Kontributor

Kamis, 04 Juni 2026

Deposito di Musim Ketidakpastian

Dira menatap layar ponselnya sambil menyeruput kopi yang mulai dingin.

Portofolio investasinya sedang tidak baik-baik saja.

Saham teknologi yang dulu menjadi kebanggaannya turun belasan persen dalam beberapa bulan. Reksa dana saham ikut melemah. Bahkan grup WhatsApp investasi yang biasanya ramai dengan tangkapan layar cuan kini lebih sering dipenuhi tanda tanya.

"Pasar lagi nggak jelas," tulis seseorang.

Dan Dira setuju.

Setiap pagi berita yang muncul hampir selalu sama. Konflik geopolitik, perlambatan ekonomi global, suku bunga, inflasi, dan berbagai istilah yang membuat masa depan terasa semakin sulit ditebak.

Malam itu ia bertemu Rangga, teman kuliahnya yang bekerja di sektor keuangan.

"Aku capek," kata Dira. "Rasanya tiap buka aplikasi investasi malah stres."

Rangga tertawa kecil.

"Mungkin karena kamu selama ini fokus cari keuntungan, bukan cari ketenangan."

"Ketenangan nggak bikin kaya."

"Benar. Tapi panik juga nggak bikin kaya."

Dira terdiam.

Untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa investasi bukan hanya soal mengejar return tertinggi. Kadang soal memastikan bisa tidur nyenyak di malam hari.

Sejak saat itu ia mulai mengubah strategi.

Sebagian dana tetap ia simpan di instrumen yang berpotensi tumbuh tinggi. Sebagian lagi dipindahkan ke instrumen yang lebih stabil.

Bukan karena takut mengambil risiko.

Melainkan karena ia akhirnya mengerti bahwa diversifikasi bukan tentang pesimis terhadap masa depan.

Melainkan tentang menerima bahwa masa depan memang tidak pernah bisa ditebak.

Dan di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, mungkin keputusan finansial terbaik bukanlah yang paling berani.

Tetapi yang membuat kita tetap tenang saat semua orang sedang panik.

Senin, 01 Juni 2026

Tenggelam dalam Waktu

Malam itu kota terlihat seperti seseorang yang kelelahan. Hujan turun sejak sore dan belum benar-benar berhenti, hanya berubah menjadi gerimis tipis yang membuat lampu-lampu jalan tampak kabur dari balik jendela. Di sudut sebuah bar yang tidak terlalu ramai, seorang pria duduk sendirian dengan segelas anggur merah di depannya. Musik mengalun pelan dari speaker tua yang tergantung di atas rak botol. Lagu-lagu yang diputar adalah lagu-lagu lama, jenis lagu yang biasanya hanya dicari oleh orang-orang yang sedang ingin mengenang sesuatu atau melupakan sesuatu. Sulit membedakan keduanya. Ia memutar perlahan gelas anggurnya, memperhatikan cairan merah gelap yang berputar membentuk lingkaran kecil sebelum kembali tenang. Sudah hampir satu jam ia duduk di sana. Anggurnya belum habis, tetapi pikirannya sudah pergi ke mana-mana.

Ada masa ketika ia percaya bahwa semua hal bisa diperbaiki selama seseorang cukup sabar. Bahwa hubungan yang retak bisa diperbaiki dengan ketulusan. Bahwa mimpi yang gagal bisa dicapai dengan kerja keras. Bahwa kehilangan hanya soal waktu sebelum akhirnya tergantikan oleh sesuatu yang baru. Dulu ia percaya hidup bekerja seperti itu. Hitam dan putih. Sebab dan akibat. Jika seseorang memberi yang terbaik, maka hidup akan membalasnya dengan sesuatu yang baik pula. Namun semakin bertambah usia, ia semakin menyadari bahwa dunia tidak pernah membuat perjanjian seperti itu dengan siapa pun. Kadang seseorang sudah memberikan segalanya dan tetap kehilangan. Kadang seseorang sudah menunggu begitu lama dan yang datang hanya kesunyian. Kadang sebuah cerita berakhir bukan karena kurang diperjuangkan, melainkan karena memang sudah waktunya berakhir.

Mungkin itulah yang paling sulit diterima manusia. Bukan kehilangan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa tidak semua kehilangan bisa dicegah. Tidak semua perpisahan bisa diperbaiki. Tidak semua cerita memiliki bab penutup yang memuaskan. Ia pernah menghabiskan waktu bertahun-tahun mencoba memahami hal itu. Mencari jawaban atas berbagai pertanyaan yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban. Mengapa seseorang pergi. Mengapa keadaan berubah. Mengapa hidup tidak berjalan seperti yang dibayangkan. Semakin keras ia mencari, semakin jauh ia tersesat. Sampai akhirnya ia menyadari bahwa sebagian pertanyaan memang tidak ditakdirkan untuk dijawab. Sebagian hanya ditakdirkan untuk diterima.

Ia menatap keluar jendela. Di seberang jalan, seorang pria berlari kecil sambil melindungi kepalanya dengan tas kerja. Sepasang anak muda berjalan berdekatan di bawah satu payung. Lampu kendaraan memantul di aspal yang basah. Kota tetap bergerak seperti biasa. Tidak peduli berapa banyak hati yang sedang patah malam itu. Tidak peduli siapa yang sedang berduka atau siapa yang sedang jatuh cinta. Kota selalu menemukan cara untuk terus hidup. Dan mungkin itulah yang selama ini gagal ia lakukan. Ia terlalu lama tinggal di satu tempat yang sudah lama ditinggalkan waktu.

Awalnya ia mengira yang dirindukannya adalah seseorang. Wajah tertentu. Senyuman tertentu. Suara tertentu yang pernah mengisi hari-harinya. Namun setelah sekian lama, ia menyadari bahwa yang membuatnya terjebak bukanlah seseorang. Yang membuatnya tidak mampu bergerak adalah bayangan tentang kehidupan yang tidak pernah terjadi. Ia merindukan kemungkinan-kemungkinan. Masa depan yang pernah ia susun di dalam kepala. Rencana-rencana yang pernah terasa begitu nyata. Versi hidup yang tidak pernah sempat diwujudkan. Dan semakin lama ia memikirkannya, semakin ia sadar bahwa selama ini dirinya bukan sedang mengenang. Ia sedang menetap. Ia menjadikan masa lalu sebagai tempat tinggal, lalu bertanya-tanya mengapa hidupnya terasa berhenti.

Musik kembali berganti. Kali ini sebuah lagu tentang seseorang yang lelah menunggu. Ia tersenyum kecil. Ada sesuatu yang lucu tentang manusia. Mereka sering kali lebih setia kepada kenangan daripada kepada dirinya sendiri. Mereka rela menghabiskan bertahun-tahun memelihara luka hanya karena takut kehilangan satu-satunya hal yang masih menghubungkan mereka dengan masa lalu. Padahal kenangan tidak pernah meminta untuk disimpan selama itu. Kenangan hanya ingin dikenang sesekali, bukan ditinggali setiap hari.

Ia mengangkat gelas anggurnya dan meneguk sisanya perlahan. Rasa hangat menyebar di tenggorokannya. Di luar, hujan mulai reda. Langit masih gelap, tetapi jalanan terlihat lebih terang daripada sebelumnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tidak perlu lagi mencari jawaban. Tidak perlu lagi menunggu seseorang kembali. Tidak perlu lagi berharap pada cerita yang sudah selesai bertahun-tahun lalu. Ada rasa damai yang datang secara perlahan, seperti udara dingin setelah hujan panjang. Tidak mengubah apa pun, tetapi cukup untuk membuat seseorang bisa bernapas lebih lega.

Ia meletakkan gelas kosongnya di atas meja dan berdiri. Tidak ada momen besar. Tidak ada kesadaran yang menggelegar seperti dalam film-film. Hanya seorang pria yang akhirnya lelah membawa beban yang seharusnya sudah ditinggalkan sejak lama. Saat melangkah menuju pintu keluar, ia sempat menoleh ke arah kursi yang baru saja ditinggalkannya. Lalu tersenyum. Karena ia tahu sesuatu akhirnya tertinggal di sana malam itu. Bukan kenangannya. Bukan masa lalunya. Melainkan keinginannya untuk terus hidup di dalam keduanya.

Di luar, udara malam terasa lebih dingin dari biasanya. Namun langkahnya terasa jauh lebih ringan. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia tidak merasa sedang meninggalkan sesuatu. Ia merasa sedang kembali. Kembali kepada dirinya sendiri, yang selama ini hilang karena terlalu sibuk mengejar bayangan masa lalu. Karena pada akhirnya, yang membuat seseorang tenggelam bukanlah waktu. Yang membuat seseorang tenggelam adalah ketidakmampuannya menerima bahwa waktu tidak pernah menunggu siapa pun.

Jumat, 01 Mei 2026

Bertahan dan Terluka

Tidak ada yang benar-benar menyadari kapan seseorang mulai lelah.

Karena kelelahan orang dewasa tidak selalu terlihat.

Mereka tetap datang ke kantor tepat waktu. Tetap menghadiri rapat. Tetap membalas email dengan kalimat yang sopan. Tetap tersenyum ketika bertemu rekan kerja di pantry. Tetap tertawa ketika mendengar candaan yang sebenarnya tidak terlalu lucu.

Dari luar semuanya terlihat baik-baik saja. Begitu juga dengan dirinya.

Pagi itu ia datang seperti biasa. Menempelkan kartu akses di pintu masuk gedung, menyapa satpam yang berjaga, lalu naik lift menuju lantai tempatnya bekerja. Tidak ada yang berbeda. Laptop menyala. Email masuk seperti peluru yang tidak pernah berhenti datang. Grup WhatsApp kantor ramai dengan berbagai permintaan yang semuanya dianggap mendesak.

Rutinitas yang sama. Hari yang sama.

Dan entah sudah berapa lama ia menjalaninya tanpa benar-benar merasakan apa pun.

Belakangan ini ia sering merasa hidup berjalan menggunakan mode otomatis. Bangun pagi, bekerja, pulang malam, tidur, lalu mengulang semuanya lagi keesokan hari. Kadang akhir pekan datang, tetapi rasanya tidak cukup lama untuk membuat dirinya benar-benar beristirahat.

Yang membuat semuanya lebih berat adalah karena beberapa bulan terakhir ada sesuatu yang hilang dari hidupnya.

Atau mungkin seseorang.

Ia sendiri tidak yakin.

Yang ia tahu, ada ruang kosong yang tidak pernah berhasil diisi oleh pekerjaan, lembur, kopi, ataupun kesibukan.

Awalnya ia berpikir waktu akan menyelesaikannya.

Bukankah semua orang selalu berkata begitu?

"Nanti juga sembuh."

"Nanti juga terbiasa."

"Nanti juga lupa."

Masalahnya, waktu ternyata tidak bekerja secepat yang dibayangkan.

Semakin lama, justru semakin banyak kenangan yang muncul tanpa diminta.

Saat makan siang sendirian, ia teringat seseorang yang dulu selalu menanyakan menu makan hari itu.

Saat perjalanan pulang, ia teringat percakapan-percakapan kecil yang dulu terasa biasa tetapi sekarang justru paling dirindukan.

Saat melihat notifikasi ponsel menyala, ada bagian kecil dari dirinya yang masih berharap nama tertentu muncul di layar.

Padahal ia tahu itu tidak akan terjadi.

Sudah terlalu lama.

Terlalu banyak yang berubah.

Namun harapan memang sering kali lebih keras kepala daripada logika.

Suatu malam ia masih berada di kantor ketika hampir semua orang sudah pulang. Lampu sebagian ruangan dimatikan. Suara pendingin udara terdengar lebih jelas dari biasanya. Dari jendela besar di samping meja kerjanya, lampu-lampu kota terlihat seperti bintang yang jatuh ke bumi.

Ia menutup laptop dan bersandar di kursinya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia membiarkan dirinya diam.

Tidak membuka email.

Tidak memeriksa pesan.

Tidak mencari distraksi.

Hanya diam.

Dan di tengah kesunyian itu, ia akhirnya mengakui sesuatu yang selama ini selalu dihindari.

Ia lelah.

Bukan karena pekerjaan.

Bukan karena target.

Bukan karena rapat yang tidak ada habisnya.

Ia lelah karena terlalu lama berharap.

Terlalu lama menunggu sesuatu yang tidak akan kembali.

Terlalu lama meyakinkan dirinya bahwa semua akan baik-baik saja jika ia cukup sabar.

Padahal hidup tidak selalu memberi kesempatan kedua.

Ada orang yang pergi dan tidak kembali.

Ada cerita yang selesai tanpa penjelasan.

Ada harapan yang memang harus dikuburkan agar seseorang bisa melanjutkan hidupnya.

Malam itu ia tidak menangis.

Tidak ada adegan dramatis.

Tidak ada keputusan besar yang mengubah hidup dalam sekejap.

Yang ada hanya seorang pegawai kantoran yang duduk sendirian di depan layar laptop yang sudah gelap, mencoba berdamai dengan kenyataan bahwa masa lalu tidak bisa diperbaiki.

Dan mungkin itu cukup.

Karena menerima kenyataan ternyata jauh lebih menenangkan daripada terus menolaknya.

Ia berdiri, memasukkan laptop ke dalam tas, lalu berjalan menuju lift. Ketika pintu lift menutup, ia sempat melihat pantulan dirinya di dinding stainless yang mengilap.

Wajahnya terlihat lelah.

Tetapi ada sesuatu yang berbeda.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak lagi berharap waktu berputar mundur.

Ia tidak lagi berharap seseorang kembali.

Ia tidak lagi berharap hidup mengembalikan apa yang telah hilang.

Ia hanya berharap satu hal sederhana.

Besok pagi, ketika alarm kembali berbunyi dan hari baru dimulai, ia bisa melangkah sedikit lebih ringan daripada hari ini.

Karena kadang-kadang, bentuk keberanian terbesar orang dewasa bukanlah mengejar sesuatu.

Melainkan menerima bahwa beberapa hal memang tidak ditakdirkan untuk bertahan, lalu tetap memilih datang bekerja keesokan paginya seolah dunia baik-baik saja.

Padahal di dalam dirinya, ada luka yang masih perlahan belajar sembuh.

Rabu, 01 April 2026

Pendengar Terbaik

Ada satu posisi yang jarang dibicarakan dalam sebuah hubungan. Bukan sebagai pasangan, bukan juga sebagai mantan. Posisi itu adalah seseorang yang selalu ada untuk mendengarkan, tetapi hampir tidak pernah menjadi orang yang dipilih. Pria itu berada di posisi tersebut lebih lama daripada yang ingin ia akui. Awalnya semua terasa biasa saja. Mereka hanya dua orang yang kebetulan cocok untuk mengobrol. Tidak ada perasaan istimewa. Tidak ada niat untuk jatuh cinta. Perempuan itu sering bercerita tentang banyak hal, mulai dari pekerjaan yang melelahkan, keluarga yang kadang sulit dipahami, hingga keresahan-keresahan kecil yang muncul menjelang tidur. Ia mendengarkan seperti teman pada umumnya. Menanggapi seperlunya. Sesekali memberi saran. Sesekali hanya menjadi tempat pelampiasan ketika perempuan itu sedang ingin mengeluh. Namun waktu memiliki kebiasaan buruk; ia sering membuat seseorang merasa nyaman sebelum menyadari bahwa kenyamanan itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Semakin sering mereka berbicara, semakin banyak hal yang ia ketahui tentang perempuan itu. Ia tahu kapan perempuan itu sedang bahagia hanya dari cara mengetik pesannya. Ia tahu kapan perempuan itu sedang sedih bahkan sebelum perempuan itu mengatakannya. Ia hafal lagu-lagu yang biasa diputar saat suasana hatinya buruk. Ia tahu makanan favoritnya, kebiasaan-kebiasaan kecilnya, sampai alasan mengapa perempuan itu sulit mempercayai orang lain. Ia mengetahui begitu banyak hal, mungkin lebih banyak daripada kebanyakan orang di sekeliling perempuan tersebut. Ironisnya, di antara semua hal yang ia ketahui, ada satu hal yang tidak pernah benar-benar bisa ia pahami: apakah kehadirannya berarti sesuatu yang lebih dari sekadar teman? Pertanyaan itu muncul berkali-kali, lalu ia kubur sendiri berkali-kali. Karena semakin lama ia mengenal perempuan itu, semakin ia sadar bahwa tidak ada tanda-tanda yang mengarah ke sana. Yang ada hanyalah rasa nyaman. Dan terkadang rasa nyaman adalah jebakan paling halus yang pernah ada.

Suatu saat ia mulai menyadari bahwa dirinya berubah. Ia mulai menunggu pesan masuk setiap malam. Ia mulai memeriksa telepon genggam tanpa alasan. Ia mulai merasa hari-harinya sedikit lebih baik ketika perempuan itu menghubunginya dan sedikit lebih sepi ketika perempuan itu menghilang beberapa hari. Namun yang paling berat adalah ketika perempuan itu mulai bercerita tentang laki-laki lain. Tentang seseorang yang membuatnya gugup ketika menerima pesan. Tentang seseorang yang membuatnya sulit tidur. Tentang seseorang yang membuatnya berharap. Dan seperti biasa, pria itu mendengarkan semua cerita tersebut sampai selesai. Ia memberi pendapat. Ia membantu menerjemahkan perasaan perempuan itu. Bahkan kadang ia membantu meyakinkan perempuan itu untuk berani memperjuangkan orang yang disukainya. Tidak ada yang lebih ironis daripada membantu seseorang mendekati orang lain ketika diam-diam kita berharap menjadi orang yang dipilih. Namun ia tetap melakukannya. Mungkin karena ia terlalu baik. Mungkin karena ia terlalu bodoh. Atau mungkin karena ketika seseorang benar-benar peduli, ia lebih mengutamakan kebahagiaan orang tersebut dibandingkan keinginannya sendiri.

Ada banyak malam ketika ia bertanya kepada dirinya sendiri mengapa masih bertahan. Jawabannya selalu berubah-ubah. Kadang karena berharap. Kadang karena takut kehilangan. Kadang karena merasa sudah terlalu jauh untuk mundur. Namun semakin lama ia menjalani semua itu, semakin ia mengerti bahwa dirinya sebenarnya tidak sedang menunggu kesempatan. Ia sedang mempertahankan kehadiran. Ia tidak benar-benar membutuhkan perempuan itu untuk mencintainya. Ia hanya tidak ingin menjadi orang asing dalam hidup perempuan tersebut. Karena setelah sekian lama menjadi tempat bercerita, ada ikatan yang sulit dijelaskan. Ikatan yang tidak lahir dari hubungan romantis, melainkan dari ribuan percakapan, dari malam-malam panjang yang dihabiskan untuk mendengarkan, dari kepercayaan yang dibangun sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun. Ia sadar bahwa mungkin suatu hari perempuan itu akan menemukan seseorang yang benar-benar menjadi rumahnya. Seseorang yang akan menggantikan perannya sebagai tempat bercerita. Seseorang yang akan menerima pesan-pesan panjang yang selama ini dikirimkan kepadanya. Dan anehnya, semakin dewasa ia, semakin ia bisa menerima kemungkinan itu.

Pada akhirnya ia memahami satu hal sederhana. Tidak semua orang yang kita sayangi harus menjadi milik kita. Tidak semua kedekatan harus berubah menjadi hubungan. Ada orang-orang yang memang hadir untuk mengajarkan bahwa cinta tidak selalu berbentuk kebersamaan. Kadang cinta hanya berbentuk kesediaan untuk mendengarkan. Kesediaan untuk memahami. Kesediaan untuk tetap ada tanpa meminta apa-apa sebagai balasan. Dan meskipun terkadang masih ada rasa sesak ketika melihat perempuan itu bahagia bersama orang lain, ia tidak lagi memusuhi perasaan tersebut. Ia menerimanya sebagai bagian dari cerita. Karena jika suatu hari perempuan itu kembali menghubunginya hanya untuk bercerita tentang hari yang buruk, tentang mimpi yang gagal, atau tentang hidup yang terasa terlalu berat, ia tahu dirinya mungkin masih akan menjawab seperti dulu. Bukan karena masih berharap dipilih, tetapi karena setelah semua yang terjadi, ia tetap menjadi orang yang sama: seseorang yang tidak pernah berhasil menjadi tokoh utama, tetapi selalu ada di balik layar, mendengarkan setiap cerita sampai selesai. Sebagai pendengar terbaik yang diam-diam belajar bahwa tidak semua cinta harus memiliki akhir yang bahagia untuk tetap berarti.

Minggu, 01 Maret 2026

Kunanti Saat Saat Kau Kembali

Ada alasan mengapa sebagian lagu paling sedih lahir setelah tengah malam.

Mungkin karena pada jam-jam seperti itu, dunia mulai melambat. Jalanan sepi. Notifikasi ponsel berhenti berbunyi. Teman-teman sudah pulang. Dan untuk pertama kalinya dalam sehari, seseorang dipaksa duduk sendirian bersama pikirannya sendiri.

Malam itu hampir pukul dua pagi ketika ia masih berada di studio latihan.

Sebenarnya tidak ada lagi yang perlu dikerjakan. Lagu baru sudah selesai direkam. Teman-teman bandnya sudah pulang satu per satu sejak satu jam lalu. Lampu utama dimatikan. Hanya tersisa lampu kecil berwarna kuning di sudut ruangan yang membuat suasana terlihat seperti adegan video klip band indie era awal 2000-an.

Di depannya, sebuah gitar bersandar pada amplifier yang masih menyala. Di sampingnya, asbak penuh puntung rokok yang tidak sempat dibuang Asap tipis menggantung di udara. Ia menyalakan satu batang lagi. Bukan karena ingin merokok. Tetapi karena belum ingin pulang. Kadang manusia memang melakukan hal-hal aneh hanya untuk menunda perasaan sepi.

Ia mengembuskan asap perlahan sambil memandangi langit-langit ruangan. Di saat seperti itu, kenangan biasanya datang tanpa diundang. Dan malam itu tidak berbeda. Ia kembali teringat pada seseorang. Seseorang yang dulu sering duduk di ruangan yang sama. Seseorang yang dulu menjadi orang pertama yang mendengar lagu-lagu yang ia tulis sebelum siapa pun mendengarnya. Seseorang yang pernah menjadi rumah.

Aneh memang. Hubungan mereka sudah berakhir cukup lama. Tidak ada lagi pesan singkat. Tidak ada lagi telepon tengah malam. Tidak ada lagi alasan untuk saling mencari. Tetapi beberapa orang memang tidak benar-benar pergi ketika mereka meninggalkan hidup kita. Mereka tetap tinggal. Dalam lagu. Dalam aroma tertentu. Dalam jalan yang pernah dilewati bersama. Dalam kebiasaan-kebiasaan kecil yang tiba-tiba mengingatkan kita pada mereka.

Ia mengambil gitar yang tergeletak di dekat kursi. Memainkan beberapa chord yang sudah sangat akrab di telinganya. Lagu yang sama. Lagu yang selalu berakhir dengan nama yang tidak pernah disebut. Kadang ia berpikir dirinya bodoh. Karena sampai hari itu, sebagian dirinya masih berharap. Bukan berharap semuanya kembali seperti dulu.

Ia tahu hidup tidak bekerja seperti itu. Terlalu banyak hal yang sudah berubah. Terlalu banyak waktu yang sudah lewat. Namun jauh di dalam dirinya, masih ada bagian kecil yang sesekali bertanya.

Bagaimana kalau suatu hari ia kembali?

Bagaimana kalau semua kesalahpahaman itu bisa diperbaiki?

Bagaimana kalau cerita yang pernah berhenti ternyata belum benar-benar selesai?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu memang tidak pernah membawa ke mana-mana. Tetapi manusia hidup dari harapan. Bahkan harapan yang paling tidak masuk akal sekalipun.

Jam di dinding menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Ruang studio semakin sunyi. Asap rokok mulai menghilang sedikit demi sedikit. Ia meletakkan gitar di pangkuannya dan memejamkan mata. Mencoba mengingat wajah yang mulai kabur dimakan waktu. Mencoba mengingat suara yang perlahan hanya tersisa sebagai gema. Mencoba mengingat semua hal baik sebelum semuanya berubah menjadi luka.

Dan untuk beberapa menit, semuanya terasa nyata lagi. Seolah waktu bergerak mundur. Seolah tidak pernah ada perpisahan. Seolah dunia masih sama seperti dulu.

Namun seperti semua kenangan, semuanya berakhir terlalu cepat. Ketika ia membuka mata, yang tersisa hanya ruangan kosong.

Tidak ada tawa.

Tidak ada suara.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya dirinya sendiri. Dan lagu yang belum selesai. Ia tersenyum kecil. Lalu menuliskan satu kalimat pada buku catatan yang tergeletak di meja.

"Kadang yang paling sulit dari kehilangan bukan menerima bahwa seseorang telah pergi. Yang paling sulit adalah berhenti berharap mereka akan kembali."

Di luar, langit mulai berubah warna. Fajar sebentar lagi datang. Ia mematikan amplifier Blackstar, memasukkan gitar ke dalam hardcase, lalu berjalan menuju pintu keluar. Malam telah selesai.

Tetapi seperti banyak lagu yang bagus, beberapa cerita memang tidak pernah benar-benar berakhir. Mereka hanya berubah menjadi kenangan yang terus diputar ulang, setiap kali seseorang duduk sendirian di tengah malam.

Minggu, 01 Februari 2026

Hati Hati yang Tertinggal

Dulu dia selalu berpikir kalau semua hal bisa diperbaiki selama seseorang mau berusaha. Kalau ada hubungan yang mulai renggang, ya diperbaiki. Kalau ada orang yang mulai menjauh, ya didekati lagi. Kalau ada masalah, ya dicari jalan keluarnya. Sesederhana itu cara dia melihat hidup. Karena itu, setiap kali ada sesuatu yang mulai berubah, dia selalu memilih bertahan. Dia percaya bahwa kesabaran dan ketulusan pada akhirnya akan membuahkan hasil.

Awalnya semua terasa baik-baik saja. Dia memberikan waktu, perhatian, tenaga, bahkan kadang mengorbankan hal-hal yang sebenarnya penting untuk dirinya sendiri. Tidak pernah terasa berat karena dia melakukannya dengan ikhlas. Setidaknya itu yang dia pikirkan saat itu. Dia percaya bahwa apa yang diberikan suatu hari nanti akan kembali dalam bentuk yang sama. Mungkin tidak sekarang, tetapi nanti.

Masalahnya, waktu terus berjalan dan kenyataan ternyata tidak sesuai dengan harapannya.

Orang-orang yang dulu terasa dekat mulai sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Beberapa perlahan menjauh. Beberapa berubah tanpa penjelasan. Beberapa tetap ada, tetapi rasanya sudah berbeda. Dia melihat semuanya terjadi, tetapi memilih mengabaikannya. Dia tetap bertahan karena berpikir bahwa semua hanya fase sementara. Nanti juga akan kembali seperti dulu.

Namun ternyata tidak.

Semakin lama, dia mulai merasa lelah. Bukan karena harus memberi. Bukan karena harus peduli. Tetapi karena dia mulai sadar bahwa sebagian besar yang dia lakukan hanya berjalan satu arah. Dia terus menjaga sesuatu yang sebenarnya sudah tidak dijaga oleh orang lain. Dia terus mempertahankan hubungan yang sebenarnya sudah lama berubah bentuk.

Yang paling membuatnya lelah adalah harapan.

Karena harapan membuat seseorang bertahan lebih lama dari yang seharusnya. Harapan membuatnya terus menunggu pesan yang tidak pernah datang. Terus berharap ada penjelasan yang tidak pernah diberikan. Terus meyakini bahwa suatu hari semuanya akan kembali seperti dulu.

Sampai akhirnya suatu malam dia duduk sendirian dan mulai memikirkan semuanya. Untuk pertama kalinya dia tidak mencoba mencari alasan atau pembenaran. Dia hanya melihat kenyataan apa adanya.

Dan kenyataannya sederhana.

Orang-orang yang dia tunggu sudah lama melanjutkan hidup mereka.

Sementara dia masih berdiri di tempat yang sama.

Saat itulah dia mulai sadar bahwa selama ini yang membuatnya sedih bukan karena kehilangan seseorang. Yang membuatnya sedih adalah karena dia terlalu lama menggantungkan harapan pada orang-orang yang sebenarnya sudah tidak lagi berada di perjalanan yang sama.

Kesadaran itu tidak datang sekaligus. Tidak ada momen dramatis seperti di film-film. Tidak ada tangisan atau kemarahan besar. Yang ada hanya rasa lelah. Lelah berharap. Lelah menunggu. Lelah memikirkan hal-hal yang sebenarnya sudah selesai sejak lama.

Perlahan dia mulai menjaga jarak. Bukan karena benci. Bukan karena marah. Dia hanya merasa sudah waktunya berhenti mengejar. Sudah waktunya berhenti memaksa sesuatu yang memang tidak bisa dipertahankan sendirian.

Awalnya tidak mudah.

Ada hari-hari ketika dia masih ingin kembali. Masih ingin menghubungi orang-orang yang pernah penting dalam hidupnya. Masih ingin percaya bahwa semuanya bisa diperbaiki.

Tetapi semakin banyak waktu berlalu, semakin dia mengerti bahwa tidak semua yang pergi harus dikejar. Tidak semua yang hilang harus ditemukan kembali.

Beberapa hal memang hanya ditakdirkan menjadi pelajaran.

Dan mungkin itulah yang akhirnya dia dapatkan dari semua pengalaman itu.

Bahwa ketulusan itu penting, tetapi jangan sampai membuat seseorang melupakan dirinya sendiri.

Bahwa bertahan itu baik, tetapi ada saatnya melepaskan jauh lebih sehat.

Dan bahwa tidak semua orang yang hadir dalam hidup akan tinggal selamanya.

Hari ini dia masih mengingat semuanya. Dia masih mengingat orang-orang yang pernah membuatnya bahagia, juga mereka yang pernah membuatnya kecewa. Bedanya, sekarang dia tidak lagi menunggu.

Dia memilih menyimpan semuanya sebagai bagian dari cerita hidupnya.

Karena pada akhirnya hidup harus terus berjalan.

Dan setelah terlalu lama menggantungkan harapan pada hati-hati yang tertinggal, dia akhirnya memilih melangkah maju dan kembali menemukan dirinya sendiri.

Kamis, 01 Januari 2026

Catatan dari Satker MWA MCA-Indonesia II (MCAI II)

Kalau ada yang bertanya apa pekerjaan kami sehari-hari, jawabannya sebenarnya sederhana: mengurus hibah.

Tapi seperti banyak hal dalam hidup, yang terlihat sederhana dari luar sering kali jauh lebih rumit ketika dijalani.

Sebagai bagian dari Satker Majelis Wali Amanat MCA-Indonesia II, kami berada di salah satu titik yang mempertemukan berbagai kepentingan, regulasi, harapan, dan mimpi pembangunan. Di atas kertas, tugas kami adalah memastikan pengelolaan hibah berjalan sesuai aturan. Dalam kenyataannya, kami sedang membantu menjaga agar sebuah peluang besar bagi Indonesia tetap hidup.

Satker MWA MCA-Indonesia II (MCAI II) mungkin bukan organisasi yang sering muncul di media. Tidak banyak orang mengenalnya. Bahkan sebagian besar masyarakat mungkin akan mengernyitkan dahi ketika mendengar namanya untuk pertama kali.

Namun di balik nama yang panjang itu, terdapat sebuah misi yang tidak kecil.

Kami mendukung pengelolaan Program Compact II, hibah dari Millennium Challenge Corporation (MCC) Amerika Serikat yang dirancang untuk mendukung pembangunan ekonomi Indonesia melalui penguatan infrastruktur, pengembangan pasar keuangan, serta peningkatan akses pembiayaan bagi UMKM. Program ini merupakan kelanjutan dari kerja sama yang telah dimulai sejak Compact I dan menjadi salah satu hibah pembangunan terbesar yang pernah diterima Indonesia.

Sebagai perwakilan pemerintah, peran kami tidak hanya soal angka dan dokumen. Kami memastikan setiap rupiah atau USD dapat dipertanggungjawabkan, setiap proses berjalan sesuai regulasi, dan setiap langkah administrasi mampu mendukung tujuan yang lebih besar. Mulai dari pengesahan hibah, pengelolaan kontribusi pemerintah, fasilitasi perpajakan dan kepabeanan, hingga pengawasan pelaksanaan program menjadi bagian dari keseharian kami.

Tahun lalu bukan tahun yang mudah.

Ketika Program Compact II memasuki masa implementasi, perubahan kebijakan Pemerintah Amerika Serikat melalui Executive Order menyebabkan berbagai program MCC di dunia mengalami peninjauan kembali. Ketidakpastian menjadi sesuatu yang harus dihadapi setiap hari. Rencana yang telah disusun bertahun-tahun harus dievaluasi ulang. Program yang telah siap berjalan harus disesuaikan kembali. Namun justru dalam situasi seperti itulah kami melihat bagaimana kerja sama, profesionalisme, dan ketahanan organisasi diuji.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, kami menyaksikan banyak orang bekerja melampaui tugas formalnya. Ada yang harus begadang menyelesaikan dokumen. Ada yang berpindah dari satu rapat ke rapat lain untuk memastikan proses tetap berjalan. Ada yang tetap optimistis ketika kepastian belum juga datang.

Kami percaya bahwa tata kelola yang baik bukanlah tujuan akhir, melainkan fondasi bagi pembangunan yang lebih besar.

Karena pada akhirnya, pembangunan bukan hanya tentang jalan, pelabuhan, pasar keuangan, atau sistem logistik. Pembangunan adalah tentang membuka kesempatan. Tentang menghadirkan pilihan yang lebih baik bagi masyarakat. Tentang memastikan bahwa setiap kebijakan dan setiap program benar-benar memberi manfaat bagi mereka yang membutuhkannya.

Ketika suatu hari nanti proyek-proyek ini selesai dan memberikan dampak nyata, mungkin tidak banyak yang akan mengingat siapa yang mengurus administrasinya. Tidak banyak yang tahu siapa yang menandatangani kontraknya atau memastikan proses hibahnya berjalan sesuai aturan.



Dan itu tidak apa-apa.

Karena seperti banyak pekerjaan di balik layar lainnya, keberhasilan terbesar kami justru ketika masyarakat dapat merasakan manfaatnya tanpa harus mengetahui siapa yang bekerja di belakangnya.

Bagi kami, menjadi bagian dari Satker MWA MCA-Indonesia II adalah kesempatan untuk ikut menulis satu halaman kecil dalam cerita pembangunan Indonesia.

Mungkin halaman itu tidak selalu terlihat. Mungkin pula tidak banyak yang membacanya. Namun kami percaya bahwa setiap proses yang dijalankan dengan integritas, setiap rupiah yang dikelola dengan akuntabel, dan setiap keputusan yang diambil dengan penuh tanggung jawab akan menjadi fondasi bagi manfaat yang lebih besar.

Dan selama kesempatan itu masih ada, kami akan terus menjaganya dengan sepenuh hati.

Rabu, 17 Desember 2025

Di Antara Efisiensi dan Efektivitas

 Setiap akhir tahun, Pak Rahman selalu mendapat pertanyaan yang sama.

"Berapa penghematan yang berhasil dicapai tahun ini?"

Pertanyaan itu datang dari direksi.

Dari auditor.

Dari rapat evaluasi.

Dari hampir semua orang.

Dan setiap tahun pula, Pak Rahman selalu menyiapkan jawaban yang sama.

Angka.

Tabel.

Grafik.

Persentase efisiensi.

Semua terlihat indah.

Tahun ini penghematan mencapai miliaran rupiah.

Tahun lalu juga.

Tahun sebelumnya bahkan lebih besar.

Di atas kertas, Unit Pengadaan yang dipimpinnya adalah salah satu yang terbaik di instansi itu.

Tetapi setiap kali pulang ke rumah, ada perasaan yang mengganjal.

Seolah ada sesuatu yang salah.


Masalahnya mulai terlihat saat musim hujan tiba.

Proyek gedung baru yang dibangun dengan biaya paling murah mengalami kebocoran.

Air menetes dari langit-langit.

Cat mengelupas.

Beberapa ruangan tidak bisa digunakan.

"Padahal kontraktornya paling murah," kata seorang pejabat.

Pak Rahman hanya diam.

Beberapa bulan kemudian, giliran pengadaan komputer.

Harga yang diperoleh sangat kompetitif.

Semua orang memuji keberhasilan tim pengadaan.

Sampai enam bulan setelahnya.

Separuh perangkat mulai bermasalah.

Servis terlambat.

Garansi sulit diklaim.

Pegawai mengeluh.

Pekerjaan tertunda.

Lagi-lagi laporan keuangan tetap terlihat bagus.

Namun kenyataan di lapangan berbeda.


Suatu sore, setelah rapat yang melelahkan, Pak Rahman bertemu Bu Sinta.

Kepala bidang operasional.

"Pak, boleh jujur?"

"Tentu."

"Menurut saya pengadaan kita terlalu fokus pada harga."

Pak Rahman tersenyum tipis.

"Itu yang selalu diminta."

"Tapi bukan itu yang paling dibutuhkan."

"Maksudnya?"

Bu Sinta meletakkan secangkir kopi di meja.

"Kalau gedung murah tapi bocor, apa itu berhasil?"

Pak Rahman diam.

"Kalau komputer murah tapi sering rusak, apa itu berhasil?"

Ia masih diam.

"Kalau barang datang terlambat sehingga pelayanan masyarakat terganggu, apa itu berhasil?"

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Pak Rahman tidak punya jawaban.


Malam itu ia membuka kembali laporan-laporan lama.

Puluhan dokumen.

Ratusan halaman.

Ribuan angka.

Semuanya berbicara tentang biaya.

Tentang efisiensi.

Tentang penghematan.

Tetapi hampir tidak ada yang berbicara tentang kualitas.

Tidak ada yang membahas kepuasan pengguna.

Tidak ada yang mengukur apakah barang benar-benar bermanfaat.

Tidak ada yang menghitung berapa banyak waktu yang terbuang karena kesalahan proses.

Ia mulai bertanya-tanya.

Mungkin selama ini mereka sibuk menghitung sesuatu yang mudah dihitung.

Dan melupakan sesuatu yang lebih penting.


Beberapa minggu kemudian, Pak Rahman mengubah cara evaluasi.

Selain laporan keuangan, ia meminta timnya mencatat hal-hal yang selama ini diabaikan.

Berapa lama proses pengadaan berlangsung.

Apakah pengguna puas.

Apakah barang berfungsi dengan baik.

Apakah pemasok dapat diandalkan.

Bagaimana kualitas kerja tim pengadaan.

Awalnya banyak yang menolak.

"Itu terlalu sulit diukur."

"Itu tidak masuk laporan keuangan."

"Itu tidak penting."

Namun Pak Rahman tetap berjalan.


Satu tahun kemudian hasilnya mulai terlihat.

Penghematan memang tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya.

Tetapi keluhan pengguna turun drastis.

Barang datang tepat waktu.

Proyek selesai sesuai jadwal.

Hubungan dengan penyedia semakin baik.

Pegawai lebih bangga terhadap pekerjaannya.

Dan yang paling penting, masyarakat mulai merasakan manfaatnya.

Dalam rapat akhir tahun, seorang direktur bertanya.

"Kenapa angka penghematan kita lebih kecil?"

Pak Rahman tersenyum.

Karena kali ini ia sudah memiliki jawaban.

"Karena tahun ini kami tidak hanya membeli barang yang murah."

"Lalu?"

"Kami membeli barang yang tepat."

Ruangan menjadi sunyi.

Pak Rahman melanjutkan.

"Selama ini kita terlalu sibuk menghitung berapa uang yang berhasil disimpan."

"Padahal yang lebih penting adalah berapa banyak manfaat yang berhasil diberikan."


Di perjalanan pulang malam itu, Pak Rahman melihat gedung baru yang berdiri kokoh di tengah hujan.

Tidak ada kebocoran.

Tidak ada cat yang mengelupas.

Lampu-lampunya menyala terang.

Ia tersenyum kecil.

Akhirnya ia mengerti sesuatu yang selama ini luput.

Efisiensi memang penting.

Tetapi efektivitas adalah alasan mengapa efisiensi itu dilakukan.

Karena keberhasilan tidak selalu tercatat dalam laporan keuangan.

Kadang keberhasilan hadir dalam bentuk gedung yang bertahan puluhan tahun.

Dalam pelayanan yang lebih baik.

Dalam pegawai yang bangga terhadap pekerjaannya.

Dan dalam masyarakat yang merasakan manfaatnya.

Hal-hal yang nilainya jauh lebih besar daripada angka yang tercetak di atas kertas.

Rabu, 09 April 2025

Hari Terakhir Pemasukan Penawaran

 Tahun 2010.

Pukul sembilan pagi.

Di sebuah kantor pemerintah provinsi, belasan kontraktor duduk berjajar di ruang tunggu yang sempit. Sebagian membawa map cokelat tebal, sebagian lagi menggenggam amplop besar berisi dokumen penawaran.

Mereka saling mengenal.

Terlalu mengenal.

"Pak Surya ikut juga?"

"Ikut."

"Paket yang mana?"

"Yang jalan provinsi."

"Oh..."

Percakapan singkat itu terdengar biasa. Namun semua orang di ruangan itu memahami maknanya.

Kadang yang terucap bukanlah informasi.

Melainkan sinyal.

Sinyal bahwa hari ini bukan giliranmu menang.

Di dunia pengadaan saat itu, banyak hal tidak perlu dijelaskan secara terang-terangan.

Cukup dengan tatapan mata.

Atau secangkir kopi sebelum pemasukan dokumen.


Arif baru berusia tiga puluh tahun ketika mengambil alih perusahaan konstruksi peninggalan ayahnya.

Perusahaannya kecil.

Hanya memiliki dua puluh karyawan.

Mereka tidak punya koneksi politik.

Tidak punya kenalan pejabat.

Dan tidak pernah diundang ke meja-meja makan malam tempat proyek dibicarakan sebelum diumumkan.

Karena itu Arif selalu percaya pada satu hal.

Kalau pekerjaannya bagus, seharusnya ia punya kesempatan yang sama untuk menang.

Sayangnya dunia tidak selalu bekerja seperti itu.

Sudah tiga tahun ia mengikuti berbagai tender.

Dan hampir selalu kalah.

Kadang kalah tipis.

Kadang kalah dengan harga yang bahkan tidak masuk akal.

Seolah pemenangnya sudah diketahui jauh sebelum dokumen dibuka.


Suatu sore, seorang kontraktor senior menepuk bahunya.

"Kamu masih serius ikut tender pemerintah?"

"Iya."

"Capek."

"Kenapa?"

Pria itu tersenyum.

"Karena kamu datang untuk bertanding. Yang lain datang untuk bagi giliran."

Arif tidak menjawab.

Namun kalimat itu terus terngiang selama perjalanan pulang.


Beberapa bulan kemudian sebuah perubahan besar diumumkan.

Mulai tahun berikutnya, dokumen penawaran tidak lagi diserahkan langsung ke kantor pemerintah.

Semuanya dilakukan secara elektronik.

Online.

Tidak ada lagi amplop cokelat.

Tidak ada lagi ruang tunggu.

Tidak ada lagi pertemuan tatap muka saat pemasukan penawaran.

Banyak orang mengeluh.

Banyak pula yang khawatir.

Namun bagi Arif, perubahan itu terasa seperti angin segar.

Untuk pertama kalinya ia merasa akan bertanding di lapangan yang lebih datar.


Hari pertama sistem baru diberlakukan, kantor Arif berubah seperti markas perang.

Laptop menyala.

Internet diperiksa berulang kali.

Seluruh tim duduk mengelilingi meja.

"Sudah siap upload?"

"Sudah, Pak."

"Jangan sampai file salah."

"Koneksi aman."

Ketika tombol "Submit" ditekan, tidak ada suara tepuk tangan.

Tidak ada sorakan.

Hanya rasa lega.

Mereka baru saja mengikuti tender tanpa harus bertemu siapa pun.

Tanpa harus menebak siapa yang sedang mendapat giliran menang.


Bulan demi bulan berlalu.

Jumlah peserta tender meningkat drastis.

Perusahaan-perusahaan dari luar daerah mulai berdatangan.

Mereka tidak perlu lagi mengirim staf hanya untuk menyerahkan dokumen.

Mereka cukup membuka laptop dari kota masing-masing.

Persaingan menjadi lebih ketat.

Tetapi justru lebih jujur.

Arif menyukainya.


Suatu pagi telepon kantornya berdering.

Nomor dari pemerintah provinsi.

"Selamat pagi, Pak Arif."

"Selamat pagi."

"Kami ingin menginformasikan bahwa perusahaan Bapak ditetapkan sebagai pemenang."

Arif terdiam.

Beberapa detik.

Ia mengira salah dengar.

"Maaf, bisa diulang?"

"Perusahaan Bapak menang."

Tangannya gemetar.

Bukan karena nilai proyeknya besar.

Tetapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa menang karena kualitas pekerjaannya.

Bukan karena siapa yang ia kenal.


Malam itu Arif berdiri di depan kantor yang hampir kosong.

Lampu-lampu kota menyala di kejauhan.

Ia teringat ruang tunggu lama.

Amplop cokelat.

Percakapan-percakapan pendek yang penuh kode.

Tatapan mata yang menentukan nasib proyek bahkan sebelum penawaran dibuka.

Semua itu perlahan menghilang.

Digantikan oleh layar monitor dan jaringan internet.

Mungkin sistem baru tidak sempurna.

Masih ada masalah.

Masih ada celah.

Masih ada pihak yang mencoba mencari jalan pintas.

Namun setidaknya sekarang, seorang kontraktor kecil dari kota mana pun memiliki kesempatan untuk bersaing.

Kesempatan yang dulu terasa mustahil.

Arif tersenyum.

Terkadang kemajuan bukanlah sesuatu yang megah.

Bukan gedung tinggi.

Bukan jalan tol baru.

Kadang kemajuan hanya berupa satu tombol kecil di layar komputer.

Tombol yang memberi semua orang kesempatan yang sama untuk bermimpi.

Dan malam itu, setelah bertahun-tahun kalah, Arif akhirnya percaya bahwa mimpinya masih layak diperjuangkan.


"Penghapusan tatap muka dalam proses tender melalui sistem electronic yang meningkatkan kompetisi dan partisipasi peserta, sekaligus mengurangi peluang kolusi yang sebelumnya mungkin terjadi dalam sistem non elektronik"

Selasa, 30 April 2024

Tentang Sepuluh Tahun dan Hal-Hal yang Tidak Masuk CV

Ada yang bilang sepuluh tahun itu lama.

Saya setuju. Sampai tiba-tiba saya sadar bahwa satu dekade bisa lewat hanya dalam beberapa kali pergantian kalender, beberapa kali ganti hape, dan entah berapa banyak jamuan rapat.

Hari ini saya menutup satu bab yang sudah menemani hidup saya selama sepuluh tahun.

Lucunya, ketika pertama kali datang, saya tidak pernah membayangkan akan bertahan selama itu. Saya pikir ini hanya akan menjadi salah satu pemberhentian dalam perjalanan karier. Tempat bekerja, pulang, menerima gaji, lalu mengulanginya lagi keesokan hari.

Ternyata saya salah.

Karena yang saya tinggalkan hari ini bukan sekadar tempat kerja.

Saya meninggalkan sepuluh tahun kehidupan.

Di tempat ini saya datang sebagai seorang pria lajang yang masih percaya bahwa olahraga rutin akan membuat perut tetap rata selamanya. Saya pergi sebagai bapak-bapak yang mulai memahami bahwa metabolisme ternyata bisa berkhianat.

Di tempat ini saya menyelesaikan dua gelar master, melakukan perjalanan ke banyak kota dan negara, bertemu begitu banyak orang baik, dan belajar bahwa kehidupan profesional sering kali lebih rumit daripada teori apa pun yang pernah diajarkan di ruang kuliah.

Saya belajar bahwa kemampuan paling penting dalam hidup bukan hanya bekerja keras, tetapi juga mampu tertawa ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana.

Dan untungnya, selama sepuluh tahun ini saya dikelilingi banyak orang yang membuat perjalanan itu jauh lebih menyenangkan.

Ada teman-teman yang berubah menjadi keluarga. Ada obrolan yang awalnya hanya basa-basi lalu berkembang menjadi persahabatan bertahun-tahun. Ada candaan yang diulang terus sampai akhirnya menjadi urban legend. Ada orang-orang yang mungkin tidak akan sering saya temui lagi, tetapi akan selalu muncul di status WA.

Tentu tidak semua hari menyenangkan.

Ada hari ketika semuanya terasa mudah. Ada juga hari ketika rasanya ingin menghilang dari grup WA kantor selama seminggu penuh.

Ada orang yang membuat saya belajar pengadaan. Ada juga orang yang membuat saya belajar tentang kesabaran.

Tapi mungkin memang begitu cara hidup bekerja.

Kita tidak hanya tumbuh karena pengalaman yang menyenangkan. Kita juga tumbuh karena hal-hal yang sempat membuat kita kesal.

Hari ini, ketika melihat ke belakang, saya menyadari bahwa yang paling saya syukuri bukanlah jabatan, pencapaian, atau hal-hal yang bisa ditulis di LinkedIn.

Yang paling saya syukuri adalah orang-orangnya.

Karena pada akhirnya, kita jarang mengingat pekerjaan yang selesai dikerjakan.

Tetapi kita selalu ingat siapa yang duduk di sebelah kita ketika hari itu terasa berat.

Untuk semua yang pernah menjadi bagian dari cerita ini, terima kasih.

Terima kasih untuk tawa, bantuan, pelajaran, dukungan, kesempatan, dan kenangan yang akan terus saya bawa ke mana pun saya pergi.

Dan jika selama sepuluh tahun ini saya pernah membuat kecewa, berkata kurang tepat, atau menjadi sumber stres bagi siapa pun, saya meminta maaf dengan tulus.

Sementara untuk kalian yang pernah membuat saya kesal...


Tenang saja.

Sebagian besar sudah saya maafkan.

Sebagian besar.

Hari ini bukan akhir cerita.

Hanya akhir dari satu bab yang sangat panjang dan sangat berharga.

Besok pagi akan ada meja kerja baru, tantangan baru, dan cerita baru.

Tetapi malam ini saya ingin duduk sebentar, menatap ke belakang, lalu tersenyum pada perjalanan yang sudah membawa saya sejauh ini.

Sepuluh tahun.

Terima kasih sudah menjadi cerita yang layak dikenang.

Dan seperti semua perpisahan yang baik, saya memilih untuk tidak mengatakan selamat tinggal.

Sampai ketemu lagi di cerita berikutnya.