Kontributor

Minggu, 08 Maret 2020

Gol Pertama di Lapangan TNI AU Pancoran

“Nih coy, bolanya buat lo. Ntar kasih umpan ala Pirlo ya.”

Bek kiri bertubuh gempal yang kekuatan utamanya overlap tapi kelemahan fatalnya lupa cara mundur itu mengoper bola pendek ke rekannya. Seorang gelandang pekerja keras yang lebih cocok disebut pengangkut galon daripada deep lying playmaker. Permainannya keras, hobinya adu badan, dan kalau sliding tackle kadang lebih mirip orang lagi nyari sandal hilang.

Mereka berdua pernah satu tim sejak zaman SMA. Jadi chemistry-nya memang sudah terbentuk bertahun-tahun, meskipun kualitasnya belum tentu.

“Udah lo naik aja sono. Gak usah banyak bacot,” jawab si gelandang sambil menggiring bola memasuki area pertahanan lawan dengan kepercayaan diri yang jauh lebih tinggi daripada kemampuan dribbling-nya.

Ajaibnya, kali ini sepak bola membuktikan bahwa teori tidak selalu berlaku.

Sang gelandang melepaskan umpan terobosan yang entah sengaja atau beruntung berhasil melewati beberapa pemain lawan. Bola mengarah ke sisi kanan, tepat ke jalur lari si bek kiri yang entah bagaimana sudah berada di depan. Mungkin karena memang dari awal dia lupa kalau tugas utamanya bertahan.

Tanpa pikir panjang, tanpa kontrol yang elegan, tanpa teknik ala pemain Eropa, ia langsung melepaskan tendangan keras.

Keras sekali.

Begitu keras sampai dirinya sendiri mungkin tidak tahu ke mana arah bola tersebut.

Untungnya, bola mengarah ke gawang.

Lebih untung lagi, masuk.

Gol.

Walaupun secara estetika gol tersebut masih sangat jauh dari nominasi Puskas Award dan lebih dekat ke kategori “yang penting masuk”, kedua pelaku utama tetap berlari ke pinggir lapangan.

Mereka melakukan selebrasi di depan kamera layaknya baru membawa tim menjuarai Liga Champions.

Padahal pertandingan cuma fun game 

Tapi begitulah sepak bola amatir.

Kadang yang dirayakan bukan kualitas golnya.

Melainkan fakta bahwa setelah bertahun-tahun main bareng, akhirnya umpan dan lari overlap mereka berhasil ketemu di momen yang tepat.

Gambar hanya pemanis. Cerita diangkat dari kisah nyata dengan sedikit dramatisasi dan kebohongan-kebohongan kecil demi kepentingan literasi sepak bola.






Kamis, 01 Agustus 2019

Menantang Panas Musim Panas di Nokogiriyama

Musim panas di Jepang ternyata tidak kalah serius dibandingkan musim panas di negara tropis. Hari itu suhu terasa sangat menyengat. Menurut aplikasi cuaca, real feel mencapai sekitar 42 derajat Celsius. Cuaca yang biasanya cukup untuk membuat saya berpikir dua kali sebelum keluar rumah.


Tapi justru di hari sepanas itu, kami memutuskan untuk ber
petualang ke Nokogiriyama, sebuah kawasan pegunungan di Prefektur Chiba yang terkenal dengan pemandangan teluknya serta situs bersejarah yang sudah berusia ratusan tahun.

Perjalanan dimulai dari Kurihama Port di Kanagawa. Alih-alih naik kereta seperti biasanya, kali ini kami memilih cara yang sedikit berbeda: menyeberang menggunakan kapal feri melintasi Selat Uraga menuju Chiba.


Ada sesuatu yang menyenangkan tentang bepergian dengan kapal. Mungkin karena ritmenya lebih lambat. Tidak seperti kereta yang berlari cepat dan membuat pemandangan hanya menjadi latar belakang, di atas kapal kita punya waktu untuk benar-benar menikmati perjalanan. Selama kurang lebih 40 menit, kami ditemani angin laut, suara mesin kapal, dan pemandangan Teluk Tokyo yang membentang luas di kejauhan.

Begitu tiba di Kanaya Port, petualangan sesungguhnya dimulai.

Untuk mencapai area utama Nokogiriyama, kami naik ropeway yang perlahan membawa kami semakin tinggi. Dari atas gondola, pemandangan laut dan pegunungan mulai terbuka sedikit demi sedikit. Saat itu saya mulai memahami mengapa tempat ini menjadi salah satu destinasi favorit bagi para pencinta alam dan fotografi.

