena perjalanan itu menjadi pengalaman pertama saya bepergian ke luar Indonesia menggunakan paspor dinas. Sebuah pengalaman yang hingga hari ini masih saya ingat dengan sangat jelas.

Pada tanggal 18 Juli 2016, saya bersama sembilan orang rekan lainnya memulai perjalanan menuju Jepang. Kami berangkat menggunakan maskapai ANA (All Nippon Airways), salah satu maskapai kebanggaan Jepang yang terkenal dengan pelayanan dan ketepatan waktunya.

Bagi sebagian orang, penerbangan selama delapan jam mungkin terdengar biasa. Namun bagi saya, perjalanan tersebut terasa begitu istimewa. Di balik jendela pesawat yang sesekali memperlihatkan hamparan awan putih, saya membayangkan seperti apa kehidupan di negara yang selama ini sering disebut sebagai salah satu negara paling maju di dunia.

Setelah menempuh penerbangan yang cukup panjang, pesawat akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Haneda, Tokyo. Kesan pertama yang saya rasakan begitu sederhana namun kuat: semuanya tampak tertib.

Mulai dari proses kedatangan, pengambilan bagasi, hingga sistem transportasi bandara berjalan dengan rapi dan efisien.

Setelah keluar dari area kedatangan, kami disambut oleh perwakilan JICA yang kemudian mengantar kami menuju tempat pelatihan sekaligus akomodasi selama berada di Jepang, yaitu JICA Tokyo International Center (TIC) yang berlokasi di kawasan Nishihara, Shibuya.

Bagi banyak orang, nama Shibuya identik dengan kawasan bisnis dan pusat aktivitas anak muda Tokyo. Namun di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan tersebut, JICA TIC hadir sebagai lingkungan yang nyaman untuk belajar dan bertukar pengalaman dengan peserta dari berbagai negara.

Pelatihan yang kami ikuti merupakan bagian dari program kerja sama antara LKPP dan JICA yang bertajuk Knowledge Co-Creation Program (Country Focus) on Project for Strengthening of Public Procurement System in Japan 2016.

Fokus utama pelatihan adalah pengelolaan kontrak proyek konstruksi berdasarkan standar FIDIC (Federation Internationale Des Ingenieurs-Conseils), organisasi internasional yang menjadi rujukan berbagai proyek konstruksi di dunia.

Bagi Indonesia, pemahaman terhadap kontrak FIDIC menjadi sangat penting karena sebagian besar proyek yang dibiayai melalui skema Official Development Assistance (ODA) Pemerintah Jepang menggunakan standar kontrak tersebut.

Selama pelatihan, kami berkesempatan belajar langsung dari Professor Shunji Kusayanagi, Ph.D., seorang praktisi sekaligus akademisi yang memiliki pengalaman lebih dari empat dekade di bidang konstruksi internasional.

Beliau bukan hanya memahami teori, tetapi juga pernah terlibat langsung dalam berbagai proyek pembangunan di banyak negara, termasuk Indonesia.

Salah satu cerita yang paling menarik perhatian peserta adalah ketika beliau mengenang masa tugasnya di Batam pada era 1970-an. Saat itu beliau terlibat dalam proyek pembangunan Pelabuhan Batu Ampar yang menjadi salah satu infrastruktur penting bagi perkembangan kawasan tersebut.

Meskipun memiliki pengalaman dan reputasi yang luar biasa, Prof. Kusayanagi tampil sangat sederhana. Suasana kelas yang seharusnya formal sering berubah menjadi diskusi yang hangat dan interaktif. Beliau tidak segan menjawab pertanyaan peserta satu per satu, bahkan kerap berbagi pengalaman lapangan yang tidak dapat ditemukan di dalam buku.

Dari beliau kami belajar bahwa keberhasilan sebuah proyek konstruksi bukan hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh komunikasi, manajemen risiko, dan kemampuan para pihak untuk menyelesaikan permasalahan secara profesional.

Salah satu bagian paling menarik dari program ini adalah kegiatan site visit yang diselenggarakan pada akhir minggu pertama.

Jika selama beberapa hari sebelumnya kami belajar di dalam kelas, kali ini kami diajak melihat langsung bagaimana proyek konstruksi dikelola di Jepang.

Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah proyek pembangunan terowongan di kawasan Tajiri yang merupakan bagian dari proyek jalan tol lingkar luar Tokyo.

Melihat langsung proses pembangunan infrastruktur berskala besar memberikan perspektif yang berbeda dibandingkan hanya mempelajari dokumen kontrak di ruang kelas. Kami dapat melihat bagaimana aspek keselamatan kerja diterapkan secara ketat, bagaimana koordinasi antarpihak dilakukan, serta bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi pekerjaan.

