Kontributor

Sabtu, 20 Februari 2021

Perempuan Bekerja dan Rumah Tangga yang Bahagia

Ada topik-topik tertentu yang selalu berhasil memancing perdebatan panjang. Salah satunya adalah tentang perempuan yang tetap bekerja setelah menikah.

Menariknya, perdebatan itu hampir selalu berakhir dengan pola yang sama. Masing-masing pihak berusaha meyakinkan bahwa pilihannyalah yang paling benar. Seolah-olah kehidupan keluarga bisa diselesaikan dengan satu rumus yang berlaku untuk semua orang.

Padahal semakin bertambah usia, semakin terasa bahwa kehidupan tidak sesederhana itu.

Rumah tangga bukanlah soal mencari siapa yang paling benar. Rumah tangga adalah tentang menemukan kesepakatan yang paling tepat bagi dua orang yang menjalaninya.

Ada perempuan yang merasa bahagia ketika dapat sepenuhnya fokus mengurus keluarga. Ada yang menemukan kebahagiaan dalam membangun karier. Ada pula yang memilih menjalani keduanya secara bersamaan. Tidak ada yang lebih mulia dari yang lain. Tidak ada yang otomatis lebih baik. Semua kembali pada kondisi, kebutuhan, dan kesepakatan masing-masing keluarga.

Masalahnya, manusia sering kali memiliki kecenderungan untuk menganggap pengalaman pribadinya sebagai standar bagi semua orang.

Jika ia tumbuh di lingkungan yang mayoritas perempuannya bekerja, maka itu dianggap normal. Jika ia tumbuh di lingkungan yang mayoritas perempuan memilih tinggal di rumah, maka itu pun dianggap sebagai standar yang seharusnya.

Padahal apa yang dianggap normal oleh satu keluarga belum tentu cocok diterapkan pada keluarga lain.

Setiap rumah tangga memiliki cerita yang berbeda. Ada yang membutuhkan dua sumber penghasilan untuk mencapai tujuan hidupnya. Ada yang merasa cukup dengan satu pencari nafkah. Ada yang memprioritaskan stabilitas finansial. Ada yang lebih mengutamakan fleksibilitas waktu bersama keluarga.

Tidak ada satu pun yang bisa dipukul rata.

Mungkin karena itu pula, banyak perdebatan tentang peran suami dan istri sering berakhir buntu. Orang terlalu sibuk mempertahankan posisi masing-masing sampai lupa bahwa tujuan sebuah keluarga bukan memenangkan argumen, melainkan membangun kehidupan yang baik bersama.

Dalam kenyataannya, yang jauh lebih penting bukanlah apakah seseorang bekerja atau tidak bekerja.

Yang lebih penting adalah apakah keluarga tersebut berjalan dengan sehat.

Apakah pasangan saling mendukung.

Apakah kebutuhan anak terpenuhi.

Apakah ada komunikasi yang baik.

Apakah keputusan-keputusan besar diambil melalui kesepakatan, bukan paksaan.

Karena karier setinggi apa pun tidak akan berarti jika hubungan dalam keluarga hancur. Sebaliknya, memilih fokus pada keluarga juga bukan keputusan yang salah selama dilakukan dengan kesadaran dan kebahagiaan.

Kebahagiaan rumah tangga sering kali lahir dari hal-hal yang jauh lebih sederhana dibandingkan perdebatan di media sosial. Dari rasa saling menghargai. Dari kemampuan mendengarkan pasangan. Dari kesediaan untuk memahami bahwa setiap orang memiliki mimpi, kebutuhan, dan cara pandang yang berbeda.

Pada akhirnya, memiliki pasangan yang bekerja atau tidak bekerja hanyalah salah satu dari sekian banyak pilihan hidup.

Yang seharusnya menjadi perhatian bukanlah pilihan itu sendiri, melainkan bagaimana pilihan tersebut dijalani dengan tanggung jawab dan saling menghormati.

Karena rumah tangga yang bahagia tidak dibangun dari keseragaman.

Ia dibangun dari dua orang yang sepakat untuk berjalan ke arah yang sama, meskipun mungkin memilih langkah yang berbeda untuk mencapainya

Rabu, 20 Januari 2021

Rezeki Setelah Menikah

Dulu saya termasuk orang yang diam-diam meragukan kalimat, "menikah itu membuka pintu rezeki." Bukan karena saya tidak percaya pada pernikahan, tetapi karena saya terlalu sering melihat kenyataan yang berbeda. Saya melihat pasangan-pasangan yang tetap harus berjuang keras setelah menikah. Saya melihat keluarga yang penghasilannya pas-pasan, bahkan ada yang harus berhutang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dari situ saya berpikir, kalau menikah memang otomatis mendatangkan rezeki, bukankah semua pasangan seharusnya hidup lebih mudah?