Namun daya tarik utama Nokogiriyama bukan hanya pemandangannya.


Di kawasan ini terdapat Nihon-ji, kompleks kuil bersejarah yang menjadi rumah bagi Daibutsu terbesar di Jepang. Berdiri setinggi lebih dari 31 meter, patung Buddha raksasa itu terlihat begitu tenang dan megah di tengah tebing batu yang mengelilinginya. Sulit untuk tidak berhenti beberapa saat dan sekadar mengagumi bagaimana karya sebesar itu bisa dibuat berabad-abad lalu.

Karena hanya membeli tiket ropeway satu arah, kami memutuskan turun dengan berjalan kaki agar bisa menjelajahi lebih banyak sudut gunung. Keputusan yang terdengar cerdas di awal, tetapi terasa semakin menantang setiap kali matahari bersinar lebih terik dan tangga berikutnya muncul di depan mata. Meski begitu, justru bagian itulah yang paling berkesan.



Keringat yang tidak berhenti mengalir, botol minum yang cepat kosong, dan sesekali berhenti mencari tempat teduh menjadi bagian dari cerita perjalanan hari itu. Untungnya setiap rasa lelah selalu terbayar dengan pemandangan yang indah dan sudut-sudut menarik yang kami temukan sepanjang jalan.

Saat kembali pulang, badan terasa lelah tetapi pikiran terasa segar.

Kadang perjalanan terbaik bukanlah perjalanan yang paling nyaman, melainkan perjalanan yang membuat kita pulang dengan cerita.

Dan Nokogiriyama memberi kami cukup banyak cerita untuk satu hari musim panas yang sangat panas.

Selamat menikmati musim panas, dan jangan lupa minum air yang cukup.

Heatstroke is real. Trust me

Sabtu, 27 Oktober 2018

Menonton Sepakbola di Saitama Stadium 2002


Exploring Kanto: Saitama

Akhir pekan ini, perjalanan kami membawa langkah ke utara Tokyo, menuju Saitama-shi, ibu kota Prefektur Saitama. Bersama dua rekan sesama mahasiswa di GRIPS Tokyo, saya berkesempatan menyaksikan salah satu laga paling bergengsi di sepak bola Jepang: Final J.League Cup antara Shonan Bellmare dan Yokohama F. Marinos.

Tujuan kami adalah Saitama Stadium 2002. Bagi pencinta sepak bola, nama stadion ini tentu tidak asing. Stadion yang menjadi salah satu venue Piala Dunia 2002 tersebut merupakan salah satu stadion sepak bola murni terbesar di Jepang, tanpa lintasan atletik yang memisahkan pemain dan penonton. Hasilnya, atmosfer pertandingan terasa begitu dekat dan hidup.

Meski dikenal sebagai kandang dari Urawa Red Diamonds, stadion ini kerap dipercaya menjadi tuan rumah berbagai laga besar. Mulai dari final turnamen domestik hingga pertandingan tim nasional Jepang.

Perjalanan menuju stadion sendiri menjadi bagian dari petualangan. Dari Yokohama, jaraknya sekitar 76 kilometer atau hampir dua jam perjalanan dengan kereta. Namun seperti halnya para peziarah sepak bola di mana pun berada, jarak terasa bukan masalah ketika tujuan akhirnya adalah stadion.

Sejak tiba di kawasan stadion, warna-warni atribut kedua kubu sudah mendominasi suasana. Ribuan pendukung datang membawa harapan yang sama: melihat tim kesayangan mengangkat trofi.

Sayangnya, harapan kami tidak berakhir dengan cerita bahagia.

Yokohama F. Marinos, tim yang kami dukung, harus mengakui keunggulan Shonan Bellmare dengan skor tipis 0-1. Peluit panjang berbunyi, para pemain Bellmare berpesta, sementara kubu Marinos hanya bisa menatap trofi yang gagal mereka bawa pulang.

Namun sepak bola sering kali menawarkan cerita yang lebih besar daripada sekadar hasil akhir.

Hal yang paling membekas justru datang dari tribun penonton. Di tengah rivalitas dan tensi pertandingan final, kedua kelompok suporter menunjukkan sikap yang patut diapresiasi. Tidak ada intimidasi antarsuporter, tidak ada provokasi berlebihan, apalagi keributan.

Kalau pun ada yang menjadi sasaran intimidasi, sepertinya hanya wasit.

Dan itu pun dilakukan secara demokratis oleh kedua kubu. Haha.

Mungkin itulah salah satu alasan mengapa pengalaman menonton sepak bola di Jepang selalu terasa istimewa. Kompetitif di lapangan, tetapi tetap penuh rasa hormat di tribun.