Kunjungan berikutnya tidak kalah menarik. Kami diajak melihat pembangunan venue cabang olahraga dayung yang dipersiapkan untuk Olimpiade Tokyo 2020.

Saat itu, Olimpiade masih empat tahun lagi. Namun sebagian pekerjaan konstruksi sudah berjalan dengan perencanaan yang sangat matang.

Hal tersebut menunjukkan bagaimana Jepang mempersiapkan sebuah kegiatan besar jauh sebelum pelaksanaannya.

Selama hampir dua minggu berada di Jepang, saya menyadari bahwa pelajaran yang kami peroleh tidak hanya berasal dari ruang kelas maupun lokasi proyek.

Ada banyak hal lain yang diam-diam mengajarkan kami nilai-nilai penting.

Kami belajar tentang budaya tepat waktu yang bukan sekadar slogan.

Kami melihat bagaimana masyarakat menghormati antrean tanpa perlu diawasi.

Kami menyaksikan bagaimana fasilitas umum dijaga dengan penuh tanggung jawab.

Kami merasakan bagaimana sebuah sistem dapat berjalan dengan baik ketika setiap orang menjalankan perannya secara disiplin.

Hal-hal sederhana tersebut mungkin terlihat biasa bagi masyarakat Jepang. Namun bagi kami, pengalaman tersebut menjadi bahan refleksi yang sangat berharga.

Sebagai bagian dari penutupan program, setiap peserta diwajibkan menyusun action plan yang berkaitan dengan implementasi prinsip-prinsip kontrak FIDIC di lingkungan kerja masing-masing.

Rencana tersebut kemudian dipresentasikan di hadapan perwakilan JICA sebagai bentuk komitmen bahwa ilmu yang diperoleh selama pelatihan tidak berhenti sebagai pengetahuan semata, melainkan dapat diterapkan setelah kembali ke Indonesia.

Pada hari terakhir, satu per satu peserta dipanggil ke depan untuk menerima sertifikat pelatihan.

Tepuk tangan terdengar ketika nama peserta disebutkan. Kamera sesekali mengabadikan momen tersebut.

Namun ketika memegang sertifikat itu, saya menyadari bahwa nilai sebenarnya dari perjalanan ini tidak terletak pada selembar kertas yang saya bawa pulang.

Yang jauh lebih berharga adalah pengalaman, wawasan, dan pelajaran hidup yang kami peroleh selama berada di Negeri Sakura.

Dari Jepang, kami tidak hanya belajar tentang kontrak FIDIC dan manajemen proyek konstruksi.

Kami juga belajar tentang profesionalisme, kedisiplinan, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap waktu.

Pelajaran-pelajaran itulah yang hingga hari ini masih saya bawa dalam perjalanan karier sebagai aparatur sipil negara.

Dan mungkin, itulah oleh-oleh terbaik yang bisa dibawa pulang dari sebuah perjalanan dinas ke luar negeri.






Senin, 03 Februari 2014

Kepiting dan Harapan Palsu

Pada suatu hari yang cerah di sebuah pantai yang bahkan tidak masuk dalam peta wisata, seekor kepiting betina sedang berjalan miring seperti biasa.

Maklum, dia kepiting.

Tiba-tiba dari kejauhan ia melihat sesuatu yang membuat kedua matanya melotot.

Seekor kepiting jantan.

Tapi ada yang aneh.

Kepiting itu berjalan lurus.

Lurus.

Tidak miring.

Tidak zig-zag.

Tidak seperti sedang mencari sinyal WiFi.

Benar-benar lurus.

Si kepiting betina langsung terpesona.

"Ya ampun... selama hidupku baru kali ini aku lihat kepiting jalan lurus. Ini pasti kepiting alpha. Kepiting pilihan. Kepiting premium."

Dengan jantung berdebar dan insang yang entah kenapa ikut bergetar, ia menghampiri si jantan.

"Mas, kamu beda dari yang lain."

"Yoi."

"Kamu spesial."

"Memang."

"Kawinin aku mas."

"Oke."

Karena mereka kepiting dan tidak suka bertele-tele, mereka pun langsung menikah.

Malam itu pesta berlangsung meriah.

Udang jadi panitia.

Kerang jadi penerima tamu.

Bintang laut jadi fotografer.

Seekor cumi-cumi bahkan menyumbang lagu.

Semua berjalan sempurna.

Namun keesokan harinya terjadi sesuatu yang mengejutkan.

Si kepiting betina melihat suaminya berjalan.

Dan...

Miring.

Miring seperti kepiting pada umumnya.

Miring seperti kendaraan habis nabrak trotoar.

Miring seperti kehidupan setelah tanggal tua.

