Kontributor

Minggu, 01 Februari 2026

Hati Hati yang Tertinggal

Dulu dia selalu berpikir kalau semua hal bisa diperbaiki selama seseorang mau berusaha. Kalau ada hubungan yang mulai renggang, ya diperbaiki. Kalau ada orang yang mulai menjauh, ya didekati lagi. Kalau ada masalah, ya dicari jalan keluarnya. Sesederhana itu cara dia melihat hidup. Karena itu, setiap kali ada sesuatu yang mulai berubah, dia selalu memilih bertahan. Dia percaya bahwa kesabaran dan ketulusan pada akhirnya akan membuahkan hasil.

Awalnya semua terasa baik-baik saja. Dia memberikan waktu, perhatian, tenaga, bahkan kadang mengorbankan hal-hal yang sebenarnya penting untuk dirinya sendiri. Tidak pernah terasa berat karena dia melakukannya dengan ikhlas. Setidaknya itu yang dia pikirkan saat itu. Dia percaya bahwa apa yang diberikan suatu hari nanti akan kembali dalam bentuk yang sama. Mungkin tidak sekarang, tetapi nanti.

Masalahnya, waktu terus berjalan dan kenyataan ternyata tidak sesuai dengan harapannya.

Orang-orang yang dulu terasa dekat mulai sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Beberapa perlahan menjauh. Beberapa berubah tanpa penjelasan. Beberapa tetap ada, tetapi rasanya sudah berbeda. Dia melihat semuanya terjadi, tetapi memilih mengabaikannya. Dia tetap bertahan karena berpikir bahwa semua hanya fase sementara. Nanti juga akan kembali seperti dulu.

Namun ternyata tidak.

Semakin lama, dia mulai merasa lelah. Bukan karena harus memberi. Bukan karena harus peduli. Tetapi karena dia mulai sadar bahwa sebagian besar yang dia lakukan hanya berjalan satu arah. Dia terus menjaga sesuatu yang sebenarnya sudah tidak dijaga oleh orang lain. Dia terus mempertahankan hubungan yang sebenarnya sudah lama berubah bentuk.

Yang paling membuatnya lelah adalah harapan.

Karena harapan membuat seseorang bertahan lebih lama dari yang seharusnya. Harapan membuatnya terus menunggu pesan yang tidak pernah datang. Terus berharap ada penjelasan yang tidak pernah diberikan. Terus meyakini bahwa suatu hari semuanya akan kembali seperti dulu.

Sampai akhirnya suatu malam dia duduk sendirian dan mulai memikirkan semuanya. Untuk pertama kalinya dia tidak mencoba mencari alasan atau pembenaran. Dia hanya melihat kenyataan apa adanya.

Dan kenyataannya sederhana.

Orang-orang yang dia tunggu sudah lama melanjutkan hidup mereka.

Sementara dia masih berdiri di tempat yang sama.

Saat itulah dia mulai sadar bahwa selama ini yang membuatnya sedih bukan karena kehilangan seseorang. Yang membuatnya sedih adalah karena dia terlalu lama menggantungkan harapan pada orang-orang yang sebenarnya sudah tidak lagi berada di perjalanan yang sama.

Kesadaran itu tidak datang sekaligus. Tidak ada momen dramatis seperti di film-film. Tidak ada tangisan atau kemarahan besar. Yang ada hanya rasa lelah. Lelah berharap. Lelah menunggu. Lelah memikirkan hal-hal yang sebenarnya sudah selesai sejak lama.

Perlahan dia mulai menjaga jarak. Bukan karena benci. Bukan karena marah. Dia hanya merasa sudah waktunya berhenti mengejar. Sudah waktunya berhenti memaksa sesuatu yang memang tidak bisa dipertahankan sendirian.

Awalnya tidak mudah.

Ada hari-hari ketika dia masih ingin kembali. Masih ingin menghubungi orang-orang yang pernah penting dalam hidupnya. Masih ingin percaya bahwa semuanya bisa diperbaiki.

Tetapi semakin banyak waktu berlalu, semakin dia mengerti bahwa tidak semua yang pergi harus dikejar. Tidak semua yang hilang harus ditemukan kembali.

Beberapa hal memang hanya ditakdirkan menjadi pelajaran.

Dan mungkin itulah yang akhirnya dia dapatkan dari semua pengalaman itu.

Bahwa ketulusan itu penting, tetapi jangan sampai membuat seseorang melupakan dirinya sendiri.

Bahwa bertahan itu baik, tetapi ada saatnya melepaskan jauh lebih sehat.

Dan bahwa tidak semua orang yang hadir dalam hidup akan tinggal selamanya.

Hari ini dia masih mengingat semuanya. Dia masih mengingat orang-orang yang pernah membuatnya bahagia, juga mereka yang pernah membuatnya kecewa. Bedanya, sekarang dia tidak lagi menunggu.

Dia memilih menyimpan semuanya sebagai bagian dari cerita hidupnya.

Karena pada akhirnya hidup harus terus berjalan.

Dan setelah terlalu lama menggantungkan harapan pada hati-hati yang tertinggal, dia akhirnya memilih melangkah maju dan kembali menemukan dirinya sendiri.

Kamis, 01 Januari 2026

Catatan dari Satker MWA MCA-Indonesia II (MCAI II)

Kalau ada yang bertanya apa pekerjaan kami sehari-hari, jawabannya sebenarnya sederhana: mengurus hibah.

Tapi seperti banyak hal dalam hidup, yang terlihat sederhana dari luar sering kali jauh lebih rumit ketika dijalani.

Sebagai bagian dari Satker Majelis Wali Amanat MCA-Indonesia II, kami berada di salah satu titik yang mempertemukan berbagai kepentingan, regulasi, harapan, dan mimpi pembangunan. Di atas kertas, tugas kami adalah memastikan pengelolaan hibah berjalan sesuai aturan. Dalam kenyataannya, kami sedang membantu menjaga agar sebuah peluang besar bagi Indonesia tetap hidup.

Satker MWA MCA-Indonesia II (MCAI II) mungkin bukan organisasi yang sering muncul di media. Tidak banyak orang mengenalnya. Bahkan sebagian besar masyarakat mungkin akan mengernyitkan dahi ketika mendengar namanya untuk pertama kali.