Mungkin karena cara berpikir itulah saya tidak pernah terburu-buru menikah. Saya selalu merasa harus cukup siap. Punya pekerjaan yang jelas, tabungan yang lumayan, dan perencanaan hidup yang lebih matang. Pada akhirnya saya menikah di usia 27 tahun. Tidak terlalu muda, tetapi juga belum terlambat. Saat itu saya merasa keputusan tersebut cukup masuk akal. Setidaknya saya punya sedikit rasa percaya diri untuk mengajak seseorang menjalani hidup bersama.

Tiga tahun setelah menikah, saya baru sadar bahwa selama ini saya salah memahami arti rezeki.

Dulu saya mengukur rezeki dengan cara yang sangat sederhana: angka. Semakin besar saldo rekening, semakin besar rezeki. Semakin banyak aset, semakin sukses hidup seseorang. Semua bisa dihitung dengan kalkulator dan aplikasi mobile banking.

Masalahnya, hidup ternyata tidak bekerja sesederhana itu.

Kalau dibandingkan masa lajang, sejujurnya tabungan saya dulu jauh lebih banyak. Gaji masuk, kebutuhan pribadi relatif sedikit, dan hampir tidak ada tanggungan. Kalau ingin membeli sesuatu, biasanya tinggal beli. Tidak perlu berdiskusi. Tidak perlu mempertimbangkan kebutuhan orang lain. Tidak perlu memikirkan biaya sekolah, biaya kesehatan, atau cicilan rumah.

Namun anehnya, saya justru merasa hidup sekarang lebih tenang.

Bukan karena uang saya lebih banyak. Justru sebaliknya. Ada lebih banyak pengeluaran yang harus dipikirkan. Ada lebih banyak tanggung jawab yang harus dipenuhi. Tetapi ada rasa cukup yang dulu tidak pernah saya rasakan ketika masih hidup sendirian.

Saya mulai menyadari bahwa rezeki ternyata bisa berbentuk banyak hal.

Rezeki itu ketika pulang ke rumah ada yang menunggu. Rezeki itu ketika mendengar suara anak memanggil ayah setelah hari yang panjang dan melelahkan. Rezeki itu ketika bisa duduk makan malam bersama keluarga sambil membicarakan hal-hal sederhana yang mungkin tidak penting bagi orang lain, tetapi terasa sangat berarti bagi kita.

Rezeki juga ternyata bukan selalu tentang memiliki banyak uang. Kadang justru tentang memiliki uang yang cukup pada saat yang tepat.

Saya tidak pernah merasa menjadi orang kaya. Sampai sekarang pun masih sering menghitung anggaran sebelum membeli sesuatu. Tetapi entah bagaimana, ketika ada kebutuhan besar, selalu ada jalannya. Ketika waktunya membeli rumah, ada rezekinya. Ketika membutuhkan kendaraan untuk keluarga, ada jalannya. Ketika ingin mengajak keluarga berjalan-jalan atau sekadar makan ramen di akhir pekan, biasanya tetap ada ruang di anggaran.

Tidak berlebihan. Tidak mewah. Tetapi cukup.

Dan semakin bertambah usia, saya mulai percaya bahwa rasa cukup adalah salah satu bentuk kekayaan yang paling sulit dimiliki manusia.

Tentu saja kehidupan pernikahan tidak selalu indah seperti foto-foto di media sosial. Ada hari ketika kami berbeda pendapat. Ada perdebatan soal hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting. Ada momen ketika kami sama-sama lelah dan emosional. Namun seiring waktu saya belajar bahwa cekcok bukanlah tanda bahwa sebuah pernikahan gagal.

Justru yang penting adalah bagaimana dua orang tetap memilih duduk bersama setelah perdebatan selesai.

Karena pada akhirnya pernikahan bukan tentang menemukan pasangan yang sempurna. Tidak ada manusia yang sempurna. Pernikahan adalah tentang menemukan seseorang yang mau diajak bekerja sama menghadapi hidup yang kadang tidak masuk akal.

Kalau ada satu hal yang ingin saya sampaikan kepada teman-teman yang belum menikah, mungkin ini: jangan hanya membahas pesta pernikahannya. Jangan hanya membahas warna dekorasi atau lokasi foto prewedding. Bicarakan juga hal-hal yang sering dianggap tidak romantis. Bicarakan soal uang. Bicarakan soal tujuan hidup. Bicarakan soal utang, tabungan, gaya hidup, dan cara mengelola keuangan.

Karena setelah lampu pesta padam dan semua tamu pulang, kehidupan yang sesungguhnya justru baru dimulai.

Hari ini saya masih orang yang sama. Masih harus bekerja setiap pagi. Masih menunggu tanggal gajian setiap bulan. Masih sesekali tergoda membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Tetapi saya juga seseorang yang jauh lebih sering bersyukur dibandingkan beberapa tahun lalu.