"Kok lo jalannya miring?" teriak si betina.

"Lah emang kenapa?"

"Kemarin gue lihat lo jalan lurus!"

"Oh itu..."

"Jangan bilang selama ini lo bohong!"

Si jantan menghela napas panjang.

Lalu berkata pelan.

"Sorry babe."

"APA?!"

"Tadi malam aku mabuk."

Si betina terdiam.

Burung camar yang lewat ikut terdiam.

Ombak berhenti sebentar.

Seekor ikan teri menjatuhkan sarapannya.

Dan sejak saat itu si kepiting betina belajar satu pelajaran penting dalam hidup:

Jangan mengambil keputusan besar hanya karena melihat seseorang berjalan lurus selama lima menit.

-TAMAT-



Rabu, 22 Januari 2014

Blog Ini Masih Hidup Ternyata

Wah, ternyata sudah lebih dari setahun blog ini tidak diisi tulisan baru.

Jujur saja, saya sempat lupa kalau masih punya blog.

Kalau blog ini diibaratkan kamar kos, mungkin kondisinya sudah mengenaskan. Sudah ada sarang laba-laba di pojok ruangan, tumpukan debu setebal skripsi mahasiswa semester akhir, dan mungkin pemilik kos sudah beberapa kali mengintip dari jendela karena curiga penghuninya meninggal dunia di dalam kamar.

"Mas Joko masih hidup nggak sih?"

"Masih, Bu."

"Oh syukurlah. Saya kira tinggal kerangkanya doang."

Padahal sebenarnya saya masih hidup, sehat walafiat, masih rutin makan nasi padang, masih bayar BPJS, dan sesekali masih mengeluh soal harga kopi.

Hanya saja, kemampuan menulis di blog ini mendadak menghilang seperti kaus kaki yang masuk mesin cuci.

Ada.

Tapi entah ke mana.

Padahal kalau dipikir-pikir, setahun terakhir cukup banyak hal yang terjadi dalam hidup saya. Ada cerita baru, pengalaman baru, perjalanan baru, dan tentu saja drama-drama kecil khas kehidupan manusia dewasa yang cicilannya lebih rajin datang dibanding inspirasi menulis.

Sayangnya, kesibukan berhasil mengalahkan niat.

Setiap kali muncul ide untuk menulis, biasanya saya sedang bekerja.

Begitu pekerjaan selesai, saya ingin istirahat.

Begitu istirahat selesai, saya lupa ide apa yang tadi mau ditulis.

Begitu ingat lagi, sudah jam dua pagi.

Begitulah siklusnya selama berbulan-bulan.

Akibatnya blog ini terbengkalai.

Saking lamanya tidak diperbarui, saya curiga Google sudah menganggap blog ini sebagai situs bersejarah.

Mungkin algoritma mesin pencari melihatnya lalu berkata,

"Oh ini blog aktif ya?"

"Bukan, Pak. Ini artefak digital."

Namun jangan khawatir.

Saya kembali.

Ya, setidaknya untuk tulisan ini.

Karena ternyata setelah dibersihkan dari debu virtual dan dibuka kembali password yang hampir lupa, blog ini masih bisa digunakan sebagaimana mestinya.

Dan seperti biasa, saya tidak menjanjikan apa-apa.

Sebab pengalaman mengajarkan bahwa kalimat "saya akan rajin menulis mulai sekarang" biasanya hanya bertahan sekitar tiga hari sebelum kembali kalah oleh pekerjaan, rebahan, pertandingan sepak bola, video YouTube, atau alasan-alasan kreatif lainnya.

Tapi yang jelas, selama setahun terakhir cukup banyak cerita yang layak dibagikan.

Ada cerita perjalanan.

Ada cerita pekerjaan.

Ada cerita pertemanan.

Ada cerita kehidupan sebagai mahasiswa lagi di usia yang seharusnya sudah lebih sering membahas asam urat daripada tugas kuliah.

Dan mungkin beberapa di antaranya akan saya tuliskan di sini.

Kalau sempat.

Kalau ingat.

Kalau tidak ketiduran.

Jadi, bagi satu atau dua orang yang mungkin tanpa sengaja masih nyasar ke blog ini, selamat datang kembali.

Mari kita lihat apakah blog ini akan kembali aktif atau justru kembali masuk masa hibernasi sampai tahun depan.

Sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Salam olahraga.

Sabtu, 25 Agustus 2012

Pengumpul Botol


Langit Bekasi siang itu terlihat pucat. Matahari masih bersinar terik, tetapi jalanan tidak seramai biasanya. Mungkin karena suasana Lebaran belum benar-benar berakhir. Banyak orang masih menikmati waktu bersama keluarga di kampung halaman.