Hasil pertandingan mungkin tidak berpihak kepada kami hari ini. Namun perjalanan ke salah satu stadion paling ikonik di Jepang, atmosfer final yang luar biasa, dan pelajaran tentang budaya suporter yang dewasa membuat perjalanan ini tetap layak dikenang.

Sampai jumpa di pertandingan berikutnya.

Football is temporary, away days are forever.

Minggu, 21 Oktober 2018

A Day Trip to Mount Takao: Menikmati Alam di Pinggiran Tokyo


Kalau berbicara tentang destinasi alam di sekitar Tokyo, nama Gunung Takao (高尾山 / Mount Takao) hampir selalu masuk dalam daftar rekomendasi. Lokasinya yang berada di bagian barat Tokyo membuat gunung ini menjadi pilihan favorit bagi warga setempat maupun wisatawan yang ingin menikmati suasana pegunungan tanpa harus bepergian jauh atau menginap.

Akhir pekan ini, saya bersama beberapa teman berkesempatan mengunjungi Gunung Takao. Dari tempat tinggal kami di kawasan Gumyoji, Yokohama, perjalanan memakan waktu sekitar dua jam menggunakan kereta api. Meskipun harus berpindah kereta sebanyak empat kali, perjalanan terasa menyenangkan karena kami berangkat bersama teman-teman dari Yokohama National University (YNU) dan sudah merencanakan untuk bertemu dengan peserta dari kampus lain di lokasi.

Dengan ketinggian sekitar 599,5 meter di atas permukaan laut, Gunung Takao mungkin tidak terlalu tinggi jika dibandingkan dengan gunung-gunung lain di Jepang. Namun justru itulah daya tariknya. Gunung ini sangat ramah bagi pendaki pemula dan cocok dijadikan destinasi one-day trip dari Tokyo maupun Yokohama.

Terdapat enam jalur pendakian yang dapat dipilih untuk mencapai puncak. Kami memutuskan menggunakan Trail No. 1, jalur paling populer sekaligus yang paling mudah diakses. Jalurnya sudah tertata dengan baik dan sebagian besar berupa jalan beraspal, sehingga cukup nyaman untuk dilalui.

Perjalanan menuju puncak memakan waktu sekitar 90 menit dengan kecepatan santai. Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan hutan yang rindang, udara yang sejuk, serta sesekali bertemu pendaki lain yang datang dari berbagai negara.

Keberuntungan benar-benar berpihak kepada kami hari itu.

Sesampainya di puncak, langit terlihat cerah tanpa banyak awan. Dari area observasi, kami dapat melihat siluet megah Gunung Fuji berdiri di kejauhan dengan sangat jelas. Pemandangan yang sering muncul di kartu pos Jepang itu akhirnya bisa kami nikmati secara langsung.

Tidak hanya Gunung Fuji, dari puncak Takao kami juga dapat melihat hamparan kawasan metropolitan Tokyo yang membentang jauh di ufuk timur. Perpaduan antara panorama pegunungan dan lanskap kota modern menciptakan pemandangan yang sangat mengesankan.

Setelah menikmati suasana puncak dan menyantap bekal makan siang bersama, kami memutuskan untuk turun menggunakan chairlift. Pengalaman yang cukup unik karena bentuknya mirip gondola terbuka tanpa sabuk pengaman dan tanpa banyak pegangan. Sedikit menegangkan di awal, tetapi justru menjadi salah satu bagian paling seru dari perjalanan hari itu.

Mount Takao sekali lagi membuktikan bahwa kita tidak perlu pergi jauh dari Tokyo untuk menikmati alam Jepang yang indah. Dengan akses yang mudah, jalur pendakian yang bersahabat, dan bonus pemandangan Gunung Fuji saat cuaca cerah, tempat ini layak masuk daftar destinasi bagi siapa saja yang berkunjung ke Jepang.

It was fun. See you again, Mount Takao!















Senin, 01 Oktober 2018

Menyapa Yokohama


Hari-hari pertama di Jepang rasanya masih seperti mimpi yang berjalan pelan. Setelah sekian lama hanya melihatnya dari foto, film, dan cerita orang lain, akhirnya saya benar-benar menginjakkan kaki di kota yang akan menjadi tempat singgah saya untuk beberapa waktu ke depan: Yokohama.

Secara harfiah, Yokohama berarti "di samping pantai". Nama yang terasa sederhana, tetapi cukup menggambarkan karakter kota ini. Sebagai kota pelabuhan terbesar di Jepang dan kota terbesar kedua setelah Tokyo, Yokohama memiliki suasana yang berbeda. Tidak sepadat Tokyo, tetapi tetap hidup dan modern.