Saya memiliki keluarga yang sehat. Rumah yang bisa disebut tempat pulang. Anak yang tumbuh setiap hari. Dan seorang istri yang tetap menjadi teman berbagi cerita, keluh kesah, sekaligus partner menghadapi segala drama kehidupan.

Kalau itu bukan rezeki, saya tidak tahu lagi apa namanya.

Dan mungkin sekarang saya akhirnya mengerti maksud orang-orang tua dulu. Menikah memang membuka pintu rezeki. Hanya saja, kadang pintu yang terbuka bukan menuju rekening yang lebih tebal, melainkan menuju hati yang lebih penuh rasa syukur

Jumat, 24 April 2020

Puasa Sebagai Minoritas di Jepang

Kalau ditanya hobi saya apa, jawabannya mungkin akan mengecewakan banyak orang.

Saya tidak terlalu suka jalan-jalan.

Bahkan bisa dibilang saya termasuk golongan kaum mager yang cukup militan. Saya tidak pernah benar-benar paham kesenangan mengumpulkan cap paspor, berburu destinasi wisata, atau menghabiskan liburan dengan berpindah dari satu kota ke kota lain hanya demi mendapatkan foto yang bagus untuk media sosial.

Kalau ada yang bisa membuat saya rela berlari jauh, biasanya hanya dua hal: sepak bola dan keluarga.

Lalu kenapa bisa sampai tinggal di Jepang?

Saya mendapat kesempatan untuk melanjutkan sekolah di sana. Bukan karena saya tiba-tiba berubah menjadi petualang, tetapi karena ada urusan akademis yang harus diselesaikan.

Dan kebetulan, selama berada di sana saya menjalani bulan Ramadhan.

Sebelumnya saya mengira puasa di Jepang hanya akan berbeda soal makanan halal dan durasi puasa yang lebih panjang.

Ternyata saya salah.

Yang berbeda justru suasananya.

Dan mungkin karena itulah sampai sekarang masih saya ingat.

Tidak Ada Azan

Hal pertama yang paling terasa adalah tidak adanya azan.

Saya tahu, zaman sekarang ada aplikasi di telepon genggam yang bisa mengingatkan waktu salat. Saya juga menggunakannya.

Masalahnya, aplikasi tidak pernah bisa menggantikan suasana.

Di Indonesia, azan itu seperti soundtrack kehidupan sehari-hari. Mau di kota besar atau di kampung, selalu ada suara yang mengingatkan bahwa waktu salat telah tiba.

Di Jepang?

Sunyi.

Sangat sunyi.

Terutama saat sahur.

Tidak ada suara masjid.

Tidak ada pengeras suara.

Tidak ada pengingat imsak dari mushola dekat rumah.

Tidak ada anak-anak yang berkeliling kompleks sambil berteriak "SAHUUURR!"

Yang ada hanya saya, kompor, sepiring makanan, dan telepon genggam yang sesekali saya cek karena takut kelewatan waktu subuh.

Kebetulan saat itu sedang musim semi.

Waktu subuh sekitar pukul 02.15 dini hari dan berbuka sekitar pukul 19.30 malam.

Kalau dihitung memang cukup panjang.

Tapi jujur saja, tidak terasa terlalu berat.

Mungkin karena sebagian besar waktu saya habiskan untuk mengerjakan tesis.

Atau mungkin karena manusia memang bisa terbiasa dengan apa saja selama ada deadline yang mengejar.

Menjadi Minoritas

Hal kedua yang paling menarik adalah untuk pertama kalinya dalam hidup saya benar-benar merasakan menjadi minoritas.

Di Indonesia, hampir semua orang tahu apa itu puasa.

Mereka mungkin tidak menjalankannya, tetapi setidaknya memahami konsepnya.

Di Jepang tidak demikian.

Banyak teman saya yang berasal dari berbagai negara bahkan belum pernah mengenal Muslim secara dekat.

Akibatnya saya sering mendapat pertanyaan yang menurut saya biasa, tetapi ternyata sangat masuk akal dari sudut pandang mereka.

"Mengapa harus puasa?"

"Mengapa salat lima kali sehari?"

"Mengapa tidak boleh minum alkohol?"

"Mengapa gerakan salat seperti itu?"

Awalnya saya sempat bingung menjawab.

Bukan karena tidak tahu jawabannya, tetapi karena saya baru sadar bahwa banyak hal yang selama ini saya anggap normal ternyata tidak otomatis dipahami orang lain.

Beruntung sebagian besar teman-teman saya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi sekaligus toleransi yang luar biasa.

Setelah dijelaskan semampunya, mereka menghormati pilihan saya.

Mereka tidak pernah memaksa saya ikut minum.

Tidak pernah memaksa saya makan.

Tidak pernah menganggap keyakinan saya aneh.

Justru kadang saya yang diuji.

Terutama ketika mereka sedang nongkrong atau menghadiri nomikai sambil menikmati makanan yang aromanya terlalu baik untuk diabaikan.