Sementara itu, aku sedang dihantui perasaan yang berbeda.

Liburan hampir usai, dan itu berarti aku harus kembali ke Yogyakarta. Kota yang selama beberapa tahun terakhir menjadi tempatku menimba ilmu, mencari teman, dan belajar hidup mandiri. Kota yang seharusnya sudah terasa seperti rumah kedua.

Namun entah kenapa, kali ini aku malas kembali ke sana.

Mungkin karena skripsi yang terus menunggu untuk diselesaikan. Mungkin karena terlalu nyaman berada di rumah. Atau mungkin karena aku belum siap meninggalkan suasana hangat Lebaran yang hanya datang setahun sekali.

Apa pun alasannya, kenyataannya tetap sama. Aku harus kembali.

The show must go on.

Dua hari sebelum keberangkatan, aku pergi ke Stasiun Bekasi untuk memesan tiket kereta. Perjalanan dari rumah di Jatibening terasa lebih cepat dari biasanya. Tidak ada antrean kendaraan yang mengular panjang. Kota ini seperti sedang beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk rutinitasnya.

Setelah urusan tiket selesai, aku berjalan menuju area parkir motor.

Di tengah langkah yang santai itu, seseorang menghampiriku.

Seorang bapak paruh baya dengan kulit yang mulai menggelap karena matahari dan sebuah kantong plastik hitam besar di tangannya. Sekilas, kantong itu tampak seperti wadah dagangan minuman dingin yang sering dijajakan di sekitar stasiun.

Aku sedang meneguk sisa Mizone yang kubeli sebelumnya ketika beliau mendekat.

Tanpa banyak kata, ia membuka kantong plastiknya dan menunjuk ke arah botol yang kupegang.

Awalnya aku tidak mengerti.

Baru beberapa detik kemudian aku menyadari bahwa bapak itu mengalami kesulitan berbicara. Kalimat yang keluar dari mulutnya terdengar patah-patah. Tangannya bergerak membentuk isyarat yang tidak kupahami.

Lalu aku menangkap maksudnya.

Ia tidak sedang berjualan.

Ia hanya ingin botol kosong yang sedang kupegang.

Pengumpul botol plastik.

Entah kenapa, melihat kondisinya membuatku spontan merogoh saku. Setelah menyerahkan botol Mizone itu, aku menyelipkan uang dua ribu rupiah ke tangannya.

Jumlah yang mungkin tidak berarti apa-apa bagiku.

Tetapi reaksinya membuatku terdiam.

Bapak itu menggeleng pelan.

Uang itu dikembalikannya.

Ia hanya mengambil botol plastik tadi.

Dengan bahasa isyarat yang sederhana dan kalimat yang terbata-bata, ia berusaha menjelaskan sesuatu.

Aku tidak memahami setiap katanya. Namun aku mengerti pesan yang ingin disampaikannya.

“Aku bukan pengemis.”

Hanya itu.

Kalimat sederhana yang menghantamku lebih keras daripada nasihat panjang apa pun.

Aku berdiri mematung beberapa detik.

Malu.

Sangat malu.

Di hadapanku ada seseorang yang secara fisik mungkin memiliki keterbatasan. Seseorang yang setiap hari harus berjalan dari satu tempat ke tempat lain mengumpulkan botol-botol bekas demi mendapatkan uang.

Namun ia masih memiliki sesuatu yang mungkin mulai langka di kota besar.

Harga diri.

Di tengah zaman ketika meminta-minta sering dianggap jalan pintas, bapak itu memilih memungut sampah yang dibuang orang lain. Memilih bekerja. Memilih berkeringat.

Mungkin hasilnya tidak besar.

Tetapi itu cukup baginya.

Saat berjalan meninggalkan stasiun, pikiranku terus kembali pada sosok bapak tadi.

Aku teringat sebuah pepatah yang sejak kecil sering kudengar.

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”

Dulu kalimat itu terdengar seperti nasihat klise dalam buku pelajaran sekolah. Sesuatu yang dihafalkan untuk menjawab soal ujian, lalu dilupakan.

Siang itu, di halaman parkir Stasiun Bekasi, pepatah tersebut mendadak terasa nyata.

Karena aku baru saja melihat wujudnya.

Seorang pengumpul botol plastik dengan kantong hitam besar dan kemampuan bicara yang terbatas telah mengajarkan pelajaran yang bahkan tidak pernah kutemukan di bangku kuliah.

Bahwa bekerja, sekecil apa pun hasilnya, adalah kehormatan.

Dan bahwa terkadang, orang-orang sederhana yang kita temui hanya beberapa menit mampu meninggalkan pelajaran yang akan kita ingat seumur hidup.