Foto ini saya ambil di kawasan Minato Mirai, yang menurut sepupu saya merupakan salah satu pusat keramaian anak-anak muda Yokohama. Sekali melihat sekeliling, saya langsung paham alasannya. Di sini berdiri pusat perbelanjaan, taman hiburan dengan bianglala raksasa yang menjadi ikon kawasan, deretan kafe, hingga berbagai museum yang menghadap ke teluk. Saat sore menjelang malam, lampu-lampu kota mulai menyala dan suasananya terasa sangat berbeda dibanding siang hari.

Yang membuat saya semakin menyukai tempat ini adalah lokasinya yang tidak terlalu jauh dari tempat saya tinggal. Jaraknya sekitar enam kilometer dan bisa ditempuh hanya dengan satu kali perjalanan bus. Sebenarnya ada pilihan naik kereta bawah tanah yang mungkin lebih cepat dan praktis. Namun entah kenapa saya selalu lebih menyukai perjalanan di atas permukaan. Duduk di dekat jendela bus sambil melihat jalanan, bangunan, dan aktivitas warga terasa jauh lebih menyenangkan daripada berada di dalam terowongan tanpa pemandangan.

Sepupu saya juga bercerita bahwa kawasan ini cukup sering dijadikan lokasi syuting film dan drama. Saya tidak tahu persis film apa saja yang pernah mengambil gambar di sini, tetapi setelah berjalan-jalan sebentar, rasanya mudah memahami alasannya. Ada sesuatu yang fotogenik dari perpaduan laut, gedung-gedung modern, dan suasana pelabuhan yang membuat setiap sudutnya terlihat seperti adegan film.

Untuk sementara waktu ke depan, kota ini akan menjadi bagian dari keseharian saya. Mungkin beberapa bulan lagi, perjalanan dengan bus menuju Minato Mirai tidak lagi terasa istimewa. Namun hari ini, sebagai orang yang baru datang, semuanya masih terasa baru, menarik, dan layak dicatat dalam buku harian.

Mari kita lihat cerita apa saja yang akan diberikan Yokohama berikutnya.

Rabu, 22 Agustus 2018

Kabaddi: Galasin Versi Atlet Nasional


Hari ini niatnya nonton final badminton. 
Tapi seperti biasa, manusia boleh berencana, tiket yang menentukan.

Karena kehabisan tiket, akhirnya saya malah nyasar ke pertandingan yang sebelumnya bahkan tidak pernah terpikir untuk ditonton. Namanya Kabaddi, olahraga tradisional dari India yang ternyata sudah cukup lama dipertandingkan di Asian Games.

Awalnya saya duduk dengan ekspresi yang sama seperti orang yang salah masuk ruang ujian. Bingung. Ini olahraga apa? Aturannya bagaimana? Kok pemainnya saling tarik, pegang, dan banting?

Setelah beberapa menit mengamati, ternyata konsepnya cukup sederhana. Dalam satu pertandingan ada dua tim yang masing-masing berisi tujuh pemain. Secara bergantian, satu pemain masuk ke area lawan untuk menyentuh pemain lawan lalu berusaha kembali ke wilayah timnya sendiri. Kedengarannya mudah, sampai melihat kenyataan bahwa pihak lawan tentu tidak akan membiarkan dia pulang dengan selamat.

Semakin lama menonton, semakin terasa familiar. Rasanya seperti melihat perpaduan permainan masa kecil yang dibesarkan menjadi olahraga profesional. Ada unsur galasin, ada sedikit benteng, ditambah sentuhan permainan "mundur tiga langkah" yang dulu sering muncul di komik Donal Bebek. Bedanya, versi ini dimainkan oleh atlet-atlet berbadan kekar yang tidak ragu saling menjatuhkan satu sama lain.

Saat itu saya langsung berpikir, jangan bersedih wahai anak-anak yang dulu hobi main galasin atau benteng di lapangan sekolah. Ternyata ada jalur karier internasional untuk keterampilan tersebut, meskipun syarat tambahannya adalah memiliki badan yang cukup kuat untuk bertahan dari bantingan.

Yang menarik dari pengalaman hari ini justru bukan pertandingan itu sendiri, melainkan bagaimana saya menemukan sesuatu yang sama sekali baru gara-gara rencana awal gagal. Kalau tiket badminton masih tersedia, kemungkinan besar saya tidak akan pernah tahu bahwa ada olahraga bernama Kabaddi dan tidak akan pernah menghabiskan satu sore dengan serius mengamati orang-orang berusaha menyentuh lawan lalu kabur sebelum ditangkap.