Ternyata cobaan puasa bukan hanya lapar dan haus.

Kadang juga aroma yakiniku dari meja sebelah.

Bertemu Saudara yang Tidak Pernah Saya Kenal

Salah satu hal yang paling saya sukai selama Ramadhan di Jepang adalah kesempatan bertemu Muslim dari berbagai penjuru dunia.

Kadang kami berbuka bersama di asrama.

Kadang salat berjamaah di mushola kecil di pusat kota Yokohama.


Tempatnya sederhana. Tidak besar. Bahkan jauh lebih kecil dibandingkan banyak mushola yang ada di Indonesia.

Tetapi suasananya hangat.

Di sana saya bertemu teman-teman dari Ghana, Togo, Maroko, Nigeria, Pakistan, Bangladesh, Malaysia, Mesir, dan berbagai negara lainnya.

Kami datang dari budaya yang berbeda.

Makanan favorit berbeda.

Bahasa ibu berbeda.

Warna kulit berbeda.

Tetapi ketika waktu berbuka tiba dan semua duduk mengelilingi makanan yang sama, perbedaan itu seperti menghilang begitu saja.

Saat itu saya sadar bahwa kadang kita harus pergi jauh untuk memahami betapa luasnya sebuah komunitas yang selama ini kita anggap kecil.

Tentang Ibadah dan Kesadaran Diri

Ada satu pelajaran yang paling membekas dari Ramadhan di Jepang.

Di sana saya menyadari bahwa ibadah benar-benar menjadi urusan pribadi.

Kalau saya tidak salat, tidak ada yang peduli.

Kalau saya tidak puasa, tidak ada yang bertanya.

Kalau saya memilih melakukan hal-hal yang bertentangan dengan keyakinan saya, kemungkinan besar tidak ada yang menegur.

Semua kembali kepada diri sendiri.

Dan mungkin justru di situlah inti pelajarannya.

Bahwa ketika tidak ada tekanan sosial, tidak ada lingkungan yang mengingatkan, dan tidak ada orang yang mengawasi, yang tersisa hanyalah hubungan antara diri sendiri dan Tuhan.

Self-control benar-benar diuji.

Dan saya rasa itu salah satu pengalaman spiritual yang cukup menarik.

Tetap Indonesia yang Saya Rindukan

Meskipun Ramadhan di Jepang memberikan banyak pengalaman baru, kalau ditanya lebih suka yang mana, saya tetap memilih Indonesia.

Saya rindu suara azan dari masjid dekat rumah.

Saya rindu kultum menjelang berbuka di televisi.

Saya rindu anak-anak kampung yang berteriak "SAHUUUR" dengan semangat yang jauh lebih besar daripada volume suaranya.

Saya bahkan rindu iklan sirup Marjan yang entah bagaimana selalu muncul sebagai penanda resmi datangnya bulan Ramadhan.

Karena pada akhirnya, rumah bukan hanya tempat.

Rumah adalah kumpulan kebiasaan kecil yang tidak kita sadari keberadaannya sampai kita berada ribuan kilometer jauhnya.

Tentu saja pengalaman saya belum tentu sama dengan pengalaman orang lain.

Mungkin ada yang lebih menikmati Ramadhan di luar negeri.

Mungkin ada yang merasa pengalaman saya biasa saja.

Dan itu tidak masalah.

Karena seperti banyak hal dalam hidup, pengalaman tidak harus sama untuk bisa dihargai.

Kalau saya boleh memilih?

Saya tetap ingin menjalani Ramadhan berikutnya di Indonesia.

Dengan suara azan.

Dengan gorengan menjelang magrib.

Dengan anak-anak yang berisik saat sahur.

Dan tentu saja, dengan iklan sirup Marjan yang muncul lebih sering daripada anggota keluarga sendiri.

Minggu, 08 Maret 2020

Gol Pertama di Lapangan TNI AU Pancoran

“Nih coy, bolanya buat lo. Ntar kasih umpan ala Pirlo ya.”

Bek kiri bertubuh gempal yang kekuatan utamanya overlap tapi kelemahan fatalnya lupa cara mundur itu mengoper bola pendek ke rekannya. Seorang gelandang pekerja keras yang lebih cocok disebut pengangkut galon daripada deep lying playmaker. Permainannya keras, hobinya adu badan, dan kalau sliding tackle kadang lebih mirip orang lagi nyari sandal hilang.

Mereka berdua pernah satu tim sejak zaman SMA. Jadi chemistry-nya memang sudah terbentuk bertahun-tahun, meskipun kualitasnya belum tentu.

“Udah lo naik aja sono. Gak usah banyak bacot,” jawab si gelandang sambil menggiring bola memasuki area pertahanan lawan dengan kepercayaan diri yang jauh lebih tinggi daripada kemampuan dribbling-nya.

Ajaibnya, kali ini sepak bola membuktikan bahwa teori tidak selalu berlaku.