Namun di balik nama yang panjang itu, terdapat sebuah misi yang tidak kecil.

Kami mendukung pengelolaan Program Compact II, hibah dari Millennium Challenge Corporation (MCC) Amerika Serikat yang dirancang untuk mendukung pembangunan ekonomi Indonesia melalui penguatan infrastruktur, pengembangan pasar keuangan, serta peningkatan akses pembiayaan bagi UMKM. Program ini merupakan kelanjutan dari kerja sama yang telah dimulai sejak Compact I dan menjadi salah satu hibah pembangunan terbesar yang pernah diterima Indonesia.

Sebagai perwakilan pemerintah, peran kami tidak hanya soal angka dan dokumen. Kami memastikan setiap rupiah atau USD dapat dipertanggungjawabkan, setiap proses berjalan sesuai regulasi, dan setiap langkah administrasi mampu mendukung tujuan yang lebih besar. Mulai dari pengesahan hibah, pengelolaan kontribusi pemerintah, fasilitasi perpajakan dan kepabeanan, hingga pengawasan pelaksanaan program menjadi bagian dari keseharian kami.

Tahun lalu bukan tahun yang mudah.

Ketika Program Compact II memasuki masa implementasi, perubahan kebijakan Pemerintah Amerika Serikat melalui Executive Order menyebabkan berbagai program MCC di dunia mengalami peninjauan kembali. Ketidakpastian menjadi sesuatu yang harus dihadapi setiap hari. Rencana yang telah disusun bertahun-tahun harus dievaluasi ulang. Program yang telah siap berjalan harus disesuaikan kembali. Namun justru dalam situasi seperti itulah kami melihat bagaimana kerja sama, profesionalisme, dan ketahanan organisasi diuji.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, kami menyaksikan banyak orang bekerja melampaui tugas formalnya. Ada yang harus begadang menyelesaikan dokumen. Ada yang berpindah dari satu rapat ke rapat lain untuk memastikan proses tetap berjalan. Ada yang tetap optimistis ketika kepastian belum juga datang.

Kami percaya bahwa tata kelola yang baik bukanlah tujuan akhir, melainkan fondasi bagi pembangunan yang lebih besar.

Karena pada akhirnya, pembangunan bukan hanya tentang jalan, pelabuhan, pasar keuangan, atau sistem logistik. Pembangunan adalah tentang membuka kesempatan. Tentang menghadirkan pilihan yang lebih baik bagi masyarakat. Tentang memastikan bahwa setiap kebijakan dan setiap program benar-benar memberi manfaat bagi mereka yang membutuhkannya.

Ketika suatu hari nanti proyek-proyek ini selesai dan memberikan dampak nyata, mungkin tidak banyak yang akan mengingat siapa yang mengurus administrasinya. Tidak banyak yang tahu siapa yang menandatangani kontraknya atau memastikan proses hibahnya berjalan sesuai aturan.



Dan itu tidak apa-apa.

Karena seperti banyak pekerjaan di balik layar lainnya, keberhasilan terbesar kami justru ketika masyarakat dapat merasakan manfaatnya tanpa harus mengetahui siapa yang bekerja di belakangnya.

Bagi kami, menjadi bagian dari Satker MWA MCA-Indonesia II adalah kesempatan untuk ikut menulis satu halaman kecil dalam cerita pembangunan Indonesia.

Mungkin halaman itu tidak selalu terlihat. Mungkin pula tidak banyak yang membacanya. Namun kami percaya bahwa setiap proses yang dijalankan dengan integritas, setiap rupiah yang dikelola dengan akuntabel, dan setiap keputusan yang diambil dengan penuh tanggung jawab akan menjadi fondasi bagi manfaat yang lebih besar.

Dan selama kesempatan itu masih ada, kami akan terus menjaganya dengan sepenuh hati.

Rabu, 17 Desember 2025

Di Antara Efisiensi dan Efektivitas

 Setiap akhir tahun, Pak Rahman selalu mendapat pertanyaan yang sama.

"Berapa penghematan yang berhasil dicapai tahun ini?"

Pertanyaan itu datang dari direksi.

Dari auditor.

Dari rapat evaluasi.

Dari hampir semua orang.

Dan setiap tahun pula, Pak Rahman selalu menyiapkan jawaban yang sama.

Angka.

Tabel.

Grafik.

Persentase efisiensi.

Semua terlihat indah.

Tahun ini penghematan mencapai miliaran rupiah.

Tahun lalu juga.

Tahun sebelumnya bahkan lebih besar.

Di atas kertas, Unit Pengadaan yang dipimpinnya adalah salah satu yang terbaik di instansi itu.

Tetapi setiap kali pulang ke rumah, ada perasaan yang mengganjal.

Seolah ada sesuatu yang salah.


Masalahnya mulai terlihat saat musim hujan tiba.

Proyek gedung baru yang dibangun dengan biaya paling murah mengalami kebocoran.

Air menetes dari langit-langit.

Cat mengelupas.

Beberapa ruangan tidak bisa digunakan.

"Padahal kontraktornya paling murah," kata seorang pejabat.

Pak Rahman hanya diam.

Beberapa bulan kemudian, giliran pengadaan komputer.

Harga yang diperoleh sangat kompetitif.

Semua orang memuji keberhasilan tim pengadaan.

Sampai enam bulan setelahnya.

Separuh perangkat mulai bermasalah.

Servis terlambat.

Garansi sulit diklaim.

Pegawai mengeluh.

Pekerjaan tertunda.

Lagi-lagi laporan keuangan tetap terlihat bagus.

Namun kenyataan di lapangan berbeda.


Suatu sore, setelah rapat yang melelahkan, Pak Rahman bertemu Bu Sinta.

Kepala bidang operasional.

"Pak, boleh jujur?"

"Tentu."

"Menurut saya pengadaan kita terlalu fokus pada harga."

Pak Rahman tersenyum tipis.

"Itu yang selalu diminta."

"Tapi bukan itu yang paling dibutuhkan."

"Maksudnya?"

Bu Sinta meletakkan secangkir kopi di meja.