Kadang-kadang hal paling menarik dalam perjalanan justru muncul ketika rencana utama tidak berjalan sesuai harapan.

Meski begitu, lain kali kalau ada tiket final badminton, saya tetap pilih badminton.

Selasa, 14 Agustus 2018

Salam Ngudi Rejeki


Some people come into our lives for a season, while others become part of our story forever. Looking back at our university years, I realize how fortunate I was to have a friend like you.

We started as classmates, sharing lecture rooms, assignments, exams, and countless deadlines. Somewhere between group projects, late-night discussions, spontaneous trips, and endless cups of coffee, you became much more than a friend from college. You became family.

Thank you for being one of the few people who always accepted me for who I am. You never expected perfection. You tolerated my bad habits, my temperament, my stubbornness, my sarcastic jokes, and all the imperfections that come with being human. Instead of trying to change me, you chose to understand me, and that is something I will always appreciate.

Through the years, we shared more than just classes and hobbies. We shared dreams, frustrations, failures, victories, heartbreaks, and moments that shaped who we are today. Thank you for listening to my stories, especially during difficult times, and for always being willing to share your own. Some conversations may have seemed ordinary at the time, but they became memories that I will carry with me for the rest of my life.

One of the things I admire most about our friendship is how effortless it has always felt. No need to pretend, no need to impress. We could spend hours talking about serious life matters, or laugh endlessly over the most ridiculous things. We shared interests, passions, and hobbies, but more importantly, we shared trust and mutual respect.

As we continue our own journeys and pursue different paths, I hope you know how much your friendship has meant to me. The distance, the years, and the responsibilities of adulthood may change many things, but they will never erase the memories we created together or the gratitude I feel for having you in my life.

Thank you for every lesson, every laugh, every piece of advice, every honest conversation, and every moment of support. Thank you for being there during some of the most important years of my life.

I sincerely wish you happiness, good health, success, and countless opportunities wherever life takes you. May you continue to grow, achieve your dreams, and find fulfillment in everything you do.

No matter where we end up, a part of me will always remember those university days and be grateful that our paths crossed.

Until we meet again, my friend.

Salam Ngudi Rejeki. 🍻
See you in Tokyo

Jumat, 05 Mei 2017

Keribo

Ada beberapa hal yang hanya bisa dilakukan seorang Joko Heratmo pada masa-masa tertentu dalam hidupnya.

Salah satunya adalah memiliki rambut keribo.

Percayalah, ini bukan perkara sederhana.

Dulu, saat masih menyandang status mahasiswa, rambut keribo bukan sekadar gaya rambut. Keribo adalah identitas. Keribo adalah kebebasan. Keribo adalah pernyataan bahwa hidup masih terlalu santai untuk dipusingkan oleh aturan penampilan.

Pada masa itu, rambut bisa tumbuh ke segala arah tanpa ada yang protes. Mau mirip pemain bola Brasil era 70-an? Silakan. Mau seperti vokalis band indie yang albumnya cuma laku 37 kopi? Tidak masalah. Mau seperti mikrofon karaoke? Bahkan lebih baik.

Pokoknya selama masih mahasiswa, rambut adalah wilayah kedaulatan pribadi.

Lalu kehidupan berubah.

Ijazah didapat.

Pekerjaan datang.

Status berubah menjadi Pegawai Negeri Sipil.

Dan sejak saat itu, hubungan saya dengan rambut keribo memasuki masa-masa sulit.

Bukan berarti ada aturan tertulis yang melarang keribo. Tidak ada. Namun ada sesuatu yang jauh lebih kuat daripada aturan tertulis.

Namanya adalah gunjingan.

Kalau rambut mulai sedikit panjang:

"Wah, lagi sibuk ya?"

Kalau jambang mulai tumbuh:

"Mas lagi cuti dari dunia birokrasi?"

Kalau brewok mulai terlihat:

"Ikut audisi band metal, Pak?"

Belum apa-apa sudah menjadi bahan diskusi publik.

Akhirnya, demi menjaga stabilitas nasional dan ketertiban lingkungan kerja, rambut selalu dipangkas sebelum sempat mencapai cita-citanya menjadi keribo.

Tahun demi tahun berlalu.

Keribo hanya tinggal kenangan.

Sampai takdir kembali mempertemukan saya dengan dunia kampus.

Ya, saya kembali menjadi mahasiswa.

Mahasiswa. Lagi.