Sang gelandang melepaskan umpan terobosan yang entah sengaja atau beruntung berhasil melewati beberapa pemain lawan. Bola mengarah ke sisi kanan, tepat ke jalur lari si bek kiri yang entah bagaimana sudah berada di depan. Mungkin karena memang dari awal dia lupa kalau tugas utamanya bertahan.

Tanpa pikir panjang, tanpa kontrol yang elegan, tanpa teknik ala pemain Eropa, ia langsung melepaskan tendangan keras.

Keras sekali.

Begitu keras sampai dirinya sendiri mungkin tidak tahu ke mana arah bola tersebut.

Untungnya, bola mengarah ke gawang.

Lebih untung lagi, masuk.

Gol.

Walaupun secara estetika gol tersebut masih sangat jauh dari nominasi Puskas Award dan lebih dekat ke kategori “yang penting masuk”, kedua pelaku utama tetap berlari ke pinggir lapangan.

Mereka melakukan selebrasi di depan kamera layaknya baru membawa tim menjuarai Liga Champions.

Padahal pertandingan cuma fun game 

Tapi begitulah sepak bola amatir.

Kadang yang dirayakan bukan kualitas golnya.

Melainkan fakta bahwa setelah bertahun-tahun main bareng, akhirnya umpan dan lari overlap mereka berhasil ketemu di momen yang tepat.

Gambar hanya pemanis. Cerita diangkat dari kisah nyata dengan sedikit dramatisasi dan kebohongan-kebohongan kecil demi kepentingan literasi sepak bola.






Kamis, 01 Agustus 2019

Menantang Panas Musim Panas di Nokogiriyama

Musim panas di Jepang ternyata tidak kalah serius dibandingkan musim panas di negara tropis. Hari itu suhu terasa sangat menyengat. Menurut aplikasi cuaca, real feel mencapai sekitar 42 derajat Celsius. Cuaca yang biasanya cukup untuk membuat saya berpikir dua kali sebelum keluar rumah.


Tapi justru di hari sepanas itu, kami memutuskan untuk ber
petualang ke Nokogiriyama, sebuah kawasan pegunungan di Prefektur Chiba yang terkenal dengan pemandangan teluknya serta situs bersejarah yang sudah berusia ratusan tahun.

Perjalanan dimulai dari Kurihama Port di Kanagawa. Alih-alih naik kereta seperti biasanya, kali ini kami memilih cara yang sedikit berbeda: menyeberang menggunakan kapal feri melintasi Selat Uraga menuju Chiba.


Ada sesuatu yang menyenangkan tentang bepergian dengan kapal. Mungkin karena ritmenya lebih lambat. Tidak seperti kereta yang berlari cepat dan membuat pemandangan hanya menjadi latar belakang, di atas kapal kita punya waktu untuk benar-benar menikmati perjalanan. Selama kurang lebih 40 menit, kami ditemani angin laut, suara mesin kapal, dan pemandangan Teluk Tokyo yang membentang luas di kejauhan.

Begitu tiba di Kanaya Port, petualangan sesungguhnya dimulai.

Untuk mencapai area utama Nokogiriyama, kami naik ropeway yang perlahan membawa kami semakin tinggi. Dari atas gondola, pemandangan laut dan pegunungan mulai terbuka sedikit demi sedikit. Saat itu saya mulai memahami mengapa tempat ini menjadi salah satu destinasi favorit bagi para pencinta alam dan fotografi.

Namun daya tarik utama Nokogiriyama bukan hanya pemandangannya.


Di kawasan ini terdapat Nihon-ji, kompleks kuil bersejarah yang menjadi rumah bagi Daibutsu terbesar di Jepang. Berdiri setinggi lebih dari 31 meter, patung Buddha raksasa itu terlihat begitu tenang dan megah di tengah tebing batu yang mengelilinginya. Sulit untuk tidak berhenti beberapa saat dan sekadar mengagumi bagaimana karya sebesar itu bisa dibuat berabad-abad lalu.

Karena hanya membeli tiket ropeway satu arah, kami memutuskan turun dengan berjalan kaki agar bisa menjelajahi lebih banyak sudut gunung. Keputusan yang terdengar cerdas di awal, tetapi terasa semakin menantang setiap kali matahari bersinar lebih terik dan tangga berikutnya muncul di depan mata. Meski begitu, justru bagian itulah yang paling berkesan.



Keringat yang tidak berhenti mengalir, botol minum yang cepat kosong, dan sesekali berhenti mencari tempat teduh menjadi bagian dari cerita perjalanan hari itu. Untungnya setiap rasa lelah selalu terbayar dengan pemandangan yang indah dan sudut-sudut menarik yang kami temukan sepanjang jalan.

Saat kembali pulang, badan terasa lelah tetapi pikiran terasa segar.