"Kalau gedung murah tapi bocor, apa itu berhasil?"

Pak Rahman diam.

"Kalau komputer murah tapi sering rusak, apa itu berhasil?"

Ia masih diam.

"Kalau barang datang terlambat sehingga pelayanan masyarakat terganggu, apa itu berhasil?"

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Pak Rahman tidak punya jawaban.


Malam itu ia membuka kembali laporan-laporan lama.

Puluhan dokumen.

Ratusan halaman.

Ribuan angka.

Semuanya berbicara tentang biaya.

Tentang efisiensi.

Tentang penghematan.

Tetapi hampir tidak ada yang berbicara tentang kualitas.

Tidak ada yang membahas kepuasan pengguna.

Tidak ada yang mengukur apakah barang benar-benar bermanfaat.

Tidak ada yang menghitung berapa banyak waktu yang terbuang karena kesalahan proses.

Ia mulai bertanya-tanya.

Mungkin selama ini mereka sibuk menghitung sesuatu yang mudah dihitung.

Dan melupakan sesuatu yang lebih penting.


Beberapa minggu kemudian, Pak Rahman mengubah cara evaluasi.

Selain laporan keuangan, ia meminta timnya mencatat hal-hal yang selama ini diabaikan.

Berapa lama proses pengadaan berlangsung.

Apakah pengguna puas.

Apakah barang berfungsi dengan baik.

Apakah pemasok dapat diandalkan.

Bagaimana kualitas kerja tim pengadaan.

Awalnya banyak yang menolak.

"Itu terlalu sulit diukur."

"Itu tidak masuk laporan keuangan."

"Itu tidak penting."

Namun Pak Rahman tetap berjalan.


Satu tahun kemudian hasilnya mulai terlihat.

Penghematan memang tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya.

Tetapi keluhan pengguna turun drastis.

Barang datang tepat waktu.

Proyek selesai sesuai jadwal.

Hubungan dengan penyedia semakin baik.

Pegawai lebih bangga terhadap pekerjaannya.

Dan yang paling penting, masyarakat mulai merasakan manfaatnya.

Dalam rapat akhir tahun, seorang direktur bertanya.

"Kenapa angka penghematan kita lebih kecil?"

Pak Rahman tersenyum.

Karena kali ini ia sudah memiliki jawaban.

"Karena tahun ini kami tidak hanya membeli barang yang murah."

"Lalu?"

"Kami membeli barang yang tepat."

Ruangan menjadi sunyi.

Pak Rahman melanjutkan.

"Selama ini kita terlalu sibuk menghitung berapa uang yang berhasil disimpan."

"Padahal yang lebih penting adalah berapa banyak manfaat yang berhasil diberikan."


Di perjalanan pulang malam itu, Pak Rahman melihat gedung baru yang berdiri kokoh di tengah hujan.

Tidak ada kebocoran.

Tidak ada cat yang mengelupas.

Lampu-lampunya menyala terang.

Ia tersenyum kecil.

Akhirnya ia mengerti sesuatu yang selama ini luput.

Efisiensi memang penting.

Tetapi efektivitas adalah alasan mengapa efisiensi itu dilakukan.

Karena keberhasilan tidak selalu tercatat dalam laporan keuangan.

Kadang keberhasilan hadir dalam bentuk gedung yang bertahan puluhan tahun.

Dalam pelayanan yang lebih baik.

Dalam pegawai yang bangga terhadap pekerjaannya.

Dan dalam masyarakat yang merasakan manfaatnya.

Hal-hal yang nilainya jauh lebih besar daripada angka yang tercetak di atas kertas.

Rabu, 09 April 2025

Hari Terakhir Pemasukan Penawaran

 Tahun 2010.

Pukul sembilan pagi.

Di sebuah kantor pemerintah provinsi, belasan kontraktor duduk berjajar di ruang tunggu yang sempit. Sebagian membawa map cokelat tebal, sebagian lagi menggenggam amplop besar berisi dokumen penawaran.

Mereka saling mengenal.

Terlalu mengenal.

"Pak Surya ikut juga?"

"Ikut."

"Paket yang mana?"

"Yang jalan provinsi."

"Oh..."

Percakapan singkat itu terdengar biasa. Namun semua orang di ruangan itu memahami maknanya.

Kadang yang terucap bukanlah informasi.

Melainkan sinyal.

Sinyal bahwa hari ini bukan giliranmu menang.

Di dunia pengadaan saat itu, banyak hal tidak perlu dijelaskan secara terang-terangan.

Cukup dengan tatapan mata.

Atau secangkir kopi sebelum pemasukan dokumen.


Arif baru berusia tiga puluh tahun ketika mengambil alih perusahaan konstruksi peninggalan ayahnya.

Perusahaannya kecil.

Hanya memiliki dua puluh karyawan.

Mereka tidak punya koneksi politik.

Tidak punya kenalan pejabat.

Dan tidak pernah diundang ke meja-meja makan malam tempat proyek dibicarakan sebelum diumumkan.

Karena itu Arif selalu percaya pada satu hal.

Kalau pekerjaannya bagus, seharusnya ia punya kesempatan yang sama untuk menang.

Sayangnya dunia tidak selalu bekerja seperti itu.

Sudah tiga tahun ia mengikuti berbagai tender.

Dan hampir selalu kalah.

Kadang kalah tipis.

Kadang kalah dengan harga yang bahkan tidak masuk akal.

Seolah pemenangnya sudah diketahui jauh sebelum dokumen dibuka.


Suatu sore, seorang kontraktor senior menepuk bahunya.

"Kamu masih serius ikut tender pemerintah?"

"Iya."

"Capek."

"Kenapa?"

Pria itu tersenyum.

"Karena kamu datang untuk bertanding. Yang lain datang untuk bagi giliran."

Arif tidak menjawab.

Namun kalimat itu terus terngiang selama perjalanan pulang.


Beberapa bulan kemudian sebuah perubahan besar diumumkan.

Mulai tahun berikutnya, dokumen penawaran tidak lagi diserahkan langsung ke kantor pemerintah.

Semuanya dilakukan secara elektronik.

Online.

Tidak ada lagi amplop cokelat.

Tidak ada lagi ruang tunggu.