Memang usianya sudah tidak sama dengan mahasiswa yang sibuk mengejar tanda tangan dosen pembimbing sambil membawa map warna-warni. Namun secara administratif, statusnya tetap mahasiswa.

Dan setiap mahasiswa memiliki hak asasi yang tidak tertulis.

Hak untuk begadang.

Hak untuk menunda tugas.

Hak untuk mengeluh tentang deadline.

Dan yang terpenting...

Hak untuk memelihara rambut keribo.

Saya mulai membayangkan masa depan yang indah.

Bangun pagi tanpa harus memikirkan apakah rambut sudah cukup rapi.

Berangkat ke kampus dengan rambut yang volumenya lebih besar daripada isi dompet.

Berfoto bersama teman-teman dengan kepala yang terlihat seperti awan cumulonimbus.

Sungguh masa depan yang menjanjikan.

Lagi pula, rambut keribo memiliki banyak manfaat.

Salah satunya adalah fungsi historis yang sudah terbukti sejak zaman mahasiswa.

Sebagai tempat penyimpanan kertas contekan darurat.

Saya tidak mengatakan pernah melakukannya.

Saya hanya mengatakan bahwa secara teoritis, rambut keribo memiliki kapasitas penyimpanan yang cukup mengesankan.

Tentu sekarang fungsi itu sudah tidak relevan lagi. Selain karena ujian modern semakin canggih, saya juga sudah terlalu tua untuk melakukan hal-hal kreatif seperti itu.

Meski begitu, tetap saja ada rasa rindu.

Rindu pada masa ketika rambut bisa tumbuh sesuka hati.

Rindu pada masa ketika urusan terbesar dalam hidup adalah memilih antara masuk kelas atau lanjut tidur.

Rindu pada masa ketika keribo bukan masalah.

Jadi sekarang saya hanya bisa menunggu.

Menunggu rambut ini tumbuh perlahan.

Menunggu volume yang dulu pernah berjaya kembali hadir.

Menunggu momen ketika cermin akhirnya berkata:

"Ya. Ini dia. Keribo telah kembali."

Keribo, tunggu Joko ya.

Sebentar lagi kita bersama lagi.

Semoga kali ini tidak kalah duluan oleh tukang cukur.




Selasa, 07 Maret 2017

Belajar Kontrak FIDIC di Negeri Sakura: Pengalaman Pertama Bertugas ke Jepang


Ada kalanya sebuah perjalanan bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Ia menjadi titik balik, membuka wawasan baru, sekaligus meninggalkan kenangan yang akan terus dikenang sepanjang perjalanan karier. Begitulah yang saya rasakan ketika mendapatkan kesempatan mengikuti program pelatihan di Jepang pada pertengahan tahun 2016.

Sejujurnya, saya tidak pernah membayangkan akan memperoleh penugasan ke luar negeri, terlebih lagi ke Jepang. Selama ini, negeri yang terkenal dengan bunga sakura, kereta cepat, dan kedisiplinan masyarakatnya itu hanya saya kenal melalui buku, televisi, atau brosur-brosur promosi maskapai penerbangan yang sering menghiasi ruang tunggu bandara.

Karena itu, ketika mendapatkan kabar bahwa saya dipercaya menjadi salah satu peserta program pelatihan yang diselenggarakan melalui kerja sama antara LKPP dan JICA, perasaan saya bercampur aduk antara bangga, bersyukur, dan tidak percaya.

Bagi seorang pegawai yang saat itu masih relatif muda, kesempatan tersebut merupakan kehormatan yang luar biasa. Tidak hanya karena dapat mewakili instansi dalam kegiatan internasional, tetapi juga karena perjalanan itu menjadi pengalaman pertama saya bepergian ke luar Indonesia menggunakan paspor dinas. Sebuah pengalaman yang hingga hari ini masih saya ingat dengan sangat jelas.

Pada tanggal 18 Juli 2016, saya bersama sembilan orang rekan lainnya memulai perjalanan menuju Jepang. Kami berangkat menggunakan maskapai ANA (All Nippon Airways), salah satu maskapai kebanggaan Jepang yang terkenal dengan pelayanan dan ketepatan waktunya.

Bagi sebagian orang, penerbangan selama delapan jam mungkin terdengar biasa. Namun bagi saya, perjalanan tersebut terasa begitu istimewa. Di balik jendela pesawat yang sesekali memperlihatkan hamparan awan putih, saya membayangkan seperti apa kehidupan di negara yang selama ini sering disebut sebagai salah satu negara paling maju di dunia.

Setelah menempuh penerbangan yang cukup panjang, pesawat akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Haneda, Tokyo. Kesan pertama yang saya rasakan begitu sederhana namun kuat: semuanya tampak tertib.

Mulai dari proses kedatangan, pengambilan bagasi, hingga sistem transportasi bandara berjalan dengan rapi dan efisien.

Setelah keluar dari area kedatangan, kami disambut oleh perwakilan JICA yang kemudian mengantar kami menuju tempat pelatihan sekaligus akomodasi selama berada di Jepang, yaitu JICA Tokyo International Center (TIC) yang berlokasi di kawasan Nishihara, Shibuya.

Bagi banyak orang, nama Shibuya identik dengan kawasan bisnis dan pusat aktivitas anak muda Tokyo. Namun di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan tersebut, JICA TIC hadir sebagai lingkungan yang nyaman untuk belajar dan bertukar pengalaman dengan peserta dari berbagai negara.

Pelatihan yang kami ikuti merupakan bagian dari program kerja sama antara LKPP dan JICA yang bertajuk Knowledge Co-Creation Program (Country Focus) on Project for Strengthening of Public Procurement System in Japan 2016.

Fokus utama pelatihan adalah pengelolaan kontrak proyek konstruksi berdasarkan standar FIDIC (Federation Internationale Des Ingenieurs-Conseils), organisasi internasional yang menjadi rujukan berbagai proyek konstruksi di dunia.

Bagi Indonesia, pemahaman terhadap kontrak FIDIC menjadi sangat penting karena sebagian besar proyek yang dibiayai melalui skema Official Development Assistance (ODA) Pemerintah Jepang menggunakan standar kontrak tersebut.

Selama pelatihan, kami berkesempatan belajar langsung dari Professor Shunji Kusayanagi, Ph.D., seorang praktisi sekaligus akademisi yang memiliki pengalaman lebih dari empat dekade di bidang konstruksi internasional.

Beliau bukan hanya memahami teori, tetapi juga pernah terlibat langsung dalam berbagai proyek pembangunan di banyak negara, termasuk Indonesia.

Salah satu cerita yang paling menarik perhatian peserta adalah ketika beliau mengenang masa tugasnya di Batam pada era 1970-an. Saat itu beliau terlibat dalam proyek pembangunan Pelabuhan Batu Ampar yang menjadi salah satu infrastruktur penting bagi perkembangan kawasan tersebut.

Meskipun memiliki pengalaman dan reputasi yang luar biasa, Prof. Kusayanagi tampil sangat sederhana. Suasana kelas yang seharusnya formal sering berubah menjadi diskusi yang hangat dan interaktif. Beliau tidak segan menjawab pertanyaan peserta satu per satu, bahkan kerap berbagi pengalaman lapangan yang tidak dapat ditemukan di dalam buku.

Dari beliau kami belajar bahwa keberhasilan sebuah proyek konstruksi bukan hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh komunikasi, manajemen risiko, dan kemampuan para pihak untuk menyelesaikan permasalahan secara profesional.

Salah satu bagian paling menarik dari program ini adalah kegiatan site visit yang diselenggarakan pada akhir minggu pertama.

Jika selama beberapa hari sebelumnya kami belajar di dalam kelas, kali ini kami diajak melihat langsung bagaimana proyek konstruksi dikelola di Jepang.

Lokasi pertama yang kami kunjungi adalah proyek pembangunan terowongan di kawasan Tajiri yang merupakan bagian dari proyek jalan tol lingkar luar Tokyo.

Melihat langsung proses pembangunan infrastruktur berskala besar memberikan perspektif yang berbeda dibandingkan hanya mempelajari dokumen kontrak di ruang kelas. Kami dapat melihat bagaimana aspek keselamatan kerja diterapkan secara ketat, bagaimana koordinasi antarpihak dilakukan, serta bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi pekerjaan.

Kunjungan berikutnya tidak kalah menarik. Kami diajak melihat pembangunan venue cabang olahraga dayung yang dipersiapkan untuk Olimpiade Tokyo 2020.

Saat itu, Olimpiade masih empat tahun lagi. Namun sebagian pekerjaan konstruksi sudah berjalan dengan perencanaan yang sangat matang.

Hal tersebut menunjukkan bagaimana Jepang mempersiapkan sebuah kegiatan besar jauh sebelum pelaksanaannya.

Selama hampir dua minggu berada di Jepang, saya menyadari bahwa pelajaran yang kami peroleh tidak hanya berasal dari ruang kelas maupun lokasi proyek.

Ada banyak hal lain yang diam-diam mengajarkan kami nilai-nilai penting.

Kami belajar tentang budaya tepat waktu yang bukan sekadar slogan.

Kami melihat bagaimana masyarakat menghormati antrean tanpa perlu diawasi.

Kami menyaksikan bagaimana fasilitas umum dijaga dengan penuh tanggung jawab.

Kami merasakan bagaimana sebuah sistem dapat berjalan dengan baik ketika setiap orang menjalankan perannya secara disiplin.

Hal-hal sederhana tersebut mungkin terlihat biasa bagi masyarakat Jepang. Namun bagi kami, pengalaman tersebut menjadi bahan refleksi yang sangat berharga.

Sebagai bagian dari penutupan program, setiap peserta diwajibkan menyusun action plan yang berkaitan dengan implementasi prinsip-prinsip kontrak FIDIC di lingkungan kerja masing-masing.

Rencana tersebut kemudian dipresentasikan di hadapan perwakilan JICA sebagai bentuk komitmen bahwa ilmu yang diperoleh selama pelatihan tidak berhenti sebagai pengetahuan semata, melainkan dapat diterapkan setelah kembali ke Indonesia.

Pada hari terakhir, satu per satu peserta dipanggil ke depan untuk menerima sertifikat pelatihan.

Tepuk tangan terdengar ketika nama peserta disebutkan. Kamera sesekali mengabadikan momen tersebut.

Namun ketika memegang sertifikat itu, saya menyadari bahwa nilai sebenarnya dari perjalanan ini tidak terletak pada selembar kertas yang saya bawa pulang.

Yang jauh lebih berharga adalah pengalaman, wawasan, dan pelajaran hidup yang kami peroleh selama berada di Negeri Sakura.

Dari Jepang, kami tidak hanya belajar tentang kontrak FIDIC dan manajemen proyek konstruksi.

Kami juga belajar tentang profesionalisme, kedisiplinan, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap waktu.

Pelajaran-pelajaran itulah yang hingga hari ini masih saya bawa dalam perjalanan karier sebagai aparatur sipil negara.

Dan mungkin, itulah oleh-oleh terbaik yang bisa dibawa pulang dari sebuah perjalanan dinas ke luar negeri.






Senin, 03 Februari 2014

Kepiting dan Harapan Palsu

Pada suatu hari yang cerah di sebuah pantai yang bahkan tidak masuk dalam peta wisata, seekor kepiting betina sedang berjalan miring seperti biasa.

Maklum, dia kepiting.

Tiba-tiba dari kejauhan ia melihat sesuatu yang membuat kedua matanya melotot.

Seekor kepiting jantan.

Tapi ada yang aneh.

Kepiting itu berjalan lurus.

Lurus.

Tidak miring.

Tidak zig-zag.

Tidak seperti sedang mencari sinyal WiFi.

Benar-benar lurus.

Si kepiting betina langsung terpesona.

"Ya ampun... selama hidupku baru kali ini aku lihat kepiting jalan lurus. Ini pasti kepiting alpha. Kepiting pilihan. Kepiting premium."

Dengan jantung berdebar dan insang yang entah kenapa ikut bergetar, ia menghampiri si jantan.

"Mas, kamu beda dari yang lain."

"Yoi."

"Kamu spesial."

"Memang."

"Kawinin aku mas."

"Oke."

Karena mereka kepiting dan tidak suka bertele-tele, mereka pun langsung menikah.

Malam itu pesta berlangsung meriah.

Udang jadi panitia.

Kerang jadi penerima tamu.

Bintang laut jadi fotografer.

Seekor cumi-cumi bahkan menyumbang lagu.

Semua berjalan sempurna.

Namun keesokan harinya terjadi sesuatu yang mengejutkan.

Si kepiting betina melihat suaminya berjalan.

Dan...

Miring.

Miring seperti kepiting pada umumnya.

Miring seperti kendaraan habis nabrak trotoar.

Miring seperti kehidupan setelah tanggal tua.

"Kok lo jalannya miring?" teriak si betina.

"Lah emang kenapa?"

"Kemarin gue lihat lo jalan lurus!"

"Oh itu..."

"Jangan bilang selama ini lo bohong!"

Si jantan menghela napas panjang.

Lalu berkata pelan.

"Sorry babe."

"APA?!"

"Tadi malam aku mabuk."

Si betina terdiam.

Burung camar yang lewat ikut terdiam.

Ombak berhenti sebentar.

Seekor ikan teri menjatuhkan sarapannya.

Dan sejak saat itu si kepiting betina belajar satu pelajaran penting dalam hidup:

Jangan mengambil keputusan besar hanya karena melihat seseorang berjalan lurus selama lima menit.

-TAMAT-