Kadang perjalanan terbaik bukanlah perjalanan yang paling nyaman, melainkan perjalanan yang membuat kita pulang dengan cerita.

Dan Nokogiriyama memberi kami cukup banyak cerita untuk satu hari musim panas yang sangat panas.

Selamat menikmati musim panas, dan jangan lupa minum air yang cukup.

Heatstroke is real. Trust me

Sabtu, 27 Oktober 2018

Menonton Sepakbola di Saitama Stadium 2002


Exploring Kanto: Saitama

Akhir pekan ini, perjalanan kami membawa langkah ke utara Tokyo, menuju Saitama-shi, ibu kota Prefektur Saitama. Bersama dua rekan sesama mahasiswa di GRIPS Tokyo, saya berkesempatan menyaksikan salah satu laga paling bergengsi di sepak bola Jepang: Final J.League Cup antara Shonan Bellmare dan Yokohama F. Marinos.

Tujuan kami adalah Saitama Stadium 2002. Bagi pencinta sepak bola, nama stadion ini tentu tidak asing. Stadion yang menjadi salah satu venue Piala Dunia 2002 tersebut merupakan salah satu stadion sepak bola murni terbesar di Jepang, tanpa lintasan atletik yang memisahkan pemain dan penonton. Hasilnya, atmosfer pertandingan terasa begitu dekat dan hidup.

Meski dikenal sebagai kandang dari Urawa Red Diamonds, stadion ini kerap dipercaya menjadi tuan rumah berbagai laga besar. Mulai dari final turnamen domestik hingga pertandingan tim nasional Jepang.

Perjalanan menuju stadion sendiri menjadi bagian dari petualangan. Dari Yokohama, jaraknya sekitar 76 kilometer atau hampir dua jam perjalanan dengan kereta. Namun seperti halnya para peziarah sepak bola di mana pun berada, jarak terasa bukan masalah ketika tujuan akhirnya adalah stadion.

Sejak tiba di kawasan stadion, warna-warni atribut kedua kubu sudah mendominasi suasana. Ribuan pendukung datang membawa harapan yang sama: melihat tim kesayangan mengangkat trofi.

Sayangnya, harapan kami tidak berakhir dengan cerita bahagia.

Yokohama F. Marinos, tim yang kami dukung, harus mengakui keunggulan Shonan Bellmare dengan skor tipis 0-1. Peluit panjang berbunyi, para pemain Bellmare berpesta, sementara kubu Marinos hanya bisa menatap trofi yang gagal mereka bawa pulang.

Namun sepak bola sering kali menawarkan cerita yang lebih besar daripada sekadar hasil akhir.

Hal yang paling membekas justru datang dari tribun penonton. Di tengah rivalitas dan tensi pertandingan final, kedua kelompok suporter menunjukkan sikap yang patut diapresiasi. Tidak ada intimidasi antarsuporter, tidak ada provokasi berlebihan, apalagi keributan.

Kalau pun ada yang menjadi sasaran intimidasi, sepertinya hanya wasit.

Dan itu pun dilakukan secara demokratis oleh kedua kubu. Haha.

Mungkin itulah salah satu alasan mengapa pengalaman menonton sepak bola di Jepang selalu terasa istimewa. Kompetitif di lapangan, tetapi tetap penuh rasa hormat di tribun.

Hasil pertandingan mungkin tidak berpihak kepada kami hari ini. Namun perjalanan ke salah satu stadion paling ikonik di Jepang, atmosfer final yang luar biasa, dan pelajaran tentang budaya suporter yang dewasa membuat perjalanan ini tetap layak dikenang.

Sampai jumpa di pertandingan berikutnya.

Football is temporary, away days are forever.

Minggu, 21 Oktober 2018

A Day Trip to Mount Takao: Menikmati Alam di Pinggiran Tokyo


Kalau berbicara tentang destinasi alam di sekitar Tokyo, nama Gunung Takao (高尾山 / Mount Takao) hampir selalu masuk dalam daftar rekomendasi. Lokasinya yang berada di bagian barat Tokyo membuat gunung ini menjadi pilihan favorit bagi warga setempat maupun wisatawan yang ingin menikmati suasana pegunungan tanpa harus bepergian jauh atau menginap.

Akhir pekan ini, saya bersama beberapa teman berkesempatan mengunjungi Gunung Takao. Dari tempat tinggal kami di kawasan Gumyoji, Yokohama, perjalanan memakan waktu sekitar dua jam menggunakan kereta api. Meskipun harus berpindah kereta sebanyak empat kali, perjalanan terasa menyenangkan karena kami berangkat bersama teman-teman dari Yokohama National University (YNU) dan sudah merencanakan untuk bertemu dengan peserta dari kampus lain di lokasi.

Dengan ketinggian sekitar 599,5 meter di atas permukaan laut, Gunung Takao mungkin tidak terlalu tinggi jika dibandingkan dengan gunung-gunung lain di Jepang. Namun justru itulah daya tariknya. Gunung ini sangat ramah bagi pendaki pemula dan cocok dijadikan destinasi one-day trip dari Tokyo maupun Yokohama.

Terdapat enam jalur pendakian yang dapat dipilih untuk mencapai puncak. Kami memutuskan menggunakan Trail No. 1, jalur paling populer sekaligus yang paling mudah diakses. Jalurnya sudah tertata dengan baik dan sebagian besar berupa jalan beraspal, sehingga cukup nyaman untuk dilalui.

Perjalanan menuju puncak memakan waktu sekitar 90 menit dengan kecepatan santai. Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan hutan yang rindang, udara yang sejuk, serta sesekali bertemu pendaki lain yang datang dari berbagai negara.

Keberuntungan benar-benar berpihak kepada kami hari itu.

Sesampainya di puncak, langit terlihat cerah tanpa banyak awan. Dari area observasi, kami dapat melihat siluet megah Gunung Fuji berdiri di kejauhan dengan sangat jelas. Pemandangan yang sering muncul di kartu pos Jepang itu akhirnya bisa kami nikmati secara langsung.

Tidak hanya Gunung Fuji, dari puncak Takao kami juga dapat melihat hamparan kawasan metropolitan Tokyo yang membentang jauh di ufuk timur. Perpaduan antara panorama pegunungan dan lanskap kota modern menciptakan pemandangan yang sangat mengesankan.

Setelah menikmati suasana puncak dan menyantap bekal makan siang bersama, kami memutuskan untuk turun menggunakan chairlift. Pengalaman yang cukup unik karena bentuknya mirip gondola terbuka tanpa sabuk pengaman dan tanpa banyak pegangan. Sedikit menegangkan di awal, tetapi justru menjadi salah satu bagian paling seru dari perjalanan hari itu.

Mount Takao sekali lagi membuktikan bahwa kita tidak perlu pergi jauh dari Tokyo untuk menikmati alam Jepang yang indah. Dengan akses yang mudah, jalur pendakian yang bersahabat, dan bonus pemandangan Gunung Fuji saat cuaca cerah, tempat ini layak masuk daftar destinasi bagi siapa saja yang berkunjung ke Jepang.

It was fun. See you again, Mount Takao!















Senin, 01 Oktober 2018

Menyapa Yokohama


Hari-hari pertama di Jepang rasanya masih seperti mimpi yang berjalan pelan. Setelah sekian lama hanya melihatnya dari foto, film, dan cerita orang lain, akhirnya saya benar-benar menginjakkan kaki di kota yang akan menjadi tempat singgah saya untuk beberapa waktu ke depan: Yokohama.

Secara harfiah, Yokohama berarti "di samping pantai". Nama yang terasa sederhana, tetapi cukup menggambarkan karakter kota ini. Sebagai kota pelabuhan terbesar di Jepang dan kota terbesar kedua setelah Tokyo, Yokohama memiliki suasana yang berbeda. Tidak sepadat Tokyo, tetapi tetap hidup dan modern.

Foto ini saya ambil di kawasan Minato Mirai, yang menurut sepupu saya merupakan salah satu pusat keramaian anak-anak muda Yokohama. Sekali melihat sekeliling, saya langsung paham alasannya. Di sini berdiri pusat perbelanjaan, taman hiburan dengan bianglala raksasa yang menjadi ikon kawasan, deretan kafe, hingga berbagai museum yang menghadap ke teluk. Saat sore menjelang malam, lampu-lampu kota mulai menyala dan suasananya terasa sangat berbeda dibanding siang hari.

Yang membuat saya semakin menyukai tempat ini adalah lokasinya yang tidak terlalu jauh dari tempat saya tinggal. Jaraknya sekitar enam kilometer dan bisa ditempuh hanya dengan satu kali perjalanan bus. Sebenarnya ada pilihan naik kereta bawah tanah yang mungkin lebih cepat dan praktis. Namun entah kenapa saya selalu lebih menyukai perjalanan di atas permukaan. Duduk di dekat jendela bus sambil melihat jalanan, bangunan, dan aktivitas warga terasa jauh lebih menyenangkan daripada berada di dalam terowongan tanpa pemandangan.

Sepupu saya juga bercerita bahwa kawasan ini cukup sering dijadikan lokasi syuting film dan drama. Saya tidak tahu persis film apa saja yang pernah mengambil gambar di sini, tetapi setelah berjalan-jalan sebentar, rasanya mudah memahami alasannya. Ada sesuatu yang fotogenik dari perpaduan laut, gedung-gedung modern, dan suasana pelabuhan yang membuat setiap sudutnya terlihat seperti adegan film.

Untuk sementara waktu ke depan, kota ini akan menjadi bagian dari keseharian saya. Mungkin beberapa bulan lagi, perjalanan dengan bus menuju Minato Mirai tidak lagi terasa istimewa. Namun hari ini, sebagai orang yang baru datang, semuanya masih terasa baru, menarik, dan layak dicatat dalam buku harian.

Mari kita lihat cerita apa saja yang akan diberikan Yokohama berikutnya.

Rabu, 22 Agustus 2018

Kabaddi: Galasin Versi Atlet Nasional


Hari ini niatnya nonton final badminton. 
Tapi seperti biasa, manusia boleh berencana, tiket yang menentukan.

Karena kehabisan tiket, akhirnya saya malah nyasar ke pertandingan yang sebelumnya bahkan tidak pernah terpikir untuk ditonton. Namanya Kabaddi, olahraga tradisional dari India yang ternyata sudah cukup lama dipertandingkan di Asian Games.

Awalnya saya duduk dengan ekspresi yang sama seperti orang yang salah masuk ruang ujian. Bingung. Ini olahraga apa? Aturannya bagaimana? Kok pemainnya saling tarik, pegang, dan banting?

Setelah beberapa menit mengamati, ternyata konsepnya cukup sederhana. Dalam satu pertandingan ada dua tim yang masing-masing berisi tujuh pemain. Secara bergantian, satu pemain masuk ke area lawan untuk menyentuh pemain lawan lalu berusaha kembali ke wilayah timnya sendiri. Kedengarannya mudah, sampai melihat kenyataan bahwa pihak lawan tentu tidak akan membiarkan dia pulang dengan selamat.

Semakin lama menonton, semakin terasa familiar. Rasanya seperti melihat perpaduan permainan masa kecil yang dibesarkan menjadi olahraga profesional. Ada unsur galasin, ada sedikit benteng, ditambah sentuhan permainan "mundur tiga langkah" yang dulu sering muncul di komik Donal Bebek. Bedanya, versi ini dimainkan oleh atlet-atlet berbadan kekar yang tidak ragu saling menjatuhkan satu sama lain.

Saat itu saya langsung berpikir, jangan bersedih wahai anak-anak yang dulu hobi main galasin atau benteng di lapangan sekolah. Ternyata ada jalur karier internasional untuk keterampilan tersebut, meskipun syarat tambahannya adalah memiliki badan yang cukup kuat untuk bertahan dari bantingan.

Yang menarik dari pengalaman hari ini justru bukan pertandingan itu sendiri, melainkan bagaimana saya menemukan sesuatu yang sama sekali baru gara-gara rencana awal gagal. Kalau tiket badminton masih tersedia, kemungkinan besar saya tidak akan pernah tahu bahwa ada olahraga bernama Kabaddi dan tidak akan pernah menghabiskan satu sore dengan serius mengamati orang-orang berusaha menyentuh lawan lalu kabur sebelum ditangkap.

Kadang-kadang hal paling menarik dalam perjalanan justru muncul ketika rencana utama tidak berjalan sesuai harapan.

Meski begitu, lain kali kalau ada tiket final badminton, saya tetap pilih badminton.

Selasa, 14 Agustus 2018

Salam Ngudi Rejeki


Some people come into our lives for a season, while others become part of our story forever. Looking back at our university years, I realize how fortunate I was to have a friend like you.

We started as classmates, sharing lecture rooms, assignments, exams, and countless deadlines. Somewhere between group projects, late-night discussions, spontaneous trips, and endless cups of coffee, you became much more than a friend from college. You became family.

Thank you for being one of the few people who always accepted me for who I am. You never expected perfection. You tolerated my bad habits, my temperament, my stubbornness, my sarcastic jokes, and all the imperfections that come with being human. Instead of trying to change me, you chose to understand me, and that is something I will always appreciate.

Through the years, we shared more than just classes and hobbies. We shared dreams, frustrations, failures, victories, heartbreaks, and moments that shaped who we are today. Thank you for listening to my stories, especially during difficult times, and for always being willing to share your own. Some conversations may have seemed ordinary at the time, but they became memories that I will carry with me for the rest of my life.

One of the things I admire most about our friendship is how effortless it has always felt. No need to pretend, no need to impress. We could spend hours talking about serious life matters, or laugh endlessly over the most ridiculous things. We shared interests, passions, and hobbies, but more importantly, we shared trust and mutual respect.

As we continue our own journeys and pursue different paths, I hope you know how much your friendship has meant to me. The distance, the years, and the responsibilities of adulthood may change many things, but they will never erase the memories we created together or the gratitude I feel for having you in my life.

Thank you for every lesson, every laugh, every piece of advice, every honest conversation, and every moment of support. Thank you for being there during some of the most important years of my life.

I sincerely wish you happiness, good health, success, and countless opportunities wherever life takes you. May you continue to grow, achieve your dreams, and find fulfillment in everything you do.

No matter where we end up, a part of me will always remember those university days and be grateful that our paths crossed.

Until we meet again, my friend.

Salam Ngudi Rejeki. 🍻
See you in Tokyo