Tidak ada lagi pertemuan tatap muka saat pemasukan penawaran.

Banyak orang mengeluh.

Banyak pula yang khawatir.

Namun bagi Arif, perubahan itu terasa seperti angin segar.

Untuk pertama kalinya ia merasa akan bertanding di lapangan yang lebih datar.


Hari pertama sistem baru diberlakukan, kantor Arif berubah seperti markas perang.

Laptop menyala.

Internet diperiksa berulang kali.

Seluruh tim duduk mengelilingi meja.

"Sudah siap upload?"

"Sudah, Pak."

"Jangan sampai file salah."

"Koneksi aman."

Ketika tombol "Submit" ditekan, tidak ada suara tepuk tangan.

Tidak ada sorakan.

Hanya rasa lega.

Mereka baru saja mengikuti tender tanpa harus bertemu siapa pun.

Tanpa harus menebak siapa yang sedang mendapat giliran menang.


Bulan demi bulan berlalu.

Jumlah peserta tender meningkat drastis.

Perusahaan-perusahaan dari luar daerah mulai berdatangan.

Mereka tidak perlu lagi mengirim staf hanya untuk menyerahkan dokumen.

Mereka cukup membuka laptop dari kota masing-masing.

Persaingan menjadi lebih ketat.

Tetapi justru lebih jujur.

Arif menyukainya.


Suatu pagi telepon kantornya berdering.

Nomor dari pemerintah provinsi.

"Selamat pagi, Pak Arif."

"Selamat pagi."

"Kami ingin menginformasikan bahwa perusahaan Bapak ditetapkan sebagai pemenang."

Arif terdiam.

Beberapa detik.

Ia mengira salah dengar.

"Maaf, bisa diulang?"

"Perusahaan Bapak menang."

Tangannya gemetar.

Bukan karena nilai proyeknya besar.

Tetapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa menang karena kualitas pekerjaannya.

Bukan karena siapa yang ia kenal.


Malam itu Arif berdiri di depan kantor yang hampir kosong.

Lampu-lampu kota menyala di kejauhan.

Ia teringat ruang tunggu lama.

Amplop cokelat.

Percakapan-percakapan pendek yang penuh kode.

Tatapan mata yang menentukan nasib proyek bahkan sebelum penawaran dibuka.

Semua itu perlahan menghilang.

Digantikan oleh layar monitor dan jaringan internet.

Mungkin sistem baru tidak sempurna.

Masih ada masalah.

Masih ada celah.

Masih ada pihak yang mencoba mencari jalan pintas.

Namun setidaknya sekarang, seorang kontraktor kecil dari kota mana pun memiliki kesempatan untuk bersaing.

Kesempatan yang dulu terasa mustahil.

Arif tersenyum.

Terkadang kemajuan bukanlah sesuatu yang megah.

Bukan gedung tinggi.

Bukan jalan tol baru.

Kadang kemajuan hanya berupa satu tombol kecil di layar komputer.

Tombol yang memberi semua orang kesempatan yang sama untuk bermimpi.

Dan malam itu, setelah bertahun-tahun kalah, Arif akhirnya percaya bahwa mimpinya masih layak diperjuangkan.


"Penghapusan tatap muka dalam proses tender melalui sistem electronic yang meningkatkan kompetisi dan partisipasi peserta, sekaligus mengurangi peluang kolusi yang sebelumnya mungkin terjadi dalam sistem non elektronik"

Selasa, 30 April 2024

Tentang Sepuluh Tahun dan Hal-Hal yang Tidak Masuk CV

Ada yang bilang sepuluh tahun itu lama.

Saya setuju. Sampai tiba-tiba saya sadar bahwa satu dekade bisa lewat hanya dalam beberapa kali pergantian kalender, beberapa kali ganti hape, dan entah berapa banyak jamuan rapat.

Hari ini saya menutup satu bab yang sudah menemani hidup saya selama sepuluh tahun.

Lucunya, ketika pertama kali datang, saya tidak pernah membayangkan akan bertahan selama itu. Saya pikir ini hanya akan menjadi salah satu pemberhentian dalam perjalanan karier. Tempat bekerja, pulang, menerima gaji, lalu mengulanginya lagi keesokan hari.

Ternyata saya salah.

Karena yang saya tinggalkan hari ini bukan sekadar tempat kerja.

Saya meninggalkan sepuluh tahun kehidupan.

Di tempat ini saya datang sebagai seorang pria lajang yang masih percaya bahwa olahraga rutin akan membuat perut tetap rata selamanya. Saya pergi sebagai bapak-bapak yang mulai memahami bahwa metabolisme ternyata bisa berkhianat.

Di tempat ini saya menyelesaikan dua gelar master, melakukan perjalanan ke banyak kota dan negara, bertemu begitu banyak orang baik, dan belajar bahwa kehidupan profesional sering kali lebih rumit daripada teori apa pun yang pernah diajarkan di ruang kuliah.

Saya belajar bahwa kemampuan paling penting dalam hidup bukan hanya bekerja keras, tetapi juga mampu tertawa ketika keadaan tidak berjalan sesuai rencana.

Dan untungnya, selama sepuluh tahun ini saya dikelilingi banyak orang yang membuat perjalanan itu jauh lebih menyenangkan.

Ada teman-teman yang berubah menjadi keluarga. Ada obrolan yang awalnya hanya basa-basi lalu berkembang menjadi persahabatan bertahun-tahun. Ada candaan yang diulang terus sampai akhirnya menjadi urban legend. Ada orang-orang yang mungkin tidak akan sering saya temui lagi, tetapi akan selalu muncul di status WA.

Tentu tidak semua hari menyenangkan.

Ada hari ketika semuanya terasa mudah. Ada juga hari ketika rasanya ingin menghilang dari grup WA kantor selama seminggu penuh.

Ada orang yang membuat saya belajar pengadaan. Ada juga orang yang membuat saya belajar tentang kesabaran.

Tapi mungkin memang begitu cara hidup bekerja.

Kita tidak hanya tumbuh karena pengalaman yang menyenangkan. Kita juga tumbuh karena hal-hal yang sempat membuat kita kesal.

Hari ini, ketika melihat ke belakang, saya menyadari bahwa yang paling saya syukuri bukanlah jabatan, pencapaian, atau hal-hal yang bisa ditulis di LinkedIn.

Yang paling saya syukuri adalah orang-orangnya.

Karena pada akhirnya, kita jarang mengingat pekerjaan yang selesai dikerjakan.

Tetapi kita selalu ingat siapa yang duduk di sebelah kita ketika hari itu terasa berat.

Untuk semua yang pernah menjadi bagian dari cerita ini, terima kasih.

Terima kasih untuk tawa, bantuan, pelajaran, dukungan, kesempatan, dan kenangan yang akan terus saya bawa ke mana pun saya pergi.

Dan jika selama sepuluh tahun ini saya pernah membuat kecewa, berkata kurang tepat, atau menjadi sumber stres bagi siapa pun, saya meminta maaf dengan tulus.

Sementara untuk kalian yang pernah membuat saya kesal...


Tenang saja.

Sebagian besar sudah saya maafkan.

Sebagian besar.

Hari ini bukan akhir cerita.

Hanya akhir dari satu bab yang sangat panjang dan sangat berharga.

Besok pagi akan ada meja kerja baru, tantangan baru, dan cerita baru.

Tetapi malam ini saya ingin duduk sebentar, menatap ke belakang, lalu tersenyum pada perjalanan yang sudah membawa saya sejauh ini.

Sepuluh tahun.

Terima kasih sudah menjadi cerita yang layak dikenang.

Dan seperti semua perpisahan yang baik, saya memilih untuk tidak mengatakan selamat tinggal.

Sampai ketemu lagi di cerita berikutnya.

Sabtu, 20 Mei 2023

Harga Sebuah Sanggahan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

"Rendahnya kepercayaan terhadap mekanisme penyelesaian sengketa pengadaan, kekhawatiran terhadap reputasi bisnis, dan dilema antara mencari keadilan atau menjaga keberlangsungan usaha."

Hujan turun tipis di luar jendela kantor ketika Arga menatap layar laptopnya.

Pengumuman pemenang tender sudah keluar satu jam lalu.

Dan seperti yang sudah ia duga, perusahaannya kalah.

Bukan kalah karena harga lebih mahal. Bukan pula karena dokumen administrasi kurang lengkap. Justru semua persyaratan yang diminta panitia berhasil mereka penuhi dengan baik.

Yang membuat Arga kesal adalah pemenangnya.

Perusahaan itu lagi.

Perusahaan yang sama selama tiga tahun berturut-turut.

"Masih mereka?" tanya Dimas, staf marketing yang duduk di seberang meja.

Arga hanya mengangguk pelan.

Ia membuka kembali dokumen evaluasi. Semakin dibaca, semakin banyak kejanggalan yang ditemukan. Beberapa persyaratan teknis terasa begitu spesifik, seolah ditulis untuk satu perusahaan tertentu.

"Kalau begini caranya, ngapain kita ikut tender?" gerutu Dimas.

Arga tidak menjawab.

Sebagai direktur perusahaan konstruksi menengah, ia sudah terlalu sering menghadapi situasi seperti ini.

Masalahnya bukan apakah mereka kalah.

Masalahnya adalah keyakinan bahwa hasilnya sudah ditentukan sejak awal.


Malam itu Arga membawa pulang setumpuk dokumen.

Di meja makan, istrinya memperhatikan wajahnya yang muram.

"Kamu mau sanggah?"

"Aku pikir begitu."

"Tapi?"

Arga tersenyum pahit.

"Tapi kalau aku sanggah, tahun depan bisa jadi kita nggak diundang lagi."

Istrinya terdiam.

Mereka sama-sama tahu kenyataan itu.

Di dunia usaha, reputasi bukan hanya soal kualitas pekerjaan.

Reputasi juga tentang apakah seseorang dianggap mudah diajak bekerja sama atau terlalu banyak masalah.

Perusahaan yang sering menggugat sering kali dicap sulit.

Dan cap itu bisa lebih mahal daripada nilai tender yang sedang diperebutkan.


Seminggu kemudian Arga bertemu beberapa rekan pengusaha dalam sebuah acara asosiasi.

Topik pembicaraan mereka ternyata sama.

Tender.

Sanggahan.

Dan ketidakpercayaan.

"Aku pernah menang di pengadilan," kata seorang pengusaha senior.

"Wah, bagus dong?"

Pria itu tertawa kecil.

"Menang perkara, kalah bisnis."

"Maksudnya?"

"Setelah itu hampir tidak pernah dapat proyek dari instansi yang sama."

Suasana meja mendadak sunyi.

Tak seorang pun membantah.

Karena hampir semua pernah mendengar cerita serupa.


Malam harinya Arga duduk sendirian di ruang kerja.

Di depannya ada dua pilihan.

Mengajukan sanggahan.

Atau melanjutkan hidup.

Secara hukum, ia punya peluang.

Banyak kejanggalan bisa dipersoalkan.

Tetapi prosesnya panjang.

Biayanya besar.

Belum tentu menang.

Kalaupun menang, belum tentu hubungan bisnisnya selamat.

Arga menatap foto para karyawannya yang tergantung di dinding.

Lima puluh tujuh orang.

Lima puluh tujuh keluarga yang bergantung pada keberlangsungan perusahaan.

Saat itulah ia sadar.

Keputusan ini bukan soal benar atau salah.

Ini soal bertahan hidup.


Keesokan pagi, Arga mengumpulkan seluruh manajernya.

"Apa kita jadi sanggah, Pak?" tanya Dimas.

Arga menggeleng pelan.

Ruangan menjadi hening.

"Bukan karena kita takut."

"Bukan karena kita mengaku kalah."

"Lalu kenapa, Pak?"

Arga menarik napas panjang.

"Karena kadang dalam bisnis, memilih perang bukan berarti keputusan terbaik."

"Tapi kita dirugikan."

"Iya."

"Dan mereka mungkin salah."

"Iya."

"Lalu kita diam saja?"

Arga memandang seluruh timnya.

"Tidak."

"Kalau begitu?"

"Kita buktikan lewat pekerjaan yang lebih baik."


Beberapa bulan kemudian, perusahaan mereka memenangkan tender dari instansi lain.

Lalu tender berikutnya.

Dan berikutnya lagi.

Namun jauh di dalam hati Arga, masih tersisa pertanyaan yang belum pernah terjawab.

Bagaimana jika perusahaan-perusahaan yang benar memilih diam?

Bagaimana jika ketakutan kehilangan reputasi membuat semua orang enggan bersuara?

Siapa yang akan memperbaiki sistem?

Ia menatap langit senja dari jendela kantornya.

Barangkali kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa dipaksa melalui aturan.

Kepercayaan lahir ketika orang yakin bahwa keadilan benar-benar ada.

Dan selama keyakinan itu belum tumbuh, banyak perusahaan akan terus melakukan hal yang sama seperti dirinya:

Memilih diam.

Bukan karena tidak berani melawan.

Tetapi karena harga sebuah sanggahan terkadang lebih mahal daripada kekalahan itu sendiri.

Selasa, 15 Februari 2022

Journey to Negativity

Awalnya aku mengira ini hanya masuk angin biasa.

Kamis sore, sepulang kerja, badanku terasa aneh. Tenggorokan gatal, batuk tak berhenti, mata panas, dan seluruh tubuh seperti kehilangan tenaga. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya kelelahan setelah seminggu bekerja. Segelas obat diminum, lalu aku merebahkan diri di tempat tidur sambil berharap besok pagi semuanya membaik.

Ternyata tidak.

Jumat pagi, kondisi justru semakin tidak nyaman. Ada perasaan mengganjal yang sulit dijelaskan. Untungnya aku masih menyimpan satu kotak alat tes antigen di rumah. Berbekal keberanian dan pengalaman beberapa kali melihat petugas kesehatan melakukan swab, aku memutuskan untuk melakukannya sendiri.

Beberapa menit kemudian, dua garis merah muncul.

Positif.


Anehnya, aku tidak panik. Mungkin karena selama dua tahun pandemi berlangsung, berita tentang Covid sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tetap saja, melihat dua garis itu dengan mata kepala sendiri memberikan sensasi yang berbeda.

Keesokan harinya aku menjalani PCR. Ruang tunggu penuh orang yang batuk, bersin, dan sesekali mengeluh pusing. Suasananya seperti ruang tunggu keberangkatan menuju pulau yang tak seorang pun ingin datangi. Petugas mengatakan hasilnya baru keluar dua hari lagi.

Senin pagi hasilnya keluar.

Positif.

Setelah kabar itu diterima, langkah pertama yang terpikir bukanlah tentang diriku sendiri, melainkan orang-orang di rumah. Anak, istri, dan asisten rumah tangga segera menjalani tes. Syukurlah hasil mereka negatif. Demi keamanan, mereka sementara waktu mengungsi agar tidak tertular.

Rumah yang biasanya ramai mendadak sunyi.

Hari-hari berikutnya berjalan lambat. Aku menjalani isolasi mandiri di kamar. Setiap pagi bangun, makan, minum obat, bekerja seperlunya dari rumah, lalu kembali berbaring. Sesekali aku melakukan tes antigen lagi hanya karena penasaran.

Selasa, masih positif.

Rabu, masih positif.

Jumat, setelah obat terakhir diminum, hasilnya tetap positif.

Yang paling berat ternyata bukan gejalanya. Demam hanya datang sebentar. Batuk pun masih bisa ditoleransi. Yang sulit adalah kesepian.

Aku mulai merindukan hal-hal kecil yang biasanya tidak pernah diperhatikan. Suara orang bercakap di ruang tamu. Bunyi pintu dibuka. Obrolan singkat saat makan malam. Bahkan suara kendaraan lewat di depan rumah terasa lebih menarik daripada biasanya.

Hari kedelapan isolasi, karena bosan sekaligus penasaran, aku kembali melakukan tes antigen. Kali ini hanya satu garis yang muncul.

Negatif.

Aku hampir tidak percaya. Seolah-olah setelah berhari-hari terjebak dalam ruang sempit, akhirnya ada secercah cahaya di ujung lorong. Untuk memastikan, aku kembali menjalani PCR.

Keesokan harinya hasilnya keluar.

Negatif.

Masih belum puas, aku melakukan tes antigen sekali lagi di rumah. Has
ilnya tetap sama.

Satu garis.

Saat itulah aku memutuskan untuk mengumumkan kepada diri sendiri bahwa aku telah sembuh.

Perjalanan sebelas hari itu mengajarkan satu hal sederhana. Saat sehat, kita sering menganggap kehadiran orang-orang terdekat sebagai sesuatu yang biasa. Namun ketika harus menghabiskan hari-hari sendirian di balik pintu kamar, kita baru menyadari betapa berharganya perhatian kecil dari mereka.


Makanan yang diantar ke depan pintu. Pesan singkat yang menanyakan kabar. Telepon dari teman yang hanya ingin memastikan kita baik-baik saja. Semua terasa jauh lebih berarti daripada sebelumnya.

Covid memang membuat tubuhku sakit.

Tapi yang paling terasa justru kesepiannya.

Dan untungnya, aku tidak menjalaninya sendirian. Selalu ada keluarga, sahabat, dan orang-orang baik yang menemani dari kejauhan sampai akhirnya dua garis itu berubah menjadi satu.

Minggu, 20 Juni 2021

Kampung Praijing, Sumba Barat

Beberapa waktu lalu saya mendapat tugas ke Kabupaten Sumba Barat. Awalnya sempat berpikir dua kali karena lokasinya cukup jauh, apalagi saat itu kondisi pandemi sedang kurang bersahabat. Namun setelah dipertimbangkan, dan mengingat saya belum pernah menginjakkan kaki di Pulau Sumba, akhirnya tugas tersebut saya terima juga.

Perjalanan dimulai dari Waingapu di Sumba Timur menuju Waikabubak, ibu kota Kabupaten Sumba Barat. Di Google Maps tertulis sekitar tiga jam perjalanan. Kenyataannya? Hampir enam jam.

Penyebabnya sederhana: saya naik travel. Bukan dijemput kendaraan dinas seperti yang mungkin dibayangkan orang-orang. Jadi sepanjang perjalanan, mobil beberapa kali berhenti untuk menurunkan penumpang, mengangkut barang, dan menunggu penumpang berikutnya. Dalam hati saya sempat berpikir, kalau sampai hilang di jalan, acara besok mungkin bisa langsung batal.

Karena rasanya sayang sudah jauh-jauh datang ke Sumba hanya untuk rapat lalu pulang, keesokan harinya sebelum kembali ke Jakarta saya meminta bantuan panitia daerah untuk diajak melihat sedikit sisi lain Pulau Sumba. Pilihan jatuh pada Kampung Praijing.

Kampung adat ini berada di Desa Tebara, tidak terlalu jauh dari pusat Kota Waikabubak. Transportasi umum maupun taksi online belum tersedia, jadi cara termudah untuk berkunjung adalah menyewa kendaraan atau, seperti saya, beruntung memiliki teman dari pemerintah daerah yang bersedia mengantar.

Sesampainya di sana, saya langsung disambut deretan rumah adat khas Sumba yang berdiri kokoh di atas bukit. Masyarakat setempat masih mempertahankan tradisi dan kepercayaan Marapu, agama asli Pulau Sumba yang telah diwariskan turun-temurun. Meski merupakan kampung adat, fasilitas modern seperti listrik dan sinyal telepon sudah tersedia.

Ada satu informasi menarik yang saya dengar dari teman yang mengantar saya. Menurutnya, Kepala Desa Tebara merupakan satu-satunya kepala desa di Kabupaten Sumba Barat yang bergelar sarjana. Entah masih berlaku atau tidak saat tulisan ini dibuat, tetapi cukup menarik untuk diketahui.

Yang paling menyenangkan, tiket masuk ke Kampung Praijing hanya Rp10.000 per orang. Dengan harga segitu, kita bisa menikmati salah satu kampung adat paling terkenal di Sumba, belajar sedikit tentang budaya lokal, sekaligus menikmati pemandangan perbukitan yang indah.

Kadang-kadang, perjalanan dinas terbaik justru terjadi setelah pekerjaan selesai.

Sabtu, 20 Februari 2021

Perempuan Bekerja dan Rumah Tangga yang Bahagia

Ada topik-topik tertentu yang selalu berhasil memancing perdebatan panjang. Salah satunya adalah tentang perempuan yang tetap bekerja setelah menikah.

Menariknya, perdebatan itu hampir selalu berakhir dengan pola yang sama. Masing-masing pihak berusaha meyakinkan bahwa pilihannyalah yang paling benar. Seolah-olah kehidupan keluarga bisa diselesaikan dengan satu rumus yang berlaku untuk semua orang.

Padahal semakin bertambah usia, semakin terasa bahwa kehidupan tidak sesederhana itu.

Rumah tangga bukanlah soal mencari siapa yang paling benar. Rumah tangga adalah tentang menemukan kesepakatan yang paling tepat bagi dua orang yang menjalaninya.

Ada perempuan yang merasa bahagia ketika dapat sepenuhnya fokus mengurus keluarga. Ada yang menemukan kebahagiaan dalam membangun karier. Ada pula yang memilih menjalani keduanya secara bersamaan. Tidak ada yang lebih mulia dari yang lain. Tidak ada yang otomatis lebih baik. Semua kembali pada kondisi, kebutuhan, dan kesepakatan masing-masing keluarga.

Masalahnya, manusia sering kali memiliki kecenderungan untuk menganggap pengalaman pribadinya sebagai standar bagi semua orang.

Jika ia tumbuh di lingkungan yang mayoritas perempuannya bekerja, maka itu dianggap normal. Jika ia tumbuh di lingkungan yang mayoritas perempuan memilih tinggal di rumah, maka itu pun dianggap sebagai standar yang seharusnya.

Padahal apa yang dianggap normal oleh satu keluarga belum tentu cocok diterapkan pada keluarga lain.

Setiap rumah tangga memiliki cerita yang berbeda. Ada yang membutuhkan dua sumber penghasilan untuk mencapai tujuan hidupnya. Ada yang merasa cukup dengan satu pencari nafkah. Ada yang memprioritaskan stabilitas finansial. Ada yang lebih mengutamakan fleksibilitas waktu bersama keluarga.

Tidak ada satu pun yang bisa dipukul rata.

Mungkin karena itu pula, banyak perdebatan tentang peran suami dan istri sering berakhir buntu. Orang terlalu sibuk mempertahankan posisi masing-masing sampai lupa bahwa tujuan sebuah keluarga bukan memenangkan argumen, melainkan membangun kehidupan yang baik bersama.

Dalam kenyataannya, yang jauh lebih penting bukanlah apakah seseorang bekerja atau tidak bekerja.

Yang lebih penting adalah apakah keluarga tersebut berjalan dengan sehat.

Apakah pasangan saling mendukung.

Apakah kebutuhan anak terpenuhi.

Apakah ada komunikasi yang baik.

Apakah keputusan-keputusan besar diambil melalui kesepakatan, bukan paksaan.

Karena karier setinggi apa pun tidak akan berarti jika hubungan dalam keluarga hancur. Sebaliknya, memilih fokus pada keluarga juga bukan keputusan yang salah selama dilakukan dengan kesadaran dan kebahagiaan.

Kebahagiaan rumah tangga sering kali lahir dari hal-hal yang jauh lebih sederhana dibandingkan perdebatan di media sosial. Dari rasa saling menghargai. Dari kemampuan mendengarkan pasangan. Dari kesediaan untuk memahami bahwa setiap orang memiliki mimpi, kebutuhan, dan cara pandang yang berbeda.

Pada akhirnya, memiliki pasangan yang bekerja atau tidak bekerja hanyalah salah satu dari sekian banyak pilihan hidup.

Yang seharusnya menjadi perhatian bukanlah pilihan itu sendiri, melainkan bagaimana pilihan tersebut dijalani dengan tanggung jawab dan saling menghormati.

Karena rumah tangga yang bahagia tidak dibangun dari keseragaman.

Ia dibangun dari dua orang yang sepakat untuk berjalan ke arah yang sama, meskipun mungkin memilih langkah yang berbeda untuk mencapainya

Rabu, 20 Januari 2021

Rezeki Setelah Menikah

Dulu saya termasuk orang yang diam-diam meragukan kalimat, "menikah itu membuka pintu rezeki." Bukan karena saya tidak percaya pada pernikahan, tetapi karena saya terlalu sering melihat kenyataan yang berbeda. Saya melihat pasangan-pasangan yang tetap harus berjuang keras setelah menikah. Saya melihat keluarga yang penghasilannya pas-pasan, bahkan ada yang harus berhutang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari situ saya berpikir, kalau menikah memang otomatis mendatangkan rezeki, bukankah semua pasangan seharusnya hidup lebih mudah?

Mungkin karena cara berpikir itulah saya tidak pernah terburu-buru menikah. Saya selalu merasa harus cukup siap. Punya pekerjaan yang jelas, tabungan yang lumayan, dan perencanaan hidup yang lebih matang. Pada akhirnya saya menikah di usia 27 tahun. Tidak terlalu muda, tetapi juga belum terlambat. Saat itu saya merasa keputusan tersebut cukup masuk akal. Setidaknya saya punya sedikit rasa percaya diri untuk mengajak seseorang menjalani hidup bersama.

Tiga tahun setelah menikah, saya baru sadar bahwa selama ini saya salah memahami arti rezeki.

Dulu saya mengukur rezeki dengan cara yang sangat sederhana: angka. Semakin besar saldo rekening, semakin besar rezeki. Semakin banyak aset, semakin sukses hidup seseorang. Semua bisa dihitung dengan kalkulator dan aplikasi mobile banking.

Masalahnya, hidup ternyata tidak bekerja sesederhana itu.

Kalau dibandingkan masa lajang, sejujurnya tabungan saya dulu jauh lebih banyak. Gaji masuk, kebutuhan pribadi relatif sedikit, dan hampir tidak ada tanggungan. Kalau ingin membeli sesuatu, biasanya tinggal beli. Tidak perlu berdiskusi. Tidak perlu mempertimbangkan kebutuhan orang lain. Tidak perlu memikirkan biaya sekolah, biaya kesehatan, atau cicilan rumah.

Namun anehnya, saya justru merasa hidup sekarang lebih tenang.

Bukan karena uang saya lebih banyak. Justru sebaliknya. Ada lebih banyak pengeluaran yang harus dipikirkan. Ada lebih banyak tanggung jawab yang harus dipenuhi. Tetapi ada rasa cukup yang dulu tidak pernah saya rasakan ketika masih hidup sendirian.

Saya mulai menyadari bahwa rezeki ternyata bisa berbentuk banyak hal.

Rezeki itu ketika pulang ke rumah ada yang menunggu. Rezeki itu ketika mendengar suara anak memanggil ayah setelah hari yang panjang dan melelahkan. Rezeki itu ketika bisa duduk makan malam bersama keluarga sambil membicarakan hal-hal sederhana yang mungkin tidak penting bagi orang lain, tetapi terasa sangat berarti bagi kita.

Rezeki juga ternyata bukan selalu tentang memiliki banyak uang. Kadang justru tentang memiliki uang yang cukup pada saat yang tepat.

Saya tidak pernah merasa menjadi orang kaya. Sampai sekarang pun masih sering menghitung anggaran sebelum membeli sesuatu. Tetapi entah bagaimana, ketika ada kebutuhan besar, selalu ada jalannya. Ketika waktunya membeli rumah, ada rezekinya. Ketika membutuhkan kendaraan untuk keluarga, ada jalannya. Ketika ingin mengajak keluarga berjalan-jalan atau sekadar makan ramen di akhir pekan, biasanya tetap ada ruang di anggaran.

Tidak berlebihan. Tidak mewah. Tetapi cukup.

Dan semakin bertambah usia, saya mulai percaya bahwa rasa cukup adalah salah satu bentuk kekayaan yang paling sulit dimiliki manusia.

Tentu saja kehidupan pernikahan tidak selalu indah seperti foto-foto di media sosial. Ada hari ketika kami berbeda pendapat. Ada perdebatan soal hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting. Ada momen ketika kami sama-sama lelah dan emosional. Namun seiring waktu saya belajar bahwa cekcok bukanlah tanda bahwa sebuah pernikahan gagal.

Justru yang penting adalah bagaimana dua orang tetap memilih duduk bersama setelah perdebatan selesai.

Karena pada akhirnya pernikahan bukan tentang menemukan pasangan yang sempurna. Tidak ada manusia yang sempurna. Pernikahan adalah tentang menemukan seseorang yang mau diajak bekerja sama menghadapi hidup yang kadang tidak masuk akal.

Kalau ada satu hal yang ingin saya sampaikan kepada teman-teman yang belum menikah, mungkin ini: jangan hanya membahas pesta pernikahannya. Jangan hanya membahas warna dekorasi atau lokasi foto prewedding. Bicarakan juga hal-hal yang sering dianggap tidak romantis. Bicarakan soal uang. Bicarakan soal tujuan hidup. Bicarakan soal utang, tabungan, gaya hidup, dan cara mengelola keuangan.

Karena setelah lampu pesta padam dan semua tamu pulang, kehidupan yang sesungguhnya justru baru dimulai.

Hari ini saya masih orang yang sama. Masih harus bekerja setiap pagi. Masih menunggu tanggal gajian setiap bulan. Masih sesekali tergoda membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Tetapi saya juga seseorang yang jauh lebih sering bersyukur dibandingkan beberapa tahun lalu.

Saya memiliki keluarga yang sehat. Rumah yang bisa disebut tempat pulang. Anak yang tumbuh setiap hari. Dan seorang istri yang tetap menjadi teman berbagi cerita, keluh kesah, sekaligus partner menghadapi segala drama kehidupan.

Kalau itu bukan rezeki, saya tidak tahu lagi apa namanya.

Dan mungkin sekarang saya akhirnya mengerti maksud orang-orang tua dulu. Menikah memang membuka pintu rezeki. Hanya saja, kadang pintu yang terbuka bukan menuju rekening yang lebih tebal, melainkan menuju hati yang lebih penuh rasa